Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

'Executive Heavy', Dijamin 'Happy'!

"BUKAN hanya karena mata seluruh warga bangsa sedang tertumpu ke korban bencana gempa! Bukan pula karena rakyat telanjur kecewa pada pelantikan wakilnya di DPR yang supermewah, di tengah mayoritas rakyat sengsara di samudera kemiskinan!" ujar Umar.

"Pelantikan anggota DPR 2009--2014 tak mendapat perhatian rakyat secara memadai, lebih sebagai akibat sejak jauh hari telah diketahui matangnya janji koalisi mayoritas mutlak untuk lebih seia-sekata di parlemen dalam mendukung pemerintah!"

"Dengan begitu bagi rakyat DPR sudah selesai, kembali ke era tukang stempel!" sambut Amir. "Tak ada lagi hal baru apalagi kejutan bisa diharap untuk menggugah rasa ingin tahu mereka! Kalau pun nantinya ada yang sok kritis, ngeyel, meledak-ledak interupsi, tak lebih dari basa-basi!"

"Tanpa kecuali akting antagonis itu diperankan dari kelompok pengibar bendera oposisi! Karena, dengan kalah suara mutlak, segala bentuk kontrol dan kritiknya jarang mencapai sasaran!" timpal Umar.
"Pihak mayoritas mutlak pun, bersama pemerintah yang didukung, bisa melenggang santai--anjing menggonggong kafilah lalu! Begitulah konstelasi politik executive heavy, yang harus menjamin executive benar-benar happy!"

"Jaminan happy berkat DPR menjadikan dirinya sebagai capsule, melindungi executive dari segala kritik dari luar kelompok berkuasa, apalagi yang mengganggu kenyamanan penguasa!" tegas Amir.

"Jaminan kapsul pelindung dari DPR itu bukan hanya menggoda executive untuk menjadi otoriter. Justru kuatnya tameng penepis segala bentuk kritik dan kontrol itu, dengan sendirinya membuat penguasa menjadi encapsulated authoritarian--otoriter terselubung!"

"Dalam konstelasi politik demikian, fungsi kontrol DPR mandul," timpal Umar. "Sedang fungsi budgeting dan legislasinya lebih berorientasi power building--membangun kekuasaan--usaha memperkuat posisi dan popularitas penguasa! Hubungan penguasa dengan rakyat praktis semata-mata demi kepentingan penguasa, lewat program-program terkait power building!"

"Pengalaman lima tahun terakhir, power building itu hanya memperkuat partai berkuasa! Sedang partai-partai koalisinya, meski kelompok berkuasa, tak menikmati cukup signifikan!" tukas Amir. "Dari hasil Pemilu Legislatif 2004 terlihat, PKB dan PPP malah kehilangan banyak kursi! Jadi, kecuali secuil nikmat buat segelintir elite partainya di kabinet, koalisi membonceng kekuasaan bukan untung, tapi buntung!"

"Itu akibat dalam koalisi berkuasa tak bisa tidak, harus selalu mendukung apa pun kepentingan partai berkuasa!" sambut Umar. "Tanpa kecuali harga mahal harus dibayar, kepentingan massa konstituen partai sendiri justru ditelantarkan!" ***
Selanjutnya.....

Waspada, Flu Babi Mengganas!

"FLU babi, influenza akibat virus A-H1N1 merebak pesat! Menurut WHO, 100 ribu orang di 137 negara terserang, 440 orang tewas! (Kompas, 11-7) Di Indonesia sudah 52 orang terinfeksi, kini dirawat di berbagai rumah sakit!" Ujar Umar. "Malah, 200 warga Indonesia di Korea Selatan tertahan tidak bisa pulang ke Tanah Air karena dirawat untuk memastikan, termasuk 12 orang rombongan Elfa's Singer yang mengikuti Festival Musik Pop Se-Asia!"

"Dibanding flu burung (H5N1), flu babi lebih cepat dalam penularan antarmanusia!" sambut Amir. "Kasus di Indonesia, baru akhir Juni ditemukan pada turis asal Australia di Bali, kini banyak yang positif terinfeksi! Itu hanya setengah bulan!"
"Celakanya, meski merebak di Meksiko, penderita flu babi terbesar justru di negara maju, di AS sudah belasan ribu kasus, dan Inggris hampir 10 ribu kasus, 14 orang dilaporkan tewas Kamis lalu!" tukas Umar. "Artinya, kalau di negeri maju saja bisa bablas virusnya, konon lagi di negeri kita, bisa lebih parah! Seperti di Thailand, dalam tempo satu bulan saja lebih 3.000 kasus!"

"Tapi kenapa usaha pencegahan di negeri kita tak seserius waktu virus SARS dulu, cepat diberlakukan wajib pakai masker di bandara dan tempat umum lainnya!" timpal Amir. "Padahal, sama-sama virus yang tak terlihat! Juga, warga Indonesia yang terkena virus SARS dulu belum sebanyak yang positif terinfeksi flu babi sekarang!"
"Mungkin karena lebih tercekam oleh kesibukan pemilu presiden, canangan bahaya flu babi di dalam negeri bisa mengurangi popularitas yang juga diperkuat dengan jaminan rasa aman selama pesta demokrasi itu!" tegas Umar. "Karena itu, kita yang harus proaktif mengingatkan sesama warga agar waspada terhadap ancaman virus flu babi! Pokoknya, kalau terasa demam dengan panas yang tinggi, secepatnya ke dokter!"

"Menurut Wikipedia, wabah ini bermula 5 Februari 1976, tentara di Fort Dix, AS, menyatakan dirinya kelelahan dan lemah, esoknya meninggal dunia! Dokter menyatakan kematiannya itu disebabkan virus ini, seperti terjadi 1918. Presiden AS kala itu, Gerald Ford, diminta melakukan vaksinasi, tapi batal,"tutur Amir.
"Pada 20 Agustus 2007, virus ini muncul lagi menjangkiti seorang warga di Pulau Luzon, Filipina!" "Betapa jauh jarak dan waktu kemunculannya kembali?" entak Umar. "Apalagi terakhir muncul di Meksiko!"

"Kemisteriusan itu justru membuat kita harus lebih waspada lagi!" tegas Amir. "Terpenting disimak dari Wikipedia gejalanya, seperti demam, batuk, sakit pada kerongkongan, sakit pada tubuh, kepala, panas dingin, dan lemah lesu. Beberapa penderita juga melaporkan buang air besar dan muntah-muntah! Hal lain, karena wabah ini sudah menular manusia ke manusia, oleh WHO sejak 30 April 2009 namanya diganti bukan flu babi lagi, tapi influenza A-H1N1." ***
Selanjutnya.....

Kepedulian buat Anak-Anak Malang!

"KEPEDULIAN! Itulah kata sederhana tapi amat sulit diperoleh anak-anak malang penderita gizi buruk dari mereka yang berjanji menyejahterakan rakyat!" ujar Umar.
"Sukria, setelah tiga pekan dirawat dalam keadaan tak sadar dan kemudian dibawa orang tuanya keluar dari RSUAM, Bandar Lampung, akhirnya menyusul Maulana, Elva, dan Wiji yang lebih dulu jiwanya direnggut busung lapar di RSU tersebut! Sejak dari tempat meninggal di rumah pamannya, Tanggamus, sampai jenazah Sukria dimakamkan di kampungnya, Lampung Timur, tak satu pun mereka yang berjanji menyejahterakan rakyat itu peduli melayatnya!"

"Tiadanya kepedulian terhadap anak-anak malang bergizi buruk yang mencapai klimaks burung lapar itu menunjukkan, sebenarnya mereka menjanjikan kesejahteraan rakyat itu tanpa manajemen!" timpal Amir. "Apalagi managemen mutakhir arahan Jim Collin, lewat buku Good to Great, untuk mengelola kegiatan mencapai suatu tujuan yang pertama harus ditangani adalah fakta-fakta brutal yang timbul dalam lingkup kegiatan tersebut! Letusan gizi buruk dengan rentetan kasus busung lapar yang menelan korban jiwa berantai, jelas fakta brutal dalam lingkup kegiatan menyejahterakan rakyat! Kalau fakta-fakta brutal itu tak dieliminasi, jelas akan menjadi komplikasi rumit yang sekaligus menghambat usaha menyejahterakan rakyat!"
"Memang, tak ada kamus yang menyebut rakyat sejahtera ketika dicekam gejala gizi buruk, apalagi dilanda kematian berantai akibat busung lapar!" tegas Umar. "Logika sederhana seperti itu layak menjadi pertimbangan guna membuka mata hati terhadap realitas kehidupan rakyat yang masih amat menyedihkan sebagai produk ketakpedulian justru dari mereka yang berjanji dan secara formal berkewajiban menyejahterakan rakyat! Betapa, dengan maraknya gizi buruk dan
busung lapar menelan korban jiwa memberi petunjuk, kesejahteraan yang dijanjikan semakin jauh dari harapan!"

"Dihadapkan pada ekspektasi rakyat yang tinggi untuk mewujudkan kesejahteraan dalam era otonomi daerah, pukulan peristiwa-peristiwa yang menjurus ke arah sebaliknya itu secara langsung bisa menurunkan tingkat harapan dan kepercayaan rakyat kepada mereka yang sebelumnya rakyat dukung berkat janji-janji yang memekarkan harapan!" sambut Amir. "Untuk itu, di tengah situasi memuncaknya gejala gizi buruk, tak ada kata terlambat merehabilitasi kepedulian terhadap bencana sosial tersebut! Sebab, semakin tidak dipedulikan gejala yang semakin marak itu, tanpa antisipasi lebih progresif, kejadian buruk bisa terus mengentak bertubi-tubi, akan semakin keras pula tamparan menuntut tanggung jawab ke pengobral janji menyejahterakan rakyat!" *** Selanjutnya.....

Gizi Buruk Janji Palsu 'Propoor'!

"MASIH berlanjutnya jatuh korban tewas akibat komplikasi busung lapar sebagai letusan gejala gizi buruk di Lampung, dengan penanganan aparat 'berdarah dingin' hingga penderita sempat tewas duluan menunggu proses rujukan yang terhambat birokrasi, menunjukkan segala dimensi strategi dan kebijakan propoor cuma janji palsu!" ujar Umar. "Janji meningkatkan kesejahteraan rakyat--propoor--yang gempita dari satu ke kampanye berikutnya (pemilu, pilkada) selalu terngiang di telinga rakyat, tapi realitas di tengah letusan gejala gizi buruk dewasa ini justru membuktikan sebaliknya!"

"Pengalaman pahit keluarga korban dan penderita komplikasi gizi buruk menjadi bukti nyata untuk itu!" sambut Amir. "Dari keluarga Maulana ke Elva yang meninggal, hingga keluarga Sukriya yang tak pernah siuman selama dirawat sampai dibawa pulang, mendesak kita untuk menuntut janji para politisi dan pejabat negara untuk berpihak kepada rakyat, bahkan lebih jauh lagi, berpihak kaum miskin--propoor! Apa arti keberpihakan jika tidak sedikit pun perhatian diberikan ketika si miskin membutuhkan kepedulian mereka?"

"Sikap dingin para pemimpin--politisi dan pejabat negara--sehingga terkesan mereka menganggap para penderita dan korban gizi buruk itu dudu sanak dudu kadang yen mati ora kelangan, bukan famili bukan pula teman kalau mati tidak merasa kehilangan, menguak gejala asosial kalangan elite kita! Tak sejalan dengan ucapannya saat sok akrab dengan rakyat karena butuh dukungan!" tegas umar. "Tak selarasnya ucapan dan tindakan para elite pemimpin itu amat mencemaskan! Sebab, yang sedemikian itu merupakan gejala split personality--kepribadian yang terbelah--bicara manis, tapi tindakannya pahit sekali!"

"Prasangka baik kita, semua itu bukanlah suatu tindakan yang secara sadar dipilih kalangan pemimpin, melainkan hanya karena lalai dari kewajiban atau lupa pada janjinya!" tegas Amir. "Sebab, kalau tindakan itu merupakan pilihan sadar, yang terjadi adalah sebuah pengingkaran baik terhadap kewajiban formal maupun pada janji! Suatu hal yang tak bisa dimaafkan!"
"Masih ada satu kisi-kisi lagi yang kau lupakan!" timpal Umar. "Bukan soal lalai atau lupa maupun pilihan sadar atau tidak! Dalam masa peralihan dari tradisional ke modern, kemungkinan yang sering karena orang belum tahu hingga kurang menyadari kewajiban yang seharusnya diberi prioritas! Artinya, semua itu terjadi karena atas hal-hal baru dalam kehidupan bernegara bangsa masih dijalani dalam proses belajar!"

"Saya tidak menolak semua itu sebagai masalah proses belajar!"
tegas Amir. "Tapi, kesadaran dalam proses belajar itu juga harus dijadikan dasar berpikir para pelakunya sehingga tidak mengesankan yang serbasalah itu sudah benar--asal menguntungkan dirinya! Sebab, sebagai proses belajar pun uang sekolahnya mahal sekali--nyawa banyak balita gizi buruk!" *** Selanjutnya.....

Busung Lapar, Klimaks Gizi Buruk!

"KORAN mendaur ulang istilah busung lapar buat gizi buruk stadium fatal!" ujar Umar. "Kenapa?"
"Busung lapar bahasa rakyat! Ia berfungsi hard warning untuk cepat menolong penderitanya!" sambut Amir. "Tapi istilah busung lapar membuat gerah pejabat era Orde Baru, maka dihaluskan!"

"Ternyata tak sekadar dihaluskan! Istilah busung lapar dihilangkan agar pejabat tak gerah!" timpal Umar. "Jadi tak ada tanda bahaya! Penderita telanjur fatal baru dibawa ke RS, seperti Maulana (5) dari Panjang yang meninggal dan Sukriya dari Lamtim, dua pekan koma di RS!"

"Itu konsekuensi penghilangan istilah busung lapar sebagai klimaks gizi buruk!" tegas Amir. "Gizi buruk atau malnutrition gejala umum pada balita dari keluarga ekonomi lemah, akibat kurang asupan protein dan kalori! Kekurangan asupan yang laten bisa mengganggu perkembangan fisik, mental, dan kecerdasan anak! Maka itu, saat krisis ekonomi orang khawatir terjadi bencana sosial yang berujung lost generation, satu generasi tak punya kemampuan standar!"

"Untuk mencegah gizi balita memburuk kan ada posyandu di setiap RW!" sela Umar.
"Peran posyandu besar dalam mengendalikan gizi buruk balita agar tidak kritis!" tegas Amir. "Meski, tak semua balita terjangkau! Misal, pada hari dan jam yang ditentukan ibunya tak di rumah, sedang memulung! Untuk itu diharap petugas posyandu proaktif mengantar asupan ke tempat mereka!"
"Kalau tak dapat asupan tambahan, gejala kritis balita gizi buruk seperti apa?" kejar Umar.
"Dua gejala menjurus kritis harus diwaspadai, maramus dan kwasiorkor!" jelas Amir. "Menurut Kamus Kedokteran Dorland, maramus berasal dari bahasa Yunani marasmos, artinya menuju kematian! Maramus, kekurangan protein dan kalori, ditandai gangguan pertumbuhan serta mengurusnya lemak bawah kulit dan otot secara progresif. Namun, biasanya masih ada nafsu makan dan kesadaran mental. Infeksi, gangguan saluran pernapasan atau lain bisa jadi faktor pencetus!"
"Satunya lagi yang susah namanya?" kejar Umar.


"Kwasiorkor!" tegas Amir. "Ini nama tempat anak telantar di pantai Afrika, pertama dilaporkan jenis sindromnya, yang menyebar ke wilayah tropis dan subtropis! Ini sindrom defisiensi protein berat, dicirikan oleh hambatan pertumbuhan, perubahan pigmen rambut dan kulit, dan patologi pada hati! Temuan lain, anak apatis, cengeng, gangguan saluran cerna, pankreas mengecil! Kedua jenis gejala busung lapar itu bisa join--komplikasi--menjadi sindrom marasmic-kwashiorkor, defisiensi kalori dan protein dengan penyusutan jaringan pesat, lemak subkutan hilang, dan dehidrasi!"

"Kalau sindrom busung lapar mematikan, buat apa dihaluskan hanya agar pejabat tenang?" entak Umar. "Justru harus dibuat istilah lebih seram, agar lebih cepat diberi perhatian!" *** Selanjutnya.....