Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Tampilkan postingan dengan label Piala Dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Piala Dunia. Tampilkan semua postingan

Spanyol Raih Takdir Juara Piala Dunia!


"HANYA takdir, suratan nasib sebuah bangsa, yang menentukan Spanyol menjadi juara Piala Dunia 2010!" ujar Umar. "Dengan itu Piala Dunia di Afrika Selatan memberi pelajaran penting umat sejagat, takdir harus diraih dengan usaha atau ikhtiar maksimal! Seperti Spanyol, usaha itu berlatih keras mewujudkan kerja sama tim yang terbaik, taktis, dan strategi yang matang, diamalkan dalam perjuangan pantang menyerah!"

"Dengan takdir sebagai buah usaha dan ikhtiar maksimal itulah, Johan Cruyff, sang megabintang Belanda, sejak awal tak terlalu yakin tim negerinya bisa jadi juara dunia 2010! Ronald Koeman dan Frank Rijkaard bahkan membuat pernyataan senada setelah Belanda menjadi finalis di Afrika Selatan!" sambut Amir. "Alasan mereka sederhana, dalam berbagai segi ikhtiar dimaksud, apa yang dilakukan Timnas Belanda tak sebaik Spanyol! Artinya, bagi para tokoh sepak bola Belanda itu, dari usaha dan ikhtiar mambangun kapasitas tim, Spanyol lebih layak menjadi juara!"

"Perkiraan Cruyff dan kawan-kawan itu terbukti!" tegas Umar. "Pengalaman dua kali menjadi finalis Piala Dunia tidak memberi nilai lebih, dibanding Spanyol yang baru pertama jadi finalis!"

"Betapa pentingnya hikmah dari totalitas nilai Piala Dunia bisa dilihat, sihirnya mencapai Cikeas--di mana Presiden SBY nonton bareng dengan sejumlah menteri kabinetnya!" timpal Amir. "Tentu hal itu tak lepas dari kerinduan memiliki tim nasional sepak bola yang berkiprah di pentas Piala Dunia! Tapi sayang, hasrat itu cuma bisa dipendam Presiden atau Menteri Olahraganya, karena haram bagi FIFA pemerintah campur tangan dalam organisasi sepak bola negerinya, seperti PSSI. Sebesar apa pun pemerintah menginginkan itu, no way! Jadi, lebih tepat menarik hikmah Piala Dunia untuk membentuk tim pemerintahan setangguh tim Spanyol, dari pusat sampai daerah!"

"Prinsipnya membangun takdir bersama sebuah bangsa untuk menjadi bangsa yang tangguh!" tegas Umar. "Tentu dimulai dari negara yang direpresentasikan pemerintah, lalu oleh warga dalam segala jalur kehidupan! Semua berikhtiar meraih takdir bersama lewat usaha mewujudkan kerja sama tim terbaik, dengan taktik dan strategi matang, berjuang pantang menyerah!"

"Lewat menonton Piala Dunia kita menyadari betapa untuk hal-hal elementer itu saja kita masih kedodoran!" timpal Amir. "Tak banyak pemimpin berorientasi meraih takdir bersama sebuah bangsa, karena lebih berjuang demi kekuasaan diri, keluarga, dan kelompoknya belaka!"

Selanjutnya.....

Sandal Beda Warna, Aksi KIB II Kecewa!


TERGESA nonton voli 17-an, di jalan ayah baru sadar pakai sandal jepit beda warna, merah dan biru! Ia suruh anaknya pulang untuk mengambil pasangan warna yang benar. Tapi saat sampai anaknya tak membawa sandal. "Percuma dibawa, Yah!" ujar anak.

"Pasangan sandal yang tinggal di rumah beda warna juga!"

"Jelas yang tinggal beda warna, pasangannya ayah pakai!" timpal ayah. "Sudah, tak apa! Cara berpikir begitu bisa membuatmu jadi menteri!"

"Jadi menteri?" sambut anak. "Apa menteri juga disuruh mengambil sandal beda warna?"

"Secara prinsip tak beda!" jawab ayah. "Presiden SBY di awal jabatan kedua mengumpulkan menteri Kabinet Indonesia Bersatu II (KIB II) dan semua gubernur, membuat program prioritas hal-hal yang kurang pas--sandal beda warna! Lahir 170 program aksi dengan 369 subrencana aksi! Hasil evaluasinya diumumkan (8-7), 49 subrencana aksi mengecewakan! Itu di lingkup Menko Polhukham, Menko Perkonomian, dan Menko Kesra!"

"Jadi banyak menteri yang ditugasi menyiapkan pasangan sandal beda warna agar pas, terbukti mengecewakan?" tukas anak. "Kasihan kabinet, terpaksa ke acara 17-an pakai sandal beda warna! Sekalipun mereka berpakaian jas lengkap!"

"Pemakaian sandal beda warna ke acara 17-an itu gambaran metaforis, mengesankan kehadiran mereka dengan pakaian resmi yang lengkap itu ditopang oleh kinerja yang kurang beres!" tegas ayah. "Untuk itu kita salut kepada Presiden SBY, yang melalui unit kerjanya melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan semua program aksi! Dengan begitu para menteri yang kinerjanya kurang beres tahu diri, mendapat tekanan untuk bekerja lebih baik, meningkatkan kemampuan!"

"Kalau pemain sepak bola di Piala Dunia, ditugasi sebagai striker dengan dukungan aliran bola yang serbamulus--pada menteri dukungan dana dan fasilitas yang serbacukup--tapi tak kunjung bisa menembak bola ke sasaran dan mencetak gol, pemain itu dikeluarkan dan diganti!" timpal anak.

"Dalam pemerintahan seperti kabinet, tak mesti seperti di Piala Dunia!" jelas ayah.

"Kalau dalam zaken cabinet, menteri-menteri disusun seperti pemain bola--sesuai bidang keahliannya, ketika ada menteri yang gagal memenuhi fungsinya lazim diganti seperti pemain bola! Lain hal dalam 'kabinet partisan', menteri diangkat tak berdasar keahlian di bidang tugas kementeriannya, tapi berdasar jasanya memenangkan suara dalam pemilihan presiden! Jadi andai gagal, cuma konsekuensi yang sudah diperhitungkan atas penyerahan tugas pada yang bukan ahlinya!"

Selanjutnya.....

Belanda Favorit, Spanyol Memikat!


"LOLOS ke final setelah unggul 3-2 dari Uruguay lewat peningkatan kerja sama tim yang cukup signifikan, Belanda kian difavoritkan menjuarai Piala Dunia 2010!" ujar Umar. "Namun, untuk di final jumpa Spanyol yang bermain memikat saat menaklukkan Jerman 1-0 di semifinal, Belanda harus membenahi serius sektor pertahanannya! Karena, Belanda masih kecolongan dua gol dari Uruguay tanpa Luis Suarez—striker Ajax Amsterdam—yang paham gaya pertahanan Belanda!"

"Kerapuhan pertahanan Belanda itu memang bisa memupus impian memenangi pertandingan final, andai Spanyol bisa mengulangi permainan possession football yang nyaris sempurna seperti saat menaklukkan Jerman!" sambut Amir. "Attacking football membuat Belanda jadi bermain long passing, akan mudah dipatahkan Spanyol yang kemudian mendominasi dengan permainan shot passing—terakhir menjadi kekhasan sekaligus keunggulan Spanyol!"

"Keunggulan nyata Belanda dalam pengalaman, dua kali jadi finalis Piala Dunia, 1974 dan 1978! Sedang Spanyol, prestasi terbaiknya juara empat Piala Dunia 1950 di Brasil!" tegas Umar. "Namun, selain juara Euro 2008 dengan menekuk Jerman di final dan mengulangnya di semifinal Piala Dunia, untuk pertama dalam sejarah, Juli 2008 Spanyol tercatat di puncak FIFA World Ranking, menjadi negara keenam yang pernah memuncakinya dan Spanyol satu-satunya yang belum pernah juara Piala Dunia! Antara November 2006 sampai Juni 2009, Spanyol tak terkalahkan pada 35 pertandingan internasional sebelum dikalahkan AS di Piala Konfederasi! Rekor itu teratas, setara Brasil!"

"Dengan kata lain, penanjakan prestasi Spanyol menuju puncak tahapan prosesnya bersifat historis terekam jejaknya oleh FIFA, selangkah demi selangkah dari November 2006 hingga ke final Piala Dunia 2010!" timpal Amir. "Peningkatan catatan prestasi itu seiring dengan peningkatan kualitasnya di pentas dunia! Artinya, jika Spanyol Senin dini hari jadi juara dunia, a-b-c prosesnya bisa dipelajari negara yang ingin menyamainya!"

"Tapi faktor luck—keberuntungan—masih 51 persen menentukan hasil sepak bola!" tegas Umar. "Itu sebabnya, tim Belanda yang ditangani pelatih Bert van Marwijk bisa mencapai prestasi lebih baik daripada saat ditangani pelatih terkenal seperti Hiddink, Johan Cruyff, Marco van Basten, Frank Rijkaard! Siapa tahu faktor luck era Van Marwijk bisa bablas sampai jadi juara Piala Dunia!"

"Kalau bisa jadi juara Piala Dunia tentu tak cuma faktor luck!" timpal Amir.

"Buktinya Indonesia yang cuma mengandalkan faktor luck, untuk juara tingkat ASEAN saja tak bisa!"

Selanjutnya.....

Boleh Kalah, tapi Bukan Pecundang!


"SEUSAI kalah 2-3, para pemain Uruguay memberi ucapan selamat kepada pemain Belanda yang menang dan maju ke final Piala Dunia 2010, ada dengan salam, ada dengan pelukan!" ujar Umar. "Sikap sportif itu mengagumkan, Uruguay menunjukkan mereka boleh kalah tapi tetap terhormat karena bukan pecundang!"

"Di Bandar Lampung, pasangan Eddy Sutrisno-Hantoni Hasan menerima kekalahannya dan mengakui pasangan Herman H.N.-Thobroni Harun sebagai pemenang pemilihan umum kepala daerah—pilkada! Di sidang KPU, sikap itu diikuti tiga kandidat lain dengan menandatangani berita acara rekapitulasi!" sambut Amir. "Hal sama dilakukan Taufik Hidayat-Agus Revolusi, kandidat di Lampung Selatan, mengakui kemenangan dan mendukung pasangan Rycko Menoza-Eki Setyanto! Jadi tampak, sikap sportif “boleh kalah tapi bukan pecundang” tak cuma terjadi di Piala Dunia, tapi juga di pilkada kabupaten/kota Lampung!"

"Dengan sikap sportif menghormati prestasi atau hak atas kemenangan rivalnya, orang jadi lebih terhormat--ketimbang pecundang justru merendahkan dirinya di mata orang yang menilai negatif penonjolan sikap kerdil!" tegas Umar. "Keteladanan sikap sportif tengah dibutuhkan masyarakat kita dalam skala nasional berdimensi luas, terutama di sepak bola dan pilkada yang acap ricuh! Sikap sportif harus secara simultan hadir dalam kehidupan sehari-hari warga hingga menjadi cerminan karakter bangsa!"

"Kondisi ideal itu jelas harus diwujudkan sebagai realisasi proses pembangunan karakter bangsa!" timpal Amir. "Untuk itu, munculnya contoh positif dalam pergulatan hidup masyarakat seperti dari pilkada ini, amat penting diangkat dan diberi penghormatan khusus! Penghormatan terhadap sikap yang layak diteladani itu bisa menanamkan kesan positif ke memori massa yang diharapkan bisa menumbuhkan nilai-nilai positif itu dalam kehidupan masyarakat!"

"Lebih menarik lagi munculnya sikap sportif itu dari Pilkada Bandar Lampung, yang sejak jauh hari proses penyelenggaraannya bermasalah--seperti kelebihan cetak surat suara sampai 116 ribu lembar!" tegas Umar. "Tapi hal itu tak jauh beda dengan sikap sportif di Piala Dunia, putusan wasit kadang keliru dan merugikan salah satu pihak tapi pemain tetap melanjutkan bertanding dan menerima hasil akhirnya!"

"Tampak, sikap sportif juga harus didasari suatu kesiapan lainnya, siap berkorban!" timpal Amir. "Siap mengorbankan kepentingan dirinya--apalagi yang cuma egoistik--demi kepentingan orang banyak, berjalannya sistem pada idealnya!"

Selanjutnya.....

Mampukah Belanda Ukir Sejarah Baru?


"SETELAH kekhasan total football tinggal kenangan, mampukah Belanda mengukir sejarah baru menjadi juara Piala Dunia 2010?" tanya Umar. "Sejarah baru melampaui prestasi 1974 dan 1978 yang cuma sebagai finalis!"

"Jika hanya dengan mengandalkan pada Arjen Robben seorang untuk membuyarkan pertahanan lawan seperti di perempat final lawan Brasil--yang diuntungkan emosi lawan yang disulut Robinho setiap terjadi freekick, meskipun digelari pembunuh raksasa, paling jauh Belanda mungkin cuma jadi finalis lagi!" jawab Amir. "Andai Brasil lebih tenang saat menghadapi Belanda, Felipe Melo tak sampai bunuh diri di menit 52 dan mendapat kartu merah di menit 75--setelah tertinggal 1-2 di menit 68! Emosi tim berakibat fatal bagi Brasil menjadi faktor keberuntungan buat Belanda!"

"Untuk mengukur kemampuan Belanda mengukir sejarah tentu harus dibandingkan dengan tiga tim di depannya!" ujar Umar. "Pertama Uruguay di semifinal, sebelum Jerman atau Spanyol di final! Pertama, keunggulan skill individu Belanda yang mengantarnya sampai semifinal diuji dengan faktor luck Uruguay yang juga luar biasa! Tak kepalang, raksasa Eropa Prancis dan tuan rumah Bafana-Bafana dikubur pada babak pertama oleh faktor luck Uruguay yang menjuarai grup A!"

"Lalu dibanding Jerman atau Spanyol dengan kelas bintang para pemain setara tapi lebih solid pada permainan tim, dalam head to head Belanda mendapat nilai minus dalam soliditas tim!" timpal Amir. "Ini tantangan yang harus diatasi Belanda lewat pertandingan semifinal, sehingga di final bisa lebih solid!"

"Tantangan itu berada pada pelatih Van Marwijk, untuk mendisiplinkan pemain dari gejala mau mencetak gol sendiri-sendiri--bahkan dari luar jarak tembak! Memang, salah satu tendangan Robben jadi gol penentu kemenangan, tapi itu justru memperkuat asumsi kurang prioritasnya soliditas tim!" tegas Umar. "Asumsi itu terbukti pada tanding lawan Brasil, kedua gol terjadi lewat bola mati! Gol pertama lawan bunuh diri saat freekick dari luar kotak penalti. Gol kedua tendangan pojok! Jadi, tak ada gol hasil kerja sama tim mengolah bola hidup! Beda Jerman dan Spanyol, lebih banyak gol hasil kerja sama tim saat bola hidup!"

"Dengan adanya titik lemah dibanding kedua calon lawannya di final itu, apalagi soliditas tim Spanyol yang hadir di Afsel telah teruji dengan mengalahkan Jerman di final Piala Eropa 2008, Belanda harus merebut faktor luck dari Uruguay di semifinal!" timpal Amir. "Sebab, di atas kertas, Belanda butuh faktor luck lebih besar untuk mengukir sejarah jadi juara Piala Dunia 2010!"

Selanjutnya.....

Uruguay, Bermodal Keunggulan Sejarah!


"DALAM Piala Dunia 2010 Uruguay tampak biasa-biasa saja! Tertatih-tatih di grup, 16 besar, dan perempat final, akhirnya sampai ke semifinal!" ujar Umar. "Jika disebut banyak faktor luck yang membuatnya sampai ke semifinal, tidaklah keliru! Seperti, jika lengan Suarez tak tertabrak bola di mulut gawangnya, hingga dihukum kartu merah dan penalti tapi gagal berbuah gol buat Ghana, Uruguay tersingkir tanpa lewat adu penalti!"

"Justru karena faktor luck akrab pada Uruguay, kiprah juara Piala Dunia dua kali (1930 dan 1950) sampai ke semifinal di Afsel ini jadi tak biasa lagi!" sambut Amir.

"Motivasi untuk mengulang sukses genap 80 tahun dan 60 tahun lalu, bisa menjadi modal keunggulan sejarah bagi Uruguay! Modal serupa tak dimiliki Belanda yang belum pernah jadi juara Piala Dunia, sekalipun kapasitas tim dan individu pemainnya di atas kertas lebih baik!"

"Faktor sejarah itu memang jadi aktual di Afrika Selatan, tapi dengan nada sebaliknya--momentum mengulang sejarah yang terlalu lama ditunggu itu akan menjadi beban mental yang berat pada para pemain Uruguay!" tegas Umar. "Tapi pelatih Uruguay Oscar Tabarez membantah perang urat saraf yang mengarah ke timnya itu, dengan menegaskan faktor sejarah itu bukan beban, melainkan justru jadi pendorong semangat juang timnya untuk mewujudkan harapan bangsanya! (fifa.com, [3-7]). Sepanjang sejarah Piala Dunia, selain juara dua kali, Uruguay juga tiga kali masuk semifinal, 1954 di Swiss, 1970 di Meksiko, 2010 di Afsel! Uruguay juga dua kali juara sepak bola di Olimpiade, serta tiga kali juara Copa Amerika!"

"Uruguay negara yang aktif sejak sepak bola dijadikan turnamen internasional awal abad 20, termasuk dalam keorganisasiannya!" timpal Amir. "Sepak bola masuk Olimpiade musim panas 1920 di Mesir yang dijuarai Belgia, Uruguay menjuarai dua Olimpiade berikutnya--1924 dan 1928! Atas dasar prestasi itu, Kongres FIFA 28 Mei 1928 di Amsterdam memutuskan pelaksanaan Piala Dunia FIFA pertama dengan tuan rumahnya Uruguay! Itu tak terlepas juga dengan peran Uruguay sebagai tuan rumah konferensi FIFA 1924 saat membuat sistem profesional dalam sepak bola yang berlaku hingga sekarang!"

"Dalam final Piala Dunia pertama di Montevideo 1930, tuan rumah Uruguay menekuk Argentina 4-2 disaksikan 93 ribu penonton!" tegas Umar. "Pada 1950, saat Piala Dunia kembali digelar usai Perang Dunia II, Uruguay kembali jadi juara setelah menaklukkan tuan rumah Brasil dalam pertandingan pertama yang dicatat FIFA sebagai Maracanazo--one of the most famous matches in World Cup history!"

Selanjutnya.....

Spanyol Ada Angin, Paraguay Ada Tuah!


"NASIB Spanyol seperti Belanda, sepak bolanya jadi bench mark papan atas Eropa, tapi belum pernah menjadi juara Piala Dunia!" ujar Umar. "Prestasi terbaik dicapai Spanyol di Piala Dunia 1950, masuk semifinal dan juara empat! Sisanya, dari 12 kali lolos kualifikasi, lima kali masuk perempat final—1934, 1986, 1994, 2002, 2010! Jumpa Paraguay di perempat final membuka peluang Spanyol buat lebih dari sekadar mengulang sukses 1950, karena empat raksasa saling “bunuh” di perempat final—Jerman, Argentina, Belanda, dan Brasil!"

"Masalahnya, meskipun Spanyol juara Piala Eropa 2008, apa bisa mengalahkan Paraguay?" sambut Amir. "Memang, ini pertama kali Paraguay sampai perempat final di Piala Dunia, selebihnya tiga kali cuma sampai babak kedua—1986, 1998, 2002! Tapi letak negaranya terjepit di tengah tiga negara juara Piala Dunia—Brasil 5 kali (1958, 1962, 1970, 1994, 2002), Argentina dua kali (1978, 1986), dan Uruguay dua kali (1930, 1950), hingga ada tuah juara di kawasannya! Paraguay tertinggal dari tetangganya mungkin akibat 60 tahun ditindas pemerintah reaksioner, termasuk diktator Jenderal Alfredo Stroessner! Tapi sejak April 2008 derita panjang itu berakhir dan kini dipimpin seorang humanis, mantan Uskup Katolik Fernando Lugo, yang memberi spirit baru kepada bangsanya untuk maju! Spirit baru dan tuah kawasan bagi Paraguay itu bukan hal sepele!"

"Tapi perjalanan Spanyol meraih Piala Eropa 2008 menunjukkan siapa mereka sekarang ini!" tegas Umar. "Spanyol memenangi semua pertandingan di grup, 4-1 atas Rusia, 2-1 atas Swedia dan juara bertahan Yunani, di perempat final menekuk juara Piala Dunia 2006 Italia 4-2, di semifinal jumpa Rusia lagi digilas 3-0. Dalam final lawan Jerman di Wina, Spanyol unggul 1-0 lewat gol Fernando Torres di menit 33. Jadi terlihat ada angin baik buat Spanyol untuk mencatat prestasi lebih baik di Piala Dunia, bahkan mungkin mencapai puncak!"

"Tapi pada 24 Juni 2009, meskipun menang terus dari grup sampai perempat final Piala Konfederasi FIFA yang juga di Afrika Selatan, Spanyol kalah 0-2 dari Amerika Serikat di semifinal!" timpal Umar.

"Itu Juni!" potong Amir. "Usai itu, rekor kualifikasi sempurna untuk Piala Dunia dicatat Spanyol, 10 kali main 10 kali menang di grup 5 Eropa, diakhiri mencukur Bosnia 5-2 pada 14 Oktober 2009!"

"Paraguay juga dahsyat, lolos kualifikasi Piala Dunia 2010 justru dengan mengalahkan 1-0 tim Diego Maradona di Buenos Aires, pada hari yang dimitoskan tuahnya, 9 September 2009, alias 9-9-9," tegas Umar. "Kita uji, lebih unggul angin Spanyol atau tuah Paraguay!" ***

Selanjutnya.....

Belanda Vs Brasil, Kontroversi Wasit!


"MALAM nanti drama Piala Dunia 2010 berlanjut, Belanda dan Brasil harus saling menyingkirkan agar masuk semifinal!" ujar Umar. "Sama piawai dribbling-nya, siapa lebih unggul Arjen Robben dan Robinho? Trio Robben, Van Persie, Kuyt, atau trio Robinho, Kaka, Fabiano?"

"Dalam perjalanan kedua tim sampai perempat final, Belanda masih seperti dinilai Johan Cruyff, soliditas tim kurang prima! Sebaliknya Brasil, sejak pertama turun menekuk Korea Utara 4-0, soliditas timnya lebih baik--meski permainannya belum determinatif!" sambut Amir. "Lalu, apakah pada laga hidup-mati bagi nasib timnya di Piala Dunia ini kedua tim akan mampu mengaktualisasikan permainan terbaiknya, tak mudah dijawab! Sebab, kembali ke Johan Cruyff, membangun soliditas tim perlu waktu lama, yang berati belum tentu cukup hanya lewat empat pertadingan sampai 16 besar!"

"Karena itu, dilihat dari sisi Belanda yang belum pernah menjuarai Piala Dunia (Brasil lima kali juara Piala Dunia), kehadiran mereka kali ini mungkin tak bisa disamakan dengan 1974 dan 1978 saat mencapai final berkat total football yang prima dimainkan Johan Cruiff dan kawan-kawan!" tegas Umar.

"Namun, dilihat dari sisi Brasil, peluang Belanda tidak tertutup karena yang dihadapi--Robinho, Kaka, dan Fabiano juga belum sekelas kuartet Roro--Ronaldo, Ronaldinho, Roberto Carlos, Romario di masa puncaknya! Apalagi era Pele-Garrincha! Jadi bisa dikata, untuk pertemuan nanti malam, Belanda-Brasil 50-50."

"Seandai kedua tim turun full team seperti babak sebelumnya, pemain yang bisa menjadi penentu hasilnya mungkin Robben dan Fabiano!" timpal Amir. "Kedua pemain punya kebiasaan berbeda! Robben sering mencetak gol lewat dribel bola dari tepi lapangan lalu masuk ke tengah sampai jarak tembak dan melepas tendangan keras! Sedang Fabiano seperti seniornya Ronaldo, lewat umpan terobosan yang menembaknya ke gawang lawan melihat situasi, tak selalu langsung tendang keras! Sering digocek dulu guna menciptakan momentum gol--kiper mati langkah hingga arah bola tak terjangkau--cukup dicolok asal bola masuk jaring! Peluang keduanya untuk unjuk kebolehan itu, juga 50-50."

"Dengan demikian, hasil akhirnya bisa-bisa malah ditentukan oleh wasit, karena di Piala Dunia 2010 ini relatif banyak putusan kontroversial! Seperti saat Jepang lawan Paraguay, kalau tabrakan pemain Paraguay jatuh, Jepang kena free kick! Tapi di tabrakan lain Jepang yang jatuh, Jepang juga yang kena free kick! Apa pun terjadi, yang salah Jepang!" tegas Umar. "Jadi, siapa lebih diuntungkan putusan kontroversial wasit yang akan maju ke semifinal!"

Selanjutnya.....

Piala Dunia 2010, Brasil tanpa Samba!


"DERETAN bintang Robinho, Kaka, Fabiano, meski terus melaju di Piala Dunia 2010, belum memperlihatkan gaya khas samba Brasil!" ujar Umar. "Terakhir, saat menindas Cile 3-0, Brasil justru mengandalkan serangan balik, mirip gaya Jerman dan Argentina di 16 besar! Dengan semua itu Piala Dunia 2010 jangan-jangan malah akan tercatat sebagai era counter attack football!"

"Jangankan gaya samba orisinalnya, sentuhan kecil kisi-kisinya saja, seperti mengoper bola dengan tungkai ke belakang, berulang gagal dilakukan Fabiano dan Robinho!" sambut Amir. "Gaya samba berintikan permainan satu-dua satu-dua (ketukan irama samba) dengan gonta-ganti pasangan yang memainkannya, dironai aneka gerak tipu indah mengecoh lawan! Gaya ini dimainkan pemain tengah dan penyerang dalam mengalirkan bola menembus pertahanan lawan! Gaya yang dirintis generasi Garrincha-Pele saat merebut Piala Dunia dua kali berturut 1958 dan 1962 itu, pola dasarnya--meski adaptif--masih dimainkan sampai generasi Ronaldo-Ronaldinho-Roberto Carlos yang meraih Piala Dunia 2002--dengan Ronaldo pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia, 15 gol! Gaya itu pada dasarnya tetap coba dimainkan oleh tim Brasil sekarang, tapi masih belum kentara sambanya!"

"Tujuan tarian samba satu-dua satu-dua dengan gonta-ganti pasangan itu, terutama guna memikat lebih banyak pemain lawan berkerumun ikut menari samba, untuk pada saat yang tepat bola dikirim ke sisi lain lapangan di mana telah menunggu pasangan lain yang sepi pengawalan!" tegas Umar. "Jadi bukan asal samba, tapi buat membuka peluang bagi striker mencetak gol!"

"Aku jadi teringat cerita kakek saat dunia terjangkit virus demam samba sepak bola Brasil era 1960-an!" timpal Amir. "Sampai pelosok udik perkebunan Sumut, orang di afdeling main bola pakai gendang bonggo dipalu irama samba, tentu samba ala Melayu, dengan rentak satu-dua satu-dua lagu Pung-Tipak-Tipung! Uniknya, menurut kakek, mereka belum pernah melihat permainan tim Brasil seperti kita nonton televisi sekarang! Mereka cuma dengar nama Pele dari radio, lihat gambar dan aksinya di koran!"

"Kere-aktif!" entak Umar. "Kawasan udik pelosok perkebunan hingga kini masih jadi ladang bibit pemain berbakat alam yang berimajinasi bermain gaya Pele-Ronaldinho! Tapi begitu diambil pelatih kota, imajinasinya dihabisi, dicetak jadi 'pemain pragmatis', asal bisa menang! Rupanya hal sama menggejala secara universal, lebih lagi sejak Piala Dunia 2006 yang dijuarai Italia lewat sepak bola negatif asal menang di laga final, hingga Brasil juga kena dampak kehilangan samba!"

Selanjutnya.....

Piala Dunia 2010, 'Finishing Touch'!


"DALAM gejala 'sepak bola pragmatis' dalam arti 'yang penting menang' hingga sepak bola sebagai seni olah gerak tubuh dan manuver bola yang indah bukan prioritas lagi dan kian langka, finishing touch--sentuhan akhir--bola saat mencetak gol menjadi puncak keindahan bagi penonton!" ujar Umar. "Lebih celaka lagi, benih-benih gerakan estetis sepak bola yang tumbuh pada pemain muda seperti Ronaldo (Portugal), Messi (Argentina), Robinho (Brasil), Klose dan Oezil (Jerman), sering terjungkal diganjal sliding tackle keras dengan tenaga berlebihan!"

"Konsekuensinya, penonton dibuat bosan dengan permainan keras kick and rush yang cuma bikin cemas mencederai pemain bintang!" sambut Amir. "Kepuasan hanya melintas sejenak--beberapa detik--sebagai klimaks saat pemain berhasil melakukan finishing touch mencetak gol dalam posisi jatuh terganjal sliding tackle seperti pada gol pertama Klose ke gawang David James--dalam laga Jerman-Inggris di 16 besar Piala Dunia 2010!"

"Terlepas dari semakin kurang diprioritaskannya keindahan sepanjang waktu permainan, finishing touch yang menjadi puncak dalam sepak bola mutakhir itu juga mengacu pada kualitas individual pemain! Bahkan puncak kualitas yang dituntut dari pemain!" tegas Umar. "Kekurangan pemain memenuhi tuntutan kualitas itu pula yang sering membuat tim gagal mencetak gol, meski sebenarnya memperoleh peluang sempurna!"

"Namun, di balik semua itu yang terpenting usaha untuk menyajikan permainan sepak bola indah masih tetap menyala, terutama di negara-negara papan atas dunia sepak bola--Brasil, Argentina, Jerman, Spanyol, Portugal, dan Belanda!" timpal Amir.

"Meski di antara tim-tim tersebut ada yang saling menyingkirkan di 16 besar dan
perempat final, bisa diharapkan kian mengerucut ke puncak kompetisi, sajian Piala Dunia 2010 akan semakin berkualitas dan jadi lebih enak ditonton!"

"Harapan begitu milik penonton seantero bumi!" tegas Umar. "Lebih penting dari itu, seiring terwujudnya harapan penonton, sajian sepak bola kualitatif bisa menjadi contoh permainan sepak bola ideal yang ditiru para pemain belia sedunia! Piala Dunia 2010 pun jadi medium transformasi nilai-nilai permainan sepak bola sebagai dasar mentalitas perjuangan yang tak kenal menyerah, dengan moralitas penuh sportivitas menghormati hak dan kemenangan pihak lain sesuai sistem dan aturan main yang didaulat bersama! Piala Dunia 2010 sekaligus menjadi finishing touch bagi warga planet bumi untuk selalu berjuang sportif seindah interaksi estetis permainan sepak bola!"

Selanjutnya.....

Piala Dunia 2010, 'Top Quality Game'!


"PRAKIRAAN Johan Cruyff tim Inggris di Piala Dunia 2010 cuma sejenis 'tim Italia B' menjadi kenyataan! Pasukan Tiga Singa digilas Panser 4-1," ujar Umar. "Cruyff menilai demikian karena permainan asli Inggris telah hilang, diganti gaya Italia yang out of date! Itu karena selain Fabio Capello melatih Timnas Inggris, pelatih Italia lainnya juga melatih klub-klub Inggris--Carlo Ancelotti di Chelsea dan Roberto Mancini di Manchester City!"

"Lebih dramatisnya, Inggris yang sejak kick off bermain amat ngotot, dilayani Jerman dengan bermain efektif!" sambut Amir. "Pelatih Joachim Loew menyiapkan Jerman bermain tanpa beban! Pada hari-hari menjelang pertandingan lawan Inggris, Ozil cs. justru lebih banyak santai ketimbang berlatih! Mereka jalan-jalan ke kebun binatang singa Afrika Selatan, bermain dengan singa-singa jinak! Jadi, apalagi tim yang cuma berjuluk tiga singa, singa sungguhan pun jinak pada mereka!"

"Bagaimana langkah tim Panser berikutnya, yang harus berebut tempat di semifinal dengan tim Argentina yang sedang di puncak performanya?" tanya Umar.

"Adu tajam antara trio Klose, Podolsky, Mueller dengan trio Messi, Higuain, Tevez!" jawab Amir. "Dengan materi andalan mereka miliki di lini depan, kedua tim akan memainkan attacking football--sepak bola menyerang! Pasti seru, pertandingan perempat final Klose lawan Messi ini akan jadi top quality game Piala Dunia 2010!"

"Tapi operan bola dari kaki ke kaki Jerman tampak lebih akurat dibanding Argentina,
terutama saat Argentina mengalahkan Meksiko 3-1," tukas Umar. "Belum lagi trik-trik meloloskan bola dari kerumunan lawan, lebih enak dilihat yang dilakukan Jerman! Sedang pemain Argentina, tanpa kecuali Messi, jika dikerubuti lawan sering kehilangan bola!"

"Itu tak terlepas dari perbedaan permainan Jerman dengan Argentina atau Amerika Latin!" timpal Amir. "Jerman dan Eropa kontinental cenderung bermain shot passing--overan pendek--dengan mencari advantage dari possession football, sedang Argentina dan Amerika Latin cenderung long passing dengan advantage pada keunggulan teknik individu dalam duel-duel rebutan bola! Pertarungan antara dua gaya berbeda itulah yang menarik dari partai Jerman-Argentina!"

"Tapi gol kedua tim pada tanding terakhir mereka sama-sama lewat umpan terobosan dalam serangan balik!" tegas Umar. "Termasuk gol Tevez dengan tendangan keras dari luar kotak penalti, kiper lawan tertipu gaya terobosan hingga tak siap mengantisipasi tembakan Tevez langsung ke gawang!"

"Untuk gaya permainan itu kedua tim mengandalkan gelandang!" timpal Amir. "Praktis adu tangguh di lapangan tengah antara trio Schweinsteiger, Oezil, dan Khedira lawan Veron, Mascherano, dan Heinze! Siapa lebih tangguh, timnya lebih diuntungkan!"

Selanjutnya.....

Piala Dunia 2010, Tim Terbaik Dunia!


"FIFA 1994 membuat The FIFA World Cup All Time Team--Tim Piala Dunia FIFA sepanjang masa!" ujar Umar. "Wikipedia mencatat tim terbaik dunia itu, kiper Lev Yashin (Uni Soviet, 1964-1970), full back Djalma Santos (Brasil 1952-1968), Paul Breitner (Jerman 1971-1982), center back Franz Beckenbauer (Jerman 1965-1977), Bobby Moore (Inggris 1962-1973). Pemain tengah Johan Cruyff (Belanda 1966-1978), Michael Platini (Prancis 1976-1987), Bobby Charlton (Inggris 1958-1970). Penyerang, Garrincha (Brasil 1955-1966), Ferenc Puskas (Hungaria 1945-1958) dan Pele (Brasil 1956-1971)."

"Di antara mereka hadir di Piala Dunia 2010, Pele, Franz Beckenbauer, Michael Platini, Johan Cruyff!" sambut Amir. "Aneh, Cruyff tak terlalu yakin Belanda bisa jadi juara Piala Dunia 2010!"

"Alasannya apa?" potong Umar.

"Karena mayoritas timnya main di klub luar negeri! Sebagai tim permainannya kurang solid!" jelas Amir. "Untuk membuat tim solid perlu waktu panjang, tak mungkin dilakukan jika mereka tak di tempat! Untuk itu ia lihat Spanyol lebih baik, karena cuma sebagian kecil--Torres, Alonso dan Fabregas--yang main di luar, sisanya berkumpul di Barca, Real Madrid, dan Valencia! Dengan itu timnya bisa lebih solid!" (goal.com, [7-6])

"Nadanya mirip kritik Beckenbauer pada Prancis, yang tak layak main di Piala Dunia karena datang cuma seperti pemanasan!" timpal Umar. "Terbukti, Prancis jadi tim pertama angkat koper!"

"Kritik sama dilontar Cruyff pada juara bertahan Italia, sebelum menyusul tersingkir!" tegas Amir. "Italia masih unjuk the winning team serta gaya the winning game Piala Dunia 2006, padahal semua lawan telah tuntas mempelajarinya! Karena itu pula, Cruyff menyesalkan Inggris!"

"Ada apa dengan Inggris?" kejar Umar.

"Inggris memborong the winning game Italia itu, hingga kekhasan sepak bola Inggris hilang!" tegas Amir. "Inggris pasang mesin Italia, Carlo Ancelotti di Chelsea, Roberto Mancini di Manchester City, malah Fabio Capello di timnas! Sepak bola Inggris berubah jadi sepak bola Italia, dengan gaya yang out of date, pemilik ‘trade mark'-nya dilucuti tim-tim lemah! Juga klub-klub Inggris, meski juara di negerinya, terakhir semua gagal di level Eropa!"

"Analisis para megabintang pilihan FIFA itu terbukti!" timpal Umar. "Tampaknya untuk jadi pemain besar bukan cuma menguasai teknik individual, kerja sama tim, strategi permainan serta mampu mempraktekkan di lapangan, tapi juga menguasai filosofi bola sampai dasar dan akar pemikiran setiap subsistemnya! Kita langka kapasitas seperti itu pada kalangan pembina sepak bola!"

Selanjutnya.....

Piala Dunia 2010, 'Falling Leaf Shot'!


"LUAR biasa! Dalam pertarungan hidup-mati--yang kalah angkat koper--lawan Denmark di Piala Dunia 2010, striker Jepang Keisuke Honda dengan indah mengukir sejarah tendangan falling leaf--daun gugur!" ujar Umar. "Itu ia lakukan pada menit 20 saat menendang bola mati di luar kotak penalty lawan! Arah bola ke gawang ditutup rapat pagar pemain Denmark yang jangkung-jangkung, dengan tenang Honda menendang bola lambung melampaui pagar manusia itu lalu jatuh melayang ke samping, sisi kanan gawang lawan hingga tak terjangkau kiper yang siaga di tengah!"

"Sukses tendangan falling leaf Honda mengulang sejarah 48 tahun lalu, saat striker Brasil Garrincha--sang pencipta falling leaf shot--melakukan dengan sempurna pada semifinal Piala Dunia 1962 lawan tuan rumah Cile! (msn Sport, [8-5-2010])" sambut Amir. "Tendangan Honda yang memukau dan jadi pembuka kunci masuk 16 besar itu menunjukkan kualitas teknis pemain Asia tak lagi bisa dipandang sebelah mata pemain belahan bumi lain!"

"Apalagi kemampuan sama juga dibuktikan Endo, pemain Jepang lainnya, yang pada menit 30 menambah gol buat Jepang dengan tendangan pisang--banana shot, juga lewat bola mati di luar kota penalty lawan!" tegas Umar. "Bahkan kemampuan istimewa itu di Asia bukan monopol Jepang! Sehari sebelumnya, striker Korea Selatan Park Chu Young pada menit 49 lawan Nigeria, juga memastikan negaranya lolos ke 16 besar dengan tendangan pisang dari luar kotak penalti, melewati dari samping pagar lawan yang menutup arah bola ke gawang!"

"Pokoknya, dua tim wakil Asia itu bukan sekadar lolos ke 16 besar Piala Dunia 2010, tapi mencapai itu lewat demo kualitas teknis individual pemain berkelas dunia!" timpal Amir. "Karena itu, kualitas teknis dan gaya permainan kedua tim layak dijadikan standar bagi sepak bola Asia Timur-Tenggara yang postur tubuh pemainnya relatif lebih kecil dan pendek dari belahan bumi lain! Sudah terbukti, dengan gaya permainan Korea Selatan dan Jepang itu, Asia Timur mampu mengencundangi tim belahan bumi lain yang bertubuh lebih tinggi dan lebih besar! Jepang menaklukkan Denmark 3-1, lawan bertubuh Skandinavian, penjelajah Viking yang terkenal!"

"Tanpa menguasai kemampuan teknis individual yang tinggi dan gaya permainan khas
mengatasi kekurangan dalam postur tubuh dibanding lawan pada skala dunia, sepak bola Asia Timur-Tenggara akan selalu di barisan underdog!" tegas Umar. "Untuk itu, Korea Selatan dan Jepang merupakan bench mark--standar pengukurnya!"

Selanjutnya.....

Piala Dunia 2010, Soal 'Sliding Tackle'!


"PUTARAN awal Piala Dunia 2010 bisa jadi ajang main poker--jika kartu kuning dan merah yang dikeluarkan wasit ditukar satu set kartu joker! Mayoritas kartu diberi wasit akibat sliding tackle--meluncurkan tubuh dengan kaki menendang bola di kaki lawan!" ujar Umar. "Soalnya, di Piala Dunia 2010 ini setiap ada pemain jatuh karena sliding, langsung disemprit! Sering tak peduli sliding-nya kena bola! Jadi, standarnya yang di-sliding jatuh atau tidak, bukan bolanya kena atau tidak!"

"Gejala demikian membuat pemain frustrasi, tak cuma orang per orang, bahkan bisa terjadi pada tim seperti terjadi pada Jerman saat lawan Serbia usai Klose mendapat kartu merah!" sambut Amir. "Penonton juga resah! Banyak situs di internet seantero dunia membahas hukuman wasit atas sliding tackle di Piala Dunia 2010 ini, malah ada yang membahas kasus per kasus!"

"Tegasnya wasit di Piala Dunia 2010, khususnya pada sliding tackle, merupakan respons FIFA atas makin seringnya pemain andalan cedera serius akibat kian kerasnya gaya permainan sepak bola mutakhir, khususnya lagi dalam sliding tackle!" tegas Umar. "Meskipun demikian, FIFA tidak membuat peraturan baru mengenai sliding tackle! FIFA hanya meminta wasit prioritas pada keselamatan pemain dengan menerapkan aturan main secara tegas! Wasit dianggap cukup arif untuk menilai mana tackle yang membahayakan pemain dan layak dihukum sesuai dengan ketentuan!"

"Kalau memakai aturan FIFA, berarti sliding tackle tidak dilarang! Menurut Jonathan Lister dalam Slide Tackling Rules (www.eHow.com), jika dilakukan secara benar, slade tackle merupakan manuver sepak bola yang efektif di mana pemain bertahan menyapu secara bersih bola jauh dari penyerang!" timpal Amir. "Tapi, jika tak dilakukan secara benar, sanksi berat untuk sliding tackle!"

"Sanksi berat seperti apa?" kejar Umar.

"Sliding tackle dilarang dari belakang! Sanksinya kartu kuning! Jika memakai tenaga berlebihan, bisa langsung dikartu merah!" jelas Amir. "Sedang sliding tackle dari samping, jika kena bola boleh! Jika tak kena bola tapi kena kaki, free kick! Jika tak kena bola lalu sengaja menjatuhkan atau menendang kaki lawan, kartu kuning! Jika sengaja menendang kaki lawan dengan kekuatan yang berlebihan, kartu merah! Wasit di lapangan bisa menilai sejauh mana pelanggaran terjadi!"

"Kalau begitu, tindakan wasit sesuai dengan ketentuan!" tegas Umar. "Cuma, karena terlalu sering kartu kuning, pemain merasa tertekan dan Piala Dunia 2010 jadi kurang enak ditonton!"

Selanjutnya.....

Piala Dunia 2010, Tendangan Pisang!



"BERKAT petuah Eusebio, Tim Portugal bangkit menggilas Korea Utara 7-0!" ujar Umar.

"Eusebio, striker legendaris Portugal, top scorer Piala Dunia 1966 dengan 9 gol--mengingatkan Portugal pernah dikejutkan Korea Utara dengan angka 3-0 baru setengah jalan babak pertama di perempat final! Tim Eusebio saat itu akhirnya unggul 5-3!"

"Nama Eusebio mengingatkan tendangan pisang yang dilakukannya di Piala Dunia 1966!" sambut Amir. "Ini berdasar cerita Kamarudin Panggabean, Komda PSSI Sumut, sepulang nonton Piala Dunia 1966 di Inggris. Di podium saat melantik pengurus Persesi--Persatuan Sepak Bola Siantar--di Siantar Hotel, ia kisahkan tendangan pisang Eusebio! Kata dia, untuk mahir melakukan tendangan itu Eusebio setiap hari berlatih dengan 25 bola selama satu jam!"

"Tapi tendangan pisang bukan trade mark Eusebio da Silva Ferreira kelahiran Mozambik 25 Januari 1942 itu, meskipun secara teknis ia terlatih melakukannya!" tukas Umar. "Menurut catatan AFP yang di-update msn Sport (8-5), trade mark teknik tendangan pisang milik Garrincha, pemain Brasil sezaman Pele yang lahir 1933 dengan nama Manuel dos Santos Francisco! Kekhasan Garrincha bukan cuma banana shot, melainkan juga falling leaf! Bedanya, tendangan pisang melewati “pagar” dengan melengkung lewat samping, sedang daun jatuh setelah melewati atas pagar kepala manusia, jatuhnya melayang ke pojok gawang lawan!"

"Baru ini kudengar soal Garrincha!" timpal Amir.

"Maka itu, rajin membaca dan berselancar di internet!" tegas Umar. "Garrincha mendukung Pele di barisan depan Brasil saat dua kali meraih Piala Dunia, 1958 dan 1962! Meskipun tak muncul dalam line up tim Brasil di tanding pembukaan Piala Dunia 1958 di Swedia, pada tahap lanjutan Garrincha menjadi sayap brilian bagi teenager Pele untuk merebut supremasi dunia! Pada Piala Dunia 1962 di Cile, ia mencetak dua gol lawan Inggris di perempat final, menambah dua gol di semifinal--satu gol tendangan daun jatuh yang menakjubkan saat menekuk 4-2 tuan rumah Cile!"

"Mungkin karena kalah populer dari Pele, nama Garrincha kurang dikenal dunia!" potong Amir.

"Popularitas Garrincha justru hancur oleh tingkah sendiri!" timpal Umar. "Akibat mendapat kartu merah di semifinal Piala Dunia 1962 itu, ia frustrasi dan hidupnya jadi ngawur! Pada 1963 ia tinggalkan istri dan anaknya, menikahi penyanyi terkenal! Hal ini jadi salah satu penyebab Brasil gagal di Piala Dunia 1966! Tapi usai Brasil kembali merebut Piala Dunia 1970, Pele berkata, 'Tanpa Garrincha, saya tak mungkin tiga kali meraih Piala Dunia!"

Selanjutnya.....

Piala Dunia 2010, Spirit Pembebasan!



"KALAU dalam Piala Dunia 2002 Turki dan Korsel nyodok sampai semifinal, pada Piala Dunia 2010 tim Paraguay tampak berjuang keras untuk mendapatkan peluang sama!" ujar Umar. "Setelah menahan 1-1 juara bertahan Italia, berbekal spirit pembebasan amanah rakyat negerinya, Paraguay menaklukkan Slovakia 2-0! Meskipun yang mencetak gol Enrique Vera dan Cristian Riveros, kepatriotan Roque Santa Cruz dan Nelson Valdez, keduanya bintang Liga Primer Inggris dan Bundesliga, layak diperhitungkan!"

"Selain permainan tim Paraguay enak ditonton, semangat juangnya membuka harapan—dua sisi sekeping uang!" sambut Amir. "Itu karena dalam profesionalitas, selain di liga Eropa, para pemain Paraguay juga main di klub-klub standar Amerika Latin! Vera bermain di Ekuador, Aureliano Torres di Argentina! Paraguay negara kecil, berpenduduk 6.995.655 (2009)—lebih kecil dari Lampung—menjadikan pemain sepak bola sebagai ‘komoditas’ ekspornya!"

"Keindahan sepak bola jadi jalan keluar dari kemiskinan bagi anak-anak Paraguay, salah satu negara termiskin di Amerika Latin!" tegas Umar. "Akibat kemiskinan yang luas, Pemilu Presiden 22 April 2008 dimenangkan mantan Uskup Katolik Fernando Lugo (56 tahun)—yang terkenal sebagai bishop of the poor—uskupnya orang miskin! Lugo, aktivis Teologi Pembebasan, menang pemilu lewat Aliansi Patriotik untuk Perubahan yang memperjuangkan keadilan dan melawan kemiskinan! (Buzzy.com, [23-4-2008]) Gelora spirit pembebasan di hati rakyat inilah amanah bagi tim Paraguay ke Piala Dunia 2010! Presiden Lugo mengirim pesan khusus pada tim di Afsel, agar meneruskan perjuangan Salvador Cabanas, pemain yang sedang terluka akibat tembakan di Meksiko City, yang baru sadar di Buenos Aires!" (The Jakarta Post, [21-6])

"Kemenangan Lugo membebaskan Paraguay dari cengkeraman golongan reaksioner yang telah berkuasa 61 tahun!" timpal Amir. "Penguasa reaksioner itu bernaung dalam Partai Colorado, yang juga pernah mendukung diktator Jenderal Alfredo Stroessner! Calon dari partai penguasa itu hanya mendapat suara 30 persen!"

"Lugo yang kampanye hanya mengenakan sandal membangun aliansi luas, serikat buruh, warga Indian, para petani miskin, dan partai-partai oposisi!" tegas Umar. "Tokoh karismatik ini mengartikulasikan kemarahan rakyat terhadap korupsi dan penyelenggaraan negara yang busuk, penyebab para petani dan kaum miskin sangat menderita puluhan tahun!"

"Dengan spirit pembebasan dari kemiskinan lewat sepak bola, setiap langkah maju tim Paraguay di Piala Dunia 2010 menjadi pembuka gerbang masa depan lebih baik bagi anak negerinya!" timpal Amir. "Semangat patriotik Santa Cruz dkk. pun akan selalu menjiwai sajian permainan sepak bola indah Paraguay!"

Selanjutnya.....

Piala Dunia 2010, Tak Kenal Libero!



"DI Piala Dunia 2010 tak ada pemain yang diberi peran atau berkapasitas sebagai libero, seperti Beckenbauer di tim Jerman pada Piala Dunia 1974!" ujar Umar. "Libero menurut Wikipedia berasal dari kata Italia yang berarti bebas! Beckerbauer selaku inisiator bebas menjelajah semua lini! Di belakang menjadi benteng pertahanan terakhir yang berfungsi sweeper--sapu jagat! Di tengah sebagai 'jenderal' pengatur strategi! Di depan, bukan saja menyalurkan bola ke striker, malah dirinya sendiri merupakan striker paling berbahaya! Begitulah libero!"

"Jika dalam Piala Dunia 2010 tak dikenal libero, mungkin karena para manager pelatih tak menemukan pemain yang memenuhi kapasitas untuk diberi peran sebagai libero!" sambut Amir.

"Selain harus memiliki speed dan power yang luar biasa, seorang libero harus menguasai secara mahir semua teknis sepak bola! Lebih dari itu, postur tubuh ideal dilengkapi moralitas dan mentalitas mumpuni sebagai pemimpin lapangan! Untuk kualifikasi seperti itulah, sang megabintang legendaris Franz Beckenbauer hingga sekarang belum ada duanya!"

"Beckenbauer lahir di Muenchen 11 September 1945, dijuluki Der Kaiser, 'Sang Kaisar', berkat gayanya yang anggun, kemampuan memimpin, dan dominasinya di lapangan sebagai libero!" tambah Umar. "Selain sebagai kapten ia berhasil membawa Jerman juara dunia 1974, sebagai pelatih ia kembali membawa Jerman menjuarai Piala Dunia 1990 di Italia!"

"Dalam Piala Dunia 2010, Beckenbauer hadir di Afsel! Tentu ia jadi tumpuan wartawan meminta komentar! Hasilnya, ia kritik tajam tim Prancis, Inggeris, dan tanpa kecuali, tim Jeman!" tegas Amir. "Tim Prancis menurut Beckenbauer tak pantas tampil di piala dunia, karena sejauh ini cuma menunjukkan level permainan kelas uji coba dan tak pantas disaksikan di ajang sekelas piala dunia. (Kompas.com, 20/6) Lalu tim Inggris, karena Liga Primer lebih banyak memberi ruang untuk pemain asing, Fabio Capello tak bisa membuat sentuhan apa pun untuk mengubah kick and rush--permainan kasar--Inggris! Saat lawan AS, Inggris cuma sedikit menunjukkan permainan sepak bola!" (MI, 15/6)

"Lalu kritik buat tim Jerman?" kejar Umar.

"Karena tak membawa pemain senior, antara lain karena memang cedera, seperti Michael Ballack dan Heiko Westermann!" jawab Amir. "Tanpa pemain senior terbukti, setelah kecewa atas kartu merah buat Klose, tak ada motivator di lapangan yang mampu membangkitkan kembali semangat juang anak-anak 'Der Panzer'! Setelah kalah 0-1 dari Serbia, bahkan Podolski gagal menyamakan lewat tendangan penalty! Jadi, jangankan libero, motivator lapangan saja tak dibawa!"

Selanjutnya.....

Piala Dunia 2010, Ironi 'Total Football'!


"TOTAL football itu sebuah ironi! Ia dikagumi, tapi belum pernah membawa Belanda--penemu dan pemakai gaya ini--menjuarai Piala Dunia!" ujar Umar. "Di era keemasan total football, Belanda dua kali berturut mencapai final Piala Dunia, 1974 dan 1978. Pada 1974 Johan Cruyff cs. dikalahkan skuat Franz Beckenbauer 1-2 di Jerman! Pada 1978 dikalahkan tim Mario Kempes di Argentina!"

"Selebihnya, cuma sampai semifinal Piala Dunia 1998 di Prancis!" sambut Amir.

"Kenyataan itu tak sebanding dengan popularitas total football! Juga dengan rumusan indahnya, seperti dari Wikipedia, total football is the label for an influential theory of tactical association football in wich any player can take over the role of any other player in the team. It was pioneered by Dutch football club Ajax. It was invented by Rinus Michels, 'The General', a famous Dutch football trainer/coach--total football itu nama sebuah teori yang berpengaruh mengenai taktik serikat sepak bola di mana setiap pemain bisa mengambil alih peran pemain lain dalam tim. Teori itu dirintis klub sepak bola Belanda Ajax, ditemukan Rinus Michel, 'Sang Jenderal', pelatih terkenal sepak bola Belanda."

"Dalam ensiklopedi sama juga disebutkan, gaya permainan ini dipopulerkan Johan Cruyff pada 1970-an!" timpal Umar. "Di Piala Dunia 2010 tim Belanda tak memperlihatkan fanatisme bermain total football. Mungkin karena mayoritas pemain Belanda main di klub asing, sehingga permainan mereka lebih terpengaruh gaya klub masing-masing! Akibatnya, timnas Belanda terlihat lebih ber-panta rei, mengikuti irama aliran bola dengan mendorong ke muara--gawang lawan--sekadar fleksibel mengisi peran di posisi pemain lain yang kosong! Jadi bisa disebut cuma semi-total football!"

"Di luar Belanda, total football dipupulerkan Guus Hiddink di Korsel dan Rusia! Sepeninggal Hiddink, kedua tim nasional tidak konsisten!" tegas Amir. "Korsel pada tanding perdana di Piala Dunia 2010 memainkannya dengan baik dan menang 2-0 atas Yunani! Tapi, pada tanding kedua berubah hingga kalah 1-4 dari Argentina!"

"Namun, teori total football yang mengisi peran pemain lain yang kosong itu juga tepat buat pemerintah dalam melayani rakyat!" timpal Umar. "Misalnya, kini jalan nasional rusak parah, peran pemerintah pusat yang kosong itu bisa diisi oleh pemprov atau pemkab/pemkot! Tapi mereka juga kedodoran dalam memelihara jalan provinsi dan kabupaten/kota! Akibatnya ironis, di jalanan yang rusak parah itu terkesan tak ada pemerintahan--yang wajib melayani infrastruktur buat rakyat!"

Selanjutnya.....

Piala Dunia 2010, Gerakan tanpa Bola!


"SEIRING faktor nasib (luck) berperan 51 persen, hal lain yang juga menentukan dalam sepak bola justru gerakan tanpa bola!" ujar Umar. "Pemain yang gerakan tanpa bolanya baik, bukan ngos-ngosan mengejar bola, tapi ia justru lebih sering didatangi bola! Karena, gerakan tanpa bola itu antisipasi arah aliran bola, atau alternatif operan ketika teman terdesak!"

"Tim dengan gerakan tanpa bola yang baik akan menguasai bola lebih banyak, karena setiap pemain mendapat bola akan selalu ada teman di dekatnya yang kosong--tak terhalangi lawan--hingga bola selalu dikuasai timnya!" sambut Amir. "Prinsipnya, tim yang lebih banyak menguasai bola lebih punya peluang ketimbang tim yang pemainnya cuma ngudak-udak lawan yang selalu menguasai bola! Sedang tim yang gerakan tanpa bolanya buruk, akan lebih sering mati langkah sehingga sering menggantol atau menyerimpung dari belakang kaki lawan yang menguasai bola!"

"Tim yang gerakan tanpa bolanya cukup baik dalam Piala Dunia 2010 antara lain Jerman, Argentina, dan Pantai Gading!" timpal Umar. "Sedang pemain yang menonjol untuk itu, Mesut Ozil dan Lionel Messi! Dari kedua pemain ini terlihat hal penting lain dalam gerakan tanpa bola, yakni gerakan saraf di wajahnya yang selalu menebar senyum--tanpa kecuali saat jatuh diganjal lawan! Dengan senyum itu permainan jadi tak terbakar emosi, dibanding dengan pemain yang wajahnya selalu terlihat sangar seperti Wayne Rooney dan Drogba!"

"Senyum Ozil justru menjadi penyempurna indahnya permainan sepak bola yang dibangun oleh gerakan tanpa bola!" tegas Amir. "Indahnya gerakan tanpa bola dengan senyum Ozil bahkan bagaikan indahnya rangkaian ayat-ayat cinta, mengekspresikan sepak bola sebagai medium persahabatan dan solidaritas!"

"Itu karena Ozil orang Turki kelahiran Jerman, seperti Aisha Greimas, istri Fahri bin Abdullah Shiddiq dalam film Ayat-ayat Cinta yang diangkat dari novel karya Habiburrachman El Shirazy!" timpal Umar. "Ketika disajikan secara indah, permainan sepak bola memang bisa memikat untuk diikuti terus seperti membaca novel, hingga sayang kehilangan momen sekedip pun! Cuma sayangnya, dalam Piala Dunia sepak bola sejak 2002 sampai 2010 ini, keindahan itu tak pernah utuh, selalu tercabik oleh terjangan dan gaya permainan kasar lainnya! Akibatnya, Piala Dunia berubah jadi ayat-ayat angkara! Padahal, Piala Dunia 2010 yang dibiayai Rp65 triliun lebih itu untuk persahabatan dan solidaritas manusia sejagat--sayang kalau tanam padi tumbuh ilalang!"

Selanjutnya.....

Piala Dunia 2010, Tidak Lebih Baik!


"MESKI Piala Dunia 2002 dan 2006 dicatat paling kotor dan buruk permainannya, ada tanda-tanda Piala Dunia 2010 tak bakal lebih baik!" ujar Umar. "Dalam empat hari pertama sampai 15 Juni dini hari (usai Italia lawan Paraguay), sudah terbukukan empat kartu merah dan 43 kartu kuning! Artinya, tiada hari tanpa kartu merah, dengan setiap hari rata-rata 10 kartu kuning!"

"Sebagai tontonan, pertandingan dalam Piala Dunia 2010 secara umum belum memberi sajian permainan memukau, apalagi memuaskan!" timpal Amir. "Diakui, ada tim yang bermain agak mengesankan, tapi secara sepihak! Misalnya Argentina, Korea Selatan dan Jerman! Sedang tim-tim lain, tanpa kecuali Belanda, Inggris, dan Italia, permainannya masih jauh dari yang diharapkan!"

"Dari banyaknya hukuman yang diberikan wasit, hal itu terjadi cenderung karena semakin keras dan menjurus kasarnya gaya permainan sepak bola (soccer) belakangan ini, mendekati gaya kick and rush (tendang dan tabrak) dalam sepak bola rugby yang memang lazim main tabrak untuk menghentikan lawan!" tukas Umar. "Akibatnya, para pemain yang bagus terancam menjadi korban permainan keras dan kasar itu! Harapan penonton mendapat sajian sepak bola indah semakin jauh!"

"Satu-satunya harapan yang bisa menghentikan permainan keras dan kasar itu, dan mengubahnya menjadi sepak bola indah, memang pada ketegasan wasit!" timpal Amir.

"Banyaknya pemain mendapat kartu kuning pada tanding perdana, bahkan kartu merah langsung seperti Tim Cahill dari Australia, seyogianya jadi pelajaran bagi semua tim untuk bermain lebih elegan, mengubah gaya permainan keras dan kasar menjadi permainan yang lebih menarik!"

"Masih ada faktor lain yang bisa memengaruhi terjadinya perbaikan permainan!" ujar Umar. "Yaitu para pemandu bakat yang mencari bintang baru buat klub-klub besar! Piala Dunia adalah kesempatan emas bagi pemain berbakat unjuk kebolehan, mencuri perhatian para pelaku bursa pemain bayaran! Bagi pemain yang menyadari Piala Dunia merupakan etalase terbaik untuk itu, pasti berusaha keras menampilkan permainan terbaiknya! Peluang ini tak disia-siakan, sekaligus menjadi tumpuan bagi penonton untuk mendapatkan sajian permainan bola yang bagus!"

"Harapan boleh-boleh saja!" timpal Amir. "Tapi untuk mengubah gaya permainan yang justru menjadi ciri sepak bola abad 21, membelokkan tren yang sudah berjalan sejak Piala Dunia 2002, diperkuat lagi pada Piala Dunia 2006, agaknya berlebihan! Lebih mungkin justru Piala Dunia 2010 memantapkan ciri tersebut!"

Selanjutnya.....