Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Kesepakatan Mega-JK: Penyejuk!

"SUDAH baca lima butir kesepakatan Ketua Umum DPP PDI-P Megawati dan Ketua Umum DPP Golkar Jusuf Kalla?" tanya Umar. "Isinya menyejukkan suasana politik menjelang Pemilu Legislatif! Dua partai besar pemenang Pemilu 1999 dan 2004 itu satu bahasa dalam hal-hal prinsipiil kehidupan berbangsa, mengeliminasikan ancaman konflik yang justru mudah tersulut hal-hal tersebut!"

"Memang, belakangan ini langkah tokoh-tokoh sentral parpol cukup menggembirakan dengan saling merapat dalam jalinan silaturahmi!" timpal Amir. "Meski masih ditafsirkan sebagai penjajakan koalisi menuju Pilpres 2009, kedekatan hubungan dan silaturahmi pucuk pimpinan parpol itu amat kuat pengaruhnya dalam mengurangi ketegangan persaingan di lapisan bawah--dari persaingan antarcaleg hingga massa pendukung! Suasana lebih sejuk di lapangan semakin bisa dirasakan!"


"Apalagi diperkokoh dengan kesepakatan seperti yang dibuat oleh Mega dan JK, yang memperkuat komitmen terhadap sistem ketatanegaraan pascapemilu yang berorientasi pada kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat!" tegas Umar. "Kesepakatan seperti itu bisa mendorong semua komponen bangsa berwawasan ke masa depan, goal oriented, tidak lagi lebih mengutamakan kepentingan sesaat! Orientasi seperti itu, memang harus disosialisasikan lewat lembaga-lembaga formal yang secara struktural punya mekanisme hierarkis untuk pelaksanaan ke dalam jajaran organisasinya! Terutama parpol yang untuk itu punya mekanisme sanksi bagi unsur-unsurnya!"

"Setelah butir satu dan dua sepakat membangun sistem presidensial yang kuat berdasar UUD 1945 untuk mewujudkan kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat, aku suka visi nasionalisme kedua partai besar pada butir tiga--memperkuat sistem ekonomi untuk melaksanakan program ekonomi yang berdaulat, mandiri dan berorientasi pada kepentingan rakyat!" ujar Amir. "Butir itu jelas masih perlu dijabarkan lebih terinci sistem operasionalnya! Namun, semangatnya cukup kuat dalam memberi jawaban terhadap kebingungan bangsa yang terputar dalam liberalisasi ekonomi global dewasa ini! Integritas bangsa dalam pengelolaan ekonomi, khususnya atas sumber-sumber kekayaan alam, menjadi kabur oleh aturan main global yang lebih menguntungkan para pemilik modal dan teknologi! Bagi hasil tambang emas misalnya, ada yang hanya 10 persen untuk negara dan Pemda, sedang kalau rakyat mencari sisanya di tempat pembuangan ampas gilingannya ditembaki!"

"Kenyataan itu jelas akibat program ekonomi tak berdaulat, tak mandiri, dan tak mengutamakan kepentingan rakyat!" tukas Umar. "Nasionalisme ekonomi kedua partai besar yang tertuang dalam kesepakatan tersebut harus dipegang erat-erat oleh rakyat, guna bisa dijadikan dasar menuntut ketika mereka berkuasa! Betapa, visi tersebut merupakan hal penting dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat dari sumber-sumber kekayaan alam negara--tak seperti selama ini, lebih dinikmati bangsa lain! Visi ekonomi dalam kesepakatan ini jelas lebih menyejukkan lagi!" ***
Selanjutnya.....

Pemerintah 'Broke', Belum 'Broken'!

DI forum Hipmi, Presiden Yudhoyono mengakui, Government is broke!--pemerintah merugi!" ujar Umar. "Penyebabnya menurut Presiden, penerimaan pemerintah menurun karena pajak yang masuk berkurang, insentif banyak yang diberikan! Situasi demikian tak terhindarkan dalam suasana krisis ekonomi. Tugas utama pemerintah adalah terus menjaga agar roda perekonomian nasional tetap bergerak!"

"Keterbukaan Presiden mengenai kondisi kurang ideal keuangan negara itu amat dihargai! Lewat itu rakyat yang dalam kesulitan juga tahu ujung pangkal masalah yang mengimpitnya, karena ekonomi rakyat dan keuangan negara merupakan kesatuan yang simultan!" sambut Amir. "Lebih lagi dengan kejelasan keuangan negara pada kondisi broke, merugi, belum broken--berantakan, rakyat bisa memelihara harapan badai pasti berlalu!"

"Memang jauh berbeda persepsi rakyat seandai pemerintah menutupi situasi kurang ideal itu dengan menyebutkan semua dalam kondisi ideal, padahal rakyat secara nyata merasakan tekanan sosial-ekonomi yang semakin berat!" timpal Umar. "Justru dengan keterbukaan itu rakyat bisa mengukur kemampuan keluarga dengan realitas kurang ideal tersebut, sehingga tekanan bisa diperlonggar oleh penyiasatan dan adaptasi warga terhadap kesulitan yang dihadapi!" "Apalagi secara awam mudah dipahami situasi krisis dengan fluktuasi nilai tukar mata uang asing--melemahnya kurs rupiah terutama pada yen dan dolar AS--yang membuat pemerintah broke!" tegas Amir.

"Nilai yen yang pada awal krisis--macetnya kredit sektor perumahan AS Juli 2008 mencapai kisaran Rp125 per yen--kurs naik hingga 60 persen! Artinya, tanpa menambah utang baru pun nilai utang luar negeri maupun kewajiban membayar pokok utang dan bunga dalam yen--utang luar negeri kita yang terbesar--naik 60-an persen! Juga utang dalam dolar AS, yang diawal krisis kursnya masih Rp8.500 per dolar AS, kini sudah di kisaran Rp12 ribu!"

"Akibat gejolak kurs mata uang dunia itu, terjadi tambahan beban utang luar negeri kita pada 2008 sebesar Rp5,871 miliar dolar AS!" timpal Umar. "Dari total utang luar negeri pemerintah 2008 jika didolarkan sebesar 59,576 miliar dolar AS, akibat fluktuasi mata uang bertambah menjadi 65,447 miliar dolar AS! (Kompas, 11-3) Berapa besar itu dalam rupiah, hitung sendiri dengan kurs Rp12 ribu per dolar AS!"

"Tambahan utang akibat fluktuasi kurs itu saja sekitar Rp70 triliun, setara stimulus yang akan diluncurkan pemerintah mulai April nanti guna meredam bantingan krisis global terhadap perekonomian nasional!" tukas Amir. "Broke sebesar itu jelas tak bisa ditutup-tutupi! Maka itu, lebih tepat pemerintah sendiri yang mengungkapkan, ketimbang pihak lain yang tak urung diiringi tudingan bermuatan kebenaran cukup telak--pemerintah menutupi borok pada keuangan negara! Lalu dipelintir pula, agar rakyat tak bisa memahami dan menimpakan kesalahan pada pemerintah atas kebijakannya yang broke! Ini bukti keterbukaan lebih aman dari tertutup!"

Selanjutnya.....

Antisipasi Keriuhan Usai Pemilu!

"SMS dari siapa, dipelototi terus?" tanya Umar.

"Dari caleg!" jawab Amir. "Isinya memprediksi keriuhan yang bisa terjadi usai pemilu legislatif dipicu ketentuan ambang batas parliamentary threshold 2,5 persen suara sah nasional untuk pemilu anggota DPR! Jika tidak mencapai 2,5 persen suara sah nasional, sebuah parpol tidak berhak mendapat kursi DPR, berapa banyak pun suara yang diperoleh di daerah pemilihan--dapil!"

"Kalau dari berbagai dapil parpol dapat 10 kursi DPR, karena jumlah itu belum cukup 2,5 persen dari suara sah nasional, yang 10 kursi itu gugur?" kejar Umar.

"Menurut ketentuannya, begitu!" jawab Amir. "Kalau ada 10 parpol yang mengalami hal itu, bisa terjadi seratusan anggota legislatif hasil pilihan rakyat langsung yang dieliminasi! Itu sebabnya kupelototi SMS ini, karena pemilih dari 100 orang anggota legislatif yang terpilih langsung tapi dieliminasi itu, jika rata-rata setiap anggota dipilih oleh 300 ribu orang, jumlah pemilih yang suaranya sia-sia itu 30 jutaan orang! Betapa riuh jika 30 juta orang itu teriak bersama!"

"Setengah juta saja mahasiswa teriak bersama di Senayan bisa menjatuhkan rezim Orde Baru yang telah bercokol 32 tahun!" timpal Umar. "Betapa jauh lebih dahsyat teriakan 30 juta orang itu jika terjadi usai pemilu! Lalu, dikemankan suara rakyat yang pilihan aslinya dieliminasi itu?"

"Sesuai ketentuan semua suara dibagi habis di tingkat provinsi, tentu suara itu disatukan dengan sisa suara dapil-dapil lalu dimatrikkan kembali sesuai urutan perolehan suara caleg yang ada!" jawab Amir. "Justru di situlah diperoleh alasan protes buat pemilih, karena bukan caleg yang benar-benar terpilih langsung oleh rakyat yang duduk di DPR! Pemilu dengan pemilihan langsung oleh rakyat pun jadi kehilangan makna, karena yang duduk malah bukan hasil pilihan rakyat!"

"Padahal sejak awal pilihan rakyat itu dilakukan dengan tujuan untuk melakukan perubahan di DPR, tapi karena akhirnya yang menikmati suara buangan itu dari kalangan partai besar lama yang membuat aturan itu untuk keuntungan partainya, harapan terjadinya perubahan di DPR gagal!" tukas Umar. "DPR pun kembali bermain dengan gaya lama yang mengecewakan rakyat!"

"Dalam sistem politik negeri kita, rakyat kecewa dari satu pemilu ke pemilu berikutnya itu sudah menjadi tradisi!" sambut Amir. "Karena bukan untuk mengatasi kekecewaan rakyat resep utama dalam setiap menyusun aturan pemilu, melainkan peningkatan kenikmatan dari setiap porsi kekuasaan yang diperoleh partai besar! Karena itu, dari pemilu ke pemilu hasilnya bukan peningkatan kesejahteraan rakyat, melainkan semakin luasnya konsesi kekuasan diiringi tambah besar dan berlimpahnya fasilitas kekuasaan!"

"Kecenderungan begitu bisa membuat teriakan 30 jutaan orang yang hasil pilihannya dieliminasi itu bisa lebih keras!" timpal Umar. "Kalau hal itu terjadi, gempita keriuhan usai pemilu bisa lebih jauh dari yang diperkirakan!" ***
Selanjutnya.....

Nyanyian buat Anak Buruh Tani!

"CANGKUL-cangkul, cangkul yang dalam! Tanah yang longgar jagung kutanam!" Temin mengajari anaknya yang masih usia TK bernyanyi.

"Temin!" potong Temon. "Mengajari anak nyanyi kok lagu mencangkul! Kapan majunya? Lagi pula, tanah longgar mana yang mau kautanami jagung, sejengkal saja tak punya tanah sendiri! Apa mau kau ajari anakmu menyerobot tanah orang?"

"Soalnya yang bisa kunyanyikan satu-satunya cuma lagu itu!" sambut Temin. "Itu pun kudapat dari ayahku! Lagi pula, nyanyi saja apa salahnya?"

"Justru dari nyanyian itu akan terjadi penyadaran pada anak tentang idaman hidup masa depan! Karena satu-satunya lagu ajaran ayahmu yang buruh tani cuma apa yang bisa dia lakukan, akhirnya kau pun cuma bisa jadi buruh tani juga!" tegas Temon. "Jadi, sekalipun untuk anak buruh tani, lagunya harus berorientasi masa depan! Misalnya, 'Download-download, download datanya, kita olah jadikan uang!' Dengan begitu yang tertanam dalam memori anakmu tentang komputer, beridaman menjadi ahli komputer, cari uang dari komputer!"

"Tapi negara kita kan negara pertanian, jadi anak kita juga harus punya kesadaran tinggi bahwa pertanian itu andalan utama ekonomi bangsa!" timpal Temin. "Akibat sok maju hingga pertanian tak mendapat perhatian memadai dari kalangan elitelah, sektor pertanian sebagai andalan malah jadi tempat bejubelnya warga miskin! Memang ada program revitalisasi pertanian, tapi lebih besar porsi retorikanya dari realisasinya! Buktinya, anggaran negara, provinsi atau kabupaten untuk itu jauh dari memadai! Coba cermati semua level anggaran, susah mencari anggaran pemeliharaan irigasi! Konsekuensinya, jangankan membangun irigasi baru, merawat yang ada saja tak ada anggaran, hingga sawah yang sebelumnya panen dua kali, tinggal panen sekali, itu pun rebutan air!"

"Maka itu, jangan dorong anak kita terjun ke sektor pertanian, cuma akan jadi korban janji kampanye dari pemilu ke pemilu!" tukas Temon. "Tengok saja dialog partai-partai politik dengan para pakar di Metro TV Senin malam, hanya untuk memberikan jawaban yang memuaskan penonton atas pertanyaan pakar saja jago-jago parpol gagal! Apalagi mewujudkan janjinya dalam kenyataan, buktinya dirasakan petani yang hidup semakin sulit dari waktu ke waktu! Konon pula buruh taninya, jauh lebih ngos-ngosan lagi!"

"Kalau orasi kampanye saja nyangklak--tak bisa memuaskan, bagaimana pula pelaksanaannya nanti?" timpal Temin.

"Pokoknya berlebihan kalau dijadikan harapan, apalagi sebagai tumpuan masa depan anak!" tegas Temon. "Maka itu, kau cari lagu lain untuk menanamkan dambaan masa depan anakmu! Mendambakan jadi dokter, atau pilot, misalnya! Jangan anak buruh tani cuma diberi dambaan jadi buruh tani juga!"

"Anak buruh tani diberi dambaan jadi dokter atau pilot, biaya sekolahnya dari mana?" entak Temin.

"Soal itu tergantung rezeki anakmu!" tegas Temon. "Dia itu anak panah, kau busurnya! Jangan belit anak panah pada tali busurnya! Tapi arahkan dia pada dambaan masa depan, agar bisa melesat mencapai sasarannya sendiri!" ***
Selanjutnya.....

Prihatin terhadap Karakter Bangsa!

"RASA prihatin mendalam pada realitas karakter bangsa meronai majelis Tanwir Muhammadiyah di Lampung pekan ini!" ujar Umar. "Sejumlah tokoh hadir membahas masalah itu, mencari simpul untuk mengakhiri salah kaprah karakter bangsa!"

"Buruknya karakter bangsa terekspresi pada perilaku korup di kalangan elitenya!" timpal Amir. "Sebaliknya di lapisan bawah, kebablasan dalam karakter bangsa kere, sabung nyawa antre sembako sampai jatuh korban jiwa!"

"Tapi paling diprihatinkan gerakan keagamaan seperti Muhammadiyah, justru hasil survei lembaga internasional yang menempatkan Indonesia dalam kelompok negara terkorup di dunia!" timpal Umar. "Padahal, Indonesia negara berpenduduk muslim terbesar di dunia! Apalagi kurun terakhir, yang terseret kasus korupsi tokoh-tokoh partai berbasis massa muslim!"

"Maka itu, simpul solusi dari gerakan keagamaan amat diharapkan! Lebih-lebih Muhammadiyah yang punya pengalaman mendalam di bidang pendidikan--poros pembentukan karakter!" tegas Amir. "Meski dalam pandangan budaya ada yang meyakini karakter bersifat native--bawaan lahir seperti ungkapan bibit-bobot-bebet--dalam Islam dipahami setiap bayi lahir seperti kertas putih, bersih! Corak dan warna seperti apa nantinya karakter anak, tergantung sentuhan pengaruh sejak usia dini (0--5 tahun), dari lingkungan keluarga, masyarakat, dan pendidikan!"

"Tapi sentuhan pengaruh itu tak selalu senada!" sambut Umar. "Bisa saja terjadi dalam keluarga relatif baik, di lingkungan masyarakat agak bias, lalu justru di lingkungan pendidikan mengalami enkulturasi, misalnya, budaya uang! Uang jadi penentu segalanya dalam dunia pendidikan! Akibatnya, proses internalisasi yang mendalam justru arti uang--sang penentu segala hal! Lalu, sosialisasi atau output karakternya pun mencapai segalanya dengan uang! Karena itu harus mencari uang, tanpa peduli halal-haram caranya!"

"Itu awalnya!" tukas Amir. "Menurutku, harus dicari antitesis yang bisa meretas kelanjutan proses tersebut dalam kondisinya yang sangat ekstrem seperti berikut: dalam kandungan dimanja asupan dari hasil korupsi, sejak lahir sampai play group praktis tumbuh dengan hasil korupsi! Lalu sejak play group, TK, SD, hingga wisuda sarjana secara sadar mendapat jalan mudah lewat hasil korupsi! Termasuk saat masuk pegawai, tanpa susah payah mengisi tes dengan benar, lolos! Semua itu proses enkulturasi dan internalisasi sempurna budaya korupsi! Terakhir proses sosialisasi--pengenalan segala teknik, taktik dan strategi korupsi yang tak terendus perangkat supermodern KPK!"

"Korupsi yang membiologis dan sistematis begitu merupakan tipe ideal di tengah realitas, sehingga yang kejegrek setiap kali justru tokoh yang tak disangka-sangka korupsi--akibat bermain di luar tipe ideal yang tersistem!" tukas Umar, "Sedang yang banyak korupsi, malah hidup nyaman!"

"Dari semua itulah yang harus ditarik antitesisnya dalam sebuah aransemen cultural engineering komprehensif yang disimfonikan seluruh bangsa!" tegas Amir. "Simfoninya harus lebih seru dan lebih gegap gempita dari reformasi, dengan irama mars yang entakannya menggerakkan setiap orang berubah karakter dengan cepat!" ***
Selanjutnya.....

Antisipasi Tsunami Ekonomi Dunia!

"JADI susah sekali cari duit!" keluh Tuman pada Temin. "Kita kumpulkan daun lidah buaya dari pekarangan rumah warga, yuk! Kalau dengan alasan membersihkan sarang nyamuk aedes agepty, pasti disambut gembira! Setelah daun terkumpul banyak, kita titipkan Temon untuk disetor ke pabrik, dicampur dengan daun lidah buaya hasil panenan dari ladangnya!"

"Apa? Mau mencampur daun lidah buaya dari pekarangan dengan hasil panen ladangku?" entak Temon yang tiba-tiba muncul. "Dasar Tuman! Di zaman krisis mau neko-neko! Kalau campur daun lidah buaya beda clone ke dalam bahan baku minuman segar itu, di negeri tujuan ekspor sana nanti konsumennya muntah-berak shampo! Ekspor komoditasnya kemudian ditolak dan pabriknya tutup, lalu ratusan buruh pabrik dan petani daun lidah buaya jadi penganggur!"

"Entah kenapa, otak Tuman sering kotor!" sela Temin. "Kayak spekulan, saat krisis malah cari kesempatan dalam kesempitan, tanpa peduli akibatnya merugikan orang banyak, sekaligus merusak perekonomian bangsa!"

"Memang! Lebih 10 tahun krisis multidimensional tak kunjung pulih, karena para spekulan justru suka bermain di saat krisis!" tukas Temon. "Ada yang impor beras hingga harga beras petani jeblok! Ada yang memainkan distribusi minyak goreng, sehingga meski produk dalam negeri berlimpah, rakyat harus antre minyak goreng! Ada yang spekulasi minyak tanah, dan lain-lain!"

"Malah ada yang beli udang cacat dari China, lalu diekspor ke Amerika pakai label Indonesia!" timpal Temin. "Akibatnya, berkapal-kapal ekspor udang dari Lampung ditolak dan kembali ke Panjang! Baru setelah pejabat bea cukai Amerika datang melihat lapangan produksi dan proses packing-nya, masalah selesai!"

"Itu dia! Bayangkan berapa ribu petambak dan pekerja pabriknya bisa jadi penganggur kalau pejabat Amerika tak mau tahu urusan produsen di sini!" tegas Temon. "Semua itu perlu diangkat sebagai tanda bahaya kepada semua pihak di negeri kita agar tak neko-neko di saat krisis yang terakhir ini! Krisis terdahulu saja yang cuma riak kecil untuk skala dunia, lebih 10 tahun kita tak bisa bangkit kembali! Apalagi krisis terakhir ini yang dilukiskan Alan Greenspan sebagai tsunami ekonomi dunia! Jika kecenderungan spekulasi dari pihak mana pun itu tak bisa dihentikan saat labrakan krisis global ini sampai di negeri kita, entah jadi seperti apa rusaknya negeri ini nanti!"

"Maka itu, Tuman! Jangan neko-neko!" sela Temin.

"Bagaimana tak berpikir neko-neko, kalau rakyat kecil seperti saya sekarang cari duit sangat susah sekali!" jawab Tuman. "Boro-boro cari kerja, yang sudah kerja saja puluhan ribu di-PHK!"

"Tunggu saja dana stimulus proyek padat karya infrastruktur, siapa tahu bisa kebagian giliran kerja!" timpal Temon.

"Cuma itu yang bisa diharap?" sambut Tuman. "Tak sebanding dengan gegap-gempita iklan-iklan suksesnya di televisi!" ***
Selanjutnya.....

Tiada Lagi Alasan untuk Optimis!

"WAJAHMU seketika redup seperti lentera habis minyak! Kenapa?" tukas Umar. "Apa tak ada lagi alasan untuk optimis?"

"Persis! Sergapan situasi seperti dapat hukuman tendangan penalti itulah yang membuatku terkesiap oleh isi koran yang kubaca!" jawab Amir. "Dengarkan, kubaca apa adanya--Data perekonomian terkini menunjukkan tidak ada satu indikator fundamental perekonomian pun yang bisa menerbitkan optimisme!" (Kompas, 5-3)

"Stop bacanya!" sela Umar. "Aku jantungan, bisa shock di tempat! Betapa tidak shock, perasaanku belakangan ini berbunga-bunga dibuat iklan-iklan kampanye partai politik yang berebut saling mengklaim sukses tokoh maupun kadernya! Di tengah kondisi begitu tiba-tiba kau sodorkan masalah yang membuat orang jadi miris!"

"Itu justru simpul bahasan dua ujung tombak pengelola ekonomi negara, Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) selaku pengelola moneter, dan Menteri Keuangan selaku pengelola fiskal!" tegas Amir. "Menyikapi data mutakhir, BI menurunkan lagi tingkat pertumbuhan, yang sebelumnya dari 6 persen diturunkan jadi 4,5 persen, terakhir jadi tinggal 4 persen! Angka 4 persen itu pun bersifat pesimistis, karena berpotensi besar turun lagi! Sedang Menteri Keuangan melihatnya dari ekspor dan Neraca Pembayaran yang serbanegatif! Angka ekspor Januari 2009 anjlok 17,7 persen dari ekspor Desember 2008! Neraca pembayaran malah kena defisit ganda, yakni dalam transaksi perdagangan serta transaksi modal dan keuangan!"

"Ternyata dampak krisis keuangan global lebih cepat imbasnya dari perkiraan sebelumnya--triwulan kedua 2009! Gejalanya justru keburu nongol triwulan pertama!" tukas Umar. "Anehnya, fakta itu justru memberiku perspektif baru!"

"Jangan sok jenius, melihat peluang di balik tsunami ekonomi dunia!" entak Amir.

"Aku tak mengatakan peluang, tapi perspektif!" tegas Umar. "Dalam perkiraan kalangan ekonom terkemuka dunia, pada triwulan pertama 2009 pukulan dampak krisis keuangan global akan terlihat di emerging country seperti BRICK --Brasil, Rusia, India, China, dan Korea! Baru pada triwulan kedua, imbas krisis dari emerging country, memukul negara-negara berkembang!"

"Maksudmu pasti, dengan dampak tersebut telah memukul negeri kita di triwulan pertama, berarti negeri kita sudah tergolong emerging country sekelas BRICK!" potong Amir. "Itu das sollen, yang seharusnya, atau sepatutnya negeri kita yang kaya sumber daya alam dan berpenduduk banyak bisa mencapai posisi sekelas India dan China! Tapi de facto, kenyataannya, kita masih tertinggal jauh dari kemajuan India dan China yang mampu mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 10 persen berturut-turut sepanjang satu dekade!"

"Lalu, bagaimana bisa masih di awal triwulan pertama negeri kita sudah rontok oleh terpaan dampak krisis global?" kejar Umar.

"Kayaknya itu terjadi karena bangunan ekonomi negeri kita secara nyata seperti gubuk reyot!" jawab Amir. "Sehingga, diterpa angin seriwing-seriwing saja rontok! Entah bagaimana jadinya kalau diterjang badai yang lebih dahsyat!" ***
Selanjutnya.....