Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Tampilkan postingan dengan label Amerika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amerika. Tampilkan semua postingan

'WikiLeaks', Ungkap Kebenaran dalam Sarang Ular Berbisa!


"SITUS WikiLeaks milik Julian Assange, warga Australia, menyiarkan hasil bobolan ratusan ribu informasi Deplu Amerika Serikat (AS) dengan kedutaannya di seluruh dunia!" ujar Umar. "Bobolan itu membuka kedok standar ganda diplomasi AS, hingga pemerintahan Obama menilai tindakan Assange itu mengancam keamanan negara dan membahayakan hubungan mereka dengan negara-negara lain!"

"Oktober lalu WikiLeaks juga membobol 400 ribu lebih dokumen rahasia AS tentang Perang Irak, membuktikan jumlah korban warga sipil Irak sebenarnya jauh lebih besar dari laporan resmi AS yang dipublikasi!" sambut Amir. "Dilihat dari materi dokumen Perang Irak dan diplomasi AS, fenomena WikiLeaks relevan sebagai kritik terhadap pemerintah AS! Pengungkapan kebenaran di balik Perang Irak dan diplomasi AS yang merugikan rakyat negara-negara lain bahkan amat diperlukan!"

"Tapi keburukan cara memperoleh informasinya lewat pembobolan (hacking) yang dilakukan WikiLeaks, tak bisa dibenarkan karena jelas melanggar hukum!" tegas Umar.

"Jangankan membocorkan rahasia negara, privasi individu saja tak boleh dilanggar!"

"Kedua sisi baik dan buruk dalam fenomena WikiLeaks itu menyatu jadi dua sisi sekeping mata uang yang tak bisa dipisahkan!" timpal Amir. "Ia bagai keseimbangan dalam hukum alam, panas-dingin, terang-gelap, siang-malam, dan seterusnya, tiada yang satu tanpa yang lainnya—tiada informasi yang mengandung kebenaran itu terungkap tanpa lewat pembobolan!"

"Hukum alam juga bekerja dengan sistem mata rantai makanan! Hidup makhluk besar tergantung pada yang lebih kecil dan harus jadi korban!" tegas Umar. "Demi kebenaran yang nilainya lebih agung, Assange yang pasti amat sadar pembobolan itu melanggar hukum, harus siap jadi korban menanggung risikonya! Itu prinsip kesatria zaman pra-Pencerahan menegakkan kebenaran lewat cara-cara yang lewat pandangan formal terlihat konyol—Don Quissotte! Anehnya, dunia selalu butuh Don Quissotte untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi di sarang ular berbisa!"

"Justru dunia yang anomalik seperti itu, hukum formal malah jadi sarang ular melindungi kejahatan!" timpal Amir. "Ularnya para pejabat dan aparat penegak hukum yang berperan dalam mafia hukum, mafia pajak, mafia tender, dan berbagai mafia pengebiri hukum lainnya!"

"Karena itu, siapa pun yang menyingkap kebenaran di sarang ular itu, seperti Susno pada kasus mafia hukum dan pajak, atau Julian Assange dalam kasus WikiLeaks, harus siap tergigit ular berbisa!" tegas Umar. "Tanpa ada yang berani tergigit, kejahatan tersimpan aman di ruang pesta ular berbisa!"

Selanjutnya.....

Fenomena Obama, Harapan Kalla!

"BAGAIMANA kali-kali di balik Koalisi Kebangsaan Golkar dan PDI-P, padahal Mega dan JK sama-sama sudah menyatakan akan maju sebagai calon presiden di Pilpres Juli mendatang?" tanya Umar.

"Kalau kedua partai besar memang serius untuk membangun poros nasionalisme yang kokoh, kedua pihak harus siap fair menjadikan pemilu legislatif sebagai konvensi calon presiden dari kedua partai!" jawab Amir. "Artinya, kalau PDI-P unggul dari Partai Golkar pada Pemilu 9 April, maka Mega yang jadi calon presiden dan JK cawapres! Sebaliknya jika Golkar yang menang!"

"Apa tak aneh, kalau Mega turun jadi wapres?" timpal Umar.


"Kenapa aneh? Di Rusia ketika Medvedev lebih populer, Vladimir Putin malah meng-endorse-nya untuk calon presiden--dan jadi! Sedang Putin, mengalah sebagai perdana menteri!" tegas Amir. "Lebih dahsyat di Israel, Simon Peres dari perdana menteri ke menteri luar negeri! Ehud Barack dari perdana menteri jadi menteri pertahanan, atau Netanyahu dari perdana menteri jadi mendagri sebelum akhirnya kembali jadi perdana menteri!"

"Cara berpikir seperti apa untuk itu?" kejar Umar.

"Prinsip keikhlasan mengabdi bagi negara-bangsa tidak tergantung pada tongkrongannya, tetapi siap berkorban sepenuh jiwa raga di posisi mana pun!" jawab Amir. "Kalau tak dapat tongkrongan bergengsi tak lantas merongrong wibawa pemerintah atau tokoh yang sedang memimpin!"

"Kalau pemilu legislatif secara tidak langsung dijadikan ukuran konvensi calon presiden antara JK dan Mega, berarti JK seperti Obama bersaing dengan Hillary Clinton, dong!" tukas Umar.

"Kayaknya memang fenomena Obama yang jadi harapan JK!" tegas Amir. "Selain konvensi melawan tokoh perempuan yang memiliki mesin politik paling tangguh dan canggih di negerinya, dalam pola kualifikasi pertokohan politik, JK yang berasal dari luar Jawa tergolong dari kelompok minoritas, dengan kelompok mayoritasnya tokoh asal Jawa! Obama juga dari minoritas, warga kulit hitam hanya sekitar 20 persen dari penduduk AS!"

"Dengan berharap terjadinya fenomena Obama atas JK, sekaligus berarti bangsa Indonesia harus membuktikan negerinya telah bersih dari rasisme, primordialisme kesukuan, sektarianisme agama, maupun beragam diskrimasi politik lainnya!" sambut Umar. "Hanya dengan prakondisi realitas warga bangsa sudah sedemikian idealnyalah, seperti halnya orang kulit putih mengunggulkan Obama, orang luar Jawa pun bisa diunggulkan di seantero negeri!"

"Untuk itu ada faktor lain yang harus dilengkapi JK agar tercipta fenomena Obama!" tegas Amir. "Pertama, siap satu paket konsep perubahan komprehensif yang memilah tegas realitas kini seperti apa lalu mau diubah jadi seperti apa, lewat determinan apa pula! Kedua, kemampuan retorika seperti Obama, mengurai konsep rumit dalam bahasa sederhana hingga bisa dipahami awam!"

"Kau mengada-ada!" potong Umar. "Kapasitas Obama yang terakhir itu, jangankan di Indonesia, di dunia pun sukar dicari tandingannya!"

"Kalau tak memenuhi kapasitas itu," timpal Amir, "yang ada cuma fenomena Obama-Obamaan!"
Selanjutnya.....