Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Tampilkan postingan dengan label bom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bom. Tampilkan semua postingan

Bom Solo, Perlu Langkah Korektif Pluralitas Sosial!

"PRESIDEN SBY menduga serangan bom bunuh diri ke Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Solo, Minggu (25-9), dilakukan kelompok yang sama dengan bom bunuh diri di masjid markas Polres Cirebon 15 April 2011!" ujar Umar. "Ia mengutuk tindakan terorisme yang tak sesuai asas kemanusiaan, harus kita hadapi sebagai musuh bersama seluruh masyarakat bangsa! Dengan ungkapan prihatin kepada para korban, ditegaskan semua biaya pengobatan korban ditanggung pemerintah!"

"Bom Solo itu pesan dari kelompok teroris yang sepanjang tahun ini disikat habis-habisan oleh Densus 88, bahwa musuh bersama masyarakat bangsa Indonesia itu masih ada!" timpal Amir. "Pesan terpenting mereka, kepuasan polisi setiap kali memamerkan barisan foto hasil penangkapan tersangka teroris belum bisa membuat Indonesia benar-benar bersih dari teroris! Dengan bom Solo itu pula teroris unjuk diri, keberadaan mereka patah tumbuh hilang berganti!"

"Meskipun demikian, serangan bom yang provokatif ini menjadi penguji bagi kekokohan sendi-sendi pluralitas bangsa!" tegas Umar. "Kita lebih sering melihat pluralitas bangsa lewat struktur kultural dan agamais, dengan melupakan pluralitas sosial! Padahal, pluralitas sosial itu lebih realistis, juga menjadi bagian tak terpisahkan dari pluralitas kultural dan agamais! Akibatnya, kita selalu tak habis pikir ketika melihat peristiwa yang musykil terjadi dari segi pluralitas kultural atau agamais tapi terjadi juga! Karena, yang sebenarnya terjadi adalah krisis
pluralitas sosial di balik pluralitas kultural dan agamais itu sendiri!"

"Ketakmampuan melihat esensi krisis pluralitas sosial itu sehingga cenderung menghindarinya karena terselubung dalam pluralitas kultural dan agama, membuat jlegar-jlegur bom yang tak henti selama ini tak pernah menghasilkan langkah korektif yang konkret!" timpal Amir. "Sebaliknya, perilaku yang mempertajam krisis pluralitas sosial itu justru menjadi pameran nyata dan semakin terbuka dari kalangan elite bangsa, terutama elite politik! Akibatnya, krisis dan konflik yang merasuk dalam sendi-sendi pluralitas bangsa tak dikenali sehingga dari waktu ke waktu sendi-sendinya semakin rapuh dan keropos mengaktual dalam aneka peristiwa, dengan gongnya bom teroris!"

"Masalahnya terpulang pada kesadaran kalangan elite atas perilaku mereka yang menjadi sumber krisis merapuhkan sendi-sendi pluralitas sosial sebagai inner dinamic dalam pluralitas kultural dan agama!" tegas Umar. "Krisis pluralitas sosial ini perlu langkah korektif yang konkret! Pesan bom Solo pun bisa kita maknai dengan tepat!" ***





Selanjutnya.....

Siaga I Teror Bom pada Hari Paskah!


"MENKO Polhukam Djoko Suyanto Kamis petang memberlakukan Siaga I Teror Bom selama Hari Raya Paskah, Jumat hingga Minggu!" ujar Umar. "Kebijakan diambil setelah Kamis itu ditemukan sejumlah paket bom di Gereja Chris Katedral Gading Serpong, Tangerang, tiga bom buku di Pondok Kopi, Jakarta, dan ditangkapnya secara serentak dari berbagai provinsi belasan tersangka teror bom sejak kasus bom buku 16 Maret hingga bom bunuh diri di masjid Polresta Cirebon!"

"Dari situasi hari itu terkesan, teroris di negeri kita sangat sibuk! Kayaknya sleeper cells teroris ada yang mengusik hingga terbangun dan cawe-cawe!" timpal Amir. "Dengan gejala itu wajar jika pemerintah memberlakukan Siaga I Bom Teroris, karena ancamannya kian mencolok khususnya di sekitar Hari Raya Paskah! Tapi mengingat sleeper cells teroris yang terbangun dan sedang cawe-cawe itu, apakah cukup Siaga I Bom Teroris hanya berlaku tiga hari--Jumat sampai Minggu?"

"Untuk sementara itu cukup, maksudnya agar semua aparat keamanan bisa fokus—awas mata jaga telinga sepenuhnya—dalam tiga hari yang amat rawan tersebut!" tukas Umar.

"Kalau setelah itu laporan intel menunjukkan Siaga Satu perlu dilanjutkan, Pemerintah kan tinggal mengumumkannya!"

"Kalau laporan intel yang dijadikan dasar, bisa jadi Siaga I tak diperpanjang!" timpal amir. "Sebab, intel kita cenderung 'kurang dekat' dengan teroris, hingga rakyat lebih sering dikejutkan oleh ledakan bom teroris ketimbang berita antisipasi intel yang sukses mencegah peledakan bom!"

"Untung kelemahan intel itu sering bisa diatasi oleh Densus 88, yang pascaledakan selalu bisa menemukan pelaku bom—meski kadang terlambat seperti pelaku bom buku yang lebih sebulan baru diringkus!" tegas Umar. "Berkat Densus itu pula intel kita tertolong jadi lebih baik dari intel AS yang hampir 10 tahun ini belum bisa menemukan otak sesingguhnya serangan 11 Septeember 2001, kecuali menuding sekenanya Osama bin Laden!"

"Maka itu, siapa mengusik apa sebagai pemicu bangkitnya sleeper cells teroris di Indonesia, perlu disimak seksama!" tukas Amir. "Seorang mantan teroris saat diminta bicara di televisi menyesalkan tindakan pada Abu Bakar Ba'asyir karena selain bisa dianggap mengada-ada, juga bisa menyulut balas dendam dari kaum mujahidin Indonesia! Ia kaitkan serangan bom buku—waktu itu—dengan sidang pengadilan atas Ba'asyir!"

"Tapi analisis dan tindakan selalu post factum—setelah bom meledak!"timpal Umar.

"Padahal tradisi seperti hari Kamis itu harus dibangun, semua dilakukan prefactum—mendahului sebelum bom meledak!" ***

Selanjutnya.....

Teroris Bodoh itu Sia-siakan Jiwanya!


"SEORANG teroris dengan paket bom bunuh diri di tubuhnya masuk masjid dan menyusup ke saf dua jemaah salat Jumat! Begitu imam takbiratulihram—mengangkat kedua tangan dan mengucap Allahu Akbar untuk memulai salat—bom di tubuh teroris meledak!" ujar Umar.

"Entah siapa yang memicu ledakan bom di tubuh teroris itu, dia sendiri yang tewas menyia-nyiakan jiwanya dalam misi itu, atau monsternya dari tempat lain!"

"Demikianlah tragedi di Masjid Mapolresta Cirebon ketika seorang teroris yang jelas bodoh sehingga mau saja disuruh bunuh diri dalam masjid di tengah jemaah salat Jumat, yang pasti cuma menyia-nyiakan jiwa atau nyawanya karena tak ada ajaran yang menyuruh untuk itu, baik dalam Alquran maupun sunah Rasul. Apalagi menjanjikan ganjaran surga!" timpal Amir.

"Sebaliknya, apa pun niat yang dipasang dalam hatinya, tindakan menyerang dengan bom yang mematikan itu jemaah salat Jumat dalam masjid jelas merupakan perbuatan terkutuk, tak dibenarkan oleh ajaran segala jenis ulama yang benar!"

"Tak ada pilihan lain kecuali mengutuk teroris bodoh itu!" tegas Umar. "Meski secara manusiawi kita layak mengasihani kebodohannya sehingga tak menolak saat diperintah monsternya untuk melakukan tugas terkutuk yang menyia-nyiakan jiwanya itu! Layak dikasihani, karena bisa saja ia menjadi bodoh begitu akibat dihipnosis atau dicuci otak oleh monster perekrut yang memanfaatkan dirinya hanya sebagai alat peluncur bom!"

"Karena itu, khusus kepada para remaja yang sok pintar dalam ilmu agama hingga sok ngeyel mau benar sendiri dalam diskusi, agar berhati-hati jika berjumpa orang yang tampak lebih berilmu tapi memuji kepintaran si remaja guna direkrutnya menjadi peluncur bom!" timpal Amir. "Remaja sok pintar atau bermasalah jenis lain, lebih mudah dibuat terpancing monster perekrut teroris lewat berbagai cara, di antaranya dengan pemaksaan seperti model cuci otak!"

"Artinya, para orang tua di kampung, terutama dari kelompok pengajian, agar mencermati para remaja di lingkungannya guna menghindarkan mereka dari jangkauan perekrut yang akhirnya mencelakakan remaja dan dengan sendirinya, keluarganya!" tegas Umar.

"Sementara polisi belum tuntas meringkus jaringan monster teroris itu, masyarakat memagari warganya dari teroris pencari 'pengantin' untuk menyandang bom bunuh diri! Jika masyarakat bisa memagari warganya dengan ketat, tak mudah juga teroris mencari orang bodoh yang mau menyia-nyiakan jiwanya lewat perbuatan konyol!" ***

Selanjutnya.....

Bom Bunuh Diri Serang Masjid Polresta Cirebon!


"BOM bunuh diri menyerang masjid di kompleks Mapolresta Cirebon, Jawa Barat, saat salat jumat!" ujar Umar. "Satu orang tewas, diduga pelaku bom bunuh diri, 26 luka berat kebanyakan anggota polisi termasuk Kapolresta AKBP Herukoco dan imam salat H. Abbas Sudinta yang bahu, lengan, dan pelipisnya tertancap paku!"

"Aksi teroris kali ini sudah jauh lebih keterlaluan dari sebelumnya!" entak Amir.

"Kali ini yang diserang bom bunuh diri jemaah salat jumat dalam masjid di kompleks markas polisi di kota pusat salah satu Wali Songo, Sunan Gunung Jati, menyebarkan Islam! Karena itu, sikap tegas umat terhadap pelaku dan jaringan teroris yang telah mencederai kesucian masjid di Negeri Wali untuk melakukan kejahatannya itu, tak bisa ditawar-tawar! Usaha membunuh jemaah sedang salat di masjid itu perbuatan keji, tak bisa ditoleransi!"

"Menyerang masjid dan jemaahnya saat salat jumat pula, jelas tak bisa dimaafkan! Itu tindakan pengkhianatan dan kemungkaran pada agama!" tukas Umar. "Itu jelas menghilangkan esensi dan makna jihad jika bom bunuh diri tersebut dari jaringan berbendera Islam! Lantas, kalau sasaran sebenarnya serangan bom itu institusi Polri, betapa mereka telah terlalu meremehkan Islam hingga untuk tujuan tersebut mereka jadikan masjid dan jemaah salat jumat sekadar sebagai sasaran antara!"

"Di sisi lain, masjid itu dalam markas Polri, betapa geramnya mereka kepada Polri—jika itu sasaran utama mereka—hingga untuk menyerang Polri mereka tak peduli lagi sekalipun harus dilakukan dengan mengorbankan masjid dan jemaahnya!" timpal Amir. "Artinya, kebencian teroris pada Polri tiada tara, sehingga penghormatan pada kesucian masjid dan kemuliaan jemaahnya tak lagi mereka jadikan pertimbangan! Dengan kebencian setinggi itu, jajaran Polri layak lebih waspada terhadap gaya mereka yang semakin membabi-buta itu!"

"Serangan teroris ke markas polisi itu—setelah serangan ke Mapolsek Hamparan Perak, Sumut, usai merampok Bank CIMB Niaga Medan—kalau terus berlanjut setelah serangan ke Mapolresta Cirebon, serangan teroris di negeri kita akan seperti di Irak!" tegas Umar. "Tentu tak boleh terjadi, markas polisi jadi bulan-bulanan serangan bom bunuh diri! Untuk menangkalnya, Polri harus kerja ekstrakeras membongkar jaringan teroris, yang pada rangkaian kasus bom buku belum berhasil menangkap pelakunya! Lewat serangan ke markas polisi itu bisa jadi teroris ingin melontar pesan, melindungi diri sendiri saja Polri tak becus, bagaimana bisa melindungi warga sipil?" ***

Selanjutnya.....

Awas, Generasi Baru Teroris!


"DARI perbincangan pakar dan tokoh di media massa nasional tersimpul, salah satunya, agar masyarakat waspada kemungkinan munculnya generasi baru teroris dengan salam kenal tiga paket bom yang mereka kirim Selasa lalu!" ujar Umar. "Dengan tiga tokoh yang dipilih jadi alamat paket bom itu, Ulil Abshar Abdalla (Jaringan Islam Liberal—JIL), Goris Mere (Kepala Badan Narkotika Nasional—BNN), dan Yapto Surjosumarno (tokoh Pemuda Pancasila—PP), menunjukkan adanya penciptaan multiinterpretasi penyesatan bagi pengendusan motif dan pelakunya!"

"Kalau benar itu salam kenal generasi baru, suatu serangan dengan strategi dan cara atau teknik-teknik baru perlu diwaspadai—selain paket bom!" sambut Amir. "Generasi baru dengan—bisa jadi—kecerdasan, kemampuan teknis dan tipu muslihat yang lebih tinggi mengandung ancaman lebih serius bagi masyarakat! Sebab, teroris seperti itu tak mudah dikenali warga masyarakat, hingga antisipasi warga untuk mencegahnya sukar!"

"Namun demikian, peran warga masyarakat untuk mencegah serangan teroris generasi baru ini tetap menjadi andalan!" tegas Umar. "Warga segera berembuk dengan sesama jika melihat hal-hal agak aneh atau ganjil di lingkungannya, sehingga menjadi kesadaran bersama warga usaha menangkal serangan teroris lewat berbagai cara tak terduga itu! Kesadaran dan kesiagaan warga yang sedemikian akan menjadi lahan tandus yang tak nyaman buat sarang teroris!"

"Kesadaran dan kesiagaan seperti itu mungkin terbatas pada kelompok tertentu! Sebaliknya, ada pula kelompok lain punya latar belakang berbeda yang justru menjadi tempat subur pengembangan gagasan yang menumbuhkan benih teroris!" timpal Amir.

"Karena itu, berharap saja pada masyarakat untuk melakukan sesuatu, tanpa diiringgi tindakan yang mendukung dari pihak pemerintah, hasilnya tak optimal! Lebih celaka lagi jika serangan teroris—yang multitafsir—justru diinterpretasikan warga sebagai aktualisasi dari perjuangan mereka untuk membebaskan diri dari penindasan oleh sistem—dan diasumsikan sistem yang menindas itu adalah pemerintah itu sendiri!"

"Maka itu, amat banyak kemungkinan layak untuk diwaspadai dengan generasi baru teroris!" tegas Umar. "Jauh lebih celaka sebenarnya jika teroris itu hanya mempermainkan fanatisme suatu aliran agama sebagai kamuflase gerakannya, sedang tujuan aksinya sendiri justru menyulut bentrokan antarsesama umat seagama tersebut! Fanatisme buta warga memudahkan tujuan teroris untuk memecah belah umat seagama, tercapai!" ***


Selanjutnya.....

Bukan Isu, Ada Teroris Asal Lampung!

"MIN, teman-teman ponakanmu yang jualan keset dan sapu lidi beritahu, sebaiknya jangan jualan dulu!" bisik Temon. "Karena teroris asal Lampung yang ditangkap Densus 88 disebut kerjanya jualan keset dan sapu lidi! Kasihan, nanti mereka dikira teroris!"

"Jangan menyebar isu!" sambut Temin. "Mana ada teroris asal Lampung!"


"Ini bukan isu, bukan rumor!" entak Temon. "Tapi kenyataan, dua tersangka teroris asal Lampung dua hari berturut ditangkap Densus 88 di Jawa Tengah! Pertama ditangkap Ahmadi alias Ahmad Jenggot yang mengaku di Lampung jualan keset dan sapu lidi! Lalu kemarin ditangkap lagi Abdul Somad, juga disebut teroris asal Lampung!"

"Jadi bukan isu, ada teroris asal Lampung!" timpal Temin. "Sejauh mana keterlibatan mereka?"

"Menurut berita Metro TV semalam, Ahmadi kurir penghubung antara kelompok Palembang dan kelompok Cilacap!" jelas Temon. "Sedang Abdul Somad belum diumumkan polisi, sejauh mana perannya dalam jaringan terorisme!"


"Kalau belum ada bukti tersangka yang ditangkap begitu, sungguh, aku tak percaya ada teroris asal Lampung!" timpal Temin. "Meski begitu tetap saja terasa aneh, dari Lampung bisa muncul teroris!
Apa ada alasan, Lampung melahirkan teroris?"

"Sama sekali tak ada alasan, karena di Lampung selama ini tak pernah terdengar adanya ajaran radikal yang bisa memicu kemunculan terorisme!" tegas Temon. "Ahmadi juga, menurut aparat desanya di Jawa, meski dulu ikut orang tuanya transmigrasi ke Lampung, terkontaminasinya oleh terorisme lebih cenderung dari pergaulan terakhir dengan anasir teroris yang telah ditangkap lebih dulu! Penangkapan itu membuat dia katakutan dan menyerahkan diri lewat aparat desa!"

"Aku berani jamin, Abdul Somad yang tertangkap belakangan juga bukan terkontaminasi terorisme di Lampung!" entak Temin.

"Jangan tergesa menyimpulkan! Kita lihat dulu hasil penyelidikan yang berwajib!" tegas Temon. "Meski harapan kita sama, jangan sampai ada alasan yang memungkinkan terorisme lahir di Lampung! Untuk itu, menjadi tugas bersama kita warga Lampung untuk menjaga dan memelihara kondisi daerahnya agar tetap tidak memberi peluang sekecil apa pun bagi lahirnya terorisme!"


"Sikap tegas setiap warga Lampung untuk tidak mau kompromi sedikit pun dengan segala bentuk terorisme, menjadi penentu ke depan dalam menutup peluang terorisme untuk bersemi di daerah ini!" timpal Temin. "Dengan semangat antiterorisme pada warga yang sedemikian pula, setiap ada hal-hal aneh yang berindikasi menjurus ke arah munculnya gerak-gerik terorisme, akan lebih cepat terendus oleh warga!"


"Pokoknya ini harus menjadi kali terakhir ada teroris bisa disebut berasal dari Lampung!" tegas Temon. "Untuk masa selanjutnya, no way!" ***

Selanjutnya.....

'Juvenile Deliquency', Bom Bunuh Diri!

"KENAKALAN remaja, dengan terminologi universal juvenile deliquency, untuk anak kampung bentuknya mungkin cuma curi mangga di kebun tetangga, atau tawuran anak sekolah di kota!" ujar Umar. "Maka itu, amat mengejutkan ketika terjadi lonjakan tak terkira pada remaja kita, mencapai puncak kekerasan--melakukan bom bunuh diri--dalam kasus Mega Kuningan!"

"Pelaku bom bunuh diri di Hotel J.W. Marriott yang menurut polisi berusia 16--18 tahun, tinggi tubuh 180--190 cm, sepatu nomor 42--43 dan berkulit putih, spesifikasi biologisnya jelas tak seperti rata-rata anak Indonesia! Bisa jadi ia memang punya kelainan dibanding remaja Indonesia umumnya--untuk kebodohannya memilih jalan sia-sia!" sambut Amir. "Meski dengan kelebihan yang menjadi kelainannya itu, ia tetap satu dari puluhan juta remaja Indonesia seusianya! Dengan kelebihannya, baik fisik, mental (lebih dewasa dari usianya), atau kecerdasannya, seorang remaja justru lebih mudah dieksplorasi dan dieksploitasi perilakunya untuk berbeda dari remaja umumnya! Tampaknya itulah pangkal masalah pada remaja pelaku bom bunuh diri Mega Kuningan! Tapi tetap harus diakui, perekrut dan pencuci otaknya cukup piawai, hingga anak yang dengan kelebihan fisik memiliki masa depan lebih baik, justru siap mengorbankan jiwanya demi kesia-siaan itu!"

"Dengan kelebihan yang cenderung mendorong remaja berperilaku berbeda dari remaja lain umumnya, seperti dipahami dalam terminologi juvenile deliquency itu, membuat kita tak perlu terlalu mencemaskan relevansi pelaku bom Mega Kuningan itu pada remaja kita umumnya!" tegas Umar. "Yang mungkin bisa jadi masalah justru, kelangkaan sistem sosial kita buat menangani remaja yang punya kelebihan, baik secara fisik, mental maupun kecerdasannya! Batasan usia masuk sekolah misalnya, di banyak sekolah terlalu ketat, padahal banyak anak usia tiga tahun di play group sudah bisa baca-tulis, yang kalau mendapat penyaluran tepat bukan mustahil usia 14 bisa lulus sarjana, atau malah seperti Hasan Al Banna, hafal Alquran!"

"Penanganan yang salah memang bisa membuat remaja punya kelebihan malah divonis nakal, lalu tersingkir ke kancah kekerasan, yang justru mendorong radikalisasinya!" timpal Amir. "Bisa saja, pelaku bom bunuh diri satu dari remaja punya kelebihan itu, akibat susah menempatkan diri di lingkungan yang tidak memahami kelebihannya, jatuh ke tangan yang lebih buruk!"

"Sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada pemerataan kesempatan juga belum memadai dalam memfasilitasi keistimewaan di kalangan anak bangsa!" tukas Umar. "Bom bunuh diri dengan pelaku remaja dengan ciri-ciri istimewa jelas disayangkan, sekaligus menuntut kita lebih memahami remaja! Hanya dengan pemahaman sesuai, remaja tak terseret arus yang salah--jadi teroris!" ***
Selanjutnya.....

Bom Teroris Justru Satukan Rakyat!

"TERKUTUK! Bom teroris kembali mengguncang Jakarta, menewaskan banyak orang, warga kita dan warga asing di Hotel J.W. Marriott dan Ritz Carlton Jumat pagi!" tegas Umar. "Perbuatan tak kenal perikemanusiaan itu merupakan serangan terhadap rakyat Indonesia yang jadi terganggu keamanan dan ekonominya karena membuat turis dan penanam modal takut ke Indonesia!"

"Maka itu, kalau dengan serangan bom itu teroris ingin menimbulkan kekacauan dengan membuat rakyat takut, keliru besar!" sambut Amir. "Bom teroris itu justru mempersatukan rakyat! Seluruh rakyat pagar betis saling bersandar bahu berdiri di belakang Presiden menghadapi teroris! Berkat dukungan penuh rakyat itu, setiap kali teroris menyerang, selalu bisa diungkap dan ditangkap kepolisian Indonesia! Ini layak dibanggakan karena Amerika Serikat saja belum berhasil mengungkap pelaku teror 11 September 2001."

"Seperti peristiwa terakhir di J.W. Marriott dan Ritz Carlton, kepolisian di hari pertama sudah bisa memastikan itu serangan bom bunuh diri!" timpal Umar. "Berarti pelakunya ada di antara jenazah para korban, sehingga usai identifikasi bisa diurut komplotan dan otak serangan! Kita doakan agar polisi segera mendapat petunjuk sehingga cepat menggulung seluruh mereka yang terlibat!"

"Untuk mempercepat pengungkapan, satu hal harus dipegang teguh polisi, yakni benar-benar fokus pada pokok masalah!" tegas Amir. "Belajar dari kegagalan Amerika mengungkap pelaku sesungguhnya teror 11 September, karena tidak fokus--terlalu luas menebar kecurigaan pada setiap elemen umat, ternyata semua jalur yang ditelusurinya buntu! Untuk melampiaskan amarah karena harus ada yang bertanggung jawab atas serangan teroris itu, sarang teroris di Afghanistan jadi sasaran! Meski kemudian, setelah tokoh teroris dari seantero dunia dikumpulkan di Guantanamo, tak bisa dibuktikan keterlibatannya langsung pada teror 11 September!"

"Pengalaman itu layak jadi pelajaran!" timpal Umar. "Lebih-lebih saat seluruh rakyat bersatu di belakang pemimpin nasional dalam menghadapi teroris, jangan pula ditebar kecurigaan ke arah elemen-elemen rakyat sehingga akhirnya justru hanya menciptakan perpecahan sesama rakyat!"

"Pengalaman polisi dalam fokus menangani kasus teroris, jadi modal penting untuk mengungkap dan menggulung jaringan teroris yang melakukan serangan terakhir ini!" tegas Amir. "Untuk itu polisi agar tetap mengetatkan geraknya pada fokus, jangan biarkan pembonceng ikut dengan tujuannya sendiri, yang akhirnya bukan saja meruwetkan, melainkan juga menyesatkan penyidikan!"

"Dengan kesatuan tekad rakyat mendukung polisi, diharapkan ada keanehan di pelosok mana pun akan cepat diketahui polisi!" sambut Amir. "Rakyat pasti cepat melapor jika ada keanehan, daripada ketempuhan--terseret kasus bom!" ***
Selanjutnya.....