Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Tampilkan postingan dengan label pembangunan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembangunan. Tampilkan semua postingan

Masalah Tumbal Pembangunan!


"HATI-HATI jaga anak di rumah!" pesan suami ke istri. "Meski berita penculikan anak reda, kita tak boleh lengah! Siapa tahu situasi tenang diciptakan sindikatnya agar orang kurang waspada!"

"Katanya anak-anak diculik untuk dibuat tumbal pembangunan bendungan?" tanya istri.

"Itu isu zaman Belanda!" jawab suami. "Sekarang, seperti terungkap dari culik yang tertangkap, anak yang diculik dijual ke luar negeri!"

"Berarti tetap hidup, dipelihara orang kaya yang tak punya anak?" kejar istri. "Tak dibunuh seperti kalau dijadikan tumbal pembangunan?"

"Tumbal itu orang yang sengaja dikorbankan, tak mesti dibunuh!" jelas suami. "Memang ada tumbal dibunuh! Seperti dalam film warga primitif, orang yang jadi tumbal dibunuh sebagai persembahan di depan berhala yang mereka sembah!"

"Berarti setiap ada yang sengaja dikorbankan ada semacam berhala, alasan tumbal, kepada siapa persembahan ditujukan?" tanya istri.

"Meski tidak selalu eksplisit!" tegas suami. "Bisa terbersit dari demi ini demi itu yang dijadikan alasan untuk sejumlah atau sekelompok orang sengaja dikorbankan alias dijadikan tumbal!"

"Ada contoh yang nyata?" kejar istri.

"Para korban pembumihangusan permukiman nelayan di Kualakambas dan Kualasekapuk, yang menyangkut nasib 759 jiwa warga bangsa!" jelas suami. "Dalam pidato di forum resmi, seseorang yang mungkin merasa tanggung jawabnya tak terlepas dari pembumihangusan permukiman nelayan itu menyatakan para korban di Kualakambas dan Kualasekapuk itu sengaja dikorbankan demi pelestarian alam TNWK!"

"Contoh lain yang lebih dekat, ada?" cecar istri.

"Para gelandangan pengemis dan anak-anak telantar di Kota Bandar Lampung yang sengaja dikorbankan demi kota itu terihat selayak kota makmur yang tanpa kaum duafa!" tegas suami. "Dikorbankannya mereka bukan semata sengaja, malah dilakukan secara de jure—barang siapa memberi uang atau bantuan kepada para duafa itu diancam hukuman badan atau denda!"

"Kalau terbukti ada kelompok-kelompok orang yang sengaja dikorbankan atau dijadikan tumbal begitu, apakah pembangunan nasional sekarang tak lagi pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat?" tanya istri.

"Bahkan, slogan itu kini nyaris tak terdengar!" jawab suami. "Dengan kenyataan ada kelompok-kelompok warga yang sengaja dikorbankan, terlihat manusia bukan lagi orientasi utama pembangunan! Keadilan sosial (tak lagi) bagi seluruh rakyat Indonesia! Menyedihkan!"

Selanjutnya.....

Si 'Kambing Hitam' Perubahan Iklim!


"IBU menyambal pakai cabai apa sih, tak terasa menyengat pedasnya?" entak Budi.

"Itu dampak perubahan iklim, hujan turun tak menentu, banyak tanaman cabai rusak, harganya jadi mahal!" jawab ibu. "Karena mahal, cabai belum cukup umur dipanen, jadi kurang pedas!"

"Sudah mahal, tak pedas pula!" gerutu Budi. "Tapi kenaikan harga kebutuhan pokok bukan hanya akibat perubahan iklim yang berpengaruh di sentra produksi! Kenaikan harga itu juga akibat ongkos angkut dari sentra produksi ke pasar naik karena jalan rusak, yang tak cuma memperlambat jalan kendaraan, tapi malah macet, menyita waktu dan bahan bakar!"

"Jalan-jalan rusak jadi semakin parah juga karena perubahan iklim!" timpal ibu. "Karena hujan turun tak menentu, perbaikannya jadi terkendala!"


"Kalau itu, secara nyata dan jelas perubahan iklim dijadikan si 'kambing hitam'!" tukas Budi. "Sebab, kerusakan jalan tak segera diperbaiki terjadi sejak sebelum gejala perubahan iklim muncul! Lalu ketika terjadi perubahan iklim rusaknya semakin parah, hingga di jalan Lintas Sumatera saja bisa macet panjang di berbagai lokasi, perubahan iklim dijadikan alasan! Manusia tak mau disalahkan, semua kesalahan dilimpahkan ke alam!"

"Padahal, perubahan iklim itu sendiri tak terlepas dari kesalahan manusia!" timpal ibu. "Perubahan iklim terjadi akibat pemanasan global yang disulut oleh semakin padatnya gas karbon dari buangan cerobong industri, air conditioner dan mobil negara-negara maju di atmosfer, mengakibatkan efek rumah kaca--bumi semakin panas--penguapan laut kian besar, curah hujan meningkat, es di kutub mencair, dan permukaan air laut naik!"

"Tapi negara maju menyalahkan kita, karena membabat hutan tropis!" kejar Budi. "Padahal akibat pembabatan hutan itu yang tenggelam oleh banjir kita sendiri, bukan mereka!"

"Hutan tropis itu produsen oksigen terpenting untuk bumi sekaligus membuat keseimbangan dengan karbon di atmosfer!" jelas ibu. "Memang harus adil, negara industri harus serius melakukan mitigasi--mengurangi gas karbon dari industrinya, kita memelihara hutan tropis! Tapi perubahan iklim yang terjadi ekstrem di seluruh permukaan bumi sekarang menunjukkan, baik negara-negara maju maupun kita sama-sama kurang serius melaksanakan kewajibannya!"

"Kalau begitu kita harus antisipasi segala dampak perubahan iklim!" tegas Budi. "Jika para pemimpin dunia sudah lain di mulut lain perbuatan begitu, umat manusia sedunia yang menanggung derita!"

Selanjutnya.....

JSS, Belajar dari Kisah Suramadu!

"JSS--jembatan Selat Sunda--harus dibangun dengan persiapan lebih baik pada masyarakat dan prasarana serta sarananya di sisi hinterland--dalam hal ini Lampung--agar tak mengulang kisah antiklimaks Madura pada pembangunan Jembatan Surabaya-Madura--Suramadu!" ujar Umar.

"Antiklimaks seperti apa?" tanya Amir.

"Menurut Dr. M. Ikhsan Modjo, ekonom Unair, di seminar Lampung Menyongsong JSS, akibat persiapan prapembangunan secara multidimensi kemasyarakatannya kurang memadai, dewasa ini bukan investor yang berbondong-bondong ke Madura seperti dibayangkan semula!" jelas Umar. "Justru sebaliknya, warga Madura yang ramai-ramai rekreasi dan belanja ke Surabaya! Artinya, uang dari Madura yang malah disedot Surabaya!"


"Berarti, dalam waktu yang masih tersedia sekitar 15--20 tahun sampai JSS selesai dibangun, warga Lampung harus menyiapkan pusat-pusat daya tarik baru yang mampu menyaingi kemajuan di sisi lain jembatan, agar bisa menyedot perhatian warga Jakarta dan Pulau Jawa umumnya!" timpal Amir. "Sebab, katakanlah tak terelakkan dengan JSS warga Sumatera tertarik berkunjung ke Jawa, tapi dengan daya tarik yang seimbang sehingga warga Jawa juga ingin ke Lampung, jumlah penduduknya jauh lebih besar Pulau Jawa, juga kemakmurannya! Jadi, secara kuantitatif (jumlah orang) maupun kualitatif (besar belanjanya) Lampung tetap untung!"

"Pusat-pusat daya tarik baru untuk liburan berupa tempat hiburan, rekreasi, dan belanja itu bukan pula hanya di sekitar ujung jalan keluar dari JSS!" tegas Umar. "Dengan jalan yang baik antarkota di Lampung, semua daerah menata diri bersaing sebagai tujuan lanjutan! Kalau terbatas hanya di sekitar JSS, orang cepat bosan sekali berkunjung selesai! Jadi, tujuan-tujuan alternatif harus siap!"

"Tapi, untuk semua itu, apakah pembangunan JSS bakal betul-betul terlaksana?" tukas Amir. "Sebab, JSS itu sudah digagas sejak zaman Bung Karno, tapi selalu jadi angin lalu!"

"Kali ini lebih konkret!" jawab Umar. "Keppresnya sudah keluar 28 Desember 2009! Itu dasar Bank Indonesia cabang Bandar Lampung dan Lampung Post membuat seminar JSS, di mana Dr. Kausar Ali Saleh, M.Sc., pakar pemerintahan dan otonomi daerah menyingkap, dari sisi suprastruktur, masih diperlukan seperangkat aturan hukum baru bagi pemda untuk memayungi realisasi gagasan besar tersebut! Misalnya, aturan untuk konsolidasi dukungan dan partisipasi warga pada JSS sebagai bagian dari shareholder pemda, di luar obligasi daerah, agar JSS jadi milik masyarakat! Sekaligus, JSS tak terlalu membebani APBD yang harus tetap fokus untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat!"

"Pikiran bagus!" tegas Amir. "Jangan sepenuhnya andalkan investor asing, nanti ironis--di negeri kita ada jembatan terpanjang di dunia, ternyata milik China!"
Selanjutnya.....