Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Tampilkan postingan dengan label jembatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jembatan. Tampilkan semua postingan

Jembatan Renta Jalinsum Ditutup!


"JEMBATAN jalan lintas Sumatera (jalinsum) di Kampung Banjarmasin, Kecamatan Baradatu, Way Kanan, dinyatakan renta sehingga tak mampu lagi dilalui kendaraan berbobot lebih dua ton!" ujar Umar. "Jembatan itu ditutup total setelah jalan alternatif kendaraan pribadi siap! Kendaraan ukuran besar tak lagi bisa lewat lintas tengah itu dan harus lewat lintas barat atau lintas timur!"

"Artinya, akibat jembatan renta itu jalinsum lintas tengah yang sebelumnya merupakan urat nadi utama perekonomian Sumatera, seperti pada orang sakit jantung, harus di-by pass, dialihkan saluran darahnya!" timpal Amir. "Ditentukannya jembatan renta tak mampu dilalui dalam tempo relatif dadakan, hingga harus menghambat arus nadi perekonomian yang vital, jelas mengejutkan! Padahal idealnya, sejak beberapa tahun lalu jembatan itu diganti, saat mengerjakannya dibuat jembatan darurat di dekatnya!"

"Lupakan seolah kita hidup di negeri yang serba-terencana sehingga sebelum jembatan tak bisa dilalui sudah selesai diganti dengan yang baru!" tukas Umar. "Rentanya jembatan dan ditutupnya jalinsum lintas tengah itu justru penyempurna kerusakan infrastruktur di negeri kita! Jatuhnya harga kol di sentra produksi Lampung Barat hingga periode terakhir tinggal Rp400/kg sampai Rp500/kg, bukan saja akibat parahnya kerusakan jalan utama di kabupaten itu! Tapi, lebih lagi akibat terpukulnya penyalur kol ke Ibu Kota yang dagangannya rusak ketika kapal penyeberangan tertahan berhari-hari di Bakauheni! Trauma penyalur kol ke Ibu Kota itu membuat kol di ladang tak tertampung hingga terkesan overproduksi! Padahal, kalau angkutan lancar di semua lini hingga penyalur tak ada yang sempat terpukul dan trauma, produksi yang ada sebenarnya sebanding dengan kebutuhan pasar!"

"Celakanya angkutan penyeberangan Bakauheni-Merak sampai sekarang belum bisa lancar seperti diharapkan! Demikian pula jalan-jalan yang hancur belum diperbaiki! Diperparah lagi oleh jembatan renta terpaksa ditutup!" timpal Amir. "Dengan rangkaian infrastruktur yang buruk itu terbukti para petani, rakyat di akar rumput, yang paling terpukul dan menderita akibat panenannya jatuh harga bahkan tak bernilai ekonomis—
karena kesal tanaman mereka biarkan busuk di ladang!"

"Hal itu menyedihkan, karena menurut Sekjen Nasional Demokrat Syamsul Muarif dalam Dialog Kebangsaan di Metro, Lampung, infrastruktur kini hancur justru saat APBN dan APBD empat kali lipat dari delapan tahun lalu!" tegas Umar. "Ke mana APBN/APBD sebanyak itu disalurkan?" ***

Selanjutnya.....

JSS, Belajar dari Kisah Suramadu!

"JSS--jembatan Selat Sunda--harus dibangun dengan persiapan lebih baik pada masyarakat dan prasarana serta sarananya di sisi hinterland--dalam hal ini Lampung--agar tak mengulang kisah antiklimaks Madura pada pembangunan Jembatan Surabaya-Madura--Suramadu!" ujar Umar.

"Antiklimaks seperti apa?" tanya Amir.

"Menurut Dr. M. Ikhsan Modjo, ekonom Unair, di seminar Lampung Menyongsong JSS, akibat persiapan prapembangunan secara multidimensi kemasyarakatannya kurang memadai, dewasa ini bukan investor yang berbondong-bondong ke Madura seperti dibayangkan semula!" jelas Umar. "Justru sebaliknya, warga Madura yang ramai-ramai rekreasi dan belanja ke Surabaya! Artinya, uang dari Madura yang malah disedot Surabaya!"


"Berarti, dalam waktu yang masih tersedia sekitar 15--20 tahun sampai JSS selesai dibangun, warga Lampung harus menyiapkan pusat-pusat daya tarik baru yang mampu menyaingi kemajuan di sisi lain jembatan, agar bisa menyedot perhatian warga Jakarta dan Pulau Jawa umumnya!" timpal Amir. "Sebab, katakanlah tak terelakkan dengan JSS warga Sumatera tertarik berkunjung ke Jawa, tapi dengan daya tarik yang seimbang sehingga warga Jawa juga ingin ke Lampung, jumlah penduduknya jauh lebih besar Pulau Jawa, juga kemakmurannya! Jadi, secara kuantitatif (jumlah orang) maupun kualitatif (besar belanjanya) Lampung tetap untung!"

"Pusat-pusat daya tarik baru untuk liburan berupa tempat hiburan, rekreasi, dan belanja itu bukan pula hanya di sekitar ujung jalan keluar dari JSS!" tegas Umar. "Dengan jalan yang baik antarkota di Lampung, semua daerah menata diri bersaing sebagai tujuan lanjutan! Kalau terbatas hanya di sekitar JSS, orang cepat bosan sekali berkunjung selesai! Jadi, tujuan-tujuan alternatif harus siap!"

"Tapi, untuk semua itu, apakah pembangunan JSS bakal betul-betul terlaksana?" tukas Amir. "Sebab, JSS itu sudah digagas sejak zaman Bung Karno, tapi selalu jadi angin lalu!"

"Kali ini lebih konkret!" jawab Umar. "Keppresnya sudah keluar 28 Desember 2009! Itu dasar Bank Indonesia cabang Bandar Lampung dan Lampung Post membuat seminar JSS, di mana Dr. Kausar Ali Saleh, M.Sc., pakar pemerintahan dan otonomi daerah menyingkap, dari sisi suprastruktur, masih diperlukan seperangkat aturan hukum baru bagi pemda untuk memayungi realisasi gagasan besar tersebut! Misalnya, aturan untuk konsolidasi dukungan dan partisipasi warga pada JSS sebagai bagian dari shareholder pemda, di luar obligasi daerah, agar JSS jadi milik masyarakat! Sekaligus, JSS tak terlalu membebani APBD yang harus tetap fokus untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat!"

"Pikiran bagus!" tegas Amir. "Jangan sepenuhnya andalkan investor asing, nanti ironis--di negeri kita ada jembatan terpanjang di dunia, ternyata milik China!"
Selanjutnya.....