Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Frustrasi kian Masif, 'Bantu Dorong Dong!'

LEWAT tengah malam Edi terbangun dari nyenyak tidurnya oleh suara ketukan di pintu rumahnya. "Bantu dorong, dong!" pinta pria di muka pintu. Tanpa berkata sepatah pun Edi menutup pintunya dan kembali ke kamar. "Orang minta tolong kok tak dibantu?" tanya istrinya. "Orangnya mabuk! Bau alkohol!" jawab Edi. "Tapi waktu mobil kita mogok, membangunkan orang juga untuk minta tolong!" ujar istri. "Masak maunya minta tolong saja, tak mau menolong?" "Okelah!" tegas Edi beranjak keluar. Tapi saat melongok ke jalan, tak ada mobil mogok. "Hai! Sobat yang baru minta tolong! Ada di mana?" "Di sini!" jawab yang dicari. "Di ayunan samping rumahmu! Bantu dorong dong!"
"Geblek!" entak Edi kembali masuk rumah. "Lewat tengah malam membangunkan orang cuma minta didorong ayunannya!" "Jangan sewot!" ujar istri menyambut Edi kembali ke kamar. "Yang penting kita dengan niat baik dan ikhlas untuk menolong! Mungkin ini sudah tertulis di sononya, siapa tahu terangkai dengan rencana besar-Nya yang baik buat kita!" "Menjaga diri untuk selalu berprasangka baik dan optimistis memang perlu!" jawab Edi. "Terutama menghadapi situasi di luar rumah yang semakin disesaki orang frustrasi! Sedihnya, seperti sobat di samping rumah, minum arak buat mencari jalan keluar hasilnya malah menyiksa diri!" "Frustrasi terjadi karena kehabisan alternatif buat jalan penghidupan! Bisa bikin orang bertindak irasional" tegas istri. "Contohnya ribuan orang berduyun-duyun dari segala penjuru ke kawasan Register 45, justru setelah melihat berita televisi di situ banyak orang menderita akibat digusur dari lahan garapannya! Ribuan orang yang datang dalam tempo singkat itu bukan untuk menolong yang menderita ditenda-tenda plastik, melainkan untuk ikut menderita di tenda plastik mereka sendiri!" "Kedatangan mereka itu ada yang membawa anak-istri!" timpal Edi. "Begitulah frustrasi massa, realitas frustrasi yang terjadi masif! Anehnya, realitas tersebut nyambung dengan kebanggaan penguasa atas sukses makroekonomi di akhir tahun, dengan tercapainya angka inflasi 3,79%!" "Angka inflasi serendah itu tercapai berkat makin masifnya warga yang frustrasi kandas daya belinya, seperti ribuan mereka yang frustrasi di tenda darurat Mesuji!" tegas istri. "Maka itu, jangan mudah marah kalau jumpa orang frustrasi main ayunan di pekarangan rumah lewat tengah malam! Juga di pasar, angkutan umum, jalan, dan ruang publik lainnya! Bersikap maklum lebih bijak saat melihat gelagat orang sedang frustrasi!" ***
Selanjutnya.....

Bukti Lampung Masih Bertuan!

SETELAH berlarut-larut berbagai orang dari segala penjuru dengan aneka gaya dan legalitas mengacak-acak Lampung dan memberi stigma yang serbaseram, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung pekan ini 'bangun dari tidurnya' dan menolak kesimpulan sementara Tim Pencari Fakta (TPF) bahwa ada pelanggaran HAM di Register 45, Mesuji!" ujar Umar. "Disampaikan oleh Sekretaris Provinsi (Sekprov) Berlian Tihang, yang dilakukan adalah penertiban areal Register 45 tersebut dari perambah hutan! Kalau ada seorang perambah tewas, itu akibat tindakan bela diri petugas dari perlawanan perambah!" "Terpenting bukan sekadar isi pernyataannya, tapi kemunculan Pemprov di tengah hiruk-pikuk tudingan buruk ke daerahnya yang membuktikan Lampung masih bertuan!" timpal Amir. "Tentu saja diharapkan, setelah kemunculan Pemprov ini situasi kalang-kabut yang mengesankan Lampung sudah seperti daerah tak bertuan bisa diakhiri!" 

"Untuk itu, setelah membantah ada pelanggaran HAM, Pemprov juga akan membuat laporan ke Presiden SBY tentang duduk soal dan apa yang sebenarnya terjadi!" tegas Umar. "Lewat itu jelas, perspektif masyarakat diperkaya dengan fakta-fakta versi pemerintah! Sehingga, masyarakat tak lagi dipaksa juling, melihat hanya dengan satu sisi pandang saja! Bagaimana cara warga menilai dari menarik kesimpulan dengan semua sisi pandang yang lengkap, merupakan hak setiap warga!" "Lebih dari itu, kemunculan Pemprov dengan otoritas kekuasaan formal atas semua pernyataan dan tindakannya, diharapkan bisa mempercepat penguraian benang permasalahan yang telanjur kusut-masai!" timpal Amir. 

"Bersamaan dengan arah langkahnya mencapai solusi, juga harus bisa meredam gejolak masalahnya yang sempat membara dengan efek domino yang masih terus berlanjut—dari Mesuji (kawasan pantai timur) meruyak ke Tulangbawang (BNIL dan AWS) kini merambat ke pantai barat, Bengkunat!" "Dengan begitu, kemunculan Pemprov itu bukan sekadar nongol dan ikut cuap-cuap belaka, melainkan tampil sepenuhnya dengan kekuasaan problem solver, menyelesaikan masalah hingga tak satu pun unsur lain—apalagi yang tak jelas dasar dan legalitasnya—tidak bisa lagi seenaknya mengacak-acak di Lampung!"
Selanjutnya.....

Lebih Banyak Orang yang Jatuh Miskin!

"DIBANDING warga yang mentas dari bawah garis kemiskinan di seluruh Indonesia sebesar 0,13% atau 129,1 ribu orang, dari Maret 2011 jumlahnya 30,02 juta orang jadi 29,89 juta orang September 2011, lebih banyak yang terjatuh dari kelompok mampu ke permukaan garis kemiskinan, istilah teknis BPS jadi nyaris miskin, sebesar 685,9 ribu orang!" ujar Umar. "Itu, lima kali lipat dari jumlah orang yang mentas dari bawah garis kemiskinan!" "Pokoknya, makin berjubel yang masuk golongan ekonomi lemah!" timpal Amir. "Masalah ini cukup musykil, sebab pembengkakan golongan ekonomi lemah terjadi justru saat isyarat makro ekonomi baik, pertumbuhan ekonomi 6,5%, inflasi 3,79%!" "Kenapa musykil? Justru itu konsekuensi logis dari sistem neoliberalisme—neolibs—saat singa dan macan (pemodal sangat kuat bahkan asing) dijadikan satu gelanggang dengan kambing alias ekonomi lemah!" tegas Umar. "Jumlah 685,9 ribu orang gugur di pasar neolibs itu baru tahap awal! Tahap berikutnya bisa jauh lebih masif lagi!" 

"Memang, warung retail jaringan asing kini sudah merasuk jauh pelosok desa!" timpal Amir. "Jangan dibilang lagi kalau di kota, pasar tradisional kandas! Pertahanan terakhir pasar tradisional tinggal pada budaya belanja kaum ibu kita!" "Budaya belanja seperti apa?" kejar Umar. "Budaya belanja suka menawar harga!" jelas Amir. "Dengan bisa tawar-menawar langsung harga setiap barang yang dibeli, kebanyakan kaum ibu kita bisa merasakan kepuasan dalam berbelanja! Di pasar modern, semua barang diberi banderol harga pasti!" "Di pasar modern ada obral diskon!" timpal Umar. "Tetap saja tak ada proses tawar-menawar!" tegas Amir.

"Itu berarti, dalam bersaing dengan kekuatan modal raksasa kelas dunia yang terjun bebas bersaing dengan pedagang lokal yang lemah modal di arena pasar neolibs, aneka kekuatan budaya lokal yang disebut kearifan lokal atau lokal genius harus bisa dijadikan andalan!" "Tapi itu saja tidak cukup! Lokal genius itu cuma bisa seperti tanduk kambing, meski panjang dan tajam selalu kecil artinya buat menghadapi singa dan macan!" tegas Umar. "Jadi, tetap perlu sistem yang strategis agar kambing tak dimangsa singa!" "Berarti sistem ekonomi kita harus dikembalikan ke garis konstitusi!" timpal Amir. "Sayangnya, itu bisa bertentangan dengan strategi proneolibs yang diterapkan pemerintah! Tak mungkin kita menentang pemerintah! Akibatnya, cuma bisa pasrah jika kerontokan masuk golongan ekonomi lemah semakin masif!" ***
Selanjutnya.....

Jadwal Penerbangan yang Tepat Waktu!

OPERATOR telepon pul taksi menelepon sopir, "Itu pilot langgananmu marah kau terlambat sampai rumahnya! Cepat jemput, dia tunggu!" "Aku terjebak macet! Tapi sudah dekat rumahnya kok!" jawab sopir. "Tapi biasanya justru dia yang menyuruh aku tenang, tak perlu buru-buru kayak mobil jemputan kantor, bisa bahaya! Kata dia, karena dia pilotnya, terlambat sedikit tak masalah, pesawat baru berangkat setelah ada pilotnya!" 

"Hal itu dia sebutkan juga tadi!" timpal operator. "Katanya sekarang sudah berbeda, mulai tanggal 1 Januari ada aturan baru, maskapai yang men-delay jadwal terbang pesawatnya dikenakan sanksi, bentuknya sampai denda tunai yang harus mereka bayar kepada setiap penumpang!"

 "Huahaha..! Itu baru adil!" tukas sopir. "Aku sering dapat penumpang yang marah-marah sepanjang jalan karena baru mengalami nasib buruk, delay pesawat yang ditumpangi bersambung-sambung, dari delay pertama ke delay kedua, di-delay lagi malah lebih lama! Ada yang delay-nya di-SMS ke dia, lalu ia lebih cepat ke bandara untuk mengejar jadwal pesawat terdahulu, ternyata harus bayar ratusan ribu memajukan waktu terbangnya!" "Jangan-jangan delay itu dilakukan sebagai trik bisnis agar orang memajukan jadwal terbang dan kena tambahan bayaran telak!" timpal operator. "Banyak penumpang yang curiga begitu!" tegas sopir. 

"Itu membuat penumpang jengkel karena kalau memang pesawat terdahulu ada seat kosong, sebagai jalan keluar kelemahan maskapai tak bisa menepati jadwal terbangnya hingga melakukan delay, seharusnya tak harus dikenakan bayaran ekstra! Jadi, situasinya terbalik! Kata penumpang, maskapai yang wanprestasi tak bisa berangkat tepat waktu, malah penumpang yang didenda kalau mau terbang lebih cepat! Itu kan menjadikan penumpang sebagai kambing congek! Dipandang remeh, diperlakkukan sesuka-suka maskapai saja! Padahal, semboyan jualannya penumpang adalah raja!" 

"Mungkin regulator penerbangan nasional melihat gelagat buruk perlakuan maskapai kepada para penumpangnya itu, hingga membuat aturan yang memberi sanksi buat delay!" timpal operator. "Tapi aturan baru itu masih longgar, ketentuan denda baru berlaku untuk delay empat jam!" "Aturan itu yang penting semangatnya agar maskapai penerbangan tak memperlakukan para penumpang langganan setia mereka selayak kambing congek lagi!" tegas sopir. 

"Semangat lain aturan itu tentu memperbaiki ketepatan jadwal penerbangan domestik, agar delay-men-delay tak lagi sekacau belakangan ini!" ***
Selanjutnya.....

Era Mobil Nasional Buatan Murid SMK!

"WALI Kota Solo Joko Widodo dan wakilnya mulai Selasa (3-1) memakai mobil dinas buatan murid Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1 Singosari, Malang!" ujar Umar. "Pilihan Jokowi—panggilan akrab Wali Kota Solo—itu memakai mobil nasional buatan anak SMK itu luar biasa, terutama dalam menghargai karya anak negeri untuk mendorong putra-putri bangsa berprestasi lebih gemilang!" "Memang, meski mobil Esemka seri Kiat itu masih pakai mesin Timor (sedan) 1.500 cc dimodifikasi, sisanya pada mobil berbodi gaya SUV (sport utility vehicle) itu sepenuhnya buatan Indonesia hasil rekayasa siswa SMK!" timpal Amir. "Dengan begitu, ada dua yang harus diacungi salut! Pertama, SMK 1 Singosari yang berhasil mendidik muridnya untuk melahirkan mobil nasional—kebanggaan yang lama diimpikan bangsa! Kedua, salut pada Jokowi yang merespons positif prestasi anak SMK itu, membuat anak-anak bangsa lebih optimistis pada arti prestasinya bagi masa depan bangsa!" 

"Salut buat Jokowi hasil pilihan 90% suara pemilih Pilkada Solo karena lazimnya kepala daerah membeli mobil dinas LC (Land Cruiser) 4.000 cc di atas Rp1 miliar, dia memilih mobil dinas di bawah Rp200 juta, buatan murid SMK pula!" tegas Umar. "Salut buat SMK Singosari mendorong SMK lain setanah air ikut berbangga dan termotivasi untuk berpacu mengikuti jejak prestasinya!" "SMK di Lampung juga banyak yang berprestasi, lulusannya mampu bersaing di lapangan kerja!" timpal Amir. "Bahkan film dokumenter karya murid SMKN 5 Bandar Lampung Desember 2011—untuk kesekian kalinya—keluar sebagai juara 1 Festival Nasional Film Pelajar di Yogyakarta! Artinya, prospek SMK dalam pembangunan sumber daya manusia semakin bisa diandalkan!" "

Dari semua itu, diharapkan para orang tua yang secara nyata tak memiliki napas panjang dalan keuangan, lebih tepat mengarahkan anaknya masuk SMK, bukan ikut bersaing di sekolah umum yang berorientasi ke jalur pendidikan untuk meraih gelar sarjana!" tegas Umar. "Sebab, kalau keuangan orang tuanya cekak, tak mampu mengikuti masa pendidikan yang panjang (long term education), sayap anak patah—tak lagi bisa terbang menggapai cita-citanya!" "Tapi, dalam masyarakat yang cenderung bersikap feodal, gelar sarjana bukan standar kemampuan intelektual, tapi lebih sebagai status sosial, sekolah kejuruan cuma diminati warga kelas menengah bawah!" timpal Amir. "Maka itu, prestasi SMK yang meroket kini diharapkan bisa membalikkan cara pandang sedemikian! Itu diperkuat realitas, kian panjangnya barisan sarjana penganggur!" ***
Selanjutnya.....

Solusi Mudah Kasus Mesuji!

"DARI kesepakatan tiga perusahaan terkait dengan kasus Mesuji di Kemenkum dan HAM, Jumat (30-12-11), serta rekomendasi Tim Pencari Fakta (TPF) bentukan Presiden SBY yang disampaikan kepada Menko Polhukham, Senin (2-1), solusi kasus Mesuji yang gempar itu ternyata mudah!" ujar Umar. "Mudah bagaimana?" potong Amir mengentak. "Mudah dilaksanakan, baik oleh ketiga perusahaan maupun pemerintah—yang direpresentasikan TPF!" jelas Umar. "Pihak perusahaan dijamin mau dan dengan senang hati melaksanakan kewajiban yang mereka sepakati! Yaitu, bersikap ramah pada warga sekitar lokasi perusahaan, siap memberi 5% lahan produksi untuk program PIR warga sekitar, dan menyalurkan CSR (corporate social responsibility) kepada warga sekitar lokasi usaha!" 

"Kalau seperti itu kesepakatannya, perusahaan bisa melaksanakan semudah membalik telapak tangan!" timpal Amir. "Tanpa kecuali untuk kredit bank buat plasma PIR, perusahaan harus menjadi avalis—penjamin yang menutup risiko jika debitur wanprestasi! Lalu seperti apa rekomendasi TPF?" "Rekomendasinya, mendorong proses hukum atas kasus tersebut dan memberi pendampingan pada tersangka!" jawab Umar. "Lalu memberi biaya perawatan kepada para korban, memperbaiki standar profesionalitas pamswakarsa! Kemudian, secara umum membenahi sistem dan aturan main hal-hal yang terkait dengan masalah ini, utamanya soal keagrariaan! Terlihat kan, semua isi rekomendasi itu merupakan hal-hal mudah bagi pemerintah—asal mau melaksanakan!" 

"Dari kedua sisi itu, perusahaan dan pemerintah, solusi kasus Mesuji itu tampak mudah sekali!" tukas Amir. "Namun, karena semua sendi solusi itu harus dilaksanakan bersama-sama dengan warga masyarakat yang terkait dengan kasusnya, solusi mudah itu untuk sementara diposisikan sebagai alternatif, atau tepatnya sebuah versi!" "Memang!" tegas Umar. "Tapi, karena TPF sendiri juga masih akan turun ke lapangan lagi untuk menyempurnakan rekomendasi akhir mereka, rumusan mudah itu bisa mulai disosialisasikan, dengan timbal baliknya rumusan kepentingan pihak warga masyarakat juga cepat disiapkan!" "Justru rumusan kepentingan warga itu bisa lebih sulit dibuat akibat makin semrawutnya kondisi di Mesuji, seperti pengamatan anggota DPD Anang Prihantoro, ribuan orang muncul untuk ikut minta pembagian tanah, termasuk lewat calo yang menawarkan Rp10 juta—Rp12 juta/2 hektare lahan!" timpal Amir. "Menentukan siapa yang berhak saja jadi ruwet, makan waktu!" ***
Selanjutnya.....

Polisi yang Disiplin dan Profesional!

SAAT Umar menyetir santai di lintas Sumatera, seorang pengendara sepeda motor besar menyalip sambil berteriak, "Siapa pernah mengendarai Harley?" "Sok amat itu orang!" entak Umar lalu memacu mobilnya. Tapi tak terkejar. Ternyata di tikungan tajam pengendara sepeda motor besar itu terkapar di rumput kiri jalan, sepeda motornya di parit kanan jalan! Umar menghentikan mobilnya dan bergegas, si pengendara sepeda motor yang telentang menyambut Umar, "Pernah naik Harley? Di mana remnya?" "Seperti motor lain!" jawab Umar. "Remnya di depan pijakan kaki kanan!" "Memangnya tempat rem motor di situ?" sambut pengendara Harley. "Ya ampun!" sela Amir yang bersama Umar. "Letak rem saja tak tahu, kau kendarai motor besar?" "Hua, ha..ha!" Umar terbahak. "Sama! Pasukan kecil atau besar remnya terletak pada disiplin! Tapi seperti pasukan Brimob di Pelabuhan Sape, Bima, meskipun telah ada perintah berhenti menembak tapi terus dar-der-dor dan menyerang, maka masalah besar kepolisian kita pada 2012 adalah tempat remnya, memastikan tegaknya disiplin!" 

"Lebih serius lagi penegakan disiplin itu berkaitan dengan usaha memantapkan polisi sebagai aparat sipil!" timpal Amir. "Coba putar ulang pelaksanaan tugas polisi setiap menghadapi demo massa, baik mahasiswa maupun warga sipil, sebagian besar bukan sekadar berujung bentrokan polisi dengan massa! Penanganannya tidak terpola sebagai pengendali massa, sering seperti tim sepak bola yang terpancing gaya permainan lawan—kalau lawan main lempar batu, polisi ikut lempar batu! Padahal petugas keamanan harus selalu beyond—melampaui—yang dilakukan warga sipil untuk mengatasinya!" "Beyond dimaksud bukan melampaui jenis senjata yang digunakan, atau kerasnya pukulan, melainkan sebagai aparat sipil harus lebih unggul dalam melakukan berbagai cara sesuai dengan sistem demokrasi, mulai pendekatan persuasif sampai membuka jalan perundingan menuju solusi yang adil!" tegas Umar. 

"Usaha ke arah itu terlihat memang sering dicoba, tapi selain kurang persuasif dalam arti tak memberi ruang bargain bagi warga, juga terlalu berpihak penguasa yang justru menutup diri atas kecurangan yang diprotes massa! Contohnya, wakil massa minta waktu dialog dengan pimpinan daerah saja tak diberi kesempatan, malah konyol, memilih bentrok—adu fisik—polisi dengan massa!" "Dengan begitu yang menonjol justru sebagai aparat sipil polisi sangat tidak profesional!" timpal Amir. "Artinya, selain mengefektifkan rem disiplin, pematangan profesionalitas sebagai aparat sipil menjadi prioritas pembenahan Polri 2012!" ***
Selanjutnya.....