Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Protes, Kenapa Bencana di Sumbar?

"BANYAK orang protes gempa 7,6 SR, pada 30 September pukul 17.16 dikaitkan Surat 17 Ayat 16 Alquran; Tuhan akan membinasakan suatu negeri karena keingkaran orang-orang yang hidup mewah di negeri itu, kenapa terjadi di Sumbar, bukan di Jakarta yang serbamewah?" ujar Umar. "Warga Sumbar banyak yang miskin, taat beribadah!"

"Jawabnya di cerpen pujangga Sumbar, A.A Navis,
Robohnya Surau Kami," timpal Amir. "Baca dari sini!"
Umar baca--Haji Saleh yang jadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. "O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadah, paling taat menyembah-Mu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu, mempropagandakan keadilan-Mu. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala. Tak sesat sedikit pun kami membacanya. Tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa, setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau masukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman kami ditinjau kembali dan memasukkan kami ke surga seperti janji dalam Kitab-Mu."

"Kalian di dunia tinggal di mana?" tanya Tuhan./ "Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku."/"O, di negeri yang tanahnya subur itu?"/"Ya, benarlah itu, Tuhanku."

"Tanahnya yang mahakaya-raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya bukan?"/"Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami."/"Di negeri di mana tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa ditanam?"/"Benar. Itulah negeri kami!"/"Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain yang mengambilnya, bukan?"/"Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau."/"Engkau rela tetap melarat bukan?"/"Benar. Kami rela sekali, Tuhanku."

"Karena kerelaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?"/"Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala."/"Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak dimasukkan ke hatinya, bukan?"/"Ada, Tuhanku."

"Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu tetap melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Aku beri kau negeri yang kaya-raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka."/Semua jadi pucat pasi. ***

Selanjutnya.....

Mengidam Proyek dari Bencana!


"MENYIMAK syair Ebiet di balik bencana selalu ada di antara kita yang berbuat nista, mungkin hari-hari ke depan ini kita akan melihat kesibukan para aktor bersandiwara di pentas bencana!" ujar Umar. "Kalau saat kritis berpacu dengan waktu menyelamatkan para korban yang masih hidup di reruntuhan bangunan, di layar televisi kita cuma menyaksikan sebuah ekskavator--satu-satunya alat berat yang mendominasi tayangan bencana di arena luas--jangan heran jika para pimpro mulai menghitung biaya rekonstruksi nanti, layar televisi kita akan dipenuhi belasan atau bahkan puluhan ekskavator dan alat berat lain, unjuk partisipasi!"

"Pokoknya arena bencana akan menjadi pentas kolosal partisipasi, mulai bersih-bersih puing sampai perhatian ekstra pascabencana!" sambut Amir. "Pentas kolosal itu dimainkan mereka yang mengidam proyek dari bencana, melihat bencana lewat keuntungan besar yang bisa diraup dari duka, derita dan nestapa para korban gempa! Dan semua itu dianggap wajar, karena toh, kegiatan membangun kembali lewat paket-paket proyek itu memang harus ada yang mengerjakan!"

"Semua usaha itu sebenarnya wajar jika saat kritis menyelamatkan korban yang masih hidup dalam reruntuhan kita juga melihat ramainya alat-alat berat mengerubuti puing-puing bangunan, memudahkan evakuasi korban! Sayang, gambar seperti itu tak terlihat!" tegas Umar.
"Kecepatan para pengusaha merespons bencana dengan mengerahkan seketika alat-alat beratnya ke lokasi bencana, dengan segala cara pokoknya harus bisa, terjadi pada gempa Liwa 1994--meski dengan medan lebih berat dibanding Padang! Jalan putus akibat gempa menuju Liwa cepat tersambung, evakuasi korban juga relatif tepat waktu!"

"Dan yang amat penting dicatat, para pengusaha Lampung melakukannya waktu itu tanpa pamrih!" timpal Amir. "Memang, di antara pengusaha itu kemudian ada yang dapat proyek rekonstruksi pascagempa, tapi masyarakat tidak melihat itu negatif, karena perolehan proyeknya juga lewat prosedur tender yang benar! Hal ini pantas dikemukakan karena mungkin, dalam perjalanan waktu 15 tahun antara gempa Liwa dan gempa Sumbar, negeri kita ini telah banyak berubah!"

"Perubahan berakibat perbedaan situasi di arena bencana itu, yang menyesakkan dada saat melihat di layar televisi! Untuk reruntuhan semasif gempa Padang itu, yang bisa disaksikan di layar televisi cuma sebuah ekskavator beroperasi!" tegas Umar. "Jelas, sekeras atau segigih apa pun evakuasi dilakukan, hasilnya tak maksimal!"

"Gambar televisi yang mencerminkan perubahan masyarakat kita antarzaman itu, layak diwaspadai karena menunjukkan sense of crisis bangsa yang menurun!" timpal Amir. "Padahal, ancaman bencana akibat faktor alam maupun tingkah kita, cenderung meningkat!" n
Selanjutnya.....

Bencana-Bencana di Balik Bencana!

"SEPERTI gempa yang diikuti gempa susulan, suatu bencana juga disusul bencana-bencana ikutan yang menambah berat derita korban atau malah membuat bencananya jadi lebih fatal!" ujar Umar. "Bencana di balik bencana dalam gempa Sumatera Barat terlihat pada kurang all out-nya pemerintah memobilisasi bantuan, hingga evakuasi korban dan distribusi bantuan berjalan lamban!"

"Kurang all out-nya mobilisasi bantuan pemerintah (terutama pusat) terlihat dari terbatasnya alat dalam evakuasi, berakibat bencana jadi lebih fatal, banyak korban hidup terperangkap di reruntuhan akhirnya tewas!" sambut Amir. "Juga lambannya distribusi bantuan pangan, obat-obatan, tenda, selimut, dan sebagainya, yang tampak diserahkan pada perangkat Pemda setempat yang sedang shock baru tertimpa bencana! Akibatnya, warga Sumbar yang terkenal tinggi moralitasnya pun secara amat terpaksa jadi penjarah!"

"Salah satu hal yang kurang kena dari pemerintah pusat--yang hingga kini belum menyatakan resmi gempa Sumbar sebagai bencana nasional, seperti nasib gempa Liwa--karena terlalu mengandalkan bantuan luar negeri!" tegas Umar.
"Tentu saja kita sambut baik bantuan luar negeri atas musibah yang menimpa kita, tapi kita harus tetap proporsional menempatkan bantuan asing itu bersifat komplementer, sedang peran sentralnya harus mutlak pada pemerintah kita! Tapi bantuan yang terlihat di lapangan, tak mencerminkan Indonesia negara yang besar!"

"Berarti, manajemen bencana yang tidak all out dari pemerintah pusat itu menjadi bencana dibalik bencana yang memprihatinkan!" timpal Amir. "Bencana ikutan yang menyedihkan selain soal evakuasi, juga distribusi bantuan untuk bertahan hidup (survival supporting), yang bertumpuk di posko-posko tapi tak cepat tersalur hingga terjadi penjarahan! Di tengah nestapa itu, mengandalkan sepenuhnya fasilitas lokal untuk mendistribusikan jelas riskan! Mungkin mobil ada, tapi dalam masa duka, cari sopirnya sulit! Kenapa tak mengerahkan heli dari Jakarta dan kota-kota lain, agar bantuan terjamin diterima tepat waktu?"

"Semua bencana ikutan tak perlu terjadi seburuk itu, andai pemerintah pusat all out mengelola segala bantuan darurat yang harus dilakukan!" tegas Umar. "Lebih ironis lagi, kalau kedatangan rombongan pejabat pusat yang beruntun justru cuma merepotkan para pejabat dan orang daerah untuk menyambut dan melayani para tamu terhormat itu, sehingga lebih banyak tenaga lokal digunakan untuk meladeni tamu daripada membantu korban bencana!"

"Lebih parah lagi kalau arena bencana justru dijadikan panggung popularitas!" timpal Amir. "Bisa dinilai demikian jika rombongannya cuma merepotkan yang berduka untuk melayaninya, padahal kehadirannya tak membuat manajemen bantuan lantas menjadi efektif! Hal seperti ini jelas, termasuk bencana di balik bencana!" n
Selanjutnya.....

Memaknai Bencana dengan Tafsir!


"TUMBEN, tekun membaca tafsir Alquran!" ujar Umar. "Tafsir resmi Kerajaan Arab Saudi pula!"

"Tafsir ini paling banyak dimiliki orang Indonesia, dibagi gratis kepada setiap jemaah haji!" jawab Amir. "Aku diminta teman-teman untuk membuka tafsir, lewat SMS mereka tentang waktu gempa Sumatera Barat yang berulang-ulang disebutkan oleh pembaca berita televisi, terjadi pukul 17.16. Desak mereka, baca Surat 17 Ayat 16."

"Bagaimana bunyi ayat itu?" kejar Umar.

"Apa adanya dalam tafsir ini, Surat 17 Ayat 16 berbunyi: Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya!" Amir membaca kata demi kata.


"Begitu bunyinya, tanpa ditambah atau dikurangi!"

"Tapi apa tidak cuma kebetulan, waktu kejadian bencana gempa 30 September itu bertepatan dengan surat dan ayat Alquran?" timpal Umar.

"Kita simak bunyi SMS selanjutnya!" sambut Amir. "Gempa kedua atau susulan hari itu terjadi pukul 17.58. Lantas esoknya, gempa (di Jambi) terjadi pukul 08.52."

"Apa bunyi ayat sesuai waktu itu?" kejar Umar.

"Surat 17 Ayat 58 berbunyi, 'Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya, sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh)," baca Amir. "Lalu Surat 8 Ayat 52 berbunyi, '(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya, serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Amat Keras siksaan-Nya."

"Dari ketepatan rangkaian waktu dengan ayat-ayat Alquran itu, jadi sukar mengesampingkan, apalagi menepiskan isyarat-Nya!" tegas Umar. "Apalagi isyarat berupa peringatan keras itu terkait bencana yang terjadi sepenuhnya di luar domain manusia! Hingga masalahnya, tanpa kita sadari ternyata kemewahan hidup kalangan mampu di negeri kita telah melampaui batas kewajaran Illahiah! Malah, gaya hidup mewah itu telah diwarnai keingkaran dari perintah-Nya!"

"Kita bukan mau menggurui, memaknai bencana dengan tafsir!" timpal Amir. "Kita menarik buat diri sendiri, hikmah peringatan-Nya yang amat keras itu, agar selalu berusaha membersihkan diri, harta, maupun penghasilan dari segala kotoran yang dimurkai-Nya! Jadilah umat yang dilindungi dan diselamatkan-Nya seperti umat Musa, meski dalam kekuasaan Fir'aun!" ***

Selanjutnya.....

Anggoro, 'Big Boss' Penegak Hukum!

"TERNYATA, the real big boss aparat penegak hukum Indonesia itu bernama Anggoro Widjojo!" ujar Umar. "Buktinya, singa-singa penegak hukum yang paling ditakuti di negeri ini, seperti Antasari Azhar saat menjabat aktif sebagai ketua KPK yang tidak kenal kompromi, atau Susno Duadji dalam posisi efektif Kabareskrim Mabes Polri, melapornya justru kepada Anggoro sebagai tersangka korupsi yang bersembunyi di Singapura!"

"Ungkapan tim pengacara KPK bahwa mereka punya bukti Susno jumpa Anggoro di Singapura 10 Juli 2009, setelah 7 Juli 2009 KPK mengeluarkan perintah penangkapan terhadap Anggoro selaku tersangka penyuapan terhadap para pejabat Komisi IV DPR dan Dephut terkait kasus sistem komunikasi radio terpadu di Dephut, jelas amat mengejutkan!" sambut Amir. "Betapa hebat Anggoro, para pejabat tinggi penegak hukum yang paling ditakuti itu telah bertekuk lutut sungkem padanya ke Singapura! Tanpa peduli statusnya sebagai buron tersangka kasus korupsi--suatu kejahatan luar biasa--extraordinary crime!"

"Fakta yang mencerminkan betapa menyedihkan mental para pejabat tinggi penegak hukum kita yang merendahkan martabat hukum itu, benar-benar menyayat pedih perasaan rakyat yang taat, patuh, menghormati dan menjunjung hukum!" tegas Umar.
"Karena itu, layak harapan bertumpu ke bos-bos formal instansi-instansi penegakan hukum di negeri ini, agar secepatnya bertindak, mengambil langkah konkret menjernihkan aparat hukum dari kekeruhan yang memprihatinkan tersebut! Sedikit saja terlambat bertindak, bisa berakibat kekeruhan itu menjadi semakin pekat, sehingga citra aparat penegak hukum menjadi amat buruk di mata rakyat, akan sangat sulit atau perlu waktu amat panjang untuk memulihkan citra dimaksud!"

"Tanpa kita muntahkan pun unek-unek itu, para bos formal instansi penegakan hukum pasti sudah mafhum konsekuensi dari semua itu!" timpal Amir. "Masalahnya, kenapa kemafhuman itu meski ditunggu-tunggu oleh rakyat selalu tidak berbuah respons, sehingga tokoh-tokoh seperti Andan Buyung Nasution, Hidayat Nurwahid dan lain-lain telah mengacung-acungkan di depan bos formal agar segera bertindak, tapi tak bertindak juga! Jadi, kepekaan bos formal terhadap aspirasi dan perasaan rakyat itulah pokok soalnya!"

"Kalau tokoh-tokoh besar itu pun tak didengar, mau apa lagi?" tukas Umar. "Harapan tinggal, bertanya pada rumput yang bergoyang!"
"Tak perlu absurd begitu!" sambut Amir. "Dalam demokrasi, suara rakyat suara Tuhan! Jadi, kalau rakyat ramai-ramai menyerukan aspirasi dan perasaan mengiringi doanya--ora et labora, berdoa sambil berusaha--yakinlah, Anggoro tak lagi jadi big boss penegak hukum kita!" n 
Selanjutnya.....

'Executive Heavy', Dijamin 'Happy'!

"BUKAN hanya karena mata seluruh warga bangsa sedang tertumpu ke korban bencana gempa! Bukan pula karena rakyat telanjur kecewa pada pelantikan wakilnya di DPR yang supermewah, di tengah mayoritas rakyat sengsara di samudera kemiskinan!" ujar Umar.

"Pelantikan anggota DPR 2009--2014 tak mendapat perhatian rakyat secara memadai, lebih sebagai akibat sejak jauh hari telah diketahui matangnya janji koalisi mayoritas mutlak untuk lebih seia-sekata di parlemen dalam mendukung pemerintah!"

"Dengan begitu bagi rakyat DPR sudah selesai, kembali ke era tukang stempel!" sambut Amir. "Tak ada lagi hal baru apalagi kejutan bisa diharap untuk menggugah rasa ingin tahu mereka! Kalau pun nantinya ada yang sok kritis, ngeyel, meledak-ledak interupsi, tak lebih dari basa-basi!"

"Tanpa kecuali akting antagonis itu diperankan dari kelompok pengibar bendera oposisi! Karena, dengan kalah suara mutlak, segala bentuk kontrol dan kritiknya jarang mencapai sasaran!" timpal Umar.
"Pihak mayoritas mutlak pun, bersama pemerintah yang didukung, bisa melenggang santai--anjing menggonggong kafilah lalu! Begitulah konstelasi politik executive heavy, yang harus menjamin executive benar-benar happy!"

"Jaminan happy berkat DPR menjadikan dirinya sebagai capsule, melindungi executive dari segala kritik dari luar kelompok berkuasa, apalagi yang mengganggu kenyamanan penguasa!" tegas Amir.

"Jaminan kapsul pelindung dari DPR itu bukan hanya menggoda executive untuk menjadi otoriter. Justru kuatnya tameng penepis segala bentuk kritik dan kontrol itu, dengan sendirinya membuat penguasa menjadi encapsulated authoritarian--otoriter terselubung!"

"Dalam konstelasi politik demikian, fungsi kontrol DPR mandul," timpal Umar. "Sedang fungsi budgeting dan legislasinya lebih berorientasi power building--membangun kekuasaan--usaha memperkuat posisi dan popularitas penguasa! Hubungan penguasa dengan rakyat praktis semata-mata demi kepentingan penguasa, lewat program-program terkait power building!"

"Pengalaman lima tahun terakhir, power building itu hanya memperkuat partai berkuasa! Sedang partai-partai koalisinya, meski kelompok berkuasa, tak menikmati cukup signifikan!" tukas Amir. "Dari hasil Pemilu Legislatif 2004 terlihat, PKB dan PPP malah kehilangan banyak kursi! Jadi, kecuali secuil nikmat buat segelintir elite partainya di kabinet, koalisi membonceng kekuasaan bukan untung, tapi buntung!"

"Itu akibat dalam koalisi berkuasa tak bisa tidak, harus selalu mendukung apa pun kepentingan partai berkuasa!" sambut Umar. "Tanpa kecuali harga mahal harus dibayar, kepentingan massa konstituen partai sendiri justru ditelantarkan!" ***
Selanjutnya.....

Lagi, Bencana Menegur Tingkah Kita!

"MUNGKIN Tuhan amat bosan melihat tingkah kita, hingga lagi-lagi bencana menerpa silih--berganti, pertanda tak hentinya Dia menegur kita!" ujar Umar. "Bencana gempa secara ilmiah bisa dijelaskan bukan human error! Tapi justru karena di luar domain manusia, didasari keyakinan tiada sesuatu pun terjadi tanpa izin-Nya, membuktikan teguran itu benar-benar datang dari-Nya!"

"Teguran itu logikanya lebih tertuju pada para pemimpin, pengarah perilaku warga, terutama politisi hasil pilihan rakyat yang jika tingkahnya membosankan Tuhan, bisa mengundang tulah terhadap rakyat yang salah memilihnya!" sambut Amir. "Tapi bagaimana sih tingkah pemimpin? Tak jauh dari pantun ini--Terang bulan terang di kali, buaya timbul disangka mati.
Jangan percaya mulut politisi, berani sumpah tak takut korupsi!"

"Bentuk korupsinya seperti kata Lord Acton pula, power tend to corrupt!" timpal Umar. "Itu, bukan cuma korupsi uang dan harta, tapi jauh lebih luas, abuse of power--penyalahgunaan kekuasaan!"

"Maka itu, ketika bencana datang dan datang lagi, setiap kita, pemimpin atau warga biasa, layak introspeksi atas tingkah, perbuatan, atau pilihan kita, yang mungkin tak berkenan bagi-Nya!" tegas Amir. "Introspeksi jauh lebih serius juga dituntut pada pemimpin umat, lebih-lebih yang berkaliber ulama, karena tingkahnya yang membosankan diberi ancaman berat dari-Nya! Itu, sebagaimana sabda Nabi saw. yang disebar Djalaluddin Rahmat lewat SMS pascagempa Jabar--Celaka umatku karena ulah ulama buruknya, yang menjual ilmunya sebagai dagangan kepada penguasa dengan keuntungan untuk diri mereka, Allah hancurkan dagangan mereka--KnzUm 29034."

"Dagangan politisi yang utama justru konstituen--massa pendukungnya! Semakin besar jumlah konstituennya, kian tinggi pula nilai tukar atau transaksionalnya dengan jumlah kursi yang bisa diperoleh dari penguasa!" timpal Umar. "Jika politisi itu ulama pula, tak kepalang ancaman kehancuran yang bisa terjadi ketika tingkahnya sudah amat membosankan Dia!"

"Untuk itu, buat para korban gempa beruntun dari Jawa Barat, Sumatera Barat, Jambi, sampai Bengkulu, kita tundukkan kepala bermohon ke hadirat-Nya, semoga arwah mereka diterima sebaik-baiknya dan diberi tempat sebagaimana dijanjikan pada syuhada--mereka yang mati sahid!" tegas Amir. "Sedang para korban yang tinggal dengan segala deritanya akibat bencana, semoga diberi ketabahan dan kekuatan untuk berbenah guna melanjutkan kehidupan dan ibadahnya!"

"Tak boleh lupa buat para pemimpin, politisi, lebih-lebih yang ulama, untuk introspeksi dan menghentikan segala bentuk tingkah yang membosankan-Nya!" tegas Umar. "Kita cukupkan sudah teguran-teguran keras yang diberikan-Nya! Innalillahi, apa pun itu, semua datang dari-Nya!"

Selanjutnya.....