Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Tampilkan postingan dengan label merampok rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label merampok rakyat. Tampilkan semua postingan

Derita Rakyat di Negara Bangkrut!


"KAPAN sih mulai puasa Ramadan?" tanya nenek.

"Sekarang pertengahan Rajab, berarti sebulan setengah lagi!" jawab cucu. "Ada apa, Nek?"

"Ketiga putraku, paman-pamanmu, ngumpul di rumah!" jawab nenek. "Biasanya itu terjadi awal puasa Ramadan!"

"Kalau biasanya mereka berkumpul di tempat nenek tanda bahagia menyambut Ramadan, kali ini sebaliknya, mereka berkumpul memadu derita di ambang kebangkrutan negara!" jelas cucu. "Paman Temon pulang kena PHK massal di usaha penggemukan sapi tempatnya kerja! Paman Temu pulang karena tambak udang tempat dia menjadi plasma menghentikan kegiatan setelah rugi besar akibat usaha mereka diblokir hingga praktis tak bisa beroperasi! Paman Temin yang nelayan pulang, perahunya tak dapat solar! Ada dijual eceran, tapi harga solarnya tiga kali lipat!"

"Kok semua lapangan penghidupan mengalami kesulitan secara serentak begitu?" tanya nenek.

"Derita rakyat yang datang bertubi-tubi itulah di antara tanda-tanda negara menjurus bangkrut, sehingga para tokoh bangsa di luar pemerintahan, Kamis lalu berkumpul di kantor Pengurus Pusat Muhammadiyah, Jakarta, urun rembuk guna mencegah kebangkrutan negara!" tegas cucu. "Selain kesalahan pejabat pemerintahan dalam menangani perekonomian sehingga terjadi hal-hal yang menyebabkan penderitaaan rakyat jelata tadi, para tokoh bangsa itu mengkhawatirkan kebangkrutan negara terjadi akibat korupsi yang makin meluas dan merasuk ke kisaran pusat kekuasaan! Di tengah kondisi yang buruk itu, tak ada pula pemimpin yang punya karakter dan visi kuat untuk dijadikan teladan atau panutan!"

"Bagaimana ceritanya tiba-tiba negara kita berada di tubir jurang kebangkrutan?" keluh nenek. "Kan selama ini diberitakan televisi anggaran negara dan daerah terus naik, pemberantasan korupsi juga dijalankan dengan tegas!"

"Anggaran negara dan daerah yang terus naik itu cuma seperempatnya dialokasikan untuk rakyat, itu pun cuma sebagian yang benar-benar sampai ke rakyat!" tegas cucu.

"Sebagian lagi, akibat pemberantasan korupsi cuma bergelora dalam retorika, peningkatan dana anggaran menyelinap dalam jaringan kleptokrasi!"

"Pertanyaanku, kok tiba-tiba begini?" kejar nenek.

"Karena keburukan di lingkaran kekuasaan itu terungkapnya juga bertubi-tubi!" jawab cucu. "Itu membuka pandora, selama ini tertutupi oleh citra artifisial! Seolah negara baik-baik saja, ternyata digerogoti dan salah urus di segala sisi, hingga derita Temon, Temu, dan Temin berpadu!" ***


Selanjutnya.....

Puasa, Pencoleng Merampok Rakyat!


IBU kembali dari pasar tanpa bawa belanjaan, "Pusing melihat orang ramai sekali di pasar!"

"Bulan puasa orang ramai ke pasar cari yang lebih lengkap!" timpal pria di angkot.

"Harga pun naik!"

"Logikanya mayoritas orang berpuasa, konsumsi turun!" timpal ibu. "Tapi yang terjadi sebaliknya! Ragam kebutuhan dan konsumsinya justru naik!"

"Anehnya, kata ustaz, saat Ramadan semua setan dibelenggu! Orang hanya diuji kendali nafsunya!" timpal pria. "Peningkatan konsumsi saat Ramadan menunjukkan orang lebih tak kuasa mengatasi nafsu sendiri, lebih buruk dari saat setan bebas!"

"Jauh lebih aneh, perilaku masif tak terkendali yang konvensional—berulang setiap Ramadan—mendorong kenaikan harga barang itu, tak pernah bisa diatasi pemerintah, baik lewat mekanisme pasar, hukum, maupun cara lain!" tegas ibu. "Pihak yang berwenang mengendalikan harga malah lepas tangan, menyatakan kenaikan harga saat Ramadan wajar! Tak peduli negara wajib melindungi seluruh warganya, tanpa kecuali dari perampokan atas nilai riil pendapatan rakyat oleh kenaikan harga barang yang laten menjadi inflasi tinggi! Terlalu naif penguasa menyatakan perampokan terus-terusan nilai pendapatan rakyatnya yang justru membuktikan kegagalan dirinya melindungi rakyat itu, dia sebut wajar!"

"Berarti dia anggap wajar pula dirinya gagal menjalankan fungsi melindungi rakyat!" timpal pria. "Padahal dua abad lalu Adam Smith telah menghadirkan invisible hands—tangan tak terlihat—dalam mekanisme pasar, salah satunya intervensi pemerintah! Jadi, sebelum Ramadan pemerintah seharusnya lebih dulu siap dengan penawaran (persediaan) yang tinggi sebelum permintaan bergerak naik, agar naik setinggi apa pun permintaan selalu di bawah penawaran!"

"Lalu, jika stok penawaran itu dikuasai pencoleng yang menimbun barang agar harga naik dan dia dapat untung besar, ada hukum (UU) yang bisa menjerat penjahat itu dengan hukuman berat—subversi ekonomi!" tegas ibu. "Tapi semua ‘turf card' pemerintah itu tak dimainkan! Tak peduli perampokan nilai pendapatan rakyat berlanjut—dilakukan oleh pencoleng penimbun barang!"

"Lebih parah lagi, sudahlah pemerintah tak efektif menjalankan fungsinya mengendalikan harga, kebijakan pemerintah justru memicu kenaikan harga lebih signifikan!" tukas pria. "Contohnya kebijakan daging sapi yang kacau! (Kompas, [14-8]) Harga daging sapi naik sampai di atas 50 persen! Jadi, boro-boro menstabilkan harga, kebijakan pemerintah sendiri malah menyulut kenaikan harga jadi lebih spektakuler!"

Selanjutnya.....