Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Polemik tentang Regulasi Zakat!


"ORANG kota sudah datang!" Pak Modin, pengurus keagamaan dusun, menyambut kehadiran Temon di musala. "Langsung mau bayar zakat fitrah?"

"Itulah salah satu alasan mudik, membayar fitrah di kampung!" jawab Temon. Seusai bayar fitrah ke amil, sambil duduk dekat Pak Modin ia menukas, "Jangan-jangan ini jadi kesempatan terakhir membayar zakat fitrah ke amil musala!"

"Memangnya ada apa?" tanya Modin.

"Saya baca di koran, pemerintah menyiapkan perubahan menyeluruh Undang-Undang (UU) tentang Zakat Nomor 38/1999 untuk meregulasi zakat! (Koran Tempo, Editorial, [6-9]). Maksudnya, pengelolaan zakat yang sekarang ini ditangani masyarakat, nantinya dikelola negara!" jelas Temon. "Dengan dikelola negara itu, wajib zakat akan diberi sanksi denda dan hukuman jika enggan atau lalai menunaikan kewajibannya!"

"Begitu? Perubahan luar biasa itu!" timpal Modin. "Kami para petugas amil zakat musala tentu amat senang menyambutnya, tak perlu repot lagi menangani zakat warga karena bakal ada pejabat negara yang mengurusnya!"

"Jadi Pak Modin setuju?" tanya Temon.

"Kalau UU-nya begitu, siapa berani melanggar?" jawab Modin. "Soal zakat diurus negara, di zaman sahabat sebagai khalifah dahulu begitu! Sedang sanksi hukumnya, mungkin sebanding dengan penegasan Abu Bakar Siddik ra., bahwa dia akan memerangi siapa yang tidak melunasi zakatnya!"

"Tapi kenapa koran itu menentang pengalihan pengelolaan zakat dari masyarakat ke negara dengan sanksi hukum itu?" timpal Temon.

"Polemik itu mungkin karena masyarakat sudah terbiasa pada pengelolaan zakat yang sekarang!" jawab Modin. "Juga kepercayaan masyarakat pada badan amil zakat (BAZ) pelat merah masih kurang, sehingga lebih banyak orang memilih untuk membayar zakat ke masjid dan musala, atau lembaga amil zakat (LAZ) swasta yang terlihat nyata penggunaan dananya bagi umat!"

"Soal kepercayaan itu yang penting!" timpal Temon. "Kalau zakat dikelola negara seperti pajak, bisa-bisa ditangani ala Gayus Tambunan pula!"

"Tak perlu suuzan!" tegas Modin. "Tapi sebaiknya Presiden dan DPR memikirkan masak-masak soal ini, agar maksud baik tak malah jadi bencana! Juga, yang selama ini sudah berjalan baik tak berubah justru menjadi buruk!"

"Paling tidak buktikan dahulu pengelolaan uang negara bersih dari korupsi, baru masukkan zakat dalam keranjang keuangan negara!" timpal Temon. "Kan lucu kalau yang tak bayar zakat dibui, padahal uang zakatnya dikorupsi!"

Selanjutnya.....

Mudik, Hormati Para Sinoman!


"ASYIK, mudik naik motor duduk di depan pakai kaca mata hitam dengan helm kecil begitu!" ujar adik pada abang, keduanya mudik naik mobil di jok belakang, melihat pemudik berkendara motor. "Lihat! Keren, kan!"

"Tapi ngeri!" jawab abang. "Lihat itu, ayahnya ngebut, mobil kita saja disalip! Silap sedikit bisa tumburan dengan mobil yang datang dari depan!"

"Memang, kalau tak hati-hati bisa bahaya!" timpal ibunya. "Dalam mudik tahun lalu, dari H-7 sampai H+7, menurut Masyarakat Transportasi Indonesia, terjadi kecelakaan yang menewaskan 900 orang, 70 persen berkendara sepeda motor!"

"Kecelakaan bisa dikurangi jika semua pengendara menghormati para sinoman!" sela ayah.

"Sinoman itu apa?" kejar abang.

"Dalam pesta di desa, kerabat dan tetangga secara sukarela dan ikhlas menangani segala pekerjaan sampai semua beres tanpa diberi upah, terutama melayani tamu! Mereka disebut sinoman!" jelas ayah. "Mudik pesta umat, yang jadi sinoman polisi, pos kesehatan, petugas penyeberangan, awak servis kendaraan dari diler, penyaji di tenda minuman energi dan jamu gratis dan sebagainya di sepanjang jalur mudik!"

"Mereka kan digaji, honor, atau malah lembur!" tukas ibu. "Tidak sesukarela sinoman di pesta warga desa!"

"Memang, tapi honor atau uang lemburnya itu tak sebanding dengan pengorbanan mereka! Di hari Idulfitri tidak kumpul dengan keluarga, tak sungkem dan bersilaturahmi dengan kerabat dan sobat demi melayani umat yang mudik agar selamat dan sehat sampai tujuan!" tegas ayah. "Mereka ikhlas melakukan itu demi melayani umat mudik, itulah semangat sinoman! Maka itu, kalau pengabdian mereka dihormati, panduan polisi terhadap semua kendaraan dipatuhi terutama oleh motor, saat tubuh terasa kurang fit lapor ke pos kesehatan, motor terasa kurang mantap singgah ke servis diler, agar tak ngantuk dan masuk angin mampir ke minuman energi dan jamu, kecelakaan akibat human error dan faktor kendaraan bisa direduksi!"

"Tapi kenapa semua layanan gratis itu kurang dimanfaatkan pemudik, khususnya pengendara motor hingga menjadi 70 persen dari 900 korban tewas?" tanya adik.

"Karena di antara mereka banyak yang ingin lebih cepat sampai tujuan!" jawab ayah.

"Dan itu untuk disombongkan pada teman di kampung, mudik pakai mobil sampai 14 jam, dengan bangga dikatakan dia pakai motor tembus 10 jam!"

"Tapi, karena mau lebih cepat empat jam sampai kampung, malah lebih cepat masuk kubur!" timpal abang. "Itu akibat kurang menghormati sinoman!"

Selanjutnya.....

Mudik, Dimensi Manusia dalam Kemanusiaan!


BERKEMAS untuk mudik, dua bocah sibuk untuk membawa kesayangannya! Budi memasukkan kucingnya yang pintar menangkap tikus ke kantong plastik, Nina membungkus bunga pot pasangan taplak untuk meja guru di sekolah!

"Apa-apaan ini?" tegur ayahnya. "Membawa tas pakaian dan aneka oleh-oleh saja kewalahan saat berebut naik kereta api, apalagi membawa anak-anak seperti kalian yang bisa terjepit dan terinjak-injak, mau bawa macem-macem pula!"
"Kucingku tak ada yang ngasi makan selama 10 hari kita mudik!" kilah Budi.
"Bungaku mati 10 hari tak disiram!" timpal Nina.


"Kunci rumah nanti kita titikan ke tetangga, sekaligus minta tolong memberi makan kucing, menyiram bunga, menghidupkan lampu teras saat senja dan mematikannya di pagi hari!" sela ibu. "Mudik itu pulang kampung! Jadi, yang pulang kampung itu kita, manusia! Kucing dan bunga tak punya kampung, jadi tidak mudik!"

"Lebih lagi, kita mudik dalam rangka Idul Fitri, untuk menyempurnakan kefitrian atau kesucian diri sebagai manusia setelah sebulan berpuasa Ramadan! Penyempurnaan kefitrian itu utamanya dengan melunasi zakat memenuhi kewajiban dimensi kemanusiaan kita terhadap anak yatim, fakir miskin dan kaum lemah lain selaku mustahik sebelum Solat Idul Fitri; serta silaturahmi saling memaafkan pada orang tua, kerabat dan sesama!"

"Karena orang tua dan kerabat lazim berkumpul di kampung saat Lebaran, mudik atau pulang kampung jadi lebih afdol saat Lebaran!" timpal ibu. "Kucing dan bunga pot tak ada kaitan dengan dimensi manusia dan kemanusiaan mudik itu!"

"Prioritas pada dimensi manusia dan kemanusiaan itu amalan Hablun Minannas, hubungan antarmanusia, yang menjadi syarat atau jembatan mencapai Hablun Minallah--hubungan manusia dengan Allah!" lanjut ayah.

"Karena itu, tercapainya kefitrian dalam dimensi manusia, serta memenuhi kewajiban dalam dimensi kemanusiaan dengan memprioritaskan perhatian dan bantuan pada kaum lemah (mustahik) ketimbang yang lain--kucing, pot bunga atau sejenisnya--harus diusahakan maksimal sepanjang Ramadan dan Idul Fitri!"

"Bagaimana jika dalam berpuasa Ramadan ada orang menyatakan demi kucing, pot bunga atau sejenisnya itu ia memilih bahkan menganjurkan untuk mengorbankan sejumlah kaum duafa mustahik tak ditolong dan dibiarkan terlantar sengsara?" tanya Budi.

"Orang seperti itu layak dikasihani, hari gini tak kenal kemanusiaan yang adil dan beradab sebagai dasar bernegara!" tegas ayah. "Semoga dia cepat mendapat hidayah-Nya!"

Selanjutnya.....

Kenapa Polisi BaikDikutuk Jadi Batu?


DUA bocah ikut mudik, duduk di jok belakang. Sembari mengamati jalanan, si abang berkata, "Polisi di sini baik-baik, ya? Mereka siaga berdiri dekat simpang, tak menyetopi mobil seperti di televisi!"

"Memang!" sambut adik. "Tapi tubuh polisi baik itu kulihat membatu!"

"Kulihat juga begitu!" timpal abang. "Jangan-jangan polisi-polisi baik itu dikutuk jadi batu!"

"Kenapa polisi baik dikutuk jadi batu?" kejar adik.

"Mungkin tak boleh begitu! Cuma tegak di simpang, tak menyetop mobil!" tebak abang. "Ingat berita televisi tentang jenderal polisi?"

"Jenderal yang mana?" tanya adik.

"Yang dipuji sebagai polisi baik!" jawab abang. "Pujian itu membuat banyak polisi lain berusaha mencari bukti, dia bukan polisi baik! Polisi lain berhasil, jenderal itu dibui!"

"Itu bisa berarti, tak boleh ada polisi baik?" timpal adik. "Kalau baik dikutuk jadi batu, atau dengan mudah dibuktikan tidak baik!"

"Aneh!" tukas abang. "Apa karena kerja polisi menangani penjahat, seperti tukang ikan menangani ikan yang amis, jadi amis juga?"

"Bukan begitu!" potong ibunya geli mendengar celoteh anaknya. "Polisi yang kalian sebut dikutuk jadi batu itu, patung! Patung simbol kedisiplinan polisi, tak kenal siang atau malam, panas atau hujan, tak beranjak dari pos tugasnya! Sedang polisi dibui jika bisa dibuktikan bersalah! Sebagian besar polisi tak dibui, karena belum dibuktikan bersalah!"

"Apa yang disiplin bukan cuma patungnya?" sela Adik.

"Kita lihat sepanjang jalur mudik!" tegas ibu. "Di tempat lalu lintas padat, polisi seharusnya hadir mengatur, apa ada polisi di situ!"

"Bukan di tempat ramai yang perlu polisi! Tapi di jalan sunyi, tempat penjahat beraksi!" timpal abang. "Di tempat sunyi itu truk dan mobil travel dirampok geng bersenjata api, dompet semua penumpang dirampas hingga mudik tanpa duit lagi!"

"Dengan rampoknya banyak, bersenjata api pula, kalau satu atau dua polisi saja bisa kewalahan!" tukas adik. "Lebih tepat di lokasi sunyi dibuat pos bayangan pakai lampu suram tapi terlihat banyak polisi di dalamnya, agar penjahat segan beraksi di sekitar itu!"

"Begitu banyak tempat sunyi, tak cukup polisi untuk mengisi pos bayanganmu setiap malam!" timpal ibu.

"Maka lampunya suram, karena yang bertugas di situ setiap malam cuma maneken berbaju polisi! Siang pos itu kosong, petang dipasang, subuh diambil!" tegas adik. "Penjahat yang melintas akan menghindari beraksi di sekitar pos yang setiap malam penuh 'polisi' itu!"

"Antar-jemput maneken dan kontrolnya menjadi patroli rutin!" timpal abang. "Penjahat ogah kepergok patroli!" ***

Selanjutnya.....

Citra Bangsa, Bukan Budak Antarbangsa!


"MENANGGAPI maraknya aksi massa dalam negeri memprotes perlakuan polisi Malaysia terhadap tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI yang di luar batas kemanusiaan, Presiden SBY mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menjauhi kekerasan demi menjaga citra bangsa!" ujar Umar. "Maksudnya, citra dan jati diri bangsa yang bermartabat dalam menjalin hubungan internasional tanpa kehilangan prinsip dasar politik luar negeri yang bebas aktif dan diabdikan untuk kepentingan nasional!"

"Kita sepakat kekerasan bukan cara yang benar untuk menyelesaikan masalah!" sambut Amir. "Kita juga sepakat citra dan jati diri sebagai bangsa yang bermartabat harus dijaga! Namun karena itu, aksi massa memprotes tindakan Malaysia mencederai martabat bangsa kita itu, selayaknya juga bisa dipahami sebagai usaha menjaga citra dan jati diri bangsa dimaksud!"

"Sejauh mana relevansi tindakan massa melempar Kedubes Malaysia dengan kotoran manusia dan membakar bendera mereka?" tanya Umar.

"Diakui, tindakan massa itu juga kelewat batas! Meski begitu harus dilihat, tindakan itu hanya reaksi yang sebanding dengan tindakan polisi Malaysia yang lebih dahulu kelewat batas!" jawab Amir. "Lebih jauh lagi, tindakan polisi Malaysia itu menyulut amarah massa kita yang terpendam atas nasib tenaga kerja Indonesia (TKI) yang selama ini diperlakukan selayak budak oleh warga Malaysia! Jadi, esensi aksi massa yang meluas itu juga untuk menolak citra bangsa Indonesia yang dicederai warga Malaysia dengan dipandang dan diperlakukan selayak budak! Indonesia bukan bangsa budak, apalagi budak antarbangsa!"

"Citra bersifat objektif, seperti gambar sosok di cermin! Jadi, citra bukan apa yang saya katakan tentang diri saya, melainkan apa yang dipantulkan cermin tentang diri saya!" timpal Umar. "Namun, sebagai cermin buat citra bangsa kita, ternyata warga Malaysia cermin yang retak, memantulkan citra salah lewat sikap dan perlakuan mereka! Maka itu, kalau pemerintah kita bijak, aksi yang meluas itu juga lebih mendesak pemerintah kita sendiri untuk memperbaiki cermin retak itu, agar pencitraan warga Malaysia atas bangsa kita bisa lebih tepat!"

"Tegur tetangga sindir menantu! Itu peribahasa lama buat aksi massa kita!" tegas Amir. "Sayang, 'si menantu' tak bijak, tak bisa menangkap esensi pesan yang disindirkan ke tetangga! Maka itu, perbaikan citra bangsa yang dipantulkan salah lewat sikap dan perlakuan tetangga sebagai inti pesan aksi massa itu tak menjadi agenda langkah pemerintah dalam menyelesaikan masalah!" ***

Selanjutnya.....

Galaksi Bimasakti lewat 'Black Hole' Telinga Dewaruci!


"APA dasar ceritanya, Indonesia punya nama khas Bimasakti untuk galaksi tempat tata surya kita berada, padahal secara universal galaksi ini lebih dikenal dengan Milky Way?" tanya cucu.

"Bima yang sakti itu tokoh wayang, ia mendapat kesaktiannya setelah perjuangan panjang mencari ilmu berujung harus masuk telinga kiri Dewaruci! Ternyata itu sebuah black hole, lewat mana Bima menemukan ilmu hakikat semesta alam yang luasnya tak bertepi sebagai esensi jiwa dalam diri manusia!" jawab nenek. "Karena lewat black hole Dewaruci Bima mencapai kesaktian menemukan galaksi, maka galaksinya diberi nama Bimasakti! Nama itu lebih dahulu dari Milky Way!"

"Black hole seperti di ilmu astronomi?" sela cucu.

"Nenek kutip ucapan Dewaruci pada Bima yang ragu tubuhnya sebesar bukit bisa masuk telinga Dewaruci yang bertubuh sebesar liliput. 'Wahai Bima si dungu anakku, sebesar apa dirimu dibanding alam semesta? Seisi alam ini pun bisa masuk ke dalam diriku, jangankan lagi dirimu yang hanya sejentik noktah di alam!" tutur nenek. "Mendengar itu Bima meloncat masuk ke telinga Dewaruci! Di dalam Bima melihat jagad semesta yang luas, bahkan ia melihat Dewaruci berada di jagad walikan—dimensi lain dari alam semesta!"

"Ah, Nenek kutak-katik gatuk saja!" entak cucu. "Masak konsep semesta alam orang Indonesia bisa mirip hasil penelitian Stephen Hawking, dari black hole sampai dimensi lain alam semesta!"

"Apa yang nenek utarakan ada dalam semua versi cerita Dewaruci, bagian dari Mahabrata karya pujangga Walmiki!" tegas nenek. "Inti cerita ini, ilmu luasnya tak bertepi dan selalu punya dimensi lain, harus diraih lewat perjuangan topobroto, segala keprihatinan dan penderitaan!"

"Ajaran kuno!" timpal cucu. "Di zaman posmo ini, untuk mendapat hal baru semacam ngelmu bagi realitas hidup, justru perlu tempat aneka rekreasi, kolam renang, health center, mal dan sebagainya, seperti gedung seharga Rp1,6 triliun yang akan dibangun DPR di kompleksnya, Senayan!"

"Itu pemborosan! Menunjukkan DPR tidak peka pada nasib mayoritas rakyat yang masih hidup menderita!" tegas nenek. "Dana Rp1,6 triliun itu, kata Kompas (1-9) sama dengan biaya Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) untuk 22 juta warga miskin! Bayangkan, dana sebanyak itu hanya untuk tempat rekreasi 560 anggota DPR! Jomplang nian ketimpangan struktural di negeri kita! Sudahlah begitu, menyimpang pula dari tradisi perjuangan leluhur dalam meraih ilmu bagi kemaslahatan umat lewat keprihatinan!"

Selanjutnya.....

Harga Beras Tak Dinikmati Petani!


"BERAS dibeli Bulog ke petani Rp4.500/kg. Tapi di pasar, harga beras premium rata-rata Agustus 2010 mencapai Rp6.662/kg! (Kompas, 31-8). Selisih Rp2.162, atau 48 persen!" ujar Umar. "Saat panen pembelian Bulog itu harga tertinggi, hingga lazim petani menjual lebih rendah sekitar Rp4.000. Jadi, petani tak menikmati harga riil beras, di lain pihak konsumen membayar jauh lebih mahal!"

"Lebih seru lagi, beras petani yang bermutu baik dijual dalam kemasan berlabel di supermarket per karung isi 25 kg kini Rp210.000, atau Rp8.000 lebih per kg!" sambut Amir. "Kenapa harga riil beras lebih dinikmati pedagang, sedang petaninya justru dikurangi terus subsidi sarana produksi (saprodi)-nya)—pupuk dan obat-obatan antihama?"

"Itu bisa dibaca, strategi pengendalian harga beras khususnya oleh Bulog gagal! Sedang secara umum, kebijakan pemerinatah kurang berpihak pada petani!" tegas Umar.

"Dengan dua dimensi—khusus dan umum—itu, akibatnya petani hanya jadi korban, cuma jadi pelengkap penderita!"

"Realitas itu menuntut dilakukannya perubahan mendasar dalam kebijakan di sektor pertanian agar benar-benar berpihak pada kaum tani! Serta, perubahan strategi pengendalian harga beras oleh Bulog! Pokoknya, bagaimana harga riil beras dan keringanan biaya produksi dinikmati petani!"

"Penyebab harga gabah jatuh di sentra produksi saat panen, terutama infrastruktur jalan buruk!" sambut Umar. "Saat iklim buruk tanaman padi dirusak banjir, akibat infrastruktur irigasinya tak fleksibel juga sebagai saluran pembuangan air saat curah hujan tinggi! Itu diperparah lagi oleh akses petani mendapatkan benih unggul tahan wereng terbatas, dan harga saprodi mahal, serangan wereng terus meluas! Wereng menurunkan produksi petani di Karawang, Jabar, dari 7,32 ton GKP per ha musim lalu, kini menjadi 6,76 ton GKP per ha!" (Kompas, idem)

"Tampak, perubahan mendasar kebijakan dengan keberpihakan pada petani itu diwujudkan lewat membalik tren subsidi dari terus mengurangi dengan terus menambah, kemudian fokus pada perbaikan infrastruktur, jalan dan penggandaan fungsi irigasi dari semata penyalur air ke sawah, menjadi juga pembuang air dari sawah!" tegas Amir. "Sedang dalam strategi pengendalian harga beras, kalau sebelumnya Bulog melepas bebas spekulan menaikkan harga dulu baru 'icak-icak' operasi pasar—hingga selalu gagal menurunkan harga—diganti mencegat ke depan langkah spekulan dengan droping beras ke pasar sebelum harga dinaikkan spekulan! Tepatnya, Bulog lebih proaktif bermain di pasar!"

Selanjutnya.....