Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Terlalu, Pengadaan Alquran Dikorupsi!

"KPK—Komisi Pemberantasan Korupsi—mulai menyelidiki dugaan korupsi proyek pengadaan Alquran di Kementerian Agama!" ujar Umar. "Kata Juru Bicara KPK Johan Budi, Jumat (22-6), dugaan korupsi terjadi pada proyek 2010—2011 di Ditjen Bimas Islam yang waktu itu dipimpin Nazaruddin Umar—sekarang menjabat wakil menteri agama! Setiap tahun dicetak 2 juta eksemplar Alquran dengan anggaran Rp130 miliar!" "Jadi tepat kalau pada konferensi pers Kementerian Agama yang digelar untuk merespons berita dari KPK itu Wakil Menteri Agama Nazaruddin Umar yang menjawab: Sampai saat ini secara normatif atau di atas kertas tidak menemukan penyimpangan!" timpal Amir. "Untuk itu Ketua KPK Abraham Samad ngotot: Saya lupa berapa kerugian negaranya, tapi kami punya bukti yang kuat!""

"Terpenting, konferensi pers itu digelar guna menyatakan Kementerian Agama terbuka dan mendukung KPK dalam melakukan pemeriksaan terkait dugaan korupsi pada proyek pengadaan Alquran!" tegas Umar. "Bahkan, pimpinan Kementerian Agama sendiri menganggap keterlaluan perbuatan korupsi dalam pengadaan Alquran sehingga Wakil Menteri Agama Nazaruddin Umar siap jika harus diperiksa KPK! "Dengan sikap terbuka pada pemeriksaan KPK itu bisa dikatakan setengah masalah selesai, tinggal menguji kemampuan penyidik KPK membuktikan korupsinya!" timpal Amir. "Pembuktian KPK diperlukan justru untuk sekaligus membersihkan Kementerian Agama dari oknum-oknum yang kurang cocok bekerja di situ!" "Iktikad baik dengan secara tulus membuka diri untuk pemeriksaan KPK agar instansinya benar-benar bersih dari korupsi seperti dilakukan Menteri Agama Suryadharma Ali layak jadi teladan!" tegas Umar. "Sebab, sikap pemimpin tertinggi suatu instansi amat menentukan bersih atau tidaknya instansi tersebut dari korupsi! 

Jika pimpinan instansi cenderung menutup diri, takut jangan-jangan ekor sebuah kasus mengimbas ke bos instansinya, instansi tersebut bisa menjadi sarang koruptor! Apalagi kalau malah resisten terhadap setiap usaha menyingkap borok busuk di tubuh instansinya sehingga jika muncul whistle blower langsung dikeroyok dan dibenamkan secara beramai-ramai oleh kalangan pimpinan instansinya, tak kepalang instansi itu pun menjadi tempat paling nyaman sebagai sarang koruptor pemilik rekening gendut!" "Maka itu, sikap membuka diri bagi menjaga instansinya tetap terjaga bersih dan konsisten pada haluan misinya seperti dilakukan Menteri Agama itu amatlah penting, lebih-lebih dengan misi Kementerian Agama yang suci!" timpal Amir. "Hanya dengan sikap dan cara seperti itu misi suci Kementerian Agama bisa terjaga dari cemaran laknat sejenis koruptor pengadaan Alquran!" ***
Selanjutnya.....

Melebar, Jurang Kaya dan Miskin!

"SALAH satu faktor penting penyebab merosotnya amat tajam indeks negara gagal (ING) Indonesia—dari peringkat 87 pada 2009 menjadi 63 pada 2012—adalah kian melebarnya jurang antara si kaya dan kaum miskin!" ujar Umar. "Ketimpangan sosial yang semakin menganga itu bagaikan luka membusuk di tubuh bangsa hingga baunya tercium di Washington DC, Amerika Serikat, di mana lembaga peneliti nirlaba Fund for Peace memeringkat ING 178 negara di dunia!" "Apa sebenarnya yang tersirat di balik penegasan tambah lebar dan dalamnya jurang antara si kaya dan si miskin itu, padahal statistik di dalam negeri mencatat penurunan jumlah orang miskin di Indonesia dari tataran 15% pada 2009 menjadi sekitar 12% pada 2012?" tanya Amir."Itu soal beda cara pengukurannya!" jawab Umar. "Statistik kita pakai hitungan konsumsi berbilang sen di bawah 1 dolar AS per orang per hari, sedang Washington pakai pendapatan 2 dolar AS per orang per hari! Akibatnya, jika pakai kacamata mereka jurang itu tampak menganga lebih lebar dan lebih dalam!"

"Tapi kenapa kita pakai kacamata kuda yang melihat jurang itu sempit sehingga bisa membuat kita terjerumus?" kejar Amir. "Masalahnya, kita sudah berada dalam jurang itu, jadi tak perlu takut terjerumus masuk jurang lagi!" jawab Umar. "Beda dengan orang yang belum terjerumus, perlu kacamata yang benar agar tak terjerumus! Sedang kita yang telanjur berada dalam jurang, perlu pakai kacamata rayband agar hal-hal buruk dalam jurang terlihat menjadi serbaindah!" "Jadi itu rupanya tujuan kita membuat pranata ukuran sendiri yang berbeda dengan standar universal?" timpal Amir. 

"Bukan untuk melihat esensi masalah, melainkan sekadar pelipur lara dari realitas pahitnya hidup! Realitas itu, merosotnya ING dari peringkat 87 ke 63 dalam tiga tahun seiring yang tecermin di ranah hukum berupa kecamuk korupsi di jantung kekuasaan negara yang nilainya tembus triliunan rupiah!" "Maka itu, kita seharusnya rajin berkaca diri di cermin universal, agar tak terbuai cermin gila yang mencitrakan wajah kita tampan, padahal di cermin normal terlihat wajah kita celemotan dengan riasan kosmetik artifisial yang norak!" tegas Umar. "Kita layak menyadari bahwa ketimpangan sosial jurang kaya-miskin yang semakin lebar itu merupakan 'penyakit dalam' yang menggerogoti tubuh bangsa! Karena itu harus diobati dan dirawat dengan baik agar peringkat ING-nya tak terus memburuk! Penyakit seperti itu tak cukup diobati minyak angjn, apalagi kalau tujuannya cuma agar bau harumnya merebak!" ***
Selanjutnya.....

Indeks Negara Gagal, Posisi Indonesia Memburuk Drastis!

"POSISI Indonesia terus memburuk secara drastis pada indeks negara gagal (failed state index) dari peringkat 87 pada 2009 ke peringkat 63 pada 2012, atau merosot 24 tingkat dalam tiga tahun!" ujar Umar. "Dalam indeks ini semakin kecil angka peringkatnya makin buruk. Peringkat terakhir itu diumumkan, Senin (18-6), di Washington DC, AS, oleh lembaga riset nirlaba The Fund for Peace dan majalah Foreign Policy yang meneliti di 178 negara!" "Peringkat 63 itu masuk kelompok berbahaya (in danger), apalagi dengan laju kemerosotan setajam itu!" timpal Amir. "Peringkat satu indeks negara gagal (ING) ditempati Somalia. Disusul posisi dua Republik Demokrasi Kongo! Tempat terjauh dari ancaman gagal, peringkat 178, diduduki Finlandia!"

"Dari sekian variabel yang diteliti, tiga faktor diangkat sebagai pemicu utama kemerosotan drastis ING Indonesia!" tegas Umar. "Pertama tekanan penduduk (demografis) akibat degradasi lahan serta tergusurnya warga karena masalah lingkungan! Kedua, ketidakpuasan kelompok karena banyak demonstrasi dan kekerasan terhadap kelompok-kelompok minoritas! Ketiga tekanan sosial akibat semakin lebarnya jurang antara si kaya dan si miskin!" "Merinding bulu kuduk mendengar penyebab terpacunya kita menuju negara gagal!" timpal Amir. "Tekanan penduduk atas tanah dengan ancaman Hukum Malthus—penduduk meningkat dengan deret ukur sedang produksi pangan naik dengan deret hitung—ditimpa involusi pertanian Clifford Geertz setiap petak tanah dibebani menghidupi jumlah penduduk yang terus makin besar, kini muncul pula degradasi lahan dan penggusuran! Betapa ngeri arti negara gagal itu bagi bangsa kita!" 

 "Miris boleh saja melihat ancaman negara gagal berpacu mendekati kita, tapi harapan rebound tetap terbuka!" tegas Umar. "Sebab, sebelum disalip Finlandia dari peringkat 178, pada 2010 posisi itu ditempati Bosnia-Herzegovina (Wikipedia), yang seperti Indonesia, mayoritas penduduknya muslim! Artinya, kita punya dasar keyakinan yang sama untuk menjauh dari ancaman kegagalan negara yang terus menguat itu!" "Cuma, dari segi apa kita harus belajar dari Bosnia untuk menciptakan arus balik buat negara kita agar bergerak menjauh dari sedotan 'lubang hitam' kegagalan?" tanya Amir. "Dari laporan media tentang Bosnia, sebagai bangsa bernyawa saringan sisa pembantaian massal (genocide), mereka hidup di garis ajaran secara letterlijk!" jawab Umar. "Artinya, mereka hidup lurus, tak munafik, dan mengekang maksimal syahwat korupsi! Cobalah tempuh cara hidup yang sama, semua pendorong bangsa ke jurang kegagalan akan bisa dihentikan!" ***
Selanjutnya.....

Wasit Euro 2012 Mengecewakan!

"DUA tim Eropa timur jadi korban kinerja wasit yang mengecewakan!" ujar Umar. "Korban pertama Kroasia saat lawan Spanyol, strikernya Mandzukic didorong dengan keras oleh Sergio Ramos dalam kotak penalti. Bukannya Ramos dinyatakan salah, malah pemain Kroasia yang mempertanyakan putusan wasit itu dikartu kuning!" 

"Bahkan gol tunggal ke gawang Kroasia di menit terakhir berbau offside dua pemain Spanyol!" potong Amir. "Itu dia!" timpal Umar. "Korban kedua justru tuan rumah, Ukraina! Setelah bola melewati garis gawang Inggris baru disontek keluar oleh Jhon Terry, tak dinyatakan wasit sebagai gol! Padahal kalau gol itu diakui, pertandingan saat itu draw!" 

"Celakanya, akibat kurang fair-nya wasit pada tanding yang menentukan itu, kedua negara tersingkir dari lanjutan Euro 2012!" timpal Amir. "Jadi bukan hanya mengecewakan suporter tim bersangkutan dan penonton netral di antero jagat, melainkan juga merugikan tak kepalang negara-negara korban ketakadilan wasit!" 

"Dengan begitu, penonton di dunia ketiga yang berharap bisa memetik pelajaran berharga tentang keadilan lewat tontonan kelas dunia itu, gagal mendapatkannya!" tukas Umar. "Sebaliknya justru menuai kekesalan yang mengusik hatinya!" "Dari sisi itu, begitu adanya!" sambut Amir. "Kalau pertandingan itu di negeri kita, wasitnya mungkin dikeroyok pemain dan penonton yang turun ke lapangan, lalu sebagian membakar stadion! Tapi di sana, baik pemain maupun penonton bisa menahan diri dan tetap terkendali!"
"Sportivitas pemain, penonton, dan pelatih itulah pelajaran berharga yang layak dipetik masyarakat kita!" tegas Umar. 

"Tetap sportif menerima dan menghormati apa pun putusan wasit! Contoh dramatisnya pelatih Ukraina Oleg Blokhin. Meski sepanjang akhir pertandingan ia berekspresi kesal atas putusan wasit tak mengakui gol buat timnya, begitu pertandingan usai ia ke titik tengah lapangan memanggil para pemain untuk memberi hormat pada penonton! Artinya, apa pun yang terjadi penonton bisa menilai sendiri bahwa mereka telah memberikan yang terbaik!" "Soal itu harus dilihat dari cara berpikir warganya!" tukas Amir. 

"Di sana orang membedakan game (permainan) dari kehidupan sesungguhnya, hingga bisa membedakan yang ada di lapangan itu cuma permainan! Sedang di sini, tak bisa membedakan kedua hal itu, hingga yang di lapangan itu jadi soal hidup-mati! Suporter lawan pun dianggap musuh yang harus dibunuh beramai-ramai, seperti tiga suporter Persib yang terbunuh di Senayan!" "Itu mungkin karena kita Homo Ludens—makhluk suka bermain—yang paripurna!" timpal Umar. "Hingga saat kerja pun bermain melulu!" ***
Selanjutnya.....

Petahana dan Anak Petahana!

"SEBANYAK 13 pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah Senin lalu telah mendaftar di KPU sebagai peserta pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) tiga kabupaten—Tanggamus, Lampung Barat, dan Tulangbawang!" ujar Umar. "Di dua daerah kompetisi masih diikuti petahana (Tanggamus dan Lampung Barat), sedang di Tulangbawang diikuti putra petahana (bupati) yang akan digantikan oleh pemenang pemilukada!" "Kesertaan petahana dan putra petahana itu hal wajar dalam pemilihan umum, bahkan andai ada yang dalam rangka membangun dinasti, sebab adanya dinasti politik di negara demokrasi lazim saja seperti Dinasti Nixon dan Kennedy di Amerika Serikat!" timpal Amir. "Hal terpenting justru pada KPU yang berperan selaku komisi pertandingan dan Panwas sebagai wasit yang mengawasi jalannya pertandingan di lapangan! Dalam hal ini, menjamin fair play bisa ditegakkan dalam kompetisi!"

"Untuk itu, integritas dan kredibilitas maupun kemampuan dan kemauan penyelenggara/pengawas pemilukada senantiasa harus diuji!" tegas Umar. "Soalnya Lampung punya pengalaman buruk kinerja penyelenggara pemilukada yang membawa kotak suara dihitung di persembunyian, seperti kucing beranak membawa anak-anaknya sembunyi, sehingga penghitungan suara hasil pemilukada tak bisa dihadiri panwascam dan wakil-wakil peserta!" "Kemungkinan hal buruk itu terulang tak mustahil, karena ketika hal itu digugat ke MK, hasilnya jauh dari harapan!" timpal Amir. "Ini semata terkait penyelenggara yang harus senantiasa membuktikan bekerja dengan baik dan benar agar kerawanan di balik ikutnya petahana dan anak petahana dalam pemilukada tak menimbulkan ekses negatif!" 

"Sisi rawan petahana dan anak petahana ikut pemilukada, antara lain mobilisasi birokrasi sebagai tim sukses, penggunaan APBD khususnya dana bansos untuk mendukung usaha pemenangannya, lalu penggunaan fasilitas pemda untuk operasional tim sukses!" tukas Umar. "Semua sisi rawan itu tak sederhana, bahkan ada yang di luar batas kemampuan panitia pengawas untuk menanganinya! Hal seperti itulah, ketika pihak-pihak yang berkewajiban menanganinya ternyata juga 'tak berdaya' mengatasinya, kecurangan pun berlangsung nyaman-nyaman saja!" “Karena itu, hanya semangat fair play pada diri petahana itu sendirilah kontrol terbaik agar sisi-sisi rawan dari kesertaannya dalam pemilukada tidak terjadi, atau setidaknya tak bisa dibuktikan proses hukum!" timpal Amir. "Masalahnya sering, justru kelemahan hukum dalam mencegah sisi-sisi rawan itu yang dijadikan peluang meraih kemenangan oleh petahana! Tapi itu kisah empiris dari masa lalu! Ke depan, semoga tidak lebih buruk!" ***
Selanjutnya.....

Tortor Mandailing Diklaim Malaysia

MENTERI Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia Rais Yatim dikutip kantor berita Bernama Kamis lalu mengatakan tarian tortor Mandailing dan gordang sambilan merupakan warisan budaya nasional Malaysia!" ujar Umar. "Kata Rais, tari tortor dan gordang sambilan itu bagian dari keanekaan budaya negeri Malaysia yang secara reguler ditampilkan di depan publik lokal maupun internasional!" "Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Windu Nuryanti di Metro TV (18-6) menyatakan pihaknya mengonfirmasi ke pihak Malaysia, diperoleh jawaban klaim itu didasarkan pada adanya warga Malaysia asal Mandailing yang menari tortor dan memainkan gordang sambilan—musik perkusi yang terdiri dari sembilan gendang dijajar dari yang terbesar sampai terkecil. Bentuknya panjang dengan kulitnya hanya di sisi atas dipukul dengan tangkai penggebuk, bukan dengan tangan seperti gendang Jawa!" timpal Amir. "Selain itu, kata Windu, klaim itu belum masuk daftar usulan di UNESCO untuk dijadikan Warisan Dunia. Yang ada justru usulan Indonesia, yakni budaya subak di Bali!"

"Tapi materi budaya itu oleh Rais Yatim akan dikukuhkan menjadi warisan budaya nasional Malaysia sesuai UU Warisan Nasional negeri itu tahun 2005!" tegas Umar. "Itu yang membuat warga pewaris asli budaya tersebut di negeri kita menolak klaim Malaysia itu! Juga protes keras dari segenap rakyat Indonesia, terutama Malaysia semakin menjadi-jadi dalam membajak budaya kita untuk tujuan komersial, promosi pariwisata negerinya!" "Memang, sejak 2007 Malaysia mengklaim sebagai budaya mereka, antara lain kesenian reog Ponorogo, batik, lagu Rasa Sayange, tari pendet Bali!" ujar Amir. "Karena itu, kegemaran Malaysia main caplok itu harus dihentikan! Apalagi mereka selalu menggunakan perantau Indonesia di negerinya yang secara fisik nyata-nyata mereka tindas itu sebagai alasan!"

 "Itulah masalah yang disoroti Ketua Lembaga Adat Batak Mandailing, Saleh Salam Harahap, yang mengakui migran dari Mandailing bermukim cukup lama di Malaysia yang dijadikan dasar klaim pemerintah negeri itu!" tegas Umar. "Tapi ia yakin, tokoh-tokoh Mandailing yang ia kenal di Petak dan Kuala Lumpur tak akan tinggal diam dengan klaim pemerintah Malaysia itu!" (Tempo.com) "Tapi kenapa Malaysia jadi gelap mata membajak banyak budaya Indonesia untuk jualan wisatanya?" tanya Amir. "Jawabnya cari di TTCI (The Travel and Tourism Competitive Index), meski Malaysia unggul di peringkat 32 dunia di tahun 2008, sedang Indonesia 81, ada tren Malaysia terus merosot, 2011 jadi peringkat 35, sedang Indonesia naik tajam jadi 74," jawab Umar. "Malaysia perlu jualan budaya karena jualan lokalisasi judi sudah jenuh!" ***
Selanjutnya.....

Uang Muka 30%, Terlalu Berat!

"KALAU mau disebut sebagai sarana pemerataan, uang muka teringan dalam kredit kendaraan bermotor dan pemilikan rumah yang berlaku sebelum Jumat pekan lalu, itulah yang paling efektif!" tegas Umar. "Tapi, setelah uang muka 30% diberlakukan Jumat lalu, fasilitas yang menjadi sarana pemerataan itu pupus, jadi terlalu berat bagi rakyat jelata umumnya menjangkau kedua hal yang telah menjadi kebutuhan primer bagi rakyat itu!" "Dua hal itu yang tampaknya justru belum masuk pertimbangan pembuatan kebijakan tersebut!" sambut Amir. "Pertama bahwa keringanan uang muka kredit rumah dan otomotif—utamanya sepeda motor—merupakan fasilitas untuk terciptanya pemerataan sosial-ekonomi! Kedua, bahwa rumah dan sepeda motor itu 'kebutuhan primer' dalam realitas hidup masyarakat dewasa ini!"

"Rumah sebagai kebutuhan primer malah sudah masuk konsep lama—sandang, pangan, papan!" timpal Umar. "Sedang sepeda motor menjadi sarana cari makan—ojek, dagang keliling, transportasi keluarga untuk ke tempat kerja, antar-jemput anak sekolah, dan sebagainya! Pokoknya kalau cara mendapatkannya dipersulit, akan berpengaruh pada proses pemerataan dan keidupan sosial-ekonomi mayoritas rakyat!" "Selain itu, dengan keterbatasan mendapatkan sepeda motor baru, kalau salah satu alasan penetapan beratnya uang muka agar jalan raya lebih aman karena jumlah sepeda motor dibatasi, realitasnya bisa justru sebaliknya!" tukas Amir. "Karena, jalan raya segera dijubeli sepeda motor tua yang tingkat aman dikendarainya terus semakin rendah! Lain hal jika 'regenerasi kendaraan' tidak dihambat!" 

 "Kedua hal itu—seagai sarana pemerataan dan kebutuhan primer—mungkin dikesampingkan oleh Bank Indonesia (BI) dalam pembuatan kebijakan itu karena ancaman kredit macet pada kedua jenis tersebut yang akibatnya bisa seperti nasib kredit perumahan pada krisis ekonomi 2008 di Amerika Serikat (AS), masalahnya jelas berbeda!" tegas Umar. "Di AS, jaminan kredit atas kredit perumahan telah dijaminkan secara bertingkat-tingkat (derivatif), sedang di sini umumnya kontrak leasing total lost (jaminan langsung dengan risiko yang tak laku dijual di pasar derivatif) sehingga kedua jenis kredit itu justru menggairahkan pasar asuransi!" "Masalah sebenarnya bukan hal yang realistis, melainkan paranoid yang semakin mencekam kalangan pemimpin bangsa ini, sehingga ancaman sebesar tungau di seberang pulau jadi tampak sebesar gajah!" timpal Amir. "Padahal, ancaman ketidakmerataan sosial-ekonomi jauh lebih berbahaya dari gelembung sabun kredit rumah dan sepeda motor di negeri ini!" ***
Selanjutnya.....