Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Ricuh Bagi Zakat Justru di Jakarta!

"PERISTIWA memalukan dan melecehkan kaum duafa dalam pembagian zakat terjadi justru di Pemda DKI Jakarta hari kedua Lebaran!" ujar Umar. "Memalukan, Pemda DKI gagal mengatur ribuan warga miskin hingga ricuh, orang tua, wanita, dan anak-anak terinjak-injak, banyak yang pingsan! Melecehkan, Sekprov DKI melempar tanggung jawab atas kegagalan itu dengan menyalahkan para duafa tak mau antre! Padahal, akibat penanganan yang buruk, ribuan pendamba zakat Rp40 ribu itu berjam-jam terpanggang terik matahari!"

"Ironisnya, DKI menjalankan perda mengancam pemberi santunan pada orang miskin di tempat umum dengan hukuman enam bulan penjara atau denda Rp20 juta!" sambut Amir.

"Tapi dalam demonstrasi kedermawanan--istilah sosiolog Imam Prasojo (Metro TV [22-9])--Pemda DKI semdiri melanggarnya secara terbuka! Ini dijadikan dasar Wardah Hafidz,
konsorsium warga miskin kota, menggugat Pemda DKI ke pengadilan!"

"Aneh, kejadian memalukan itu justru dilakukan pemerintah Ibu Kota, pusat peradaban bangsa, yang seharusnya memberi cerminan budaya par excellence!" tegas Umar. "Orang daerah kagum pada lembaga-lembaga amil zakat nasional di Jakarta--Baznas, Dompet Duafa, Rumah Zakat, dan lainnya--yang tepercaya dalam penyaluran zakat! Pemda DKI membawahkan Bazis, pengelola zakat pegawai pemda! Tapi saat Pemda DKI punya zakat berjumlah besar--dari upah pungut pajak, iuran, dan retribusi daerah para pejabat senior yang bisa miliaran rupiah--tak menyalurkan lewat lembaga yang ada, malah memakainya untuk demonstrasi kedermawanan?"

"Jawabannya terangkum dalam uraian Wardah--seperti motif politisi bagi-bagi sembako!" timpal Amir. "Padahal, kalau zakat upah pungut pejabat senior DKI dibuat membangun baitulmal di semua masjid Jakarta seperti gagasan Forum Takmir Masjid Bandar Lampung, guna menggalang tradisi zakat nonfitrah warga komunitas setiap masjid, besar artinya dalam mengatasi kemiskinan!"

"Apalagi pakai versi penghitungan zakat penghasilan disesuaikan petani sawah tadah hujan yang panen sekali setahun, setara 526 kg beras atau jika Rp6.000/kg, penghasilan Rp3.156.000/tahun wajib dizakati, jumlah muzaki bisa lebih masif!" tegas Umar. "Dibanding wajib zakat petani irigasi teknis lima persen dan tadah hujan 10 persen, zakat penghasilan nonhasil bumi hanya 2,5 persen, relatif tak berat bagi yang sadar zakat jika dilunasi setiap gajian di baitulmal masjidnya!"

"Itu jika Pemda DKI, dan pemda lain yang para pejabat seniornya dapat upah pungut besar untuk dilunasi zakatnya, tak memakai zakat tersebut untuk demonstrasi kedermawanan dengan motif politik!" tukas Amir. "Motivasi itu tantangan bagi keefektifan zakat mengatasi kemiskinan!" ***
Selanjutnya.....

Ramalan Ki Jogoboyo, KPK Moderat!

"JOGOBOYO sebutan buat kepala dusun di Jawa dahulu! Kalau penjabatnya muda disapa bayan--hurup 'o' lazim dibaca 'a' jika diberi imbuhan seperti rupo (wajah) menjadi ®MDRV¯rupane®MDNM¯ (wajahnya). Jika mampu mempertahankan jabatan itu seumur hidup, disebut Ki Jogoboyo!" ujar Umar. "Orang mencapai tingkat Ki Jogoboyo karena mampu meramal perubahan kekuasaan di level atas, hingga antisipasinya tepat dalam melakukan penyesuaian pada perubahan!"

"Tapi bukan sembarang antisipasi, apalagi untuk menjilat ke atas!" potong Amir.
"Jogoboyo itu di hati warga dimaknai pawang buaya, melindungi warga dari kebuasan buaya penguasa yang lazim menindas rakyat, misalnya dengan menarik pajek (pajak) berlebihan! Dengan Jogoboyo berpengaruh dan disegani-selayak kepala suku, warganya mendapat perlakuan lebih wajar dari penguasa! Ia didaulat warga jadi Jogoboyo seumur hidup--lewat pemilihan langsung secara periodik!"

"Maka itu, ramalan Ki Jogoboyo atas perubahan konstelasi kekuasaan, seperti tengah
terjadi pada Komisi Pemerantasan Korupsi (KPK) setelah keluar perppu penunjukan pimpinan sementara KPK, layak disimak!" tegas Umar. "Dibentuknya 'tim lima' penyeleksi pimpinan sementara KPK terdiri dari tiga unsur penguasa (Menko Polhukam, Menhukham, dan Ketua Tim Penasihat Presiden) serta dua unsur independen, mudah ditebak KPK ke depan diformat lebih moderat! Artinya, tidak seekstrem KPK terakhir yang main tabrak tembok-tembok kekuasaan! Mungkin mirip KPK saat diketuai Taufiqurrahman Ruki--yang masuk 'tim lima' unsur independen!"

"Atas ramalan Ki Jogoboyo demikian, antisipasi terpenting pada dua kasus terakhir yang sedang didobrak KPK--penyebab pimpinannya dipreteli--skandal Bank Century dan dugaan korupsi di KPU!" sambut Amir. "Pada skandal Bank Century, arahnya terlalu mencolok menuju Boediono pada kapasitasnya selaku Gubernur BI, padahal kini jadi Wakil Presiden--dwitunggal pemimpin negara! Arah tindakan yang bisa mencemari 'kesucian' dwitunggal tak boleh dibiarkan! Lalu KPU, yang sejak awal menonjol kecondongannya pada pasangan SBY-Berbudi, tentu amat layak diingat jasanya setelah pasangan itu menang!"

"Tapi bukan berarti kedua kasus itu tak ditangani KPK!" sela Umar. "Tetap dilanjutkan, cuma dalam versi yang tadi itu, lebih 'moderat'!"
"Kira-kira begitulah!" tegas Amir. "Dengan itu, 'Ki Jogoboyo' atau 'kepala suku' yang berkewajiban melindungi 'warganya' justru harus lebih hati-hati, karena KPK yang telah menjelma sebagai buaya abdi penguasa itu tak lagi mengejar monyet di pohon tinggi, tapi yang main becek di bawah pohon! Secara kuantitatif statistik, hasil kerja KPK tidak akan merosot! Bedanya cuma pada kawasan garapan!" ***
Selanjutnya.....

Ikan Akuarium Juga Kesurupan!

SEORANG anak ikut Lebaran ke rumah bos, di jalan "kecantol" kuda lumping ngamen. "Kenapa mata para pemain mencicil, tak kedip-kedip!" ia tanya ayahnya.
"Mereka kerasukan roh halus!" jawab ayah.
"Roh halus itu apa?" kejar anak.
"Roh halus itu sejenis hantu!" jelas ayah. "Maka itu, kita harus cepat pergi menjauh, agar tak ikut kerasukan!"

Si anak jadi takut dan menarik ayahnya beranjak. Di rumah bos, ia tertarik pada akuarium besar yang banyak ikan hiasnya, bermain di gelembung air, dibuai cahaya lampu warna-warni.
Tak lama memperhatikan ikan di akuarium, anak itu kembali menarik tangan ayahnya. "Ayo cepat pergi dari sini!" ajaknya. "Ikan-ikan di akuarium juga kerasukan!"
"Bagaimana kau tahu ikan kesurupan?" sela bos.
"Mata semua ikan mencicil terus, tak kedip-kedip!" jawab si anak. "Nanti hantunya merasuki kita!"

"Masak iya?" sambut bos bergegas ke akuarium. Setelah memperhatikan bos baru sadar, ternyata mata ikan tak berkedip. Tapi ia dapat solusi agar si anak tak ketakutan lagi. "Betul! Ikan-ikan ini kesurupan! Tapi jangan takut, yang merasuki hantu air, tak bisa keluar dari air! Seperti hantu laut, cuma bisa merasuki orang di laut!"
"Maklum anak-anak!" timpal ayah.

"Tapi anakmu benar, sekarang musim kerasukan!" tegas bos. "Di banyak sekolah lanjutan, bukan cuma di Panjang atau Sumatera, di Jawa, Sulawesi, dan pulau lain, setiap kerasukan bisa puluhan murid bersamaan!"
"Kami tadi nonton kuda lumping!" timpal ayah. "Mata para pemain yang kesurupan mencicil terus seperti ikan!"

"Kuda lumping kerasukannya dikendalikan pawang, yang selalu bisa mengatasi!" ujar bos. "Yang tidak terkendali justru kerasukan hantu isme-isme modern, individualisme, konsumtivisme, pragmatisme, dan lain-lain! Individualisme, misalnya, menyalahi kodrat manusia sebagai makhluk sosial! Itu bukan watak asli orangnya, melainkan determinasi suatu kekuatan tak terlihat yang telah merasukinya!"

"Individualisme bahkan melampaui kapasitas persona dirinya sebagai pribadi! Ia ringkus kapasitasnya selaku pejabat publik lewat menomorsekiankan kewajibannya (kontrak sosial) harus mendahulukan atau menomor-satukan kepentingan publik, dengan mendahulukan kepentingan pribadi dan kelompoknya semata!" timpal ayah. "Tugas dan kewajibannya kepada rakyat dan negara belum ada apa-apanya, advanced salary (gaji di muka) yang menjadi pilihan pertama diurusnya! Lalu dirasuki konsumtivisme, menggadaikan gajinya ke bank beberapa tahun ke depan untuk pola hidup barunya!"

"Soal begitu sudah dianggap hal biasa, sudah menjadi kebiasaan atau konvensi perilaku elite politik!" tegas bos. "Artinya, kesurupan isme-isme di luar fitrahnya sebagai makhluk sosial itu sudah menjadi hal wajar, seperti juga dianggap wajar pemain kuda lumping makan beling! Meski beling bukan makanan manusia!" ***
Selanjutnya.....

Nenek Sedih Ramadan Lebih Singkat!

"KENAPA usai zikir salat magrib tadi nenek terisak-isak?" tanya cucu.
"Saat itu tadi, nenek sedih karena Ramadan lebih singkat! Padahal, kerinduan nenek pada Ramadan belum sembuh sepenuhnya!" jawab nenek. "Aku sedih karena harus merindukannya sepanjang tahun lagi, itu pun kalau usia nenek sampai!"

"Orang-orang lain gembira Ramadan lebih singkat karena bisa cepat Idulfitri dan kembali suci seperti bayi, nenek malah meratapi berlalunya!" tukas cucu. "Kalau sepanjang tahun harus puasa dan beribadah terus siang dan malam seperti Ramadan, mana orang tahan?"

"Bagi orang yang tahu ibadah Ramadan jika diterima Allah nilainya tak terhingga, rida-Nya dunia akhirat, pasti juga menginginkan semua hari yang dilaluinya bernilai seperti Ramadan!" tegas nenek. "Bulan yang di dalamnya terdapat malam bernilai seribu bulan--86 tahun lebih--sehingga beribadah pada malam itu sama dengan beribadah penuh seumur hidup! Pantas kan, nenek mendambakan selalu berada di bulan itu?"

"Sangat pantas!" jawab cucu. "Tapi ibadah dalam bulan itu kan harus disempurnakan dengan melunasi zakat fitrah dan ibadah Idulfitri! Dengan begitu juga bisa diartikan, Ramadan memang dibatasi agar bisa maksimal beribadah dalam bulan tersebut, sekaligus disempurnakan di bagian akhirnya dengan ibadah Idulfitri!"

"Dengan hakikat Idulfitri sebagai penyempurna ibadah Ramadan, bukankah semangat beribadah harus lebih kental dalam Idulfitri, bukan seperti yang gamblang terlihat. Idulfitri malah dijadikan kesempatan untuk konsumtif habis-habisan, puncak
kosumerisme berlebihan yang justru dijalani banyak orang sepanjang tahun?" tukas nenek. "Bagi warga yang tak mampu, Idulfitri menjadi kesempatan membeli baju baru setahun sekali, mungkin lain soal! Tapi justru bagi yang mampu, lebih menghamburkan uangnya untuk pamer kemewahan daripada melunasi zakat atas harta dan penghasilannya, jelas makna Idulfitri telah disimpangkan dari hakikinya! Sebab, kalau mereka memang mau menyempurnakan ibadah Ramadan, pilihan utamanya tentu membersihkan harta dan penghasilannya agar semua nikmat yang dikonsumsinya bersih, hingga dirinya ikut jadi bersih! Bersihnya diri seseorang jelas tidak terlepas dari bersih atau tidaknya konsumsi yang dinikmatinya, bersih dari hak-hak kaum duafa yang melekat pada harta dan penghasilannya!"

"Ah, Nenek menyadari hal itu juga setelah usia Nenek entah sampai Ramadan mendatang atau tidak!" tukas cucu. "Seingatku, waktu aku masih kecil dulu, setiap Idulfitri Nenek malah lebih konsumtif dari mereka!"
"Memang!" nenek mengakui. "Alangkah baiknya jika kesadaran tersebut datang lebih cepat, sejak muda! Sebab, takdir usia siapa tahu? Selamat Idulfitri!" ***
Selanjutnya.....

Tamatlah Riwayat Noordin M. Top!

"AKHIRNYA, tamatlah riwayat Noordin M. Top, gembong teroris asal Malaysia buron nomor satu Polri! Ia tewas meledakkan diri hingga wajahnya rusak!" ujar Umar.

"Polisi memastikan itu jenazah Noordin berdasar sidik jarinya. Bersama Noordin, tewas dua teroris perakit bom, Urwah dan Aji!"

"Lega dadaku dapat kepastian yang tewas Noordin M. Top!" sambut Amir. "Betapa, bersama teroris asal Malaysia lainnya Dr. Azhari, selama ini mereka menebar maut di negeri kita! Alasannya hanya karena Indonesia sejawat Amerika, penyerang Taliban--sekutu Al Qaeda di Afghanistan! Padahal Malaysia sekutu Inggris, ikut menyerang Taliban di Afghanistan!"

"Itulah subjektivitas Dr. Azhari dan Noordin M. Top yang tak dilihat para pengikutnya di Indonesia hingga rela mengebom negeri sendiri dan saudara sebangsa!"
tegas Umar. "Untuk sukses Densus 88 Antiteror Polri menghabisi petualang Noordin M. Top, kita angkat salut! Diharapkan, dengan kerja efektif Densus 88, sisa teroris segera diringkus!"

"Efektifnya kerja Densus 88 layak diacungi jempol! Tak ada bias sedikit pun dalam penyergapannya, meski dilakukan di perkampungan padat warga--Solo!" timpal Amir.

"Tewasnya Adib Susilo risiko menyembunyikan teroris! Sedang terlukanya istrinya yang hamil, Munawaroh, salahnya sendiri. Diminta petugas agar keluar, malah bertahan!"
"Keefektifan kerja Densus 88 dengan zero bias itu bahkan jauh lebih baik dari ABRI di era Orde Baru!" tegas Umar. "Bandingkan dengan pengepungan ABRI di Talangsari, banyak wanita dan anak-anak di antara 246 korban tewas dalam penyerbuan terhadap jemaah pengajian Warsidi 7 Februari 1989!" (Fadilasari, Talangsari 1989, LSPP, 2007)

"Bandingan bias itu meyakinkan kita bahwa untuk mengatasi teror di negeri ini, cukup Polri, sesuai prinsip civil society yang ditegakkan reformasi!" timpal Amir. "Kalau ingin lebih tangguh, Densus 88 ditingkatkan kualitasnya! Jadi, tak perlu merevisi UU Antiterorisme hanya untuk memberi dasar hukum melibatkan TNI memerangi terorisme, karena pengalaman biasnya pada warga sipil yang luas di masa Orde Baru itu tak boleh diulang!"

"Tampak, demi pertimbangan mencapai zero bias itu pula kenapa pengepungan rumah Mujahri di Temanggung dilakukan Densus 88 hingga 17 jam! Untuk tujuan itu terbukti kerja Densus 88 sangat efektif, hanya Ibrohim, otak pelaku Bom Mega Kuningan, yang tewas!" tegas Umar. "Memang, drama pengepungan panjang di Temanggung itu diejek jenderal Orde Baru dengan bandingan penyergapan pesawat Woyla yang hanya tiga menit! Tapi melihat medannya di kampung warga sipil yang padat penduduk, pilihan Densus 88 untuk menghindari bias terbukti efektif!"

"Maka itu, kita dukung Densus 88 meningkatkan kualitas!" timpal Amir. "Tak perlu meneror rakyat dengan menebar intel ke antero negeri memburu segelintir teroris! Cukup Densus, bravo 88!"
Selanjutnya.....

Gunjing Jalanan Cicak Lawan Buaya! (3)

"FAKTOR conflict of interest aparat hukum dalam cicak lawan buaya kental di gunjing jalanan!" ujar Umar. "Faktor itu ditengarai memicu adu cepat memenangkan konflik! Kisah bermula dari bocornya penyadapan KPK atas ponsel Komjenpol Susno Duadji terkait skandal Bank Century! Susno berang hingga petinggi Polri itu sesumbar menyebut KPK cuma cicak mau melawan pihaknya yang ia sebut buaya! Adu cepat bertindak pun dilakukan bukan cuma membuktikan buaya lebih kuat, melainkan lebih jauh lagi, untuk mengandaskan penyelidikan KPK atas dirinya terkait skandal Bank Century!"

"Pantas, ambang penetapan tersangka dua pimpinan KPK, Susno konferensi pers untuk mengklarifikasi surat yang ia kirim ke Bank Century, dengan menegaskan tak ada pelanggaran hukum pada surat tersebut!" sambut Amir. "Surat ke Bank Century itu dihebohkan pers, terkait hasil penyadapan KPK yang disiar ulang televisi bahwa Susno minta Rp10 miliar di kasus Bank Century!"

"Dengan memenangkan adu cepat menetapkan lawan sebagai tersangka, pihak buaya memenangkan tafsir hukum atas semua hal dalam sengketa itu--meski dasar penetapan tersangka cuma salah prosedur meneken surat cekal Joko Chandra dan Anggoro Widjojo, yang harus diteken lima pimpinan KPK, tapi diteken satu orang!" tegas Umar.
"Paling dahsyat hasil adu cepat unjuk kekuasaan itu ialah sukses Susno mementahkan amanat konstitusi yang menabalkan KPK lembaga superbodi! Sekarang, KPK jadi kerupuk mudah dilumat, bukan lagi superbodi yang tak bisa dikontrol seperti dicemaskan Presiden SBY saat berkunjung ke Kompas!"

"Sebagai abdi negara, sukses Susno mengatasi masalah yang dicemaskan Kepala Negara itu jelas gemilang!" timpal Amir. "Reputasi setinggi itu pada abdi negara lazim dianugerahi bintang jasa dan kenaikan pangkat dua tingkat--jika kini bintang tiga, jadi bintang lima!"

"Penghargaan itu harus diberikan sebagai contoh cara kerja cerdas dan tangkas abdi negara demi loyalitas pada pemimpin tertinggi!" tegas Umar. "Lain hal bagi penggunjing jalanan yang berorientasi kepentingan rakyat untuk pelaksanaan amanat konstitusi dalam pemberantasan korupsi! Dengan kesuperbodian KPK runtuh, tamatlah pemberantasan korupsi yang efektif! Selanjutnya kembali ke model sarang laba-laba--cuma bisa menjerat koruptor lemah dan kelas teri, koruptor paus sekelas hasil KPK dua tahun terakhir justru lolos!"

"Namun, lagi-lagi orang jalanan menilai positif hikmah penetapan tersangka berdasar pelanggaran prosedur, sebagai penerapan dual process of law!" timpal Amir. "Sebab, dengan prinsip hukum berlaku sama bagi semua orang, polisi bisa menindak pidana semua orang terkait salah prosedur dalam pelaksanaan anggaran seperti hasil audit BPK, di mana APBN dan lebih 500 APBD I dan II lima tahun terakhir disclaimer terus!"
Selanjutnya.....

Gunjing Jalanan Cicak Lawan Buaya! (2)

"AKU jumpa versi lain gunjing jalanan cicak lawan buaya!" seru Amir. "Dimulai Anggoro melempar muntahan unek-unek perutnya, ditampung dan dikemas Azhari lalu dibawa pulang! Kotoran yang dilempar Anggoro dari Singapura itu, tercium dan dikerubuti buaya yang lalu dijadikan mainan!"

"Rupanya buaya xenolatry, gandrung pada apa saja yang dilempar dari luar negeri!" sambut Umar. "Muntahan kotor pun ditimang-timang!"

"Pemahaman men on the street atas hal itu justru positif, tindakan buaya itu teladan usaha daur ulang memanfaatkan kotoran jadi pupuk kompos, atau menyuling kakus jadi biogas!" timpal Amir. "Maka itu, kotoran yang kemudian dikemas dalam testimoni Antasari itu bagi buaya produk daur ulang yang berguna dan langsung dimanfaatkan!"

"Pokoknya kemasan kotoran yang formalnya pengaduan Antasari atas cicak itu, membuat buaya secara formal berkewajiban memproses dan menindaklanjutinya! Maka itu, cicak pun jadi bulan-bulanan buaya!" sela Umar.
"Dan di tempat persembunyian di luar negeri, Anggoro tertawa jingkrak-jingkrak puas mengetahui kotoran yang dia lempar berhasil menjadi mainan buaya untuk mencelakakan cicak yang memburu dirinya!"

"Kata orang-orang di jalanan, metode Anggoro ini akan jadi pelajaran penting para koruptor lain, sebagai modus operandi meloloskan diri ke luar negeri dengan melempar kotoran ke dalam negeri untuk menyulut konflik lewat mengadu kepala sesama penegak hukum!" tegas Amir. "Anggoro terbukti lihai dalam menyulut konflik, tampak dari emosi yang seperti ilalang kering, langsung marak terbakar oleh kotoran Anggoro!"

"Bahkan salah satu pihak tanpa pikir panjang mendeklarasikan diri dan korpsnya sebagai buaya, dengan mengecilkan korps lawannya cuma cicak!" timpal Umar. "Padahal di kalangan awam, buaya lebih dikenal sebagai binatang buas yang jahat, hidup dari memangsa makhluk lemah!"

"Pilihan buaya sebagai gambaran ideal diri dan korps juga mencerminkan banyak hal, terutama kebiasaan dan kegemaran yang tak terpuji!" tegas Amir. "Orang-orang jalanan memang biasa bicara lepas tanpa beban, hingga lazim dijadikan gambaran ekspresi manusia merdeka! Simpul orang jalanan yang penting disimak, betapa bodoh aparat penegak hukum mau diadu oleh Anggoro, orang yang lari ke luar negeri karena tak
berani bertanggung jawab atas perbuatannya di muka hukum negeri ini!"

"Soal nilai kotoran itu sebagai materi hukum, kita serahkan pada hakim untuk menentukan nanti!" timpal Umar. "Tapi begitulah cara orang jalanan melihat masalah, tanpa pretensi atau kepentingan tersembunyi--conflict of interest! Hal terakhir inilah yang harus dijernihkan dari setiap aparat penegak hukum, agar hukum dijalankan dengan benar secara apa adanya!"
Selanjutnya.....