Kata Kunci
Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Selasa, 08 Mei 2018
0
BI, Jangan Khawatir Dolar Rp14.000!
BANK Indonesia (BI) meminta masyarakat tidak terlalu khawatir kalaupun nilai tukar rupiah melewati level Rp14.000 per dolar AS. Kondisi ekonomi Indonesia baik-baik saja. Jumat (4/5/2018) kurs rupiah ditutup pada level Rp13.940 per dolar AS. "Jangan terlalu dikhawatirkan jika memang tembus Rp14.000 seolah-olah kita akan alami kesulitan besar. Tidak, itu hanya psikologis aja. Karena dampaknya secara ekonomi tidak signifikan," kata Nanang Hendarsyah, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Jumat (4/5). Menurut Nanang, sampai saat ini pelemahan rupiah ada di kisaran 0,22% dalam sebulan. Tekanan yang dialami rupiah tidak seburuk yang dialami negara lain. "Mohon ini dipahami bahwa kita tetap terkendali. Karena dampaknya terhadap ekonomi, inflasi, impor, PDB, itu dilihat dari perubahannya bukan levelnya," ujar Nanang. Intervensi yang dilakukan bank sentral, ungkapnya, bukan untuk menjaga rupiah di level-level tertentu, melainkan menjaga volatilitasnya. Jika dibanding dengan negara lain, volatilitas Indonesia relatif terjaga di kisaran 5%. "Di negara lain (volatilitas kursnya) bisa 11% hingga 12%. Makanya jika dibanding dengan Turki, Meksiko, Argentina, dan lainnya, kita bergerak stabil sebenarnya," tambah Nanang. (Kompas.com, 4/5/218) Dengan menjaga nilai volatilitas, menurut Nanang, akan lebih menarik bagi investor dibanding dengan menjaga level rupiah. Sebab, nilai tukar mata uang sangat tergantung dinamika perekonomian global. Adapun volatilitas yang terkendali menunjukkan kondisi fundamental perekonomian yang stabil. Volatilitas rupiah Jumat (4/5) pada posisi 5,7%, dengan pelemahan rupiah hari itu 0,01%. Dari pernyataan Nanang yang tidak perlu mengkhawatirkan level kurs rupiah, bisa dipahami bahwa kurs rupiah saat ini belum overvalued. Artinya, sepanjang belum mengganggu sendi-sendi vital perekonomian nasional, pelemahan terbatas rupiah adakalanya justru disambut baik para eksportir yang menerima rupiah lebih besar dari hasil ekspornya dengan biaya produksi dan biaya operasional yang tetap. Juga para petani produsen komoditas ekspor seperti kopi, karet, cokelat, lada, dan sawit, bisa mendapatkan sedikit tambahan harga dari selisih kurs. Contohnya saat kurs rupiah tembus Rp15.000 per dolar AS tahun 1998, petani kopi di Lampung Barat menikmati tambahan harga kopinya. Maksudnya, di balik tekanan global terhadap rupiah, harus dicari sisi-sisi positifnya. Sebab, dalam setiap kesulitan selalu ada kemudahan.
Selanjutnya.....
Senin, 07 Mei 2018
0
Internet Maju, Industri TIK Mati!
INDONESIA mengalami paradoks yang tragis justru terkait ujung tombak peradaban zaman now, yakni di tengah majunya penetrasi internet di negeri ini, industri telekomunikasi, informasi, dan komunikasi (TIK) tidak berkembang bahkan bisa disebut mati. Contohnya PT INTI yang dulu diandalkan di bidang ini, sekarang nyaris tidak terdengar. Aswin Sasongko, Multi-Stakeholders Advisory Group Indonesia Internet Governance Forum (ID-IGF), mengatakan seiring dengan pemerintah menggenjot peningkatan penetrasi internet, industri TIK yang seharusnya ikut berkembang justru sekarat. Kenyataannya sekarang yang paling menikmati industri luar negeri, barangnya diimpor Indonesia mulai dari peralatan yang dipakai membangun jaringan sampai smartphone yang dibeli pengguna. "Kalau dulu kita punya PT INTI yang begitu besar menyuplai perangkat telekomunikasi, sekarang sudah tidak ada," ujar Aswin, yang juga peneliti LIPI. (Kompas.com, 3/5/2018) "Bayangkan sementara TIK berkembang pesat sekarang, induatri kita malah mati. Kalau PT INTI dan lainnya enggak punya produk (telekomunikasi) yang bisa dijual di sini, lalu bagaimana pekerjaan insinyur?" tambahnya. Lapangan pekerjaan untuk para ahli teknologi terkait perangkat telekomunikasi itu pun justru berkembang pesat di luar negeri. Sedangkan di Tanah Air, lapangan pekerjaan terkait malah kurang berkembang. "Inilah yang harus seimbang. Bukan tidak boleh ada impor, melainkan lihat AS impor dari Tiongkok tapi juga sebaliknya. Industri masing-masing tumbuh. Kita juga harus bangun industri lokalnya," jelas Aswin. Salah satu hal yang bisa dilakukan pemerintah dalam menyeimbangkan efek kemajuan TIK adalah dengan memperbesar dana riset. Harapannya, riset yang dilakukan di Tanah Air jadi makin andal dan berkontribusi pada pembangunan produk serta industri secara keseluruhan. "Dana riset kita 0,08% dari PDB, salah satu paling kecil di dunia. Bagaimana mau berkembang," keluhnya. Indonesia cuma menjadi pasar bagi produk teknologi mutakhir, salah satu penyebabnya karena lemahya riset, khususnya untuk pengembangan produk-produk industri teknologi. Di sisi lain, kalaupun dari perguruan tinggi ada penemuan yang relevan, kalangan industri kurang merespons untuk melanjutkan temuan itu menjadi produk. Dengan suku bunga kredit bank yang relatif tinggi, pengusaha cenderung tidak berani mengambil risiko berinovasi. Akibatnya, Indonesia justru makin mapan sebagai pasar bagi teknologi mutakhir.
Selanjutnya.....
Minggu, 06 Mei 2018
0
TinQ, Kecerdasan Buatan,Peranti Elektronik Rumah!
INTEGRASI artificial inteligence (AI) atau kecerdasan buatan ThinQ ke peranti elektronik rumah, seperti televisi, kulkas, mesin cuci, dan pendingin ruangan, menjadi inovasi produk LG, asal Korea Selatan. Dengan ThinQ itu AI rumah pintar, selain setiap peranti memiliki kelebihan secara fungsional, juga bisa diperintah jarak jauh lewat aplikasi telepon pintar dengan tulisan maupun suara. Inovasi yang telah menjadi produk itu dipamerkan pada ajang LG Innofest 2018 Asia di Seoul, pekan akhir April. Presiden Direktur LG Electronics Indonesia, Park Seung Min, di lokasi pameran menjelaskan kelebihan fitur dan teknologi produknya. (Kompas.com, 25/4) Televisi TinQ LG memakai material OLED, yang belum dibuat pabrikan lain. Keunggulan OLED lebih ringan dan lebih tipis dibanding materi LED atau LCD. Ada pabrikan Jepang yang juga akan memakai OLED, LG yang memasok panelnya. Kulkas TinQ LG menghadirkan fitur InstaView Door-in-Door. Dengan mengetuk panel layar yang terpasang di pintu kulkas, isi kulkas bisa terlihat hingga menemukannya lebih cepat tanpa membuka pintu terlalu lama. Klaim LG, teknologi InstaView bisa mengurangi 41% udara dingin yang hilang selama membuka pintu. Pada mesin cuci TinQ LG hadir fitur Twin Wash, dua mesin dalam satu peranti. Satu front loading di atas dan satu lagi selayak laci di bawah, hingga kapasitasnya lebih banyak. Klaim LG, teknologi Twin Wash bisa menghemat waktu hingga 49 menit. TinQ sebagai platform andalan LG dalam menghadirkan konsep rumah pintar (smart home) akan dipasarkan di Indonesia dengan mengedukasi masyarakat. Direktur penjualan LG Electronics Indonesia, Budi Hermawan, mengatakan sejumlah modern channel di kota-kota besar akan membuat contoh rumah pintar yang menggunakan produk TinQ LG. Di situ, pelanggan bisa melihat, mencoba, dan merasakan pengalaman menggunakan perkakas rumah pintar. Cukup banyak keunggulan TinQ di peranti elektronik rumah. Di TV OLED, ada platform Google Assistant di sepertiga layar bawah tanpa mengganggu siaran yang ditonton, untuk menanyakan apa saja, dari cuaca sampai tentang artis yang sedang tayang. Di kulkas, TinQ memakai asisten virtual Alexa yang dikembangkan Amazon, bisa diperintah jarak jauh lewat telepon pintar untuk mengatur suhu, mengaktifkan pendingin cepat untuk membuat es batu, atau menghidupkan fitur hygiene fresh untuk menghilangkan bau. Banyak hal lagi yang bisa dilakukan TinQ, si cerdas buatan.
Selanjutnya.....
Sabtu, 05 Mei 2018
0
Gaya Hidup Menahan Konsumsi!
GAYA hidup masyarakat kelas menengah atas yang cenderung menahan belanja untuk konsumsi dengan mengalihkan uangnya ke tabungan bank, seperti gejala yang diungkap Badan Pusat Statistik (BPS) tahun lalu, ternyata berlanjut bahkan menguat. Itu tercatat pada data Center of Reform Economics (CORE) Indonesia yang dikaji pekan lalu. "Proporsi pendapatan yang dibelanjakan masih cenderung turun. Sebaliknya, proporsi untuk tabungan meningkat," ujar Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal. Selama kuartal I 2018, proporsi pendapatan yang ditabung mencapai 26,1%. Angka ini lebih tinggi pada periode yang sama tahun lalu yang tercatat 19%. Proporsi pendapatan yang dibelanjakan 64,1% pada kuartal I 2018, lebih rendah dari periode sama 2017 sebesar 65,2%. (Kompas.com, 24/4) Indikator masyarakat menengah ke atas menahan belanja itu juga terlihat pada penjualan kendaraan roda empat, melambat dari pertumbuhan 6,15% pada kuartal I 2017, menjadi 2,88% pada kuartal I 2018. Gejala serupa terlihat pada ritel. "Pertumbuhan penjualan ritel selama Januari hingga Februari 2018 malah terkontraksi minus 0,38%, pada periode sama tahun lalu masih tumbuh 5,05%," jelas Faisal. Agak berbeda dengan indikator yang lebih terkait masyarakat menengah ke bawah, seperti penjualan sepeda motor. Pada kuartal I 2018 tumbuh 3,99%, dibanding minus 6,84% periode sama tahun lalu. Hal itu tidak terlepas dari usaha pemerintah menaikkan daya beli masyarakat menengah ke bawah sejak tahun lalu dengan memperbesar dan mempercepat realisasi berbagai bantuan sosial, baik program keluarga harapan maupun program lain yang memberi stimulus daya beli masyarakat bawah. Seperti padat karya tunai dipacu dalam membangun infrastruktur desa. Perombakan direksi Pertamina antara lain akibat tidak mampu mendistribusikan BBM bersubsidi merata, pantas dicatat, karena langkanya BBM subsidi menggerus pendapatan masyarakat bawah yang dipaksa membeli BBM nonsubsidi lebih mahal. Tarif listrik 450 VA dan 900 VA terseleksi untuk warga kurang mampu agar ditahan tidak naik. Pemaksaan penggantian meteran dengan token listrik supaya dihentikan karena terbukti lebih memberatkan rakyat hingga memperlemah daya belinya. Peningkatan terus daya beli masyarakat menengah bawah penting sebagai kompensasi perubahan gaya hidup masyarakat menengah atas yang menahan belanja dan mengalihkan ke tabungan, agar tingkat belanja konsumsi masyarakat secara keseluruhan bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional.
Selanjutnya.....
Jumat, 04 Mei 2018
0
SARA Masih Menjadi Komoditas!
KETUA Umum Partai Nasdem Surya Paloh melihat bahwa isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) masih menjadi komoditas andalan untuk meraup dukungan menjelang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2019. Kelompok-kelompok tertentu menggelindingkan isu sensitif tersebut untuk menyerang lawan politik. "Konsumsi yang menjadi andalan adalah isu SARA. Itu yang menjadi andalan. Itu artinya pemahaman masyarakat kita yang masih amat mudah terprovokasi," ujar Surya saat peringatan Hari Pendidikan Nasional sekaligus syukuran HUT ke -1 Akademi Bela Negara (ABN) di Jakarta. (Kompas.com, 2/5) Kondisi ini tak bisa berlarut. Paloh mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk tetap solid dan menonjolkan kebersamaan ketimbang perbedaan. "Seharusnya kita mampu membangun pemahaman masyarakat. Perbedaan bisa diwujudkan untuk coba merangkul, merangkum, dari perbedaan menuju kebersamaan," kata Surya. Menurut dia, Indonesia akan berhadapan dengan banyak persoalan jika masyarakat terus menonjolkan perbedaan. "Tidak ada artinya model demokrasi, kalau kita hanya berhenti untuk perbedaan di atas perbedaan. Kalau itu yang menjadi pemahaman, cepat atau lambat kita akan mendapatkan hasil yang mudaratnya lebih banyak dari manfaatnya," kata Surya. Surya Paloh bahkan menyinggung maraknya perang hastag yang belakangan disablon di kaus. "Hari ini sudah bergeser terlalu jauh, kita mudah terprovokasi. Hastag kaus ganti presiden diganti lagi dengan hastag lain. Ini tidak bisa kita artikan dialektika semata. Semakin terbuang banyak energi kita untuk hal-hal seperti ini," tuturnya. Diputarnya kembali isu SARA dalam retorika politik bahkan dengan intonasi dan antagonitas yang tinggi, bisa jadi sebagai cerminan pihak tertentu kehabisan akal. Terutama setelah melihat tren hasil survei periode terakhir, dengan salah satu simpulnya survei Harian Kompas yang dirilis 23 April 2018, hasilnya memastikan elektabilitas Jokowi 55,9%, didukung dengan tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi-JK mencapai 72,2%. Dengan hasil survei yang sedemikian mantap posisi Jokowi, jelas amat susah mencari celah untuk menyalipnya, apalagi membalikkan posisinya. Untuk mengubah kondisi tersebut jelas diperlukan upaya yang luar biasa, dan mungkin, isu SARA yang diandalkan. Selain itu tentu, dilengkapi berbagai variasi "permainan keras". Kemungkinan usaha itu bisa menurunkan elektabilitas dan kepuasan terhadap Jokowi tak tertutup. Cuma, seberapa besar? ***
Selanjutnya.....
Kamis, 03 Mei 2018
0
Strategi Tingkatkan Produksi Kopi!
MENKO Perekonomian Darmin Nasution Kamis (26/4/2018) di kantornya meluncurkan buku berjudul Arah Kebijakan Kopi Indonesia Menghadapi Tantangan Kompetisi, Perubahan Iklim, dan Kondisi Kopi Dunia. Menurut Darmin, dengan tanaman kopi seluas 1,2 juta hektare dan produk 500 kg/hektare, Indonesia di posisi keempat penghasil kopi terbesar dunia, setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Vietnam dengan tenaman kopi 630 ribu hektare berhasil menyalip Indonesia, karena produktivitas kopinya 2,7 ton/hektare. Darmin menjelaskan produksi kopi di dunia nilainya mencapai 24 miliar dolar AS per tahun, dengan harga kopi pada tingkat komsumsi mencapai 240 miliar dolar AS. Namun hanya 10% atau hanya yang 24 miliar dolar itu yang dinikmati negara penghasil seperti Brasil, Vietnam, Kolombia, dan Indonesia, karena ekspornya biji kopi, nilai tambah prosesnya tidak dinikmati. (Kompas.com. 27/4) Konsultan Kemenko Perekonomian Lin Che Wei menjelaskan strategi kebijakan pemerintah. "Pertama kali kan ada jangka pendek, menengah, dan panjang. Yang paling mudah itu memangkas pohon kopi yang bisa dilakukan dua tahun dari sekarang," ujar Wei. Strategi berikutnya mengembangkan keahlian petani kopi agar bisa berdampak lebih baik terhadap hasil panen. Strategi lainnya memperkenalkan industri kopi ke sektor pendidikan. Kalau serius 2 sampai 5 tahun produktivitasnya bisa meningkat dua kali lipat. Strategi pemerintah itu indah. Tapi untuk di Lampung, tunggu dulu. Petani kopi Lampung tidak akan mengizinkan pohon kopinya dipangkas hingga jeda panen dua tahun. Motivator pusat harus konsultasi dengan Pemprov dan Nestle yang telah bekerja sama membina petani kopi. Nestle sejak 2015 membina petani kopi di Tanggamus dan Lampung Barat, lewat kelompok usaha bersama (KUB), setiap KUB beranggota 2.000 hingga 3.000 petani. Di Tanggamus setidaknya ada 9 KUB, seperti KUB Desa Airnaningan beranggotakan 2.100 petani terbagi dalam 81 kelompok tani dengan luas lahan 2.784,4 hektare. Produksi kopi petani di bawah binaan Nestle kini sudah ada yang mencapai lebih satu ton per hektare, dengan rata-rata per hektar sekitar 750 kg. Itu terlihat pada 2016 dari luas lahan kopi di Lampung 160 ribu hektare (12,97% dari nasional), produksinya 135 ribu ton buat 147 ribu keluarga. (Antara, 5/5/2017) Dengan pembinaan, tahun-tahun berikutnya diharapkan lebih baik. Kelebihan Vietnam, lahan kopinya diterasering agar lewat rekayasa bisa mendapat cukup air sepanjang tahun. ***
Selanjutnya.....
Rabu, 02 Mei 2018
0
Kuartal I 2018, Impor Lebihi Ekspor!
BANK Indonesia (BI) mencatat ekonomi pada kuartal I 2018 bergerak dengan kecepatan lebih baik dari kuartal I 2017 dengan investasi dan konsumsi yang meningkat, meski diwarnai pertumbuhan impor yang lebih besar dari pertumbuhan ekspor. Hal itu berdampak pada meningkatnya defisit transaksi berjalan (current account deficit). Meski demikian, defisit tersebut masih dalam tataran rendah dan di bawah batas 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). "Current account deficit yang meskipun meningkat, dalam batas yang sehat," ujar Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo. (Kompas.com, 19/4/2018) Bank Sentral sendiri, tambah Dody, memproyeksikan defisit transaksi berjalan akan berada pada 2%—2,5% terhadap PDB pada tahun 2018 ini. Defisit tersebut masih pada batas yang aman. Membengkaknya pertumbuhan impor melampaui ekspor, terjadi antara lain akibat pesatnya peningkatan industri perakitan untuk pasar domestik (terutama otomotif dan elektronik) sehingga komponen completely knocked down (CKD) yang dibutuhkan juga meningkat. Kemudian impor barang-barang bawaan investasi yang nilainya relatif besar. Di sisi lain, defisit transaksi berjalan yang laten itu juga mencerminkan program pengadaan dan penggunaan komponen lokal dalam industri perakitan berjalan lamban. Juga lemahnya usaha peningkatan nilai tambah ekspor dengan produk-produk turunan dari komoditas unggulan, seperti sawit, kopi, cokelat, dan karet. Sedangkan ekspor bijih besi, tembaga dan mineral hasil tambang mentah lainnya yang sejak Januari 2014 dihentikan, karena harus dilebur dahulu agar menaikkan nilai tambahnya, hingga sekarang pabrik peleburannya (smelter) belum jadi. Bahkan, milik perusahaan raksasa sebesar Freeport sekalipun. Sedang Newmont, alih-alih membangun smelter, justru melikuidasi perusahaannya di NTB. Semua itu menyebabkan, ketika laju impor pesat, ekspor kewalahan mengimbanginya sehingga menimbulkan defisit transaksi berjalan. Namun, ditinjau dari gerak perekonomian, laju peningkatan impor tersebut amat positif, apalagi kalau mengikuti peningkatan investasi dan konsumsi seperti dikemukakan Dody. Impor, dalam hal ini harus dilihat sebagai input yang menggerakkan industri dalam negeri dan perekonomian nasional. Dengan demikian, makin besar impornya, akan makin besar pula skala ekonominya. Ketergantungan pada input impor itu model industri terpasang. Untuk melengkapinya, harus dibangun model industri berinput material lokal.
Selanjutnya.....