Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Percepat Terbitnya Matahari Keadilan!


"KENAPA moyang kita mewajibkan setiap generasi memangkas bukit di timur lembah desa kita, cucu tanya kakeknya," ujar Umar. "Jawab kakek, bukit itu menghalangi warga lembah kita mendapatkan fajar dan sinar matahari lebih cepat seperti warga desa-desa lain, ketika mereka telah bekerja kita masih tidur! Itu penyebab desa kita selalu tertinggal dan terbelakang dari desa lain!"

"Bangsa kita senasib dengan warga lembah itu!" sambut Amir. "Kita telah berjuang antargenerasi memangkas bukit ketakadilan hukum dan substantif, tapi tetap terlambat mendapat fajar dan sinar matahari keadilan! Itu pula penyebab bangsa kita terlambat bangun, tertinggal dan terbelakang dari kemajuan bangsa-bangsa lain!"

"Untuk itu, tampilnya beriringan tiga pendekar pemimpin baru lembaga penegak hukum, Kapolri Timur Pradopo, Jaksa Agung Basrief Arief, dan Ketua KPK Busyro Muqoddas, layak diharap bisa mempercepat terbitnya fajar dan sinar matahari keadilan bagi bangsa ini!" tegas Umar. "Kata kuncinya pada kemauan tulus bekerja sama ketiga pendekar memangkas bukit ketakadilan itu secara saksama! Bukan kerja sama dalam arti konspirasi, saling menutupi keburukan! Tapi sambatan, membersihkan rumput dan gulma di ladang! Di ladang Polri, jaksa dan KPK ikut sambatan, begitu sebaliknya! Sebab kalau mau dikerjai sendiri tanpa sambatan, bisa lebih cepat subur rumput dan gulma ketimbang tanamannya! Itulah yang cenderung terjadi selama ini, konspirasi saling menutupi rumput dan gulma!"

"Rumput dan gulma di ladang lembaga penegak hukum itu bagian penting dari bukit ketakadilan hukum dan substantif yang harus dipangkas, kalau bisa tidak sampai harus dilakukan secara antargenerasi!" timpal Amir. "Betapa rumput dan gulma itu membuat tanaman yang baik malah tak berkembang dan berbuah! Betapa rumput dan gulma itu membuat tikus-tikus koruptor nyaman hidup merajalela menggerogoti kekayaan negara berupa uang untuk kesejahteraan rakyat, hingga ketakadilan hukumnya berekses pada ketakadilan substantif—ketakadilan sosial-ekonomi-budaya! Beraspek budaya, karena korupsi menghancurkan moral bangsa—
moralitas itu roh peradaban!"

"Setelah sambatan membersihkan ladang masing-masing, ketiga pendekar bersama berburu ke belantara koruptor!" tegas Umar. "Kalau berburu sendiri-sendiri, buruannya bisa lari ke arah lain! Tapi dengan berburu bersama, buruan digropyok ramai-ramai dengan pagar betis jajaran ketiga lembaga penegak hukum, buruannya tak bisa meloloskan diri! Harapan mempercepat terbitnya matahari keadilan pun tak berlebihan!" ***

Selanjutnya.....

Di Balik Signifikansi Pertumbuhan Ekonomi Lampung!


"BI—Bank Indonesia—melaporkan pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung triwulan tiga 2010 sebesar 6,25%, lebih tinggi dari prediksi BI 5,64%, dan signifikan dibanding triwulan sebelumnya 3,87%!" ujar Umar. "Basis pertumbuhan masih konsumsi swasta yang menguasai pangsa 55,13% dengan pertumbuhan 6,46%! Dukungan utama dari pertumbuhan investasi 16,6%--baki debet kredit investasi, impor bahan baku penolong, dan konsumsi semen! Lalu, ekspor naik 11,4%--dengan pangsa pasar komoditas hasil pertanian seperti kopi, teh, rempah 31,1% yang tumbuh 9,3%!"

"Dengan konsumsi swasta yang masih dominan pangsa dan pertumbuhannya sebagai basis, serta dukungan investasi yang baru tahap input, jelas di balik signifikansi pertumbuhan itu masih perlu dorongan serius untuk peningkatan peran pada sektor-sektor produksi dan sektor pemerintah—public sector!" sambut Amir. "Peningkatan peran ekspor produk pertanian rakyat terutama kopi, kakao, dan rempah—juga karet—tentu memberi arti positif pertumbuhan pada kesejahteraan rakyat! itu langsung terlihat pada peran konsumsi dalam proses pertumbuhan! Namun dengan pangsa pasar komoditasnya yang masih relatif kecil dalam komponen ekspor dibanding jumlah petani sebagai mayoritas warga Lampung, usaha ekstra mendorong peningkatannya jadi penting!"

"Seharusnya stimulan untuk itu datang dari sektor pemerintah, tapi justru itu yang dari laporan BI kurang ditonjolkan!" tegas Umar. "Soal itu juga mudah dicek silang ke APBD I dan II se-Lampung, jumlahnya pada sektor pertanian dan perkebunan rakyat umumnya kurang signifikan! Padahal justru di situlah prime stake—taruhan utama—ekonomi mayoritas rakyat Lampung!"

"Itu karena belanja public sector di Lampung secara umum masih terdominasi dari dan untuk aparatur!" timpal Amir. "Pergeseran dari dominasi kepentingan aparatur ke kepentingan publik lamban, kalau tidak yang terjadi justru sebaliknya, karena penambahan pegawai terus dilakukan dengan konsekuensi peningkatan belanja aparatur! Itu belum lagi dilihat dari daya dukung APBD pada infrastruktur perekonomian rakyat yang juga praktis masih lemah!"

"Tanpa dukungan public sector yang kuat bisa diduga sulit mempertahankan rekor signifikan pertumbuhan ekonomi triwulan tiga 2010 itu!" tegas Umar. "Kompensasinya, pemerintah daerah lebih giat promosi investasi, membuka kemudahan terbaik dalam semua dimensinya dibanding provinsi lain! Daya saing memikat investor itu masih harus ditingkatkan!"

Selanjutnya.....

Gayus, Kunci Pagar Mafia Hukum-Pajak!


"GAYUS H.P. Tambunan bebas berkicau di sidang pengadilan siapa dan apa perannya dalam mafia hukum dan mafia pajak!" ujar Umar. "Terpenting justru, kasus Gayus dengan segala akarnya tetap ditangani polisi, karena dengan begitu Gayus bisa dijadikan kunci pagar pengaman para pemain inti dan jaringannya di markas besar mafia hukum dan mafia pajak dari penyingkapan topengnya!"

"Kesan itu mencuat seiring desakan publik agar KPK mengambil alih kasus Gayus setelah kepolisian dan kejaksaan yang menanganinya sejak April cuma menyeret pemain kecil-kecil, tetapi Kapolri menegaskan kasus Gayus tetap ditangani Polri! Penegasan Kapolri itu diperkuat Presiden SBY melalui juru bicaranya Julian Aldrin Pasha!" timpal Amir. "Sedang KPK, yang 'diselamatkan' presiden dari kasus cicak vs buaya, tidak merespons desakan publik itu, malah mendukung penyelesaian kasus Gayus oleh polisi!"

"Kalau sudah begitu, kayaknya usai kasus Gayus yang sedang disidangkan dan kasus ngeluyurnya Gayus keluar tahanan, kasus mafia hukum dan mafia pajak selesai!" tukas Umar. "Selanjutnya, tak mustahil mafia hukum dan mafia pajak lebih nyaman beroperasi karena mendapatkan perlindungan dan pengamanan yang sistemik!"

"Kemungkinan itu hanya bisa bergeser jika KPK di bawah Busyro Muqoddas bisa kembali bernyali untuk menerobos sarang koruptor dalam stelsel-stelsel kekuasaan!" sambut Amir. "Suntikan nyali baru itu amat penting, sebab sejak kasus cicak vs. buaya yang melemahkan KPK telah memerosotkan kepercayaan publik terhadap lembaga ini hingga tinggal positif 15 persen sesuai survei Lembaga Survei Indonesia Oktober 2010! Itu pun syukur masih positif, dibanding kepolisian minus 18,5 persen, Kejaksaan minus 17,6 persen, dan Pengadilan minus 15 persen!"

"Meski kecil, mendingan masih punya modal dasar kepercayaan rakyat bagi KPK memulai langkah kepemimpinan baru nanti!" tegas Umar. "Modal kepercayaan rakyat itu cukup untuk membuka kunci pagar yang melindungi mafia hukum dan mafia pajak lewat alat bukti asal uang 28 miliar dan 74 miliar sitaan dari Gayus, untuk diurai secara benar kaitannya dengan mafia hukum dan mafia pajak—yang dalam penanganan kasusnya sekarang justru dikesampingkan!"

"Kalau kunci pagar itu masih bisa dibuka kembali, dunia pemberantasan korupsi belum kiamat!" timpal Amir. "Asalkan, nyali KPK cukup kuat untuk menerobos konstelasi kekuasaan yang menguasai kunci pagarnya! Itu bukan tantangan sepele!" ***

Selanjutnya.....

Way Kanan, Meretas Jalur Kemajuan! (2)


"BAGI kabupaten tanpa kota utama yang dominan sebagai pusat bisnis dan pertumbuhan ekonomi, penajaman program pembangunan di Way Kanan memang harus fokus di desa!" ujar Umar. "Tapi, seperti umumnya pembangunan desa di negeri kita, banyak tangan turun dengan beraneka bantuan dilakukan secara meraba-raba, tanpa melihat proses, hasil atau eksesnya, karena yang dicatat sebagai prestasi jumlah bantuan yang dikucurkan, bukan keefektifan output-nya! Untuk itu, langkah awal Bupati Bustami Zainudin adalah mengintegrasikan semua bantuan dalam program terpadu sesuai prioritas kampung bersangkutan dengan fasilitator dan monitoring Pemkab!"

"Apa mungkin tertangani Pemkab sedemikian banyak kampung di kabupatennya?" tanya Amir.

"Pasti tak tertangani sekaligus!" jawab Umar. "Tahap pertama dari setiap kelompok sejumlah kampung dipilih satu sebagai kampung binaan untuk contoh bagi kampung sekitarnya! Dengan fasilitator Pemkab menggenapi semua bantuan itu menjadi satu miliar rupiah per kampung binaan, ketika semua kampung mendapat fasilitator sama nanti sudah lebih jelas tata kelola program dan arah penggunaan dananya oleh setiap kampung!"

"Inti program yang pasti untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat itu kira-kira apa?" kejar Amir.

"Mengembangkan ekonomi kampung guna menumbuhkan aneka jenis pekerjaan baru untuk menambah pendapatan, mengubah kebiasaan warga dari pekerjaan tunggal!" jelas Umar.

"Contohnya di sentra produsen gula kelapa, setiap orang menyadap, memasak, dan mencetak gulanya sendiri-sendiri! Padahal, hasil sadapan sepuluh orang bisa dimasak dan dicetak hanya oleh dua orang! Selain bisa lebih hemat kayu bakar, tenaga selebihnya bisa melakukan pekerjaan lain untuk menambah pendapatan! Atau satu gilingan tangan karet sheet cukup menangani produksi 10 petani, harga lebih tinggi dinikmati bersama!"

"Memperpanjang proses produksi hasil kebun guna menghasilkan produk akhir bernilai ekonomis lebih tinggi memang menciptakan jenis pekerjaan baru!" timpal Amir. "Itu bisa dilakukan juga untuk proses kopi petik merah agar grade produknya lebih tinggi, atau melabeli jaminan lada hitam organik bagi produk lada hitam Way Kanan—harganya di pasar internasional dua kali lipat dari lada hitam biasa!"

"Pokoknya banyak jalan ke Roma!" tegas Umar. "Tapi itu jika program pembangunan kampung diseriusi dengan cermat, tak asal turun tangan dengan cuma meraba-raba!" *** (Habis)

Selanjutnya.....

Way Kanan Meretas ke Jalur Kemajuan!


"WAY KANAN, yang sejak jadi kabupaten 10 tahun lalu kebagian persentase warga miskin tertinggi di Lampung, meretas ke jalur kemajuan dengan membuka penerbangan komersial Way Tuba—Jakarta pp, bekerja sama dengan Susi Air!" ujar Umar. "Bandara Way Tuba dilingkungi daerah yang amat butuh angkutan pintas ke Jakarta!"

"Tahap memperpendek langkah investor ke Way Kanan itu memang sudah saatnya!" sambut Amir. "Periode terakhir ini usaha Pemkab dan warganya membangun Way Kanan pusat perkebunan rakyat tanaman ekspor sudah terlihat hasilnya! Tanaman karet rakyat usia awal sadap mendominasi, ada dikelola secara modern berbibit unggul, ada pula semirepong bersama lada, cokelat, kopi, pisang!"

"Sayang curah hujan yang terlalu tinggi tahun ini berakibat tanaman muda itu produksinya tak maksimal!" timpal Umar. "Tapi ke depan, semua itu cukup menjanjikan bagi kemajuan warga Way Kanan! Karena itu, tak keliru jika bupati sekarang Bustami Zainudin yang mantan wakil bupati itu mempertajam program saat ia bersama bupati Tamanuri fokus mengembangkan kebun rakyat tanaman ekspor! Penajaman lewat meningkatkan nilai tambah panenan petani, seperti dari produksi karet lumps menjadi sheets yang dengan gilingan tangan pun harganya lebih tinggi tiga kali lipat!"

"Dukungan terpenting langkah maju Way Kanan pada kondusifnya kehidupan sosial-politik rakyat yang heterogen itu!" tegas Amir. "Dari tujuh daerah di Lampung yang melakukan pilkada terakhir, cuma Way Kanan satu-satunya yang tidak lanjut dengan gugatan ke MK! Mantan Bupati Tamanuri yang jagonya kalah di pilkada itu justru secara tulus mengatakan pada bupati terpilih, ia tak ingin pemimpin di Way Kanan seperti di pusat, para mantan pemimpin tak saling teguran! Silaturahmi terbaik para pemimpin kunci rukun-damainya semua lapisan masyarakat, prakondisi terpenting membangun kesejahteraan rakyat!"

"Kalau tokoh-tokoh kunci dan semua lapisan masyarakat sudah kondusif, mungkin tinggal para pemimpin di DPRD yang perlu memperkuat langkah bersama seluruh komponen itu jadi lebih kokoh lagi!" timpal Umar. "Harapan itu perlu disampaikan karena saat pilkada mayoritas di DPRD punya jago sendiri, ketika yang terpilih bukan jagonya bisa saja komitmennya kurang optimal! Namun, dengan keyakinan para politisi di DPRD-nya telah matang dan dewasa, semua berorientasi kepentingan rakyat, tak lagi dikenal kepentingan politik sempit yang bisa jadi kendala bagi dukungan terhadap kerja keras rakyat Way Kanan meraih kesejahteraan!" ***

Selanjutnya.....

'Poverty-Drain', Bukan Sekadar Masalah Perut!


"KENAPA setiap pemulangan TKI ilegal setelah menjalani hukuman di Malaysia, beritanya selalu menonjolkan perempuan bawa anak dan pria teruk membuktikan beratnya siksaan yang mereka alami?" tanya Umar.

"Sebenarnya bukan ditonjolkan! Tapi karena pria sakit dan perempuan bawa anak ribet ketika berlari kucing-kucingan dengan polisi Malaysia itu yang lebih mudah tertangkap!" jawab Amir. "Sedang pria dan wanita sehat tanpa diribeti anak, sejak dari desanya siap fisik-mental jadi pendatang haram, lain cerita!"

"Lain cerita bagaimana?" potong Umar.

"Maksudnya, mayoritas dari mereka berhasil mendapat izin kerja sementara, kemudian jadi izin tetap! Usaha untuk itu dengan tertangkap sebagai risiko terburuk dan penyiksaan di penjara Malaysia telah deja vu—berita basi hingga tak lagi bertubi-tubi diberitakan media massa kita—pekerja migran justru menunjukkan poverty-drain—pelarian kemiskinan ke luar negeri—bukan sekadar masalah perut!" tegas Amir.

"Pertama, mereka nekat menempuh risiko seserius itu demi mengaktualisasikan kodrat dirinya sebagai homofaber—makhluk pekerja! Untuk itu, putusan ke luar negeri bisa dipastikan jadi pilihan terakhir setelah gagal dari segala usaha mendapatkan pekerjaan di negeri sendiri!" ujar Umar. "Kedua, untuk ke luar negeri butuh keberanian—lebih-lebih lewat jalur ilegal! Pilihan terberat itu keberaniannya untuk lebih dahulu menarik kesimpulan, tak lagi yakin dan percaya pemerintah mampu menyiapkan satu tempat kerja buat dirinya!"

"Kalau masih yakin dan percaya pemerintah bisa menciptakan satu pekerjaan buat dirinya, apalagi yang layak bagi kemanusiaan sesuai janji konstitusi, tak mungkin memilih jalan yang berisiko maut itu!" timpal Umar. "Risiko yang dihargai setara pahlawan—syuhada yang berkorban jiwa—dengan digelari pahlawan devisa, dengan bukti banyak yang harus berkorban jiwa! Kesiapan menempuh risiko seberat itu pasti pilihan terakhir setelah di dalam negeri tak lagi ada yang bisa mereka harapkan!"

"Maka itu, dengan kondisi kritis nasib pekerja kita di luar negeri hingga Presiden mengirim tim yang terdiri dari sejumlah menteri, menjadi momentum bagi pemerintah meningkatkan kapasitasnya memenuhi harapan massa miskin secara lebih realistis, guna menumbuhkan kembali keyakinan dan kepercayaan bahwa pemerintah mampu menyiapkan satu kesempatan kerja buat setiap mereka!" tegas Amir. "Tanpa itu, makin masifnya poverty-drain, bisa lebih kewalahan pemerintah menghadapi konsekuensi logisnya—akan kian masif pula masalah yang timbul!" ***

Selanjutnya.....

‘Poverty-Drain’,Perlu Inventarisasi Model Kemiskinan!

"AKIBAT kemiskinan dipandang seperti 'aib' hingga selalu ditutupi penguasa, kita jadi tak tahu aneka model kemiskinan rakyat sendiri dan menganggap kemiskinan itu seragam, sama di mana-mana!" ujar Umar. "Anggapan begitu melahirkan program sapu jagat pengentasan kemiskinan, satu program untuk segala model kemiskinan! Hasilnya, terjadi poverty-drain—pelarian kemiskinan ke luar negeri—yang mencengangkan, tiga juta orang hanya di dua negara, Malaysia dan Arab Saudi!"

"Saking butanya kita tentang kemiskinan rakyat sendiri, setiap sensus prosentase orang miskin turun kita bangga seolah program sapu jagat berhasil! Tak tahunya, penurunan terjadi akibat poverty-drain!" sambut Amir. "Siksaan berat buat pendatang haram di tahanan polisi Malaysia yang tertangkap bahkan tak mengurangi arus ilegal, setiap pekan diberitakan pemulangan ratusan pendatang haram setelah menjalani hukuman di Malaysia—termasuk perempuan bawa anak!"

"Untuk itu tak layak menyepelekan kemiskinan dengan menganggap sama di mana-mana, dan satu program sapu jagat mampu menyelesaikan semua persoalan kemiskinan!" tegas Umar. "Perlu melakukan inventarisasi model kemiskinan, baik dari lokasi maupun jenis kegiatannya, sekaligus bisa dijadikan sebagai diagnosis jenis penderitaan dan antisipasi terapinya! Untuk itu instansi yang mengurus kemiskinan bekerja sama dengan perguruan tinggi daerah setempat yang pasti lebih akrab dengan keunikan dan
kegeniusan lokal, sehingga identifikasi model kemiskinan dan diagnosisnya bisa lebih akurat!"

"Hal itu diperlukan untuk menghentikan sikap gegabah pemerintah selama ini, menyembuhkan kemiskinan tanpa diagnosis penyakit yang ada pada kemiskinan!" timpal Amir. "Seolah hanya dengan sejenis obat sakit perut, segala macam penyakit kemiskinan bisa sembuh! Contohnya dengan pertumbuhan ekonomi akan mengatasi kemiskinan, sejak 1978 bukti empiris di Indonesia telah membantahnya sehingga pemerintah Orde Baru mengubah Triliogi Pembangunan dengan memprioritaskan pemerataan! Pembuktian empirik dan akademik kala itu, pertumbuhan ekonomi saja justru mempertajam ketimpangan sosial!"

"Terlihat, derita pekerja migran kita di luar negeri akibat 'banjir bandang' poverty-drain, masalahnya harus diatasi secara komprehensif di akarnya, mengatasi kemiskinan secara kualitatif dan fokus pada diagnosis setiap model kemiskinan!" tegas Umar. "Bukan zamannya lagi, segala penyakit cukup diberi obat sakit perut!" ***



Selanjutnya.....