Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Tampilkan postingan dengan label Presiden. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Presiden. Tampilkan semua postingan

Bikin Indonesia Sedamai Konoha!

http://lampost.co/berita-bikin-indonesia-sedamai-konoha


YADIAN (14), anak pesantren Al-Khoirot, Karangsuko, Pagelaran, Malang, meminta Presiden Joko Widodo menjadi pemimpin yang bisa menciptakan kedamaian seperti kepemimpinan Naruto di Konoha.
Yadian menyampaikan itu dalam video balasan kepada Jokowi yang menjelaskan mengenai Hokage dan Konoha. Sebelumnya, Yadian bertanya ke Jokowi di #Jokowimenjawab soal Hokage dan Naruto. Namun, Jokowi tak bisa menjawab pertanyaan itu dan justru meminta Yadian membuat video penjelasan tentang Hokage. Tak lama datang video penjelasan itu dan diunggah Jokowi ke akun FB-nya (detiknews, 7/5/2017).
Yadian memaparkan mengenai tujuh Hokage dalam anime Naruto. Dia melihat ada kesamaan antara Presiden Jokowi dan Uzumaki Naruto. Naruto menjadi Hokage ketujuh, sedangkan Jokowi menjadi presiden ketujuh di Indonesia. "Nah, pas banget, Pak. Di Indonesia ini presidennya sekarang ketujuh, yaitu Bapak Jokowi. Nah, di Konoha, Hokagenya sekarang ketujuh, yaitu Uzumaki Naruto," ujar Yadian.
Yadian menjelaskan kepemimpinan Naruto mampu menciptakan ketenteraman dan kedamaian di Konaha. Dia lantas menanya Jokowi apa bisa menjadikan Indonesia bak Konoha yang damai tersebut. "Uzumaki Naruto itu kepemimpinannya tenteram, damai, alim, disiplin. Jadi, bisa enggak Bapak seperti negara Konoha? Begitu, Pak," tanya Yadian.
Jokowi berterima kasih karena Yadian telah memberi penjelasan mengenai kartun Naruto. Jokowi menjawab akan menjadikan Indonesia seperti negara Konoha dalam kepemimpinan Naruto yang tenteram dan damai. "Apakah saya mampu menjadikan negara kita seperti Konaha dalam kepemimpinan Uzumaki Naruto yang tenteram, damai, alim, dan disiplin? Saya jawab insya Allah. Dengan izin Allah dan kerja keras kita semua, pasti bisa," jawab Jokowi.
Peristiwa ini menarik, karena Yadian yang santri justru terpikat pada komik Jepang Naruto ciptaan Masashi Kishimoto, yang terbit di media cetak Mingguan Shonen Jump dari 21 September 1999—10 November 2014. Dalam bentuk serial komik Naruto menjadi dua bagian, bagian I seri 1—27, bagian II seri 28—72. Sedang anime televisinya tayang perdana 3 Oktober 2002, sebanyak 220 episode (Wikipedia).
Serial Naruto terjual lebih dari 200 juta kopi di Jepang dan luar negeri, sedang animenya disiarkan di lebih dari 60 negara (Jepang.net, 25/3/2015). Naruto disukai karena sebagai ninja tangguh ia suka berdamai dengan musuhnya dengan berkata, "Masalah tidak akan dapat diselesaikan jika kita terus bertarung dan menaruh dendam." ***
Selanjutnya.....

Cespleng, Gaji Presiden Naik!


"ASYIK amat, cukup sekali Presiden Yudhoyono curah isi hati (curhat) gajinya tujuh tahun tak kunjung naik, langsung mendapat perhatian Menteri Keuangan yang kemarin menyatakan gaji Presiden akan dinaikkan bersama 8.000 pejabat negara lainnya!" ujar Umar. "Kenaikan itu nantinya termasuk tunjangan prestasi yang melekat pada gaji!"

"Maka itu, seorang Presiden tak boleh curhat atau mengeluhkan soal gajinya!" sambut Amir. "Sebab dijamin cespleng dipenuhi! Itu bisa membuat rakyat iri, terutama buruh, yang keluhannya bertahun-tahun untuk menaikkan upah pada tingkat KHL—kebutuhan hidup layak—saja jangankan dipenuh, didengar atau diperhatikan pun tidak! Padahal secara nyata, siapa yang lebih butuh penyesuaian?"

"Soal siapa yang sebenarnya lebih butuh penyesuaian itu belum lagi Presiden mendapat dana taktis Rp2 miliar per bulan, serta fasilitas sepenuhnya jabatan presiden, tempat tinggal di istana, jaminan keamanan dengan pengawalan ketat, jaminan kesehatan dengan dokter kepresidenan, transportasi dari mobil sampai pesawat udara, pakaian, makanan dan sebagainya, yang semua itu bahkan membuat gajinya tak perlu disentuh lagi!" tukas Umar. "Lebih tak patut lagi seorang Presiden mengeluh gajinya tak kunjung naik ketika ibu-ibu rumah tangga kalang kabut dibuat harga kebutuhan dapurnya meroket seperti sekarang! Artinya, kalau kenaikan gaji Presiden dan para pejabat negara itu dalam bentuk tunjangan prestasi, tunjukkan dulu prestasi bahwa mereka mampu menahan laju kenaikan harga kebutuhan pokok yang makin mencekik rakyat!"

"Kalau orang gedean tak perlu membuktikan prestasi, tunjangan prestasinya jalan terus!" timpal Amir. "Lain wong cilik, prestasinya sudah terbukti sekalipun, kolom tunjangan prestasi tak tersedia dalam daftar gajinya!"

"Perbedaan antara elite dan jelata itu pada privilese—hak-hak istimewa—yang hanya dimiliki kalangan elite!" tegas Umar. "Hak-hak istimewa elite itu yang membuat dalam banyak hal, tanpa kecuali di negeri maju sekali pun, persamaan antarsesama warga negara yang dijamin konstitusi prakteknya selalu tak mulus! Konon lagi di negeri terbelakang, hak-hak istimewa elite setiap kali diklaim dan terus bertambah variannya!"

"Memang di negeri terbelakanglah elite yang sudah menikmati seabrek hak-hak istimewa tak merasa malu mengeluhkan hak-hak istimewa yang diterimanya masih kurang!" tukas Amir. "Bukan hendak menyatakan elite seperti itu serakah! Tapi terlalu berorientasi pada kepentingannya sendiri, sehingga tak melihat dirinya hidup mewah di tengah samudera kemelaratan yang menenggelamkan rakyatnya dalam penderitaan tanpa jalan keluar!" ***

Selanjutnya.....

'Onbeschop', Foto Presiden Diinjak!


DI coffee shop sebuah hotel Jakarta, seorang bule memakai t-shirt bersulam kincir angin di dada kiri menonton televisi yang menghadap ke arahnya.

"Onbeschop!" entaknya melihat tayangan berita, lalu beranjak dengan wajah tak nyaman!

"Kenapa si bule ngacir sewot seperti disengat lebah?" tukas Umar. "Apa arti ucapannya tadi?"

"Entah!" jawab Amir. "Tapi lihat berita di televisi, ternyata si bule gerah melihat tayangan foto presiden dan wakil presiden--pasangan SBY-Boediono--diinjak-injak demonstran!"

"Apa ruginya dia, harus sewot?" timpal Umar. "Kita saja yang empunya itu presiden tak begitu!"


"Tunggu dulu!" entak Amir. "Kita yang setiap hari melahap berita seperti itu jadi imun, tidak merasa aneh! Logika kita sudah kebas, mati rasa! Beda dengan si bule yang pertama melihat foto kepala negara diinjak-injak, sukar diterima logikanya!"

"Dia sewot mungkin karena kecewa pada dirinya, salah memilih negeri tujuan wisata!" timpal Umar. "Semula dia pilih Indonesia karena promosi tradisi peradabannya adiluhung--par excellences! Sampai di sini ia menemukan sebaliknya, peradaban yang amat rendah, demokrasi tanpa etika! Bagi bule yang lebih dulu mengenal demokrasi, terjebak situasi seburuk itu serasa kecemplung sumur!"

"Maka itu, kita yang harus introspeksi total!" tegas Amir. "Kalau warga asing saja tak nyaman melihat foto kepala negara dari negeri yang dia kunjungi diinjak-injak, masak kita warga negaranya sendiri terlalu bebal untuk bisa menyadari hal itu sebagai perbuatan amat buruk, berdemokrasi tanpa etika! Belum lagi jika mengingat dwitunggal pemimpin bangsa itu merupakan lambang negara!"

"Selain itu, saudara-saudara sebangsa kita, terutama demonstran, juga perlu diingatkan untuk menjunjung asas praduga tak bersalah!" timpal Umar. "Untuk itu, spanduk, poster, foto, dan happening art dalam demo harus dijaga proporsinya pada sifat karikatural, bukan vonis, apalagi mengeksekusi! Jika dalam perjuangan kita tidak menghormati prinsip-prinsip hukum yang mendasar, apalagi dengan sengaja melanggarnya, usaha menciptakan masa depan bangsa lebih baik akan sia-sia, sebab pada saat yang sama kita rusak sendiri dasarnya secara lebih buruk lagi!"

"Namun demikian, kalangan penguasa juga perlu diingatkan, demokrasi itu proses interaksi!" tegas Amir. "Artinya, jika demo dengan cara-cara elegan saja sudah mendapat respons memadai, sebatas cara-cara itu pula demokrasi berjalan efektif! Tapi jika pihak penguasa mati rasa, peningkatan tahap demi tahap intonasi pendemo tak dapat respons, interaksi selalu gagal, tak terelakkan prosesnya berlanjut hingga ke tingkat yang tak bisa ditoleransi--seperti juga demokrasi formal yang tak beretika! Tapi tampak, semua itu produk sekaligus bukti kegagalan interaksi penguasa dalam komunikasi politik berdemokrasi!" n
Selanjutnya.....