Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Tampilkan postingan dengan label nasional demokrat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nasional demokrat. Tampilkan semua postingan

Nasionalisme Verbal, atau Bawah Sadar?


"NASIONALISME, semangat kebangsaan dan cinta tanah air itu harga mati--tak bisa ditawar-tawar!" ujar Umar. "Namun, bentuk dan sifatnya beragam! Ada yang verbal--terbuka--dinyatakan dengan lantang, stereotipe! Tapi ada sebaliknya, tertutup, tak banyak cincong, mengendap dalam darah daging hingga mengendalikan subjeknya dengan refleks bawah sadar! Mana yang lebih baik?"

"Keduanya baik, asal tidak berlebihan!" sambut Amir. "Nasionalisme verbal kalau berlebihan jadi chauvinistik--merasa bangsa dan negeri sendiri yang paling baik dan paling benar, lantas menilai rendah dan buruk segala yang asing! Akibatnya, bangsa dan nasionalismenya malah dikarantina agar jangan terpengaruh nilai-nilai asing!"

"Apa buruknya yang begitu?" potong Umar.

"Nasionalismenya jadi terlalu steril dari pengaruh asing, hingga beku--kurang cepat berkembang!" tegas Amir. "Artinya, kemajuan sih ada, tapi lebih lambat dari negeri-negeri yang memanfaatkan secara total inner dan outer push factor! Apalagi kalau inner factor-nya malah digembosi oleh korupsi, mafia hukum, makelar kasus dan manipulator pajak! Alhasil, negeri lain maju sepuluh langkah, kita cuma selangkah!"

"Kalau nasionalisme bawah sadar, apa buruknya?" kejar Umar.

"Karena merasa telah mendarah daging, sehingga nasionalisme membiologis dalam mengarahkan perilaku, bawah sadar mendorong subjeknya senantiasa mengekspresikan nasionalisme, jadi terlalu percaya diri!" tegas Amir. "Segala bentuk infiltrasi berusaha merasukinya tak khawatir bisa membuatnya masuk angin! Kalau nasionalisme sudah membiologis di bawah sadar, dijamin kebal dari masuk angin! Rasa percaya diri ini membuat perubahan kecil-kecil tak diwaspadai, sampai akhirnya tanpa disadari nasionalismenya kopong, isinya berganti ideologi lain--tinggal terlihat sebagai kepompong, sedang yang dominan menggerakkan sikap dan perilaku, bahkan kepercayaan untuk mencapai impiannya, justru neoliberalisme! Ini sekadar contoh!"

"Lantas, bagaimana yang terbaik?" tanya Umar.

"Terbaik itu yang tidak keterlaluan! Seperti lagu dangdut, yang sedang-sedang saja!" jawab Amir. "Verbal tapi tidak bablas sampai chauvinis! Bawah sadar, tapi tidak sampai mati rasa--lupa ancaman selalu mengintai!"

"Tapi bagaimana kalau dari kedua sisinya sudah membawa terlalu jauh akibat buruk?" kejar Umar.

"Dikembalikan ke posisi semestinya!" tegas Amir. "Proses itu namanya restorasi!
Artinya reka ulang dari awal bentuk, sifat, dan posisi yang benar dari nasionalisme kita! Itulah renungan kita di Hari Kebangkitan Nasional ini!"

Selanjutnya.....

Koalisi untuk Tegakkan Kebenaran!


"SEKJEN Partai Keadilan Sejahtera--PKS--Anis Matta menegaskan sikap fraksinya di Pansus Skandal Bank Century DPR, melaksanakan amanat Presiden SBY untuk membuka selebar-lebarnya kasus Bank Century! Juga, tetap dalam koridor koalisi dengan Partai Demokrat (PD) yang menyepakati untuk bersikap kritis, mewujudkan good governances dan pemerintahan bersih, serta menegakkan kebenaran dan keadilan! Hal sama dikemukakan Ketua Partai Golkar Prio Budi Santoso!" ujar Umar. "Namun, Ketua PD Dja'far Hamzah menilai sikap itu bertentangan dengan kesepakatan dalam koalisi!" (Metro TV, [23-2])

"Itu terjadi akibat berbedanya kacamata kedua pihak!" sambut Amir. "PKS dan Golkar melihat koalisi sebagai wadah menciptakan pemerintahan bersih yang berorientasi kemaslahatan bangsa! Sedang PD melihat koalisi semata berorientasi pada kepentingan kekuasaan! Kacamata yang berbeda itulah penyebab terjadinya perbedaan pandangan kedua pihak di Pansus Century!"


"Perbedaan pandangan yang menurut PKS dan Golkar wajar dalam demokrasi, dinilai sebaliknya oleh PD!" tegas Umar. "Anggota Dewan Pembina PD, Hayono Isman, menilai itu sebagai sikap tidak konsekuen dari mitra koalisi! Karena itu, ia tuntut mitra koalisi menarik menteri-menterinya dari kabinet! Hal itu sejalan dengan usul pimpinan PD kepada Presiden untuk melakukan reshuffle kabinet akibat berbedanya pandangan mitra koalisi!"

"Dari semua itu terlihat, ibarat pasangan suami-istri yang berbeda pandangan, PD memilih jalan keluar perceraian! Kalau tak mau cerai, segala bentuk yang dinilai buruk oleh pasangannya didiamkan dan dibiarkan saja!" timpal Amir. "PKS dan Golkar memilih untuk mengutamakan kemaslahatan hidup seluruh keluarga, terutama kebenaran dan keadilan, sedang keburukan atau kesalahan harus diselesaikan semestinya agar rumah tangga terselenggara secara lebih sehat!"

"Pilihan mana yang lebih baik, tentu tergantung cara berpikir masing-masing!" sambut Umar. "Namun, dari kedua pilihan itu harus dilihat ke mana ujung kaitan kepentingannya! Dari uraian yang disampaikan di Pansus Century, PD secara eksplisit menegaskan kaitan kepentingannya pada kebenaran pihak penguasa dalam kebijakan bailout! Sedang PKS dan Golkar terkait kebenaran fakta dalam proses penyelidikan skandal Bank Century, yang merugikan rakyat! Karena itu, bisa disebut
berorientasi pada kepentingan rakyat!"

"Maka itu, jika pandangan PKS dan Golkar bernada sama dengan pandangan oposan--PDIP--tak lain karena dasarnya fakta yang sama!" tegas Amir. "Demi menegakkan kebenaran dan keadilan berdasar kebenaran fakta itu, PKS dan Golkar siap menerima konsekuensi 'diceraikan' dari koalisi PD! Keberanian bersikap yang layak dihormati!"***


Selanjutnya.....

Restorasi, Akhiri Konflik tanpa Henti!


"INDONESIA negeri serbaunik!" ujar Umar. "Menjalankan perintah menteri, seorang dirjen, sejumlah gubernur dan bupati-wali kota masuk bui! Itu kasus damkar--mobil pemadam kebakaran! Lalu konflik KPK dengan polisi dan jaksa, cicak lawan buaya, publik gerah, presiden pun membentuk Tim 8! Disusul skandal Bank Century, kata pemerintah itu kebijakan brilian, lembaga lain beda penilaian! Kini muncul konflik fee BPD (Bank Pembangunan Daerah), kata KPK itu gratifikasi alias korupsi! Mendagri ngotot itu hak kepala daerah! Presiden janji, tak melindungi menteri yang terlibat!"

"Itu konflik tanpa henti antarpengelola kekuasaan!" sambut Amir. "Konflik akibat beda persepsi tentang kekuasaan masing-masing! Demi serbaunik, setiap konflik diselesaikan lewat cara spesifik! Kelihatan sebagai negeri kreatif, tapi sebenarnya cermin kekaburan standar akibat egosektoral yang hanya membenarkan tafsir sendiri!"


"Dibanding anak-anak bermain gobak sodor yang semua pihak selalu taat aturan main tanpa wasit, gejala itu menunjukkan justru kaum tua yang tak keruan!" tegas Umar.

"Kalau setiap masalah jadi konflik dan setiap konflik harus cari solusi spesifik, bangsa ini bisa kehabisan waktu dan energi untuk soal yang jika aturan mainnya 'digobaksodorkan', sebenarnya tak perlu terjadi!"

"Realitas itu membuat bangsa jalan di tempat, padahal bangsa lain berpacu dengan full speed!" timpal Amir. "Tapi, nasi telah jadi bubur! Bukan jalan keluar yang terbuka, justru masalah baru yang terus timbul! Bangsa kian tenggelam dalam timbunan masalah yang semakin ruwet saja!"

"Berarti perlu terobosan konstitusional untuk membawa bangsa keluar dari realitas itu!" sambut Umar. "Cuma, terobosan seperti apa?"
"Realitas bangsa sudah mirip candi kena gempa dahsyat! Patung dan ornamen berserakan, tak jelas lagi bentuknya!" tegas Amir. "Diperlukan restorasi, menyusun kembali satu per satu materi berserakan itu untuk dikembalikan pada bentuk dan tempat semula! Sampai, seluruh bangunan kembali pada bentuknya yang ideal!"

"Restorasi Indonesia, itu judul manifesto Nasional Demokrat!" potong Umar.

"Kuncinya demokrasi yang mampu menghadirkan pemimpin berkualitas dari tingkat nasional sampai daerah!" tegas Amir. "Kini budaya uang dominan dalam seleksi pemimpin, dari jalur politik sampai sektoral! Mulai kampanye media dan lapangan, sampai penentuan pilihan perorangan, bukan rahasia umum lagi, ditentukan duit! Tanpa kecuali godaan uang telah menjadi perusak moral nomor wahid--moralitas pemimpin di semua tingkat terimbas guncangan gempanya!"

"Jadi, kebanyakan pemimpin hadir di semua tingkat cuma produk budaya uang!" timpal Umar. "Sehingga, moralitasnya tak layak diteladani!" ***
Selanjutnya.....