Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Kala ‘Total Football’ Menjadi Tak Andal!

"TRAGIS nian! Dengan permainan total football yang melegenda pernah memukau dunia dari zaman Johan Cruiff hingga Van Basten, tim Belanda yang bertabur bintang kalah beruntun di babak penyisihan grup Piala Eropa 2012!" ujar Umar. "Dan total football pun berubah menjadi tragedi bagi tim yang bermain tak andal dilihat dari hasil akhirnya itu! Sebab jika dilihat lewat proses, sampai Mario Gomez mencetak gol kedua di menit 38, Belanda unggul dalam ball position, 61 persen!" "Itulah bukti faktor luck—keberuntungan—punya porsi 51 persen dalam menentukan hasil tanding sepak bola!" timpal Amir. "Faktor keberuntungan pula yang masih menyisakan peluang buat Belanda untuk tetap bisa masuk babak delapan besar jika mampu mengalahkan Portugal dengan selisih gol yang lebih baik dari Portugal dan Denmark—andai Denmark juga dikalahkan Jerman yang perkasa itu!"

"Ada dua kelemahan Belanda yang terlihat dalam dua kekalahan berturut Belanda!" tukas Umar. "Pertama, saat laga lawan Denmark, permainan Belanda sebagai sebuah tim masih kurang padu, belum solid! Meski permainan individu unggul, tanpa kerja sama tim yang baik tampak kurang efekif!" "Gol tunggal Dehli ke gawang Belanda bahkan akibat salah pengertian pemain belakang Belanda dalam mengantisipasi bola liar sehingga Dehli lolos dan bisa bebas melepas tendangan di mulut gawang!" sela Amir. "Begitulah!" timpal Umar. "Kedua, ketika lawan Jerman kesalahan itu diperbaiki sehingga meski kalah dua gol, penguasaan bolanya unggul! Kelemahannya saat itu, penguasaan bola hanya diputar-putar di luar tembok pertahanan Jerman, tak mampu menembusnya bahkan dengan terobosan Arjen Robben yang terkenal tajam itu! 

Termasuk gol Van Persie, dicetak dari balik tembok hingga gerak cepat Van Persie tak terlihat kiper lawan!" "Untuk pertandingan ketiga yang bagi kedua pihak merupakan tarung hidup-mati—siapa kalah angkat koper, hanya jika Belanda bisa menyempurnakan permainan total football dalam penguasaan bola, ketangguhan pertahanan dan ketajaman ujung tombak serangan, sisa peluang Belanda untuk tak tersingkir dari arena Piala Eropa 2012 masih bisa diharapkan!" ujar Amir. "Tetapi, itu pun akhirnya tergantung pada Jerman yang sudah memastikan lolos ke putaran kedua, apakah mereka harus bermain ngotot menguras tenaga dengan risiko pemain cedera melawan Denmark yang pasti ngotot habis untuk merebut tiket kedua dari Grup A ke delapan besar! Sakitnya Belanda dan Portugal di situ, Jerman memillih simpan tenaga untuk pertandingan babak selanjutnya yang lebih penting bagi menapak ke takhta juara!" ***
Selanjutnya.....

Globalisasi, Gombalisasi, Gembelisasi!

"AWALNYA globalisasi dielu-elukan sebagai jalan pintas peradaban negara-negara terbelakang dari era flinstone atau agraris ke era informasi tanpa melalui era revolusi industri yang berdarah-darah!" ujar Umar. "Setelah jalan dua dekade di peralihan abad 20 ke 21, terbukti gambaran ideal itu cuma gombal! Realitasnya, warga pewaris dunia batu dijauhkan dari batu-batu milik mereka yang diambil alih dan diolah oleh kekuatan modern! Demikian pula masyarakat agraris, disingkirkan dari tanahnya yang kemudian dikelola oleh manajemen industri maju, sedang untuk mencukupi kebutuhan pangannya, warga agraris itu dipaksa membeli dari industrialis modern!" "Tampak, globalisasi cuma gombalisasi!" timpal Amir. "Dan karena pengambilalihan hak-hak atas batu dan tanah itu menelantarkan sekaligus menyengsarakan kaum pewaris batu (terutama di Papua) dan tanah (utamanya di Kalimantan dan Sumatera) yang akhirnya hidup menjadi gembel yang menggelandang di atas tanah warisan leluhurnya sendiri! Jadi, globalisasi tak cuma gombalisasi, tapi sekaligus gembelisasi!"

"Dan peradaban justru mundur ke cara hidup serigala, homo homini lupus, saling memangsa di antara sesamanya, yang kuat memangsa yang lemah lewat mekanisme kekuasaan modal dan teknologi!" tukas Umar. "Berbasis kekuasaan modal dan teknologi yang berbagi nikmat dengan kekuasaan politik lokal, globalisasi bukannya proses mengangkat harkat dan martabat warga pemilik asli batu dan tanah, tapi membenamkan mereka ke bawah permukaan peradaban tanpa kecuali lewat tekanan kekuatan bersenjata yang mematikan!" "Gejala itu bukan hanya menonjol di Papua, melainkan secara sporadis juga terjadi di pulau-pulau lain di Indonesia!" timpal Amir. 

"Bahkan di Kalimantan, orang utan sebagai pewaris hak Ilahiah hutan di sana, dihabisi secara sistematis seiring dengan meluasnya perkebunan kelapa sawit! Tepatnya, untuk pengamanan proyek-proyek maupun memenangkan konflik atas batu dan tanah, penguasa modal, teknologi, dan politik justru mempraktekkan pola revolusi industri yang berdarah-darah!" "Terpenting dari semua itu adalah, bagaimana para penguasa dan pemilik kekuatan di atas angin cepat menyadari bahwa kemajuan peradaban bukan ditentukan oleh ketinggian teknologinya, melainkan setinggi apa kita bisa mengangkat derajat manusia bangsanya!" tegas Umar. "Kemuliaan manusia, itulah tujuan pembangunan global seperti di paket MDG's'—bukan model gombalisasi apalagi gembelisasi!" ***
Selanjutnya.....

Calon Bupati Makin Sedikit!

"BUAT apa menghamburkan uang miliaran untuk ikut pemilihan umum kepala daerah (pilkada) kalau peluang menangnya sebenarnya masih spekulasi!" ujar Umar. "Itulah cara berpikir realistis yang mulai berkembang di kalangan tokoh masyarakat Lampung sehingga calon bupati yang mengikuti pilkada tiga kabupaten di Lampung tahun ini—Tanggamus, Tulangbawang, Lampung Barat—cenderung makin sedikit!" "Itu jelas kabar gembira karena kecenderungan tersebut mengesankan kian dewasanya kalangan tokoh masyarakat untuk mengukur sendiri kapasitas ketokohan dirinya, becermin tentang kepantasan dirinya mendamba untuk menjadi orang nomor satu di kabupatennya!" timpal Amir. "Saya sering sedih bila melihat seseorang tanpa pikir panjang dan introspeksi siapa dirinya, royal bagi-bagi sembako ribuan paket untuk sosialisasi menaikkan popularitas namanya di masyarakat!" 

"Popularitas ketokohan itu perlu agar hasil survei menempatkan dirinya di posisi atas, dengan mana partai politik mau mengusungnya sebagai calon dalam pilkada!" tegas Umar. "Tapi banyak orang yang belum jelas tingkat popularitasnya pada hasil survei, sudah keburu menghamburkan dana untuk menyewa perahu partai politik! Setelah habis uang banyak, ternyata pengurus pusat partai mendasarkan pilihan calon yang diusungnya dalam pilkada sesuai hasil survei!" "Bukan cuma itu!" potong Amir. "Belum jelas apakah pasti ada partai yang bakal mengusungnya, ia sudah menghamburkan dana untuk mencetak poster wajahnya, spanduk, baliho, umbul-umbul, dan sebagainya! Celakanya, setelah ketahuan partai tak ada yang mau mengusungnya, untuk mencari dukungan pencalonan lewat jalur independen sudah kekurangan waktu untuk memenuhi jumlah dukungan lengkap dengan fotokopi KTP-nya! 

Sudah habis uang sedemikian banyak, jangankan ikut pilkada, untuk mendaftar pencalonan namanya ke KPU saja gagal!" "Makin sedikitnya pendaftar pasangan calon bupati dan wakil bupati ke KPU, juga tak terlepas dari kecenderungan partai politik untuk ramai-ramai mendukung calon yang unggul dalam survei dengan membentuk koalisi tertentu!" tegas Umar. "Tentu saja, calon yang didukung beramai-ramai itu dipilih juga berdasar penilaian sang calon mampu mengeluarkan biaya operasi pemenangan dirinya yang cukup dan adil kepada setiap partai!" "Berkurangnya pasangan calon yang lolos unuk mengikuti pilkada, semakin kecil pula jumlah paket sembako yang diterima rakyat pemilih!" timpal Amir. "Dan pilkada semakin berkualitas ketika rakyat tak lagi berharap pada pembagian sembako untuk menentukan pilihannya!" ***
Selanjutnya.....

Ekses Krisis Eropa Mulai Menyengat!

"EKSES krisis ekonomi Eropa mulai menyengat!" ujar Umar. "Neraca perdagangan kita April defisit 640 juta dolar AS! Sementara ekspor melemah, impor justru ugal-ugalan, seperti impor beras yang tak peduli panen raya, hingga baru April saja sudah mencapai 834 ribu ton dengan nilai mencapai Rp4,2 triliun!" (metrotvnews.com) "Hal itu senada laporan Kompas (11-6), hantaman krisis global semakin mengusik perekonomian Indonesia! Selain menekan nilai rupiah atas dolar AS dan mengoreksi tajam indeks harga saham gabungan (IHSG), juga berakibat terjadinya pengurangan tenaga kerja!" timpal Amir. "Impor April 2012 naik 11,65% dari periode sama tahun lalu, akibat industri dalam negeri sebagian besar menggunakan bahan baku, bahan penolong, dan barang modal impor dengan persentase lebih dari 80%! Tajamnya kenaikan impor ini, menurut Kompas, juga akibat kenaikan impor BBM!"

"Menteri Keuangan Agus Martowardoyo dalam pidato penyerahan penghargaan Pasar Modal 2012 akhir pekan lalu mengingatkan ancaman krisis!" tegas Umar. "Sebagai bagian dari pasar global kita tak bisa melepaskan diri dari dampak buruk bila krisis terus berlanjut! Untuk itu Menkeu meminta kita terus memperkuat perekonomian dalam negeri. Salah satu kekuatan yang bisa dioptimalkan adalah kuatnya konsumsi dalam negeri dengan besarnya jumlah kelas menengah!" "Justru kekuatan konsumsi kelas menengah kita yang besar itu bisa menjadi pemicu kesulitan baru di masa krisis!" tukas Amir. "Karena konsumsi dalam life style kelas menengah kita berorientasi impor, dari pangan sampai aksesori teknologis pola industrial society! 

Semua gaya konsumtif itu yang sudah terpadu (integrated) dengan sistem industri rakitan telanjur melembaga di negeri kita, tak mudah diatasi untuk menurunkan impor. Karena, satu-satunya jalan keluar selama ini adalah dengan memacu ekspor!" "Tapi memacu ekspor itu yang terkendala oleh lemahnya permintaan pasar akibat krisis global!" tegas Umar. "Lucunya, bahkan kalau program pembatasan BBM sukses dan semua mobil kalangan kelas menengah beralih ke pertamax, biaya impor BBM naik drastis hingga menambah tajam defisit neraca perdagangan!" "Begitulah jika ekses krisis telah menyengat!" timpal Amir. "Sengatan itu tak terlalu sakit andai para pejabat tak berburu rente, seperti impor beras berlebihan saat panen raya! Defisit neraca 640 juta dolar AS itu tak perlu terjadi jika impor beras tak dipaksakan Rp4,2 triliun—4,7 miliar dolar AS!" ***
Selanjutnya.....

Tolak Predikat Kota Terkotor!

"DIPIMPIN Sekretaris Kota Bandar Lampung Badri Tamam, 500-an orang terdiri dari camat, lurah, kepala dinas, dan pegawai Pemkot bersama warga, Jumat lalu demonstrasi ke Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) di Jakarta!" ujar Umar. "Mereka menyampaikan protes keras Wali Kota Herman H.N. kepada KLH yang memberi predikat kota terkotor kepada Bandar Lampung! Demo itu sempat rusuh akibat dilarang masuk halaman KLH, pagar kantor itu roboh diterjang massa!" "Pemberian predikat kota terkotor di Indonesia buat Bandar Lampung jelas tak bisa diterima, bukan saja oleh pimpinan pemerintahan kotanya, tapi lebih lagi oleh warganya!" timpal Amir. "Tak sukar dibayangkan, dengan stigma kota terkotor itu, yang mencerminkan warganya jorok, warga luar daerah bisa jadi enggan melamar anak gadis dari keluarga yang punya kebiasaan hidup jorok itu!"

"Dilihat dari situ, pemberian predikat terkotor itu bahkan bisa dianggap sebagai penghinaan!" tegas Umar. "Jangankan predikat negatif seperti itu diberikan kepada warga Lampung yang punya harga diri (fi'il) tinggi! Kepada orang yang benar-benar jorok pun, ketika dirinya dituding jorok—apalagi di muka umum, si jorok itu pasti marah dan menolak predikat terjorok!" "Pejabat KLH yang menerima mereka mengonfirmasi, Bandar Lampung mendapat nilai terbawah dari 13 kota besar yang disurvei tim Adipura KLH akibat pengelolaan air di kota itu yang masih sangat buruk!" ujar Amir. "Contoh air dari empat perumahan dan sebuah sungai yang dijadikan dasar! Dengan dasar yang faktual itu ditegaskan KLH takkan mengubah angka hasil penilaian tim Adipura maupun mengubah urutan posisinya!" "Penjelasan KLH itu justru menyulut amarah warga Lampung!" timpal Umar. 

"Tak kepalang, Senin kemarin 10 bus besar massa Majelis Penyimbang Adat Lampung dipimpin Zainal Hayat Karim mendatangi KLH dengan tuntutan agar Menteri KLH meminta maaf secara tertulis kepada masyarakat Lampung atas penghinaan itu! Permohonan maaf itu harus disiarkan media cetak dan elektronik!" (Elshinta, 11-6:12.48) "Ironis sekali!" tegas Amir. "Bandar Lampung sepanjang dekade 1990-an berturut-turut mendapat Adipura, bahkan Adipura Emas, hingga dibangun Tugu Adipura di tengah kota! Kondisi Bandar Lampung begitu-begitu saja, di sana-sini malah ada bangunan baru yang indah! Kenapa dulu bisa dapat Adipura, kini malah terkotor?" "Masalahnya mungkin bukan realitas kotanya, tapi seperti disitir Aryanto dari Pussbik!" timpal Umar. "Yakni, KLH harus bisa menepis intrik politik dan permainan uang yang selama ini menyelimuti pemberian Adipura!" ***
Selanjutnya.....

Belanda Kalah, Indonesia Sedih!

"KESEDIHAN mencekam mayoritas penonton bareng Euro 2012 saat wasit meniup peluit akhir dengan hasil Belanda dikalahkan Denmark 0-1," ujar Umar. "Rasa sedih itu tampak jauh lebih dalam dibanding saat tim Thomas dan Uber kalah bersamaan dalam sehari di perempat final!" "Itu tak bisa dilepaskan dari pengaruh para pakar dan komentator bola negeri kita di televisi yang mengumbar prediksi Belanda akan menang dari Denmark 2-0! Lebih jauh lagi, mayoritas warga di jalanan atau warung yang ditanya reporter mengunggulkan Belanda sebagai juara Euro 2012!" timpal Amir. "Itu membuat mayoritas penonton bola Indonesia menjagokan Belanda, sehingga ketika Belanda kalah tampak Indonesia bersedih! Padahal, kalau sikap empati dan simpati pada Belanda itu ditunjukkan pada zaman penjajahan atau masa revolusi kemerdekaan, orangnya bukan cuma dituding inlander, tapi bisa ditombak bambu runcing oleh pejuang kemerdekaan!"

"Itu yang disebut wolak-walik ing zaman!" tegas Umar. "Dalam pari'an Jawa itu zaman dimetaforakan seperti tempe yang digoreng, harus dibolak-balik agar matangnya sempurna! Kalau tidak dibolak-balik, bawahnya gosong alias hangus sedang atasnya masih mentah!" "Jadi, bisa dipahami sikap mayoritas warga yang pro-Belanda dalam Euro 2012 itu mencerminkan suatu sikap bangsa yang cukup matang!" timpal Amir. "Sikap itu mengekspresikan Indonesia bangsa yang pemaaf, bukan bangsa pendendam! Nasionalismenya bukan yang sempit dan picik, melainkan yang berjiwa besar dan berwawasan luas, sesuai kapasitas yang dibutuhkan implementasi pembukaan UUD 1945—ikut menyelenggarakan perdamaian dunia yang abadi dan berkeadilan! 

Bagaimana kita mampu menangani perdamaian dunia kalau di kampung sendiri saja kita bentrok antardesa/kelompok, antarsuku, antaragama!" "Dari sisi humanisme universal, sikap bangsa Indonesia yang telah sedemikian matang itu merupakan kemajuan esensial, yakni berhasil mengubah rasa benci menjadi cinta!" tegas Umar. "Sayangnya, kematangan sikap itu masih mengaktual secara terbatas, hanya ketika tersulut event-event mondial sejenis Euro 2012, yang durasinya amat terbatas dan kita sendiri belum mampu menyelenggarakannya! Akibatnya, setelah event itu berakhir dan layar televisi kembali dikuasai politisi dan penguasa, kehidupan bangsa kembali didominasi sikap partisan terimplikasi suku, agama, bahkan sektarianisme amat sempit! Kembali kerdil!" ***
Selanjutnya.....

Dana Kemiskinan Mulai Berlimpah!

"DANA pengentasan kemiskinan di Provinsi Lampung mulai melimpah! Tahun 2012 ini saja, digerujuk Rp1,31 triliun!" ujar Umar. "Dari jumlah itu kalau dibagi tunai langsung ke 1,29 juta warga miskin provinsi ini, setiap orang bisa dapat bagian Rp1 juta! Tambahan sebesar itu bagi setiap orang miskin untuk satu tahun, jika khusus untuk tambahan konsumsi, dengan garis kemiskinan pada konsumsi sekitar Rp260 ribu/jiwa/bulan bukan mustahil kemiskinan di Provinsi Lampung bisa dientas tuntas 100%!" "Tambahan Rp1 juta/jiwa/tahun buat menutupi kekurangan belanja setiap warga miskin memang bisa membuat lolos dari garis kemiskinan!" timpal Amir. "Kalau tujuannya cuma menghapus angka kemiskinan, tak perlu repot bikin cluster ini atau itu, dananya dicurahkan saja ke situ, tujuan tercapai tahun ini! Tahun selanjutnya dengan dana sebesar itu lagi, cukup untuk menjaga agar angka kemiskinan tak muncul lagi!"

"Dengan Rp972 miliar lebih atau sekitar 80% dari dana pengentasan kemiskinan Lampung itu difokuskan ke 'cluster satu' yang merupakan program bantuan langsung, sebenarnya tak jauh beda dari idemu!" tegas Umar. "Bedanya, dalam idemu bantuan diberikan langsung kepada setiap jiwa, sedang dalam cluster-clusteran itu dana 'bantuan langsung' disalurkan lewat pengelola program yang telah ditetapkan!" "Karena banyak program yang harus dilalui dana pengentasan kemiskinan itulah, Wakil Gubernur Lampung Joko Umar Said tak gegabah, dengan dana Rp1,31 triliun itu cuma memasang target penurunan kemiskinan 2% dari kemiskinan akhir 2011 sebesar 16,38%," tukas Amir. 

"Itu bisa dipahami karena pengentasan kemiskinan merupakan kegiatan memproses subsistence to sufficient—dari serbakekurangan menuju kecukupan! Proses menjadi faktor penting!" "Terutama proses yang dilakukan keluarga miskin itu sendiri untuk mementaskan diri dari kemiskinan!" tegas Umar. "Pengalaman indah (mentas dari kemiskinan) itu menjadi fondasi yang harus dipertahankan dengan keyakinan bahwa lewat kerja keras dan kesungguhan bisa mencapai tujuan! Pengalaman itu yang ingin dipetik usaha pengentasan kemiskinan dengan program cluster—membentuk kelompok kerja bersama warga miskin dalam suatu lokasi tertentu!" "Program cluster entaskan kemiskinan secara universal awalnya meniru Kibutz, komunitas kerja kelompok terpadu di satu lokasi imigran Yahudi yang kembali dari Eropa sejak 1919!" timpal Amir. "Kibutz bukan saja mencetak wirausaha, hasilnya malah menjadi modal Yahudi menguasai keuangan dunia dewasa ini! Jadi, bukan model cluster penerima bantuan langsung!" ***
Selanjutnya.....