Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Ada Perbudakan terhadap Buruh!

"POLRES Lampung Utara dan Polres Tangerang bekerja sama mengungkap adanya perbudakan terhadap buruh di Kabupaten Tangerang!" ujar Umar. "Hasil penggerebekan tim gabungan dua Polres itu mencengangkan, kondisi perbudakan tersebut lebih buruk dari zaman Issaura, perbudakan di Brasil abad XVIII yang serialnya ditayangkan TVRI tahun 1980-an!" 

"Di sebuah pabrik panci, 31 buruh bekerja 18 jam sehari, dengan baju kerja yang tak ganti berbulan-bulan, termasuk untuk tidur, karena pakaian mereka saat pertama masuk kerja dulu dilucuti dan disimpan majikan!" tutur Amir. "Mereka tidur disatukan dalam sebuah ruang tertutup yang pengap, cuma satu lubang angin kecil, satu kipas angin dan satu kamar mandi untuk 31 orang! Tubuh mereka berkurap dan berkudis! Ruang itu dikunci dari luar dan diawasi centeng! Makanannya pun tak layak!"

"Salut pada kedua Polres yang telah berhasil menyingkap praktik perbudakan yang biadab terhadap buruh!" tegas Umar. "Salut istimewa layak disampaikan ke Polres Lampung Utara, tanggap atas laporan warga selaku korban perbudakan yang berhasil melarikan diri!" "Tanpa kepekaan Polres Lampung Utara dalam menerima laporan dan cepat menanggapinya bekerja sama dengan Polres Tangerang, praktik perbudakan biadab itu mungkin hingga hari ini belum terbongkar!" timpal Amir. 

"Apalagi laporan adanya perbudakan pada buruh itu, di zaman ini, terkesan jauh dari masuk akal!" "Memang! Seorang majikan di Surabaya yang membayar gaji buruhnya di bawah UMR saja, bulan lalu divonis Mahkamah Agung 1 tahun 6 bulan penjara tambah denda Rp100 juta!" tukas Umar. "Apalagi pengusaha pabrik panci ini, menyekap dan memperbudak buruh, tidak membayar gajinya selama berbulan-bulan! Hukumannya pasti jauh lebih berat!" 

"Terpenting kemudian adalah mencegah agar jangan terulang warga daerah kita jadi korban perbudakan lagi!" saran Amir. "Mungkin perlu dibuat ketentuan, setiap orang yang datang ke desa mencari pekerja, baik untuk di dalam maupun ke luar negeri, wajib melapor ke kepala desa saat akan membawa orang dari desa itu! Kepala desa meneliti kelengkapan administrasi pencari tenaga kerja itu, jika meragukan bisa ditolak! Dari situ kepala desa juga mencari kejelasan lokasi pekerjaan, bila nanti ada yang aneh bisa dilacak!" ***
Selanjutnya.....

Ekses Lambat Ambil Keputusan!

"AKIBAT terlalu lambat dan bertele-tele dalam mengambil keputusan menaikkan harga BBM subsidi, gonta-ganti rencana sampai antrean di SPBU seantero negeri menghambat distribusi, malah angkutan umum di Jawa Tengah mogok operasi, inflasi tahunan April mencapai 5,57%!" ujar Umar. "Menurut Wakil Menteri Keuangan Mahendra Suregar, kondisi itu diperparah permasalahan tata niaga bahan pangan yang tak kunjung diselesaikan!" (Kompas, 4-5). 

"Kisruh tata niaga daging sapi dan bawang di pasar belum diselesaikan oleh pemerintah, meski sudah jelas kedua komoditi itu jatuh ke tangan kartel!" timpal Amir. "Tanpa peduli, penyimpangan hukum kasusnya telah diproses Komisi Pemberantasan Korupsi--KPK (untuk daging) dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha--KPPU (untuk bawang). Tapi, pemerintah membiarkan terus akibat buruknya di pasar!"

"Selalu terlamabatnya mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah itu dikaji lembaga pemeringkat utang Standard & Poor (S&P) yang hari Kamis merelis hasilnya, Indonesia menyia-nyiakan momentum reformasi ekonomi! Potensi memperbaiki peringkat utang 12 bulan ke depan lewat begitu saja!" tegas Umar. 

"Ujungnya, S&P merevisi proyeksi ekonomi atas Indonesia dari positif turun menjadi stabil!!" "Lalu, apa tidak bisa dipercepat pembuatan keputusan menurunkan subsidi BBM di APBN dengan menaikkan harga BBM bersubsidi, yang hingga hari terakhir belum dipastikan harga yang baru!" timpal Amir. "Padahal, secara psikologis berita soal kenaikan harga BBM itu sudah berpengaruh di pasar, diperkuat antrean solar yang menyengsarakan sopir truk!" 

 "Semua kerepotan itu memang diayun-ayun sedemikian, bahkan mungkin agar penderitaan yang diakibatkan aspek psikologis itu benar-benar terasa pedih sengatannya, sehingga usulan untuk memberikan kompensasi Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) tak bisa ditolak DPR!" tukas Umar. "Setelah BLSM disetujui DPR, berapa lama itu dan betapa buruk akibatnya itu pada perekonomian, barulah kenaikan harga BBM dilakukan!" 

"Artinya penaikan harga BBM dan kepastian besarnya kenaikan baru akan dilakukan setelah kepastian benefit politik dari kenaikan harga BBM itu diperoleh penguasa?" kejar Amir. "Sudah gaharu cendana pula!" jawab Umar. "Sudah tahu bertanya pula!" ***
Selanjutnya.....

Membangun Karakter Bangsa!

MARAKNYA korupsi, kolusi, nepotisme (KKN), amuk massa, sampai kejahatan seks terhadap anak-anak di negeri kita, penyebabnya disebut lemahnya karakter bangsa!" ujar Umar. "Untuk itu, Yudi Latif dalam orasi ilmiah di Universitas Pancasila Jakarta, menyatakan perlu membangun karakter bangsa yang berdasar nilai-nilai Pancasila!" (Kompas, 3-5) "Masalah pembangunan karakter bangsa sudah ditekankan Bung Karno lewat pidato semasa berkuasa!" sambut Amir. 

"Pada era Orde Baru bahkan ada Ketetapan MPR tentang Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila (P4) yang dijabarkan dalam 36 butir nilai Pancasila, ditanamkan lewat penataran P4 dari tingkat pusat sampai desa! Tapi setelah 20 tahun berjalan (1978-1998), pembangunan karakter bangsa lewat P4 tak menghasilkan perubahan watak yang sifnifikan!"

"Itu membuktikan membangun karakter bangsa tak cukup 20 tahun!" tegas Umar. "Jadi, meski 36 butir nilai Pancasila untuk ekspresi sikap dan perilaku setiap warga itu cukup baik, proses penanamannya perlu waktu! Di lain sisi, penataran dan sosialisasi saja tak cukup tanpa ada contoh perilaku dari para pemimpin!" "Contoh sikap dan perilaku para pemimpin itu yang lemah di era Orde Baru, bahkan kayaknya lebih buruk lagi di era reformasi!" timpal Amir. 

"Untuk itu, muncul usaha memandu perubahan sikap para pemimpin lewat program ESQ--Emotion, Spiritual Quotiens--yang dilakukan di tempat yang cocok buat elite, seperti Jakarta Convention Center! ESQ menanamkan nilai-nilai Islami--tentu sejalan dengan nilai-nilai Pancasila--lewat sistematika penalaran dan teknik penyampaian yang modern!" 

"Tapi tetap butuh waktu minimal satu generasi sehingga program ESQ menjadwalkan zaman emas tercapai 2050!" sela Umar. "Itu pun tentu kalau program ESQ berjalan konsisten!" "Program ekstra membangun watak bangsa itu--P4 ke ESQ--diperlukan akibat pendidikan formal gagal melakukannya! Sektor pendidikan formal masih banyak kelemahan, di antaranya belum bersih KKN!" tukas Amir. 

"Tapi bukan berarti harus dibiarkan terus begitu! Dengan jangkauannya yang komprehensif atas semua generasi muda bangsa, pendidikan formal harus dikembalikan ke jalan yang benar agar mampu mewadahi pembangunan karakter bangsa secara efektif dan tangguh!" ***
Selanjutnya.....

Kesatria, Susno Serahkan Diri!


“SETELAH melakukan perlawanan menolak dieksekusi dengan dalih putusan Mahkamah Agung (MA) tidak memerintahkan penahanan dirinya, lalu dijadikan buron Kejaksaan Agung, akhirnya Kamis (2-5) tengah malam Komjen Purnawirawan Susno Duadji menyerahkan diri!” ujar Umar.

“Ketua MA Hatta Ali mengapresiasi sikap Susno itu, dengan menyebutkan Susno betul-betul menunjukkan jiwa kesatria!”
“Persepsi Hatta Ali tentang jiwa kesatria Susno itu tentu berpangkal dari kerelaan (meski itu pada akhirnya) Susno menerima kebenaran dengan ‘harga mahal’, pengorbanan dirinya untuk menanggung derita meringkuk dalam penjara selama tiga setengah tahun!” timpal Amir.

“Lebih baik lagi jiwa kesatrianya itu karena dalam pengorbanan itu ia lebih dahulu harus menaklukkan dirinya sendiri, yang sebelumnya sempat punya keyakinan bahwa hukum yang menjerat dirinya tidak pada tempatnya—ada salah tulis di putusan PN!”

“Proses perubahan sikap menjadi kesatria itu mungkin seperti Bima yang harus menaklukkan dirinya sendiri saat masuk ke telinga Dewa Ruci!” tegas Umar. “Kebanyakan orang bisa menaklukkan orang lain, tapi tak mudah bahkan tak bisa menaklukkan dirinya sendiri, terutama ketika harus dengan lapang dada dan terbuka mengakui dirinya salah! Setelah dirinya bisa ditaklukkan dengan mengakui
salah dalam menafsirkan hukum sehingga merasa wajib menyerahkan diri demi menjunjung hukum sebagai penguasa tertinggi di negeri ini, jiwa kesatria Susno diakui Hatta Ali!”

“Selain label diri lebih baik diperoleh Susno dengan menyerahkan diri itu, peluang langkah hukum selanjutnya bagi Susno dengan begitu masih terbuka!” tukas Amir. “Yakni, peluang mengajukan peninjauan kembali (PK) atas putusan kasasi MA! Peluang ini sulit jika Sosno sendiri di posisi sebagai pembangkang putusan hukum—buron menghindari eksekusi hukuman yang telah berkekuatan hukum tetap!”

“Utamanya bagi keluarga, Susno yang telah menyerahkan diri dengan kepastian menjalani hukum jelas lebih baik daripada Susno yang buron sehingga siang-malam keluarga tak henti sport jantung!”
timpal Umar. “Untuk itu, salut pada keluarga Susno yang mengatur proses penyerahan
diri Susno sehingga dapat perlakuan baik dari Kejaksaan Agung!” ***
Selanjutnya.....

SBY Lempar 'Bola Panas' ke DPR!

"PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melempar 'bola panas' pembuatan keputusan kompensasi kenaikan harga BBM subsidi ke DPR!" ujar Umar. "Kompensasi itu membantu warga miskin mengatasi kenaikan harga kebutuhan akibat kenaikan harga BBM, berupa bantuan langsung tunai (BLT), beras warga miskin (raskin), bantuan siswa miskin (BSM), dan bantuan keluarga harapan—khusus warga miskin yang punya anak sekolah!" 

"SBY melempar 'bola panas' itu agar DPR yang membuat keputusan, membebaskan dia dan Partai Demokrat (PD) dari tudingan cari benefit dari kompensasi kenaikan harga BBM—terutama BLT!" timpal Amir. "Dengan secara formal DPR yang memutuskan, kecurigaan yang merebak bahwa SBY dan PD mencari cara untuk mengucurkan BLT demi keuntungan politiknya menyambut Pemilu 2014, mudah ditepis!"

"Lemparan 'bola panas' ke DPR itu jawaban dari kecurigaan itu, setidaknya Ketua Umum PDIP Megawati di televisi menyatakan seperti penilaiannya pada 2008 kini 7 fraksi di DPR menolak BLT!" tukas Umar. "Itu membuat fraksi yang menolak BLT bisa terpojok karena kalau dalam sidang DPR secara terbuka menolak BLT, mudah diasumsikan tidak mengutamakan kepentingan warga miskin—yang jumlah penerima BLT dan raskin 75 juta keluarga!" 

"Sebaliknya kalau dengan pertimbangan itu setuju ikut memutuskan kompensasi kenaikan BBM, praktik yang sama dengan penyaluran BLT 2008—2009, mudah diperkirakan siapa yang paling diuntungkan dan menarik hasil sama dari BLT 2013—2014 pada pemilu berikutnya!" timpal Amir. 

"Itu menunjukkan lemparan 'bola panas' ke DPR itu langkah politik yang brilian, apa pun pilihannya benefit bagi SBY dan PD!" "Tapi itu bukan langkah politik seketika!" ujar Umar. 

"Malah itu strategi jangka panjang yang dilakukan dengan tidak pernah menyesuaikan harga BBM bersubsidi selama beberapa tahun, ditahan sampai subsidinya mencekik APBN dan bertepatan menjelang pemilu berikutnya! Sehingga, ketika harganya disesuaikan tepat menjelang pemilu, kompensasinya bisa memberikan benefit yang sangat efektif!" 

"Malangnya bangsa ini kalau penguasanya setiap memenangkan pemilu dengan cara seperti itu, bukan prestasi menyejahterakan rakyat!" timpal Amir. "Buktinya, jumlah rakyat miskin penerima BLT terus makin banyak!" ***
Selanjutnya.....

Pendidikan Minus Skeptisisme!

“SKEPTISISME itu cara berpikir kritis yang selalu menggugat kemapanan, mendorong untuk mencari dan membuktikan kekurangan dan kesalahan suatu dalil, aksioma, sistem, tata kelola, dan sejenisnya, bertujuan memperbaiki, me­ nyempurnakan!” ujar Umar. “Hingga, hanya dengan skepti­ sisme masyarakat berkembang semakin baik, peradaban ber­ gerak maju!” 

“Sebaliknya, tanpa skepti­ sisme, orang hanya pasrah dan nrimo sehingga segala dimensi kehidupan yang memiliki kekurangan bahkan bersala­ han tetap dipakai, jalan terus!”timpal Amir. “Masyarakat seperti itu hidup di jurang ket­ erbelakangan! Karena, menya­ lahi kodratnya agar manusia selalu berusaha memperbaiki (segala dimensinya atas) nasib kaumnya!”

“Lebih buruk lagi ketika justru ngotot untuk memper­ tahankan yang serbasalah itu!” tukas Umar. “Masyarakat yang statis begitu menjadi seperti tumpukan sampah yang lama tak dibongkar, mengalami pembusukan se­ mua dimensinya, bertolak dari moralitasnya yang telah busuk! Korupsi merasuk ke sumsum masyarakat—bidang agama, peradilan, politik, dan pendidikan—penentu masa depan!” “Tapi pendidikan bukan cuma korbanatauakibat!”timpalAmir. 

“Justru menjadi penyebab utama semua itu, karena pendidikan di jalanan minus skeptisisme! Aki­ batnya, sejak kecil anak sudah dibawa terbiasa hidup dalam cara yang serbasalah dan serba­ korup! Tak ayal, jadilah mereka generasi fatalis—serbapasrah dan nrimo—tanpa kecuali itu menyalahi kodratnya agar ma­ nusia selalu berusaha mem­ perbaiki (segalanya atas) nasib kaumnya!” 

 “Inti masalahnya, karena ber­ beda dari zaman cantrik pen­ didikan ditentukan begawan, kini ditentukan para birokrat yang menjadikan pendidikan sebatas proyek, dari proyek UN berskala nasional hingga proyek BOS di tingkat sekolah!” tegas Umar. 

“Di negara yang oleh para Bapak Pendirinya diarahkan mencapai keadilan, UN yang telah terbukti tak adil bagi murid di pelosok karena minim fasilitas belajar, sebagai proyek tetap dipaksakan— bukan pemerataan fasilitas yang diprioritaskan!” 

 “Di tingkat lokal, catatan kepala dinas kota di buku liar yang oleh bersangkutan dinyatakan palsu tetap dipak­ sakan dibeli kepala sekolah!” timpal Amir. “Apa jadinya masa depan kaum muda jika sejak anak­anak dibiasakan dengan kepalsuan oleh kepala sekolahnya?” ***
Selanjutnya.....

May Day, Polisi Jangan Anarkis!

"TRAUMA May Day pada Amerika Serikat karena ratusan buruh tewas 4 Mei 1886 di Lapangan Haymarket, Chicago--setelah 350 ribu buruh mogok sejak 1 Mei--akibat polisi membabi-buta menembaki massa!" ujar Umar. "Waktu itu polisi yang bertugas 180 orang! Untuk May Day 2013 di Jakarta, Polda Metro mengerahkan 23 ribu polisi! Jika 180 polisi bisa tak terkendali, konon pula 23 ribu polisi ketika menghadapi aksi ratusan ribu buruh yang sangar?" 

"Untuk itu, kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengingatkan agar aksi buruh pada May Day hari ini tidak anarkis, demikian pula Kapolri, tak kalah penting juga mengingatkan polisi agar tak anarkis!" timpal Amir. "Itu perlu dikemukakan, karena aksi buruh hari ini dapat 'amunisi' untuk beringas--penangguhan oleh Gubernur DKI UMP 2013!"

"Polisi memang tak layak gegabah menghadapi massa buruh yang besar!" tegas Umar. "Kasus Trisakti I (13 Mei 1998) yang merebak jadi aksi besar mahasiswa menjatuhkan Orde Baru, juga berawal dari polisi grogi menabur peluru ke massa, menewaskan 4 mahasiswa!" 

"Kemampuan polisi kita mengendalikan massa, sejauh tercermin di tayangan televisi, masih terlalu mengandalkan bentrokan, adu fisik dengan massa menonjolkan tameng panjang, pelindung kepala dan pakaian berlapis bantal!" timpal Amir. "Kasihan anggota polisi yang memakai selubung amat rapat, berat dan tebal itu di terik matahari berjam-jam melawan massa yang lebih bebas lari kian-kemari!" 

"Lalu setelah massa mundur sambil melempari polisi dengan batu, polisi melayaninya dengan melemparkan batu juga!" tukas Umar. "Entah sekolahnya di mana mengendalikan massa lewat perang batu gaya intifadah begitu! Tapi tampak, polisi tak belajar brilian!" 

"Polisi belum menyesuaikan cara kerja era komunikasi, meski memiliki banyak perwira berkemampuan komunikasi baik!" sambut Amir. "Dalam menghadapi aksi massa besar seperti May Day, polisi belum mengutamakan pendekatan komunikasi--proaktif sejak awal berkomunikasi dengan koordinator lapangan (korlap) guna tawar-menawar membina saling pengertian justru memperlancar aksi massa tanpa berlebihan mengganggu masyarakat luas! Sikap birokratis polisi masih kental, padahal sudah bukan zamannya lagi polisi cuma menunggu laporan rakyat di pos!" ***
Selanjutnya.....