Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Tampilkan postingan dengan label miskin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label miskin. Tampilkan semua postingan

Sejak Zaman Batu Makan 'Sintrong'!


SEORANG pria yang sudah 40 tahun merantau pulang kampung! Saat makan ia terbelalak, melihat tumis daun sintrong terhidang! Sintrong, tumbuhan liar sejenis gulma di sela-sela tanaman.

"Sekian lama kutinggal tak ada perubahan, kalian masih makan sintrong juga?" entak pria.

"Kau pergi dan kembali kan masih dalam generasi yang sama!" sambut abangnya.

"Perubahan apa yang bisa dilakukan dalam satu generasi, apalagi terhadap kebiasaan makan sintrong, yang telah dilakukan nenek moyang kita sejak zaman batu!"

"Tapi ini memalukan penguasa, para petinggi negara kita, yang tak henti berbangga menyebut kemajuan hasil kepemimpinan mereka!" tegas pria. "Apalagi realitas kemiskinan berkelanjutan begini, bertentangan dengan yang dipublikasikan, kesejahteraan rakyat meningkat lewat program mengentaskan desa miskin!"


"Program seperti itu dari rezim ke rezim selalu ada! Saat membutuhkan dukungan suara warga miskin, suatu rezim datang mengeraskan jalan desa dengan batu kali satu kilometer! Rezim berikutnya, satu kilometer lagi! Lantas diklaim, kemiskinan desa ini telah diatasi, kesejahteraan rakyatnya meningkat!" timpal abang. "Silakan saja klaim, tapi kenyataanya, selain rakyatnya tetap makan sintrong, jumlah desa miskin juga terus meningkat! Contohnya di Lampung, zaman Orde Baru jumlah desa miskin 546, pada zaman Reformasi ini menjadi 765 desa!"

"Berarti, jika ke sebuah desa miskin dikucurkan proyek senilai Rp1 miliar, tidak menjamin desa itu mentas dari kemiskinan?" kejar pria.

"Itulah kesalahan fatal para penguasa, mengira kemiskinan itu semata bersifat materi! Sehingga, setelah mengucurkan dana sekian dianggapnya kemiskinan telah selesai!" tegas abang. "Padahal, kemiskinan itu komplikasi dari berbagai penyebab! Seperti secara budaya menyangkut diri warga miskin itu sendiri, miskin karena bodoh, bodoh karena miskin! Lalu karena kebodohannya itu, selalu dibodoh-bodohi oleh mereka yang lebih pintar dan lebih berkuasa! Juga karena miskin selalu diakal-akali oleh yang kuat ekonominya!"

"Itu baru dari sisi miskin karena bodoh, yang jika masalahnya tak terselesaikan, kemiskinan yang membelit tak bisa dilepaskan!" timpal pria. "Belum lagi dari sisi-sisi lain, yang akar masalahnya justru lebih kronis! Seperti terkait power tend to corrupt, kalangan berkuasa selalu mengambil porsi lebih besar dibanding alokasi anggaran untuk rakyat!"

"Maka itu, kami warga miskin selalu bersyukur, meski setiap kali tanaman di-watun--dibersihkan dari gulma--sintrong tak pernah menyerah dan tetap tumbuh!" tegas abang. "Betapa indah jika komitmen penguasa mengentaskan warga dari kemiskinan segigih sintrong untuk tumbuh! Bukan cuma pemanis bibir saat membutuhkan dukungan suara warga miskin!" n
Selanjutnya.....

Pilkada, Strategi Desa Tertinggal!


SEKDES--sekretaris desa--mengadakan pertemuan ketua RT dan RW untuk menyampaikan strategi kepala desanya menjadikan pemilihan umum kepala daerah--pilkada--di kabupatennya benar-benar sebagai pesta rakyat.

"Tujuannya supaya warga kita yang umumnya miskin tetapi tak pernah menerima bantuan desa tertinggal akibat desanya tak masuk daftar desa tertinggal karena kepala desa yang lama dulu malu desanya disebut miskin, bisa mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari pilkada!" ujar sekdes. "Pertama, minta warga menandatangani dukungan untuk calon independen pada formulir yang telah kami siapkan per-RT ini! Fotokopi KTP-nya dari file yang ada di kantor kepala desa!"

"Siapa calon independen yang kita dukung?" tanya seorang ketua RW.

"Siapa calonnya soal nanti, kita berikan kepada penawar tertinggi!" jelas sekdes.

"Termasuk dalam penawaran itu semua warga desa diangkut dengan bus menghadiri deklarasi calonnya, tentu dengan kompensasi tersendiri lagi, sehingga manfaat yang diperoleh warga berlipat ganda! Sekaligus rekreasi gratis! Demikian pula untuk setiap calon yang diusung parpol, sudah ditunjuk koordinatornya dari partai masing-masing, setiap calon partai itu didukung semua warga desa!"


"Berarti setiap warga akan mendapat kaus oblong gambar calon beberapa buah!" sela seorang RT.

"Pokoknya cukup untuk pakaian ke ladang sampai pilkada berikutnya!" jawab sekdes.

"Lalu, kami ketua RT dan RW apakah bakal mendapat dana dan fasilitas khusus di luar yang didapat sebagai warga pemilih?" tanya RT lainnya.

"Tentu saja kami perjuangkan, agar setiap kali mendapat dana koordinator massa!" jawab sekdes. "Setidaknya uang makan dan pengganti bensin dalam mempersiapkan segala sesuatunya!"

"Kalau semua calon kita dukung, saat pemilihan nanti menconteng siapa?" kejar seorang RW.

"Hari pencontengan masih jauh!" tegas sekdes. "Sebelum sampai ke sana, setelah tahapan deklarasi warga kita masih bisa menarik manfaat lebih banyak dari masa kampanye! Kita usahakan setiap calon berkampanye, warga desa kita menjadi massa intinya! Dengan begitu hampir setiap hari selama masa kampanye warga desa kita diangkut bus kian kemari, sekaligus dengan kompensasi nasi bungkus dan uang saku!"

"Tapi cara menentukan pilihan akhir harus kita tentukan sekarang, agar sekalian beres!" ujar RT.

"Menjelang hari pencontengan nanti, akan kita usahakan dana operasi fajar dari semua calon!" tegas sekdes. "Tentu saja dilakukan oleh masing-masing koordinator parpol atau calon independen yang telah bekerja untuk calon tersebut sejak awal! Terpenting, waktunya kita atur, dimulai dari yang dananya terkecil, terakhir yang terbesar! Tak diberi tahu pun, warga akan tahu sendiri calon mana yang harus mereka pilih!" n
Selanjutnya.....