Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Pasca-BLSM seperti Bayi Disapih!

SEORANG bayi semalaman menangis karena disapih, dihentikan pemberian air susu ibu—ASI—nya! Tetangga jadi terganggu tidurnya. 

"Usia enam bulan disapih!" keluh tetangga! "Seharusnya diberi ASI sampai dua tahun!" "Karena ibunya bekerja!" jelas istri tetangga. 

"Sebetulnya anak itu sudah minum susu botol di siang hari! Tapi terbiasa tidur dalam pelukan sambil menyusu pada ibunya! Kebiasaan itu dihentikan dengan memberi brotowali pahit di puting susu sang ibu! Ia jadi kelimpungan!" 

"Kok tega nian menyapih anak sekecil itu?" tanya tetangga. "Karena ibunya naik pangkat jadi orang penting, akan sering tugas ke luar negeri!" jawab istrinya. "Maka itu, anaknya disapih!"

"Setelah enam bulan menyusu saja disapih kelimpungan! Bagaimana pula warga miskin yang cuma diberi bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM) empat bulan lalu disapih?" tukas tetangga. "Bisa lebih kelimpungan mereka! Karena harga barang yang telanjur naik belasan sampai puluhan persen terkatrol kenaikan harga BBM, tak akan turun seperti semula! 

Artinya begitu disapih dari BLSM mereka memikul beban hidup lebih berat!" "Memang, kalau terjadi deflasi cuma nol koma persen, padahal kenaikan harga sebelumnya tajam sekali!" timpal istri. "Selama kabar angin harga BBM akan naik saja, sejak awal Mei, kenaikan harga kebutuhan pokok sudah dikeluhkan ibu-ibu rumah tangga! Minyak sayur biasa Rp10 ribu/kg, kini jadi Rp13 ribu/kg! Naiknya sampai 30 persen!" 

"Bukan cuma ibu-ibu rumah tangga, Bank Sentral juga pontang-panting intervensi pasar valuta asing mengamankan nilai rupiah dari ekses isu kenaikan harga BBM itu!" tegas tetangga. "Dalam bulan Mei saja cadangan devisa habis 2,12 miliar dolar AS, dari 30 April 2013 sebesar 107,269 miliar dolar AS menjadi 105,149 miliar dolar AS pada 31 Mei 2013! 

Bisa lebih besar intervensi bulan Juni menekan gejolak rupiah yang sempat tembus Rp10 ribu/dolar AS!" "Ekses kenaikan harga BBM yang simultan itu bisa membuat warga miskin lebih kelimpungan setelah disapih dari BLSM!" tegas istri. "Apalagi mayoritas warga yang sebenarnya ekonomi mereka tak mampu tapi tak dapat BLSM—seperti buruh, karyawan-pegawai rendahan, pedagang kecil dan sekelasnya!" ***
Selanjutnya.....

Wibawa Pemerintah di Register 45!

"WIBAWA pemerintah dipertaruhkan lewat aneka rencana penertiban perambah Register 45, Mesuji, yang selama ini selalu kandas sebatas wacana!" ujar Umar. "Tak kepalang, rencana penertiban itu ada yang disiapkan di kantor Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam) bahkan sebagai realisasi hasil kerja Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk Presiden! Tapi, karena cuma wacana, jumlah perambah di Register 45 justru bertambah lipat ganda sejak era TGPF!" 

"Karena itu, ultimatum Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. kepada perambah agar dengan kesadaran sendiri meninggalkan areal Register 45 sebelum ditertibkan tanpa toleransi, pelaksanaannya menjadi kunci pemulihan wibawa pemerintah di situ!" timpal Amir. "Betapa wibawa pemerintah di kawasan itu sudah di titik nadir! Polres Tulangbawang telah bertekuk lutut pada massa perambah dengan membebaskan pencuri karet dari tahanan!"

"Kelompok tertentu juga sudah seenaknya memperjualbelikan tanah negara di register itu hingga Rp8 juta per hektare!" tegas Umar. "Itu menyulut konflik di kalangan perambah karena kutipan dari kelompok yang merasa kuat merajalela dari terkait hak garap tanah sampai pemalakan lalu lintas hasil panen! Kawasan Register 45 memang telah menjadi negeri tak bertuan, seolah berada di luar sistem hukum pemerintahan Indonesia!" 

"Untuk itu, ultimatum Gubernur Sjachroedin Z.P. yang juga menyebutkan dana buat penertiban itu telah tersedia bisa menjadi titik balik bagi memulihkan wibawa pemerintah di kawasan Register 45!" tukas Amir. "Sebaliknya, kalau ultimatum itu akhirnya juga cuma wacana, apa pun alasan dan pertimbangannya, wibawa pemerintah memang telah menjadi barang langka di kawasan Register 45!" 

"Lebih buruk lagi, dengan begitu kemampuan pemerintah menyelesaikan masalah terbukti memang jeblok!" timpal Umar. "Menertibkan perambah yang sederhana saja tak mampu, tanpa kecuali Presiden sempat membentuk TGPF dan Gubernur mengeluarkan ultimatum! Dengan itu, bagaimana mau diharapkan bisa menyelesaikan masalah besar yang jauh lebih rumit dan canggih? Penilaian begitu berdasarkan kenyataan—jika ultimatum terakhir itu ternyata juga cuma wacana!" ***
Selanjutnya.....

Akhir Rezim Suku Bunga Rendah!

"SETELAH Selasa malam menaikkan suku bunga fasilitas simpanan (Fasbi) 25 basis poin dari 4% menjadi 4,25%, Bank Indonesia (BI) pada Kamis 13-6 menaikkan BI rate (suku bunga acuan) 25 basis poin dari 5,75% jadi 6%!" ujar Umar. 

"Langkah dua kali berturut menaikkan suku bunga dalam kepemimpinan Gubernur BI Agus Martowardojo menengarai berakhirnya rezim suku bunga rendah bersama perginya Darmin Nasution setelah empat tahun memimpin BI."

"Pantas dicatat, saat peralihan BI ke tangan Darmin 2008, BI rate 9,25%!" timpal Amir. "Darmin menurunkan BI rate sebanyak delapan kali hingga 5,75%--rate terakhir ini telah bertahan lebih satu tahun! Selama Darmin memimpin BI hanya sekali menaikkan BI rate 25 basis poin pada awal 2011 untuk menekan ekspektasi yang tinggi akibat kenaikan harga komoditas!" (detikFinance, 13-6) 

"Keputusan menaikkan BI rate dengan alasan ekspektasi inflasi itu bersamaan dengan hari kepastian dari DPR segera diberlakukannya kenaikan harga BBM subsidi!" tegas Umar. "Berarti, suku bunga bank akan merayap naik bersamaan dengan naiknya harga barang-barang yang terkatrol kenaikan harga BBM! Konsekuensinya, beban masyarakat serta-merta meningkat, dari naiknya harga kebutuhan hidup sampai kewajiban membayar bunga bank, khususnya yang ditanggung korporat!" 

"Dampak seperti itulah yang sudah diprediksi banyak pihak hingga menolak kenaikan harga BBM saat ini!" tukas Amir. "Kebijakan BI yang diambil secara pre-emptive—sebelum biang masalah (kenaikan harga BBM) yang diantisipasi dampaknya terjadi—itu justru bisa dipahami, karena BI berkewajiban memelihara kestabilan makroekonomi dan sistem moneter di tengah gejolak pasar keuangan global!" 

"Artinya, memang ada harga yang harus dibayar BI atas ekspektasi inflasi dari kebijakan menaikkan harga BBM di tengah ketidakpastian sistem keuangan global itu!" timpal Umar. "Itu belum klop! Karena di sisi lain, BI sendiri masih menghadapi tekanan melemahnya rupiah akibat defisit perdagangan, penghasilan devisa ekspor tak cukup untuk menutupi kebutuhan devisa impor! BI harus intervensi—menggrujuk dolar dari cadangan devisa ke pasar! BI terjepit kebijakan yang tak tepat waktu—terpaksa mengakhiri rezim suku bunga rendah!" ***
Selanjutnya.....

IHSG Longsor, Rupiah Gempor!

“IHSG—indeks harga saham gabungan—di Bursa Efek Indoneia (BEI) yang pekan lalu gagah di atas 5.000, awal pekan ini longsor!” ujar Umar. “Selasa (11-6) sore IHSG ditutup pada posisi 4.588,35. Itu saja belum cukup! Rabu (12,6) pagi saat pasar dibuka IHSG anjlok 2,02% di posisi 4.517,85. 

Longsor susulan masih bisa berlanjut!” (Kompas.com, 12-6) “Penyebab longsornya IHSG, kata pengamat, karena investor kabur bersama gain dan dividen (bagian laba akhir tahun) yang baru dibagi banyak perusahaan!” sambut Amir. “Dalam sehari Selasa lalu, jumlah dana yang ditransfer investor asing Rp3,9 triliun!” “Modal yang ditarik itu me­re­ka jadikan dolar AS!” tegas Umar.

“Kurs dolar pun melonjak! Rupiah jadi gempor—lemah lunglai—terimbas longsornya IHSG! Senin dan Selasa lalu dolar sempat tembus Rp10 ribu. Tapi cepat diatasi Bank Indonesia (BI) Selasa sore dolar ditutup Rp9.830!” “Selasa malam pimpinan BI rapat, membuat sejumlah kebijakan!” timpal Amir. 

“Pertama menaikkan bunga fasilitas simpanan 25 basis poin, lalu mengulang jurus kembar yang pernah dipraktikkan akhir 2011 saat bursa efek goyah seperti sekarang!” ujar Umar. “Jurus kembar itu, menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Difi Johansyah, yakni melanjutkan intervensi di pasar valas dan membeli kembali surat berharga negara/surat utang negara (SBN/SUN). 

Harga SBN/SUN yang dilepas investor pun tak jatuh sehingga tak mengimbas nilai rupiah.” (detikFinance, 12-6) “Semua itu akibat IHSG longsor karena investor kabur! Kenapa investor kabur?” tanya Amir. “Para pengamat domestik menyebut akibat tertunda-tundanya kenaikan harga BBM, lalu dampak kenaikan harga BBM itu nanti buruk pada ekonomi! Itu alasan investor menarik modalnya dari Indonesia!” jawab Umar. 

“Versi Menteri Keuangan Chatib Basri, ini fenomena global karena tiga alasan, rencana The Fed (Bank Sentral AS) dan Bank of Japan memutuskan tak melanjutkan monetary stimulusnya, kemudian Draghi (Gubernur Bank Sentral Eropa) menyatakan hal yang sama! Akibatnya, arus modal dari emerging market itu diperkirakan akan berkurang!” “Lebih celaka jika keduanya benar!” entak Amir. “Dampak kebijakan domestik dan global secara bersamaan menghantam kita!” ***
Selanjutnya.....

Mobil Murah Ramah Lingkungan!

“LCGC—low cost green car (mobil murah ramah lingkungan)— harganya di bawah Rp100 juta/ unit, segera memenuhi jalan- an!” ujar Umar. “Regulasinya lewat Peraturan Pemerintah Nomor 41/2013 dirilis Senin lalu, disambut antusias produsen otomotif! Terutama Toyota dan Daihatsu yang sudah siap meluncurkan LCGC si kembar—Agya dan Ayla! Bahkan, Agya sudah dapat pesanan 15 ribu unit dan Ayla 10 ribu unit!” (Kompas Otomotif,10-6) “Suzuki juga memamerkan LCGC-nya Wagon R di PRJ! Honda dan Nissan menyusul!”sambut Amir. 

“Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perin- dustrian Budi Darmadi mem- prediksi penjualan mobil naik 50 ribu unit tahun ini dengan hadirnya LCGC. Tahun depan produksinya 300 ribu unit!

Dengan harganya murah, se- bagian dari 60 juta pengendara sepeda motor nantinya beralih ke LCGC!” “Kini untuk mobil di atas Rp100 juta cicilannya ada yang Rp1 juta/bulan—dengan uang muka 30% sesuai aturan BI— untuk LCGC bisa sekitar Rp700 ribu/bulan!” tebak Umar. “Bu- kan hanya pemakai sepeda motor beralih ke LCGC, pemilik mobil tahun rendah pun akan menjadikan mobilnya sebagai uang muka mobil baru yang murah! 

“Konsekuensinya, jalanan yang sekarang sudah padat dan macet di titik-titik tertentu, akan makin penuh sesak oleh mobil!” tukas Amir. 

“Penam- bahan panjang dan lebar jalan tak sebanding dengan tambahan mobil 1 juta unit per tahun—bahkan 2012 tambah 1,1 juta unit! Ini layak jadi per- hatian pemerintah semua ting- kat untuk cepat menambah panjang dan lebar jalan agar kemacetan tak kian parah!” 

“Sayangnya, Pemerintah Pusat lebih sibuk regulasi pajak barang mewah untuk penjualan mobil, pemerintah daerah lebih sibuk menarik pajak kendaraan bermotor (PKB), ketimbang membangun dan memperbaiki jalan!” tim- pal Umar. 

“Akibatnya, bukan saja jalanan semakin macet,juga rusaknya makin parah! Ironisnya, uang pajak kenda- raan untuk membangun jalan justru dialihkan jadi biaya jalan-jalan pejabat daerah— studi banding dan umrah! Bu- kan melarang pejabat umrah, melainkan pakai uang sendiri dong, bukan APBD!” 

“Jelas, kecuali hebohnya menarik pajak, pejabat pusat dan daerah tertinggal oleh laju otomotif negerinya!” ujar Amir. “Buktinya, jalan semakin macet dan rusak!” ***
Selanjutnya.....

Utang RI Tambah Rp390 Triliun!

"PEMERINTAH RI menambah utang baru Rp390 triliun, padahal utang sebelumnya mencapai Rp2.032,72 triliun!" ujar Umar. "Utang baru itu, menurut Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar, digunakan untuk APBNP 2013, khususnya subsidi! Jumlah subsidi energi (BBM dan listrik) dalam APBN 2013 seluruhnya Rp358,2 triliun!" (detikFinance, 4-6). 

"Utang baru itu dikritik Direktur Indef Enny Sri Hartati (detikFinance, 10-6). Ia menuding pemerintah kecanduan utang!" timpal Amir. "Apalagi, utang digunakan untuk hal-hal yang tidak produktif, seperti subsidi! Ia ingatkan kecanduan utang ini bisa menyebabkan instabilitas ekonomi yang memicu krisis! Pembayaran utang dan bunganya butuh devisa lebih banyak, ekspor kita justru kian jeblok!"

"Utangan baru untuk menutupi subsidi itu melanggar tradisi utang pemerintah kita dari zaman ke zaman. Lazimnya utang hanya digunakan untuk proyek yang punya aspek refinancing membayar kembali utangnya" tegas Umar. 

"Bahkan, di masa lalu, pemasukan dari utang itu langsung diklaim dalam bentuk proyek-proyek infrastruktur, membangun jalan, bendungan irigasi, dan sejenisnya!" "Tidak produktifnya penggunaan utang juga terlihat pada belanja modal yang menurun pada APBNP 2013!" tukas Amir. 

"Itu bertolak belakang dengan pernyataan pemerintah soal stimulus fiskal! Menurut Enny, belanja modal sebagai stimulus fiskal di APBNP 2013 justru turun, dari 16% jadi 15,7%!" "Itu baru angkanya! Realisasi penyerapannya bahkan bisa lebih rendah lagi seperti sampai 15 Mei lalu, belanja modal APBN 2013 baru terserap 10,97%!" timpal Umar. 

"Pihak Badan Pusat Statistik menyebutkan kelambatan penyerapan belanja modal pemerintah itu menyebabkan melambatnya pertumbuhan ekonomi! Kuartal I 2013, dari estimasi 6,4%, hanya terealisasi 6,02%! Akibat pelambatan pertumbuhan ekonomi itu prediksi penerimaan pajak, khususnya PPh 2013, juga ikut turun sebesar Rp53,5 triliun!" 

"Era ekonomi kondusif pun terlihat mulai menurun, terusik melemahnya dukungan fiskal, penyerapan belanja modal pemerintah merosot!" tegas Amir. "Ironisnya, utang baru bukan mengatasi masalah, melainkan dipakai belanja nonproduktif! Justru memperparah!"
Selanjutnya.....

Jangan Salah Beli, Batik China!

"BATIK sebagai produk budaya unik Indonesia telah ditabalkan badan kebudayaan PBB UNESCO sebagai warisan budaya dunia!" ujar Umar. "Meskipun demikian, ternyata bukan batik orisinal asal Indonesia yang menguasai pasar dunia! Tapi, justru produk tiruannya asal China! Tak kepalang batik China juga menyerbu pasar dalam negeri asal budayanya, Indonesia!" 

"Memang! Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2012 (Januari—Desember) sebanyak 1.037 ton produk batik asal China masuk ke Indonesia dengan nilai 30 juta dolar AS!" ujar Umar. "Itu berlanjut sepanjang Januari—April 2013 batik China yang masuk ke Indonesia sebanyak 103 ton dengan nilai 1,65 juta dolar AS! Semua batik China yang masuk ke Indonesia tersebut diketahui dalam bentuk pakaian jadi!" (DetikFinance, 8-6)

"Catatan statistik itu yang masuk lewat saluran formal!" tegas Umar. "Selama ini bukan rahasia lagi bagi umum, barang elektronik dan tekstil banyak masuk lewat jalur penyeludupan! Ketua Kadin Pusat Rachmat Goebel sampai mewanti-wanti kalau aparat tak bisa menghentikan penyeludupan yang marak lewat pelabuhan besar dan kecil di seantero negeri, industri dalam negeri terancam gulung tikar!" 

"Tapi pasar dalam negeri kita ramah menerima barang-barang seludupan, apalagi yang berupa barang tiruan seperti batik China itu, karena harganya jauh lebih murah!" tukas Amir. "Sebab, kalau batik orisinal kita merupakan produk kerajinan yang dikerjakan sehelai demi sehelai mulai dari kain mori mulus digambar, diwarnai, dibironi, dan seterusnya, tekstil China dengan corak desain mirip batik itu langsung dicetak dengan mesin seperti mencetak koran dalam gulungan (bal) yang panjang!" 

"Belum lagi produktivitas tenaga kerja China yang jauh lebih tinggi dari Indonesia!" timpal Umar. "Dengan proses kerja yang sama pun, produktivitas yang lebih tinggi itu akan menghasilkan barang yang lebih murah! Konon pula upah buruh di China juga lebih rendah!" "Kalau harus bersaing harga dengan produk China, memang berat! Apalagi harga batik asli kita dengan batik tiruan dari China yang cuma tekstil bercorak mirip batik!" tegas Amir. 

"Untuk itu, agar industri batik nasional kita tetap bisa bertahan, jangan salah beli! Pilih batik yang benar-benar buatan dalam negeri! Cintailah produk-produk Indonesia!" ***
Selanjutnya.....