Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Tampilkan postingan dengan label Teroris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teroris. Tampilkan semua postingan

Teroris dengan Nama Grup Baru!

"BERIRINGAN dengan kematian Osama bin Laden, balas dendam Taliban atas kematian Osama dengan bom ganda yang menewaskan lebih 80 orang di Pakistan, dua teroris dengan nama grup baru (Tauhid wal Jihad) tewas ditembak mati Densus 88 di Sukoharjo, Jawa Tengah!" ujar Umar. "Dua teroris yang tewas itu Sigit Qurdhowi dan Hendro Yunianto! Dari persembunyian mereka ditangkap sejumlah tersangka teroris, bersama aneka senjata api dan ratusan butir peluru!"

"Sekali lagi salut buat Densus 88 yang berhasil membongkar jaringan teroris sebelum beraksi!" sambut Amir. "Bahwa Sigit adalah tokoh senior di kalangan teroris, guru pembuatan bom teroris bunuh diri di Cirebon, memberi bukti keefektifan kerja Densus 88. Untuk itu, sebagian besar tugas operasinya dari pengintaian (intel) sampai penggerebekan dilakukan sendiri oleh Densus 88!"

"Jadi tidak seperti operasi yang dilakukan secara bersama-sama berbagai pihak, saat
dilakukan yang dicari sudah tak ada karena bocor duluan!" tukas Umar. "Karena itu, penajaman kemampuan Densus 88 harus lebih diutamakan daripada repot membuat UU intelijen baru yang membuat tugas mengatasi teroris dibagi-bagi tahapannya, yang malah bisa jadi celah terjadinya kebocoran info! Banyak kejadian yang bisa dijadikan contoh untuk semakin banyak pihak dilibatkan, semakin rentan kebocoran informasi!"

"Apalagi seperti masa lampau, yang namanya badan intelijen itu justru perekayasa kelompok-kelompok teroris seperti halnya Komando Jihad yang justru ditumbuhkan oleh kalangan intelijen sendiri dari sel DI-TII, organ NII," timpal Amir. "Karena itu, di tengah perang melawan teror yang serius dewasa ini, usaha membuat UU intelijen yang cuma membangkitkan trauma pada kerja intel masa lalu, amatlah tidak tepat! Apalagi hasilnya cuma rekayasa seperti masa lalu pula, cuma merepotkan semua seksi aparat keamanan dengan korban rakyat tak berdosa!"

"Memang, meningkatkan kemampuan kesatuan antiteror yang ada dengan melengkapi peralatan semutakhir mungkin, jelas lebih berguna daripada mereproduksi dengan UU lembaga-lembaga intel baru yang masih harus diuji lagi kapasitas dan kebenaran cara kerjanya!" tegas Umar. "Konon lagi kalau dengan superioritas UU baru dan kelembagaan intelnya itu nanti malah mengurangi atau membatasi kebebasan badan dan detasemen yang telah ada dan terbukti efektif kerjanya! Belajar dari pengalaman, kian banyak yang ikut menangani, kian banyak kepentingan terlibat, kian rawan kebocoran!" ***
Selanjutnya.....

Awas, Generasi Baru Teroris!


"DARI perbincangan pakar dan tokoh di media massa nasional tersimpul, salah satunya, agar masyarakat waspada kemungkinan munculnya generasi baru teroris dengan salam kenal tiga paket bom yang mereka kirim Selasa lalu!" ujar Umar. "Dengan tiga tokoh yang dipilih jadi alamat paket bom itu, Ulil Abshar Abdalla (Jaringan Islam Liberal—JIL), Goris Mere (Kepala Badan Narkotika Nasional—BNN), dan Yapto Surjosumarno (tokoh Pemuda Pancasila—PP), menunjukkan adanya penciptaan multiinterpretasi penyesatan bagi pengendusan motif dan pelakunya!"

"Kalau benar itu salam kenal generasi baru, suatu serangan dengan strategi dan cara atau teknik-teknik baru perlu diwaspadai—selain paket bom!" sambut Amir. "Generasi baru dengan—bisa jadi—kecerdasan, kemampuan teknis dan tipu muslihat yang lebih tinggi mengandung ancaman lebih serius bagi masyarakat! Sebab, teroris seperti itu tak mudah dikenali warga masyarakat, hingga antisipasi warga untuk mencegahnya sukar!"

"Namun demikian, peran warga masyarakat untuk mencegah serangan teroris generasi baru ini tetap menjadi andalan!" tegas Umar. "Warga segera berembuk dengan sesama jika melihat hal-hal agak aneh atau ganjil di lingkungannya, sehingga menjadi kesadaran bersama warga usaha menangkal serangan teroris lewat berbagai cara tak terduga itu! Kesadaran dan kesiagaan warga yang sedemikian akan menjadi lahan tandus yang tak nyaman buat sarang teroris!"

"Kesadaran dan kesiagaan seperti itu mungkin terbatas pada kelompok tertentu! Sebaliknya, ada pula kelompok lain punya latar belakang berbeda yang justru menjadi tempat subur pengembangan gagasan yang menumbuhkan benih teroris!" timpal Amir.

"Karena itu, berharap saja pada masyarakat untuk melakukan sesuatu, tanpa diiringgi tindakan yang mendukung dari pihak pemerintah, hasilnya tak optimal! Lebih celaka lagi jika serangan teroris—yang multitafsir—justru diinterpretasikan warga sebagai aktualisasi dari perjuangan mereka untuk membebaskan diri dari penindasan oleh sistem—dan diasumsikan sistem yang menindas itu adalah pemerintah itu sendiri!"

"Maka itu, amat banyak kemungkinan layak untuk diwaspadai dengan generasi baru teroris!" tegas Umar. "Jauh lebih celaka sebenarnya jika teroris itu hanya mempermainkan fanatisme suatu aliran agama sebagai kamuflase gerakannya, sedang tujuan aksinya sendiri justru menyulut bentrokan antarsesama umat seagama tersebut! Fanatisme buta warga memudahkan tujuan teroris untuk memecah belah umat seagama, tercapai!" ***


Selanjutnya.....

'Marhalah Qisas', Pakistanisasi ala


"PERINGATAN Kapolri Bambang Hendarso Danuri bahwa target teroris adalah mengambil-alih kekuasaan (Kompas, 25-9) layak diperhatikan!" ujar Umar. "Terlebih dengan munculnya Musthofa Abu Tholut—yang ahli perang kota—jadi pimpinan teroris! Jika usaha teroris memancing polisi melayani spesialisasi mereka berhasil, Indonesia bisa terjebak perang kota seperti Pakistan!"

"Proses Pakistanisasi itu layak diwaspadai atas dua alasan," sambut Amir. "Pertama, sesuai informasi yang diperoleh pengamat terorisme Al Chaidar (Koran Tempo, 27-9), polisi baru melumpuhkan enam dari 114 sel jaringan teroris yang dibentuk Abu Tholut! Jadi, di atas kertas, jaringan teroris masih cukup kuat. Kedua, menurut pengamat terorisme Dynno Chressbon (Koran Tempo, idem), dengan keahlian itu pasukan Abu Tholut memakai prinsip marhalah qisas—pembalasan setimpal! Prinsip ini lazim digunakan eks pelatihan teroris di Afghanistan dan Filipina, dinyatakan terpidana teroris Asep Jaya dan Dahlan di pengadilan!"

"Praktek marhalah qisas terlihat pada serangan balik teroris ke Mapolsek Hamparan Perak yang menewaskan tiga anggota polisi, pembalasan setimpal atas tewasnya tiga teroris—dua dalam penyergapan di Tanjung Balai, satu di Hamparan Perak!" timpal Umar. "Hamparan Perak itu koridor antara Kota Medan (dari Titi Papan ke Belawan) dan Kota Binjai. Jadi, relatif kawasan urban!"

"Dengan para senior sel jaringan Abu Tholut telah berpengalaman perang kota di Palu dan Ambon, metodenya pun menurut Dynno jauh berbeda bahkan sejak awal menentang pola bom bunuh diri model Noordin M. Top dan Azahari! Abu Tholut lebih suka bom mobil dan serangan terbuka, seperti di Mapolsek Hamparan Perak!" tegas Amir. "Hal itu bisa dipahami, menurut Al Chaidar, Abu Tholut merupakan instruktur perang di kamp Hudaibiyah, Mindanao, Filipina! Faktor ini pula membuat dia bisa membangun sel jaringan teroris luas dengan inti muridnya dari kamp latihan itu!"

"Maka itu, untuk menggagalkan usaha teroris melakukan Pakistanisasi di kota-kota Indonesia, aparat keamanan harus lebih cepat mempreteli sel-sel jaringan terorisme, terutama di bawah Abu Tholut dan tokoh-tokoh dekatnya!" timpal Umar. "Tentu tak mudah mengungkap sel-sel jaringan teroris itu, apalagi kebanyakan berupa sleeper cell—sel tidur—yang siap menunggu komando! Tapi berkat pengalaman Densus 88 yang selama ini berhasil mengungkap banyak sel seperti itu, bisa diharapkan semua sel jaringan teroris bisa dibuat layu sebelum beraksi!"

Selanjutnya.....

Terorisme, Hidup Selayak ‘Game’ PS!


"TERORISME itu isme yang meremehkan nilai dan arti kehidupan serta nyawa manusia—baik milik para korbannya maupun dirinya sendiri yang juga tewas dalam aksinya—jadi sekadar selayak game (permainan) dalam PlayStation—PS, atau Counter Strike, perang polisi lawan teroris, dalam game online!" ujar Umar. "Dengan pandangan demikian, teroris pelakunya selayak memainkan joystick PS saat harus membunuh korbannya—bahkan saat dirinya tewas pun, dianggap sekadar game over!"

"Menjadi remehnya nilai dan arti hidup dan nyawa manusia itu terjadi karena diangkat secara amat tinggi nilai dan arti misi/tujuan ismenya, sedang jiwa korban dan pelaku teroris yang melayang cuma sebagai cara mencapai tujuan!" sambut Amir. "Tampak, terorisme itu isme yang semata berorientasi pada tujuan, tanpa peduli cara-cara mencapainya bertentangan dengan nilai dan arti tujuan—kalaupun benar tujuan itu bernilai tinggi dan mulia! Artinya, terorisme bertentangan dengan kaidah etika-moral yang menyejajarkan antara tujuan dan cara-cara mencapainya!"

"Karena serasa hidup di dunia game yang maya itu, orang yang sudah masuk jaringan teroris pada dirinya sendiri merasa teralienasi dari realitas masyarakat umum sehingga sukar berempati—menempatkan diri dalam situasi orang lain/warga lingkungannya!" tegas Umar. "Gagal empati itu membuatnya melihat warga masyarakat tanpa jalinan rasa dan emosi lagi, cuma selayak gambar-gambar di dunia maya belaka! Karena tanpa empati dan emosi itulah, dalam membuat target serangan mereka tak mempermasalahkan siapa saja yang jadi korban, bahkan tempat yang dipilih pun semakin ramai hingga semakin besar jumlah korban yang jatuh akan membuat makin tinggi pula kepuasan dan rasa bangga mereka!"

"Lebih celaka lagi, ada teroris yang melihat warga masyarakat di luar kelompok mereka sebagai najis dunia belaka, sehingga harus mereka habisi atau taklukkan jika dianggap bisa dibawa dalam cara hidup seperti mereka!" timpal Amir. "Kelompok ini paling ganas, satu agama pun kalau beda sekte atau mashab mereka habisi juga!"

"Karena demikian berbahayanya bagi masyarakat, terorisme harus dibasmi jaringan organisasi dan aksinya sampai tuntas!" tegas Umar. "Sejalan dengan usaha melindungi masyarakat lingkungan dari teroris, warga agar proaktif membantu polisi! Jika ada yang mencurigakan di sekitar tempat tinggalnya, segera lapor kepada polisi terdekat! Jangan biarkan teroris menjadikan masyarakat lingkungan kita sebagai korban sia-sia selayak mainan di video game! Ayo, ganyang teroris!" ***

Selanjutnya.....

'Sleeper Cell', Gugur Satu Tumbuh Seribu!


"KETUA Umum PB NU K.H. Hasyim Muzadi menilai keliru cara polisi menangani teroris dengan main tembak mati!" ujar Umar. "Menurut Muzadi, lebih tepat ditangkap hidup dan dihukum! Kalau masih hidup bisa digali kaitan dirinya dengan tokoh atau jaringan di luar kelompok terakhir! Jika ditembak mati sebelum digali kaitannya dengan jaringan di luar kelompok, kata dia, terorisnya gugur satu tumbuh seribu!" (Metro TV, [17-3])

"Maksud Muzadi gugur satu tumbuh seribu itu terkait realitas adanya sleeper cell--sel yang masih tidur--pada jaringan teroris di Indonesia!" sambut Amir. "Metro TV beberapa hari lalu secara intensif menyingkap sleeper cell teroris itu dalam jaringan NII (Negara Islam Indonesia) yang ternyata terus merebak dengan merekrut kader baru di kalangan kaum muda dengan gerakan tutup mulut!"


"Sleeper Cell adalah judul serial televisi tentang jaringan Al Qaeda yang ditayangkan setiap hari episode baru di stasiun Fox Crime--diberi teks bahasa Indonesia oleh SDI Media--baru selesai tayang Rabu lalu!" timpal Umar. "Tokoh utama serialnya, Faris al Farik, dalam ceritanya pada rekrutmen baru mengatakan teroris seperti buah anggur, setiap jaringan punya kelompok buah tersendiri, ketika kelompok itu habis, masih ada jaringan-jaringan lain dengan kelompok buah tersendiri, bahkan pada tangkai yang sama! Belum lagi pada tangkai-tangkai lain yang punya banyak jaringan dengan kelompok buah tersendiri!"

"Dalam serial Sleeper Cell dilukiskan bagaimana jaringan teroris bekerja!" tegas Amir. "Dari hape seluler maupun satelit Farik yang disadap FBI diketahui, selain bicara dengan anggota kelompok sendiri, Farik juga bicara dengan berbagai tokoh teroris di Amerika dan Kanada, hingga ke Timur Tengah! Bahkan Farik merekrut mahasiswa asal Indonesia di Amerika, Agus Pangestu, lewat pamannya yang sleeper cell teroris di Jakarta!"

"Maka itu, dilihat dari realitas sleeper cell NII hasil galian Metro TV maupun gambaran versi Amerika tentang jaringan sleeper cell teroris internasional, kritik Hasyim Muzadi mengenai cara polisi main tembak mati teroris yang justru membuat teroris gugur satu tumbuh seribu itu layak diperhatikan!" timpal Umar. "Artinya, tak perlu diragukan bahwa Hasyim Muzadi punya sumber-sumber informasi akurat tentang terorisme di negeri ini!"

"Kewaspadaan warga terutama menjaga anggota keluarganya agar tak terjerat jaringan sleeper cell teroris, amat diperlukan!" tegas Amir. "Dari sleeper cell yang tak betah tetap diam--ingin segera 'berjihad'--akan 'dipanen' teroris dalam menyiapkan serangan baru! Ini perlu diwaspadai, agar tak ada anggota keluarga jadi teroris!"

Selanjutnya.....

Obama 'ad Portas'! 'Sami'na wa Ato'na'!


"UCAPAN Hannibal ad Portas--bahasa Latin--yang berarti Hannibal di pintu gerbang, menakutkan warga Kota Roma era 218 SM--203 SM," ujar Umar. "Waktu itu, Hannibal dari Karthago merebut sejumlah wilayah taklukan dengan menghabisi tentara Romawi! Sisanya kocar-kacir lari kembali ke Kota Roma membawa kisah mengerikan itu!"

"Tapi sebenarnya, Hannibal tak pernah sampai ke gerbang Kota Roma! Warga Kota Roma ketakutan hanya dari mendengar ceritanya!" sambut Amir. "Cerita sama ngerinya dibawa ribuan warga sipil pelarian dari Afghanistan dan Irak, yang kini banyak jadi tahanan imigrasi negeri kita! Betapa kejam tentara Amerika yang mengagresi kedua negara itu, ratusan ribu warga sipil terbunuh!""


"Mungkin itu alasannya, ketika penguasa Amerika Serikat akan berkunjung ke negeri kita, sebagian warga bangsa kita parade di jalan-jalan memberi isyarat kewaspadaan, Obama ad Portas!" tegas Umar. "Berlebihankah mereka? Bisa dinilai begitu jika dilihat dari iktikad baik Obama untuk menjalin persahabatan dengan dunia Islam, dengan salah satu bukti telah dibuka kembali Kedutaan Besar AS di Damaskus! Tak berlebihan juga jika diingat janji Obama akan menarik pasukan Amerika dari Irak dan Afghanistan, tapi yang dilakukan justru menambah ribuan tentara baru di Afghanistan!"

"Itu dia! Cukup alasan bagi berbagai pihak di negeri kita untuk menyambut Obama dengan cara dan gaya masing-masing!" timpal Amir. "Semua itu justru harus dihormati, terutama oleh pihak yang bersolek menyambut kunjungan Obama, sebagai realitas kemajuan demokrasi di negeri kita! Jika isyarat kewaspadaan itu dinilai positif, hasilnya juga akan positif--para pemimpin bangsa kita tak lepas kendali bertekuk lutut total, hingga menjadikan Indonesia negara bagian ke 51 dari Amerika Serikat! Setiap ucapan Obama diterima sebagai perintah, lalu disambut dengan sami'na wa ato'na--titahkan, kami laksanakan!"

"Artinya, di lain pihak, tak perlu bersolek secara berlebihan pula, apalagi menilai Obama sebagai segalanya!" tegas Umar. "Misal dalam kerja sama memberantas teroris, kita harus keukeuh dengan cara kita menanganinya secara teliti memburu hanya orang-orang yang terlibat, menolak cara AS memburu tikus dengan membakar rumahnya, seperti di Irak dan Afghanistan!"

"Tepatnya, kita hormati iktikad baik Obama untuk membina persahabatan dengan dunia Islam!" tegas Umar. "Tapi iktikad saja tak cukup! Lebih penting implementasinya, lebih netral dalam konflik Arab-Israel, bersungguh-sungguh mencari jalan damai di Irak dan Afghanistan! Buktikan dirinya layak menerima Nobel Perdamaian!"
Selanjutnya.....

Overekspos, Membuat Teroris Jadi 'Familiar'!


"OVEREKSPOS--pemberitaan yang berlebihan--atas teroris bisa berakibat warga imun, teroris menjadi masalah biasa--terasa 'familiar' (tak asing lagi)--seperti masalah kehidupan sehari-hari lainnya!" ujar Umar. "Tak beda dengan tayangan kekerasan yang berlebihan, membuat orang merasa terbiasa dengan kekerasan, hingga tak lagi membuatnya merasa ngeri atau takut! Kemudian, kekerasan jadi kebiasaan, bahkan dijadikan sebagai cara menyelesaikan masalah atau mencapai tujuan!"

"Rasa 'familiar' warga terhadap teroris--dan kekerasan yang dilakukannya--menjadi ancaman tersendiri bagi bangsa!" timpal Amir. "Apalagi dengan kecenderungan yang terjadi atas Amrozi, Mukhlas, Imam Samudra, dan terakhir Dul Matin, kedatangan jenazahnya di kampung disambut sebagian warga dengan spanduk yang mengelu-elukannya sebagai mujahid--pejuang kebenaran! Di lain pihak, warga lainnya termasuk aparat, membiarkan hingga terkesan hal itu soal biasa!""


"Bisa jadi ancaman, karena selain teroris jadi hal yang kian tak menyeramkan lagi, istilah unik yang dipakai dibumbui penafsiran surgawi, juga mudah menyesatkan warga yang lugu--pengetahuannya terbatas!" tegas Umar. "Dari arakan menyambut jenazah Amrozi-Mukhlas dan Imam Samudra terlihat, simpatisan mereka ramai juga! Siapa bisa menjamin di antara simpatisan itu tak ada yang mengidolakan teroris, ingin mati seperti itu?"

"Lebih celaka lagi itu dilumasi ide-ide universal, semisal munculnya penilaian, penembakan mati teroris melanggar HAM--hak-hak asasi manusia!" timpal Amir. "Lewat wacana universal itu, bahkan warga yang merupakan korban terorisme, bisa terpancing dan terjebak Stockholm Syndrom--korban berpihak ke teroris penyanderanya!"

"Kesan teroris kian tak menyeramkan juga bisa merebak dari ditampilkannya di televisi mantan teman-teman teroris yang telah insyaf kembali ke masyarakat--terbukti mereka tidak menakutkan dan diterima warga tempat tinggalnya!" tegas Umar. "Ini sebanding dengan yang ditangkap Densus 88, sebelum jadi teroris ternyata mereka juga warga yang biasa-biasa saja--contohnya Heru dan Sule, cuma dagang kopiah dan sajadah di Pasar Way Jepara, Lampung Timur!"

"Karena itu, dengan realitas overdosis tayangan teroris justru telah menjadi kebutuhan informasi warga, perlu disiasati agar kesan menyeramkan dan menakutkan teroris tidak luntur!" tukas Amir. "Jangan seperti narkoba, tanpa disadari merebak dalam sekali di masyarakat, seiring pasokan dari jaringan internasional yang deras pula!"

Selanjutnya.....

Kelompok Teroris Jaringan Al Qaeda Muncul di Aceh!


"KELOMPOK teroris yang tak ada kaitan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) muncul di Nangroe Aceh Darussalam, tepatnya di sekitar kaki Gunung Seulawah meliputi Kabupaten Aceh Besar dan Pidie!" ujar Umar. "Tak ada kaitan dengan GAM itu dipastikan Kapolri Bambang Hendarso Danuri, Kepala Desk Teroris Polhukam Ansyad Mbai, dan mantan humas GAM Sofyan Dawood!"

"Kepastian itu penting agar masyarakat tak salah paham!" sambut Amir. "Dari 19 teroris yang tertangkap--tiga di antaranya tewas tertembak- di lokasi pengepungan maupun di sekitar Jakarta, bukan warga setempat! Empat orang ditangkap di Padang Tiji, Pidie, dua asal Karawang dan lainnya asal Bau Bau dan Jakarta!" (Kompas, [8-3-2010])"


"Hal penting berikutnya, pernyataan pengamat ahli terorisme, kelompok yang muncul di Aceh itu Jemaah Islamiyah, jaringan yang dikendalikan langsung Al Qaeda!" tegas Umar. "Jadi jaringan teroris internasional! Menurut para pengamat, kelompok ini jauh lebih berbahaya dari Noordin M. Top yang bermain solo! Terutama, kata Ansyad Mbai, operasinya dekat jalur pelayaran internasional Selat Malaka!" (Metro TV, [8-3-2010])

"Rasa simpati kita sampaikan kepada warga Aceh, yang belum lama menikmati perdamaian, kini daerahnya dikacau lagi oleh orang-orang dari luar daerahnya!" timpal Amir. "Dua warga tewas kena peluru nyasar saat kontak senjata mengepung lokasi teroris itu pekan lalu! Dari senjata yang disita polisi juga diketahui, kelompok teroris itu menggunakan persenjataan canggih, M-16 dan AK-47. Dengan persenjataan secanggih itu, warga sipil yang paling terancam selain peluru nyasar, juga balas dendam kelompok teroris yang dengan mudah menuduh warga membantu polisi!"

"Karena itu, kecermatan polisi dalam menjalankan tugas amat diharapkan dengan pengutamaan fungsinya mengayomi warga!" tegas Umar. "Tak bisa disamakan dengan semasa penumpasan GAM, warga dicurigai bahkan diintimidasi dengan sangkaan bekerja sama dengan GAM! Kali ini yang dihadapi kelompok teroris dari luar Aceh, jadi intimidasi serupa harus dihindarkan! Sebaliknya, warga Aceh harus dipandang sebagai korban yang terancam dari pengacauan teroris!"

"Selain itu, karena yang dihadapi jaringan teroris internasional, Densus 88 dan satuan polisi lainnya yang bertugas menumpas diharapkan bisa bekerja efektif agar kelompok ini tak sampai lolos dan menyebar ke daerah lain!" timpal Amir. "Jika sampai lolos dan menyebar, negeri kita bisa jadi seperti Pakistan yang diobok-obok jaringan Al Qaeda, peledakan bom terjadi nyaris setiap hari mengorbankan banyak warga sipil!""
Selanjutnya.....

Century Gate Masuki Babak Baru!


"PETUNJUK membersit, Century Gate memasuki babak baru!" ujar Umar. "KPK sudah menemukan lima indikasi korupsi dalam dana talangan Rp6,7 triliun ke Bank Century! Sedang DPR, setelah rapat Pansus Hak Angket Century Gate sepanjang hari kemarin 'menghabisi' mantan Deputi Gubernur BI Bidang Pengawasan, Aulia Pohan, diketahui telah terjadi pembiaran atas kesalahan yang dilakukan berulang sejak awal merger tiga bank gagal--CIC, Pikko, dan Danpac--menjadi Bank Century!"

"Dari kedua sisinya itu semakin tampak adanya pelanggaran hukum, baik akibat penyalahgunaan wewenang maupun kelalaian!" timpal Amir. "Dari situ terpenting dicatat, dalam pengungkapan kasus ini sama sekali tidak ada politisasi! Kedua lembaga melangkah tepat pada jalur tugasnya--KPK menelusuri korupsinya, Pansus DPR mencari pelanggaran aturan main kekuasaan!"

"Catatan itu penting karena membantu bank di saat krisis untuk menyelamatkan ekonomi negara tentu merupakan keharusan!" tegas Umar.
"Tapi timbul masalah, di balik pelaksanaan keharusan itu ada yang membonceng untuk mendapatkan keuntungan pribadi dengan merampok sebagian dana talangan dari LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) sebesar Rp6,7 triliun itu! Padahal, dana LPS itu uang negara, setoran modal awal LPS dari APBN Rp4 triliun dan setoran bank dari potongan bunga tabungan nasabah untuk premi jaminan simpanan! Jadi, seluruh dana itu uang rakyat!"

"Dengan talangan itu uang rakyat, penyimpangan dalam penyalurannya sebesar Rp2,8 triliun yang tak berdasar hukum (versi BPK), harus dicari yang bertanggung jawab!" timpal Amir. "Usaha mencari penggarong uang rakyat nyata bukan politisasi! Sebaliknya, usaha menutup-nutupi penggarongan itu dengan penggunaan segala bentuk kekuasaan yang justru merupakan politisasi!"

"Maka itu, KPK dan Pansus DPR tak perlu terhalang oleh segala bentuk kontraisu yang menyebut pelaksanaan tugas mereka sebagai politisasi!" tegas Umar. "Semua sepakat bantuan pada bank di masa krisis untuk menyelamatkan ekonomi nasional! Tapi semua juga sepakat, siapa pun membonceng untuk keuntungan pribadi atau golongan di balik bantuan tersebut, apalagi menggarong dana talangannya, harus ditindak tegas menurut hukum!"

"Lebih lagi pidana korupsi terkait perbankan! Berdasar yurisprudensi, kelalaian pimpinan BI dari Burhanuddin Abdullah sampai Aulia Pohan atas dana Yayasan BI divonis hukuman berat, dalam Century Gate--seperti terungkap di rapat Pansus Selasa (5-1)--kelalaian terjadi berulang-ulang sampai para anggota Pansus menyebutnya permisivisme,--pembiaran kesalahan yang terus-terusan terjadi!" timpal Amir. "Karena itu, harus diperjuangkan hukum tetap berlaku sama pada setiap warga negara!" n
Selanjutnya.....

Tamatlah Riwayat Noordin M. Top!

"AKHIRNYA, tamatlah riwayat Noordin M. Top, gembong teroris asal Malaysia buron nomor satu Polri! Ia tewas meledakkan diri hingga wajahnya rusak!" ujar Umar.

"Polisi memastikan itu jenazah Noordin berdasar sidik jarinya. Bersama Noordin, tewas dua teroris perakit bom, Urwah dan Aji!"

"Lega dadaku dapat kepastian yang tewas Noordin M. Top!" sambut Amir. "Betapa, bersama teroris asal Malaysia lainnya Dr. Azhari, selama ini mereka menebar maut di negeri kita! Alasannya hanya karena Indonesia sejawat Amerika, penyerang Taliban--sekutu Al Qaeda di Afghanistan! Padahal Malaysia sekutu Inggris, ikut menyerang Taliban di Afghanistan!"

"Itulah subjektivitas Dr. Azhari dan Noordin M. Top yang tak dilihat para pengikutnya di Indonesia hingga rela mengebom negeri sendiri dan saudara sebangsa!"
tegas Umar. "Untuk sukses Densus 88 Antiteror Polri menghabisi petualang Noordin M. Top, kita angkat salut! Diharapkan, dengan kerja efektif Densus 88, sisa teroris segera diringkus!"

"Efektifnya kerja Densus 88 layak diacungi jempol! Tak ada bias sedikit pun dalam penyergapannya, meski dilakukan di perkampungan padat warga--Solo!" timpal Amir.

"Tewasnya Adib Susilo risiko menyembunyikan teroris! Sedang terlukanya istrinya yang hamil, Munawaroh, salahnya sendiri. Diminta petugas agar keluar, malah bertahan!"
"Keefektifan kerja Densus 88 dengan zero bias itu bahkan jauh lebih baik dari ABRI di era Orde Baru!" tegas Umar. "Bandingkan dengan pengepungan ABRI di Talangsari, banyak wanita dan anak-anak di antara 246 korban tewas dalam penyerbuan terhadap jemaah pengajian Warsidi 7 Februari 1989!" (Fadilasari, Talangsari 1989, LSPP, 2007)

"Bandingan bias itu meyakinkan kita bahwa untuk mengatasi teror di negeri ini, cukup Polri, sesuai prinsip civil society yang ditegakkan reformasi!" timpal Amir. "Kalau ingin lebih tangguh, Densus 88 ditingkatkan kualitasnya! Jadi, tak perlu merevisi UU Antiterorisme hanya untuk memberi dasar hukum melibatkan TNI memerangi terorisme, karena pengalaman biasnya pada warga sipil yang luas di masa Orde Baru itu tak boleh diulang!"

"Tampak, demi pertimbangan mencapai zero bias itu pula kenapa pengepungan rumah Mujahri di Temanggung dilakukan Densus 88 hingga 17 jam! Untuk tujuan itu terbukti kerja Densus 88 sangat efektif, hanya Ibrohim, otak pelaku Bom Mega Kuningan, yang tewas!" tegas Umar. "Memang, drama pengepungan panjang di Temanggung itu diejek jenderal Orde Baru dengan bandingan penyergapan pesawat Woyla yang hanya tiga menit! Tapi melihat medannya di kampung warga sipil yang padat penduduk, pilihan Densus 88 untuk menghindari bias terbukti efektif!"

"Maka itu, kita dukung Densus 88 meningkatkan kualitas!" timpal Amir. "Tak perlu meneror rakyat dengan menebar intel ke antero negeri memburu segelintir teroris! Cukup Densus, bravo 88!"
Selanjutnya.....

Ada Udang di Balik Batu Terorisme!

"POLRI berhasil meringkus satu lagi tokoh teroris, Moh. Jibril di Tangerang! Berdasar bukti-bukti yang didapat ia layak diduga sebagai koordinator jaringan pendanaan kelompok Noordin M. Top!" ujar Umar. "Sejak bom Mega Kuningan medio Juli, dalam waktu relatif singkat polisi telah berhasil mengungkap para pelaku dan koordinatornya! Ada tertangkap hidup, mati tertembak, sebagian lagi buron dengan identitas sudah diketahui!"

"Dibanding serangan teroris ke WTC 11-9-2001 di AS, keberhasilan Polri mengungkap sekaligus meringkus sejumlah orang terkait jaringan teroris bom Mega Kuningan relatif lebih baik!" sambut Amir. "Tapi kenapa ada gerakan yang meragukan kemampuan Polri dalam memerangi terorisme! Misalnya, di televisi ada yang membandingkan sergapan polisi terhadap Ibrohim di rumah Muhjari, Temanggung, berlangsung 17 jam, dengan sergapan ABRI terhadap teroris pesawat Woyla di Don Muang, yang hanya tiga menit!"

"Penyergapan Polri terhadap teroris di Jatiasih, Bekasi, juga tak lebih dari tiga menit!" timpal
Umar. "Masalahnya, kalau tak ada udang di balik batu, tak akan tempua bersarang rendah! Jika dasar menilai lemah kemampuan Polri dengan bukti Densus 88 kecolongan hingga terjadi bom Mega Kuningan, di zaman Orde Baru juga intel ABRI sering kecolongan bom Komando Jihad!"
"Dibanding kondisi ketegangan masyarakat ekses dari kecamuk gerakan intel ABRI (sekarang TNI) era berburu Komando Jihad, kondisi masyarakat dalam masa Densus 88 Polri berburu teroris dewasa ini relatif jauh lebih tenteram! Rakyat tak mencemaskan ekses sepak terjang intel seperti masa lampau itu!" tegas Amir. "Bahkan saat-saat menjelang pemilu, masa lalu itu rakyat tercekam ketakutan untuk mengeluh saja pun, apalagi protes atau demo, karena bisa kena tuduhan subversif--ditahan tanpa dasar hukum dan batas waktu! Jadi, kondisi yang sudah amat baik bagi warga itu, selayaknya dijaga dan dipertahankan, untuk tidak diobrak oleh gerakan intel-intelan yang cuma menebar rasa takut pada rakyat, lebih menakutkan dari terorisme itu sendiri!"

"Tepatnya, segala bentuk udang di balik batu lewat usaha meragukan kapasitas kemampuan Polri memerangi teroris, agar dipertimbangkan kembali demi menjaga rasa tenteram masyarakat yang kondusif dewasa ini!" sambut Umar. "Sebaliknya, kapasitas kemampuan Polri dalam hal ini diupayakan untuk terus ditingkatkan, terutama dana operasi dan peralatannya!"
"Meski di sisi lain, kepada jajaran Polri juga perlu diingatkan untuk lebih keras berusaha melindungi rakyat dari segala jenis gangguan keamanan!" tegas Amir. "Dalam kondisi warga yang tata tentrem, gerak teroris lebih mudah terlihat!" n 
Selanjutnya.....

Teroris Sekarang Siapa yang Punya?

"KEK, teroris sekarang siapa yang punya?" tanya cucu.
"Kau pikir teroris ada yang punya?" sambut kakek.
"Berarti kakek tak mengikuti acara Secret Operation di Metro TV!" tukas cucu. "Di situ diungkap, Komando Jihad, teroris di negeri kita beberapa dekade sejak 1970-an, ternyata bentukan Pitut Suharto dari Opsus (Operasi Khusus), jaringan intel Orde Baru di bawah Ali Murtopo! Komando Jihad dibentuk untuk kepentingan Opsus dari sisa-sisa gerakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Untuk pendanaannya, tokoh-tokoh Komando Jihad dijadikan agen minyak tanah Pertamina!"

"Berdasar cerita itu, menurutmu Komando Jihad siapa punya?" potong kakek.
"Jelas, Komando Jihad punya Opsus!" jawab cucu.
"Dengan contoh itu untuk melihat teroris siapa punya, tiga hal harus diurut: pertama sejarahnya, kedua untuk kepentingan siapa teroris dibentuk, dan ketiga pendanaannya!" tegas kakek. "Dari sejarahnya, kelompok Noordin M. Top sekarang sempalan Jemaah Islamiyah (JI), yang semula dibentuk sebagai subordinat Al-Qaeda! Sedang Al Qaeda di bawah pimpinan Osama bin Laden, semula dibentuk dan dilatih oleh Amerika Serikat, untuk mendukung pejuang Mujahidin mengusir tentara Soviet dari Afghanistan! Dengan sejarah demikian, bisa dikatakan teroris bekerja untuk kepentingan AS, sekaligus teroris milik AS!"

"Hidup Kakek!" sambut cucu. "Teroris milik AS!"
"Itu dulu!" entak kakek. "Setelah kaum Mujahidin berkuasa di Pakistan, Osama dan kelompok teroris ditelantarkan oleh AS! Osama marah, bersama subordinatnya berbalik melawan AS! Tanpa dukungan Osama, kekuasaan Mujahidin dengan mudah direbut oleh Taliban! Bahkan, setelah sejumlah serangan pada kepentingan AS di Afrika, Osama dan Al Qaeda bergabung dengan Taliban! Maka itu, usai serangan ke WTC 11-9-2001, AS menyerbu Al-Qaeda di Afghanistan!"

"Berarti teroris bergeser jadi milik Osama!" sela cucu. "Tapi, apa dana teroris Noordin M. Top dari Arab dan Malaysia bisa dipastikan dari Al-Qaeda?"
"Noordin yang cerdik, bisa saja menciptakan kesan begitu!" tukas kakek. "Kebenaran kesan itu harus dibuktikan! Tapi dengan dana yang disebut miliaran rupiah itu, Noordin jadi gesit dan selalu lolos dari polisi--meski jaringan terorisnya berhasil dibongkar sampai akarnya!"

"Kegagalan polisi meringkus Noordin itu membuat penguasa gerah, hingga siap mengerahkan militer untuk memerangi teroris!" sela cucu.
"Gelar pasukan militer mengatasi teroris kurang tepat, selain mengecilkan polisi, pengerahannya bersama intel-intel militer sampai ke pelosok daerah bisa mengulang kesan buruk masa lalu!" tegas kakek. "Dengan kembalinya militer aktif di tengah masyarakat, kesan lain timbul, ternyata kehadiran teroris menguntungkan militer! Lewat tafsiran begitu, pertanyaan teroris sekarang siapa punya, bisa dijawab ngawur oleh awam!" ***
Selanjutnya.....

Serial Drama TV Noordin M. Top!

"PERANG melawan teroris yang dilakukan Densus 88, tanpa disadari telah menjadi serial drama televisi berlakon Noordin M. Top yang disiarkan nyaris semua stasiun televisi nasional!" ujar Umar. "Warga masyarakat luas terlibat membicarakan serial drama teroris tersebut, tak kalah seru dari pendengar setia serial drama radio Saur Sepuh dengan tokoh Brama Kumbara era 1980-an!"

"Dua serial yang disajikan jenis media berbeda itu, meski sama serunya, pengaruhnya berbeda pada masyarakat!" sambut Amir. "Serial drama teroris lewat meda lihat dan dengar--televisi--menjadi repetisi kekerasan yang dipertontonkan paksa, tak cuma kekerasan perbuatan teroris, tapi juga unjuk kekerasan yang dilakukan polisi--seperti drama pengepungan rumah Muhzahri di Temanggung yang relatif bertele-tele selama 18 jam!"

"Apa pengaruh repetisi kekerasan itu?" sela Umar.

"Mempertontonkan repetisi kekerasan secara berseri begitu, yang diikuti penonton semua usia, bisa mengimunkan warga--terutama generasi muda--terhadap kekerasan!" tegas Amir. "Dalam keimunan itu, kekerasan diterima warga menjadi hal yang biasa-biasa saja! Kalau kecenderungan itu tak dihentikan, perlahan tapi pasti bisa menyemai violent culture dalam masyarakat--suatu budaya di mana kekerasan menjadi pilihan utama untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan masalah!"

"Apa bedanya dengan Saur Sepuh yang juga ciat-ciat?" potong Umar.

Saur Sepuh lewat radio, tak ada paksaan melihat kekerasan! Meski ciat-ciat, pendengar cuma bisa membayangkan dengan versi masing-masing pertarungan silat yang diikutinya, tak menanam kesan indrawi sedalam gambar konkret televisi!" tegas Amir. "Kedua, dalam ®MDRV¯Saur Sepuh®MDNM¯ tokoh yang selalu disebut sehingga menjerat keidolaan para pendengar adalah Brama Kumbara, kesatria putih yang luhur budinya! Sedang dalam serial drama teroris, tokohnya Noordin M. Top, yang selalu menang selangkah dari polisi pemburunya! Lagi-lagi, kalau kecenderungan itu tak dihentikan, lalu polisi juga masih selalu kalah selangkah dari buronan nomor satu itu, bukan mustahil kalau secara diam-diam keidolaan warga jutru mengacu ke Noordin M. Top!"

"Apalagi dalam serial action, yang didaulat jadi jagoan oleh penonton selalu tokoh yang unggul, seperti Noordin M. Top dalam kejar-kejaran dengan polisi!" sambut Umar. "Konon lazim pula jagoan action seperti Zorro, sendiri melawan pasukan banyak anggota!"

"Tak kalah heboh, di balik selalu lolosnya Noordin M. Top dari sergapan polisi, berembus pula isu bos teroris itu punya ilmu menghilang, meski info intel memastikan dia ada di suatu tempat, disergap ia lolos!" timpal Amir. "Tampak perlu ditinjau ekses tayangan serial drama teroris, karena selain bisa berbalik menjagokan Noordin M. Top, keimunan warga dari kekerasan perlu dicegah!" n
Selanjutnya.....

Polri Sukses Menyergap Teroris !

“DRAMA penyergapan teroris sepanjang Jumat malam hingga Sabtu pagi di Temanggung dan Bekasi oleh Densus 88 Polri menuai sukses, menghabisi tiga teroris, satu di antaranya diduga tokoh utama teroris Noordin M. Top!” ujar Umar. “Di Bekasi, Polri menyita ratusan kilogram peledak untuk serangan bom bunuh diri di Jakarta!”

“Salut pada Polri atas suksesnya!” timpal Amir. “Keberhasilan itu, selain menangkap dan menghabisi para pelaku, juga menangkal rencana serangannya yang jika kecolongan bisa dahsyat, mengingat besarnya peledak yang disiapkan!”

“Bisa dibayangkan kalau perkiraan Kapolri benar, dengan bahan peledak sebanyak itu yang menjadi sasaran rumah pribadi Presiden SBY di Cikeas dan Istana Merdeka saat upacara Hari Kemerdekaan!” sambut Umar. “Bukan hanya besarnya jumlah korban, tapi lebih serius lagi para pejabat tinggi negara dan perwakilan asing yang kena! Betapa penting arti sukses Polri menangkal rencana serangan teroris itu!”

“Tak kalah pentingnya, selain tiga teroris yang tewas setelah melakukan perlawanan, Polri juga menangkap hidup sejumlah tersangka yang terkait kelompok teroris terakhir ini! Dari mereka diketahui, masih ada beberapa “tokoh strategis” teroris yang lolos!” tegas Amir. “Antara lain yang gambar hasil pengintaian polisi ditunjukkan Kapolri dalam jumpa pers, seperti SJ—tokoh perekrut calon pelaku bom bunuh diri! Juga AJ, ahli peracik bom murid langsung Dr. Azhari! Tak boleh dilupakan tersangka pelaku serangan bom sebelumnya yang belum tertangkap, seperti Dulmatin dari kasus bom Bali dan sang penata bunga Ibrohim dan Nur Said alias Nur Hasbi dari kasus bom J.W. Marriott dan Ritz Carlton terakhir! Juga Maruto! Memburu mereka sampai dapat, termasuk membongkar jaringan sel teroris baru yang mereka bentuk, menjadi tugas berat polisi yang belum selesai dalam menumpas terorisme!”

“Berarti, seandai yang tewas dalam pengepungan dan penyergapan di Temanggung itu Noordin M. Top, dengan masih berkeliarannya tokoh perekrut bom bunuh diri (SJ), ahli peracik bom murid Dr. azhari (AJ), ahli strategi teror (Nur Said, Dulmatin) dan ahli taktis lokasi (Ibrohim), ancaman teroris ke depan masih rawan!” timpal Umar. “Karena itu, sukses besar menumpas teroris di Temanggung dan Bekasi ini diharapkan tidak membuat Polri terlena, karena juga bukan mustahil kegiatan Temanggung dan Bekasi itu cuma umpan yang sengaja mereka bocorkan untuk pengalihan perhatian dari persiapan serangan para “tokoh spesialis” yang masih berkeliaran itu!”

“Harapan kita tentu, para “tokoh spesialis” itu bisa diringkus secepatnya, sebelum siap dengan serangan baru!” tegas Amir. “Kalau lambat, sel-sel baru teroris sempat terbentuk, terorisme malah jadi ancaman laten!” ***

Selanjutnya.....