Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Kiat Pengusaha Menekan Inflasi!

INFLASI Juli 2018 menurut data BPS sebesar 0,28%, inflasi tahun kalender (Januari—Juli) 2018 sebesar 2,18%, dan inflasi tahun ke tahun (Juli 2018 terhadap Juli 2017) sebesar 3,18%. Inflasi rendah ini tercapai berkat kiat para pengusaha menekan harga jual produknya meski biaya produksi naik akibat lonjakan kurs dolar AS. Inflasi tahun ini yang amat rendah itu, terutama jika dibanding dengan inflasi tahun 2014 sebesar 8,36% (yoy). Kiat pengusaha produsen dengan menekan harga jual produknya itu tertangkap oleh survei khusus sektor riil Bank Indonesia (BI) terhadap 147 perusahaan dengan aktivitas ekspor/impor dan atau utang luar negeri. Ditemukan, pelemahan nilai tukar rupiah berdampak langsung pada kenaikan biaya produksi. Tetapi, pelaku usaha memilih mempertahankan harga jual, tentu dengan konsekuensi penurunan margin. "Upaya pelaku usaha untuk mempertahankan harga jual di tengah pelemahan rupiah adalah dengan mengurangi margin usaha dan efisiensi biaya lain," jelas BI dikutip Kompas.com dari laman bi.go.id (27/8/2018). Dalam Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II 2018, BI mencatat pelemahan nilai tukar rupiah berdampak terhadap inflasi di tingkat pedagang besar. Hal itu dicerminkan kenaikan Indeks Harga Pedagang Besar (IHPB) yang pada Juni 2018 tercatat sebesar 6,59%, atau meningkat dari September 2017 sebesar 2,09% (yoy). Sedangkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juni 2018 sebesar 3,12%, turun dibanding posisi September 2017 pada 3,72%. Artinya, meski ada inflasi di tingkat produsen atau pedagang besar yang terlihat pada IPHB, dampak terusannya tidak dirasakan di tingkat konsumen. Dalam hal ini BI memandang inflasi IPHB tidak diikuti dengan tekanan inflasi IHK atau dampaknya di tataran konsumen masih bersifat terbatas. "Perkembangan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, seperti struktur pasar yang lebih kompetitif, kebijakan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi, dan strategi penentuan harga oleh pelaku usaha yang lebih memilih untuk mengurangi margin keuntungan daripada menaikkan harga," tulis BI. Pengorbanan para pengusaha agar ekonomi stabil ini layak diapresiasi. Termasuk oleh buruh, karena ekonomi stabil pemenuhan hak-hak buruh oleh pengusaha terjamin. Dengan suasana kerja yang kondusif, buruh terjamin mendapat kenaikan upah minimum tahunan, sebesar pertumbuhan ekonomi tambah inflasi. Dukungan buruh mendukung kemampuan perusahaan untuk bertahan di tengah badai krisis global. Selanjutnya.....

AS Tunda Denda ke Indonesia!

AMERIKA Serikat (AS) menunda denda terhadap Indonesia sebesar 350 juta dolar AS atau Rp5 triliun. Sanksi itu diajukan AS ke organisasi perdagangan dunia (WTO) karena Indonesia dinilai tidak mengindahkan putusan WTO yang memenangkan AS dan Selandia Baru terhadap pembatasan impor produk daging dan hortikultura, 2017. Dalam rapat panel WTO 22 November 2017, Indonesia diharuskan mengubah ketentuan impor produk hortikultura dan produk hewan. Sebenarnya Indonesia telah merevisi regulasi dan menerbitkan Permendag Nomor 64 Tahun 2018 dan Permentan Nomor 24 Tahun 2018 tentang Ketentuan dan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura. Juga Permendag Nomor 65 Tahun 2018 dan Permentan Nomor 23 Tahun 2018 tentang Ketentuan Ekspor dan Impor Hewan dan Produk Hewan. Sesuai dengan putusan WTO, revisi paling lambat dilakukan 8 bulan atau 22 Juli 2018. Namun, meski Indonesia telah memenuhi putusan WTO itu, AS tetap mengajukan denda ke WTO. Karena itu, 15 Agustus 2018 lalu delegasi Indonesia dipimpin Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Oke Nurman, bertemu delegasi AS di Jenewa, Swiss. Usai pertemuan itu AS mengirim surat ke WTO untuk menunda denda terhadap Indonesia. Terkesan gugatan AS ke WTO akibat miskomunikasi, didorong gairah unjuk kekuatan penguasa negerinya. Padahal, impor Indonesia untuk produk hortikultura AS seperti kedelai, lebih satu juta ton setiap tahunnya. "Dengan komunikasi yang kami buat, kemudian AS telah mengirim surat ke WTO untuk ditunda dulu," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Jumat. (Kompas.com, 24/8/2018) Setelah penundaan ini, lanjut Enggar, Pemerintah Indonesia akan kembali melakukan pembicaraan dengan AS setelah adanya pertemuan kedua negara tersebut. Upaya Pemerintah Indonesia mengadakan dialog langsung dengan Pemerintah AS ini diharapkan bisa mengurangi secara signifikan ekses negatif perang dagang terhadap ekonomi nasional. Sebab di sisi lain, perang dagang AS-Tiongkok makin seru. Justru setelah pertemuan kedua pihak di Washington awal pekan lalu, Kamis (23/8/2018) AS menerapkan gelombang kedua tarif impor terhadap produk-produk dari Tiongkok dengan total nilai 16 miliar dolar AS. Ini direspons Tiongkok lewat Menkeu Liu Kun dengan menegaskan mereka akan terus melawan apabila AS menerapkan lebih banyak tarif impor. Dengan hubungan Pemerintah Indonesia yang baik dengan Pemerintah AS maupun Tiongkok, tinggal dampak tidak langsung perang dagang antara keduanya yang harus diantisipasi. *** Selanjutnya.....

Komprehensif Merehab Lombok!

INSTRUKSI Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2018 mengerahkan 19 menteri dan sejumlah lembaga negara, seperti TNI, Polri, BNPB, Basarnas, dan para kepala daerah setempat untuk melakukan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana gempa Lombok, NTB, serta untuk pemulihan kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Dikerahkannya kekuatan Pemerintah Pusat nyaris di semua bidang kehidupan menunjukkan upaya Pemerintah Pusat komprehensif untuk pemulihan segala dimensi kehidupan masyarakat terdampak bencana. Secara jelas Inpres menyebut sembilan cara rehabilitasi yang harus dilaksanakan, yakni (1) Perbaikan lingkungan bencana. (2) Perbaikan sarana dan prasarana umum. (3) Pemberian bantuan perbaikan rumah masyarakat. (4) Pemulihan sosial psikologis. (5) Pelayanan kesehatan. (6) Pemulihan sosial, ekonomi, dan budaya. (7) Pemulihan keamanan dan ketertiban. (8) Pemulihan fungsi pemerintahan. Dan, (9) Pemulihan fungsi pelayanan publik. Sementara rekonstruksi terdiri dari delapan aksi, yakni (1) Pembangunan kembali sarana dan prasarana. (2) Pembangunan kembali sarana sosial masyarakat. (3) Pembangkitan kembali kehidupan sosial budaya masyarakat. (4) Penerapan rancang bangun yang tepat dan penggunaan peralatan yang lebih baik dan tahan bencana. (5) Partisipasi dan peran serta lembaga dan organisasi kemasyarakatan, dunia usaha dan masyarakat. (6) Peningkatan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya. (7) Peningkatan fungsi pelayanan publik. Dan, (8) Peningkatan pelayanan utama dalam masyarakat. "Rehabilitasi dan rekonstruksi sarana berupa fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, fasilitas agama dan fasilitas penunjang perekonomian agar aktivitas bisa berfungsi kembali diselesaikan paling lambat pada akhir Desember 2018 dan sarana lain paling lambat Desember 2019," tulis Inpres itu. (Kompas.com, 25/8) Inpres bertanggal 23 Agustus 2018 memberi instruksi khusus ke para menteri koordinator (menko) untuk sesuai bidang tanggung jawabnya memfasilitasi pengoordinasian kementerian/lembaga dalam percepatan pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana gempa bumi. Presiden menegaskan selama masa rehabilitasi dan rekonstruksi berlangsung pemerimtah daerah provinsi dan kabupaten/kota tetap melaksanakan pelayanan kebutuhan masyarakat, berkoordinasi dengan BNPB. Dengan komprehensifnya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, diharapkan kehidupan masyarakat segera pulih dengan rumah dan bangunan tahan gempa. Selanjutnya.....

Mahathir pun Belajar ke Tiongkok!

PM Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan negerinya harus belajar banyak dari Tiongkok, terutama bagaimana Tiongkok mampu menyediakan makanan, teknologi, dan lapangan kerja bagi 1,4 miliar orang warganya. Mahathir, yang menyatakan itu setelah lima hari kunjungan kerjanya ke Tiongkok pekan lalu, menambahkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan warganya, Tiongkok juga masih memproduksi beras yang cukup untuk keperluan ekspor. "Malaysia, dengan penduduk 30 juta orang, hanya mampu menghasilkan beras untuk 70% warganya meski pemerintah sudah memberikan subsidi pupuk," ujar Mahathir. (Kompas.com, 22/8) Salah satu tempat yang dikunjungi Mahathir di Negeri Tirai Bambu adalah Akademi Ilmu Pertanian Tiongkok dan Taman Inovasi Teknologi dan Ilmu Pertanian Nasional. Ia juga mengunjungi markas besar Alibaba Group di Hangzhou dan bertemu sang pendiri, Jack Ma. Sebagai hasil kunjungannya itu, Mahathir melanjutkan Malaysia juga harus belajar dari Tiongkok cara memasarkan produknya lewat dunia maya, tidak hanya ke pasar domestik tetapi juga dunia. "Warga desa bisa memasok kebutuhan seluruh negeri, bahkan dunia, dengan menjual produk secara online. Kita tidak mungkin hidup dalam kemiskinan," tambah Mahathir. Berikutnya, Mahathir menegaskan Malaysia juga bisa belajar dari Tiongkok tentang bagaimana cara negeri itu menyediakan lapangan kerja bagi 15 juta sarjananya setiap tahun. "Angka pengangguran begitu tinggi di Malaysia karena kita tidak bisa memberikan cukup lapangan kerja, tetapi memang sejumlah orang tidak mau bekerja," tukas Mahathir. Kesan berbeda dikemukakan Mahathir dari pengalamannya naik kereta api supercepat dari Hangzhou ke Beijing. Menurut dia, Malaysia belum membutuhkan jaringan kereta api supercepat. "Kereta api ini bergerak di kecepatan 300 kilometer per jam. Anda tidak butuh kereta dengan kecepatan ini dari Kuala Lumpur ke Singapura," ujarnya. Saat yang sama, Mahathir mengkritik Najib Razak yang mengucurkan dana 72 miliar ringgit (Rp256,4 triliun) hanya untuk mengurangi beberapa menit masa perjalanan. Pekan sebelumnya, Mahathir, dikutip Channel News Asia pada Jumat (17/8), mengatakan tantangan yang dihadapinya, kerusakan yang ditimbulkan pemerintahan sebelumnya. Jumlah utang yang dibuat pemerintahan terdahulu mencapai triliunan ringgit. "Membayar bunganya saja sudah membuat kami bangkrut. Apalagi jika harus mengembalikan utang utama," kata Mahathir menyebut beratnya beban utang warisan rezim terdahulu. Selanjutnya.....

Bumi Jadi Lebih Panas, Rekayasa Iklim Berisiko!

FENOMENA peningkatan suhu permukaan bumi yang intens dan ekstrem saat ini akan terjadi selama empat tahun ke depan. Florian Sevellec dan tim peneliti dari National Center of Scientific Research (Inggris) melaporkan hasil penelitian metode PROCAST (PRObabilistic foreCAST), dipetik Independent UK, Rabu (15/8). Selama empat tahun ke depan—atau bahkan lebih—kita akan melihat fenomena suhu tinggi yang tidak wajar. Menurut Sevellec, fenomena itu bukan lagi perubahan iklim antropogenik atau efek rumah kaca yang sering diisukan sebagai penyebab utama pemanasan global. Melalui metode penelitian itu terlihat bentuk-bentuk baru penyebab perubahan iklim muncul lebih banyak yang bukan disebabkan oleh perilaku manusia. Prediksi Sevellec, suhu udara mungkin akan sangat tinggi pada 2018—2022. Hal itu diikuti meningkatnya suhu permukaan laut. Ia berharap fenomena tersebut perlu mendapat perhatian khusus karena tingginya panas—pada kondisi tertentu—bisa menyebabkan badai tropis. Turut meningkatnya suhu permukaan laut itu juga menunjukkan gejala hiatus yang terjadi sepanjang 1998 hingga 2013 telah berakhir. Hiatus adalah sebuah gejala perubahan suhu permukaan global melambat karena laut menyerap panas yang berlebih kemudian mendistribusikan energi ke dalam bumi. (Kompas.com, 15/8) Untuk mengatasi pemanasan global yang terus meningkat, tahun lalu muncul gagasan rekayasa iklim atau geoengineering. Beberapa ilmuwan percaya menembakkan aerosol sulfat ke angkasa akan membantu mendinginkan bumi. Ide ini datang dari erupsi gunung berapi, ketika terjadi letusan, aerosol yang terbentuk saat erupsi terlempar ke atmosfer menciptakan lapisan efektif yang menghalangi sinar matahari. Bumi pun menjadi dingin karena sinar matahari terhalang. Namun, peneliti University of Exeter yang menyimulasikan injeksi aerosol menemukan dampak buruknya, memengaruhi iklim antara tahun 2020—2070. Peneliti juga menemukan adanya konsekuensi negatif, antara lain kekeringan dan angin topan. Penyemprotan di belahan bumi utara akan menimbulkan kekeringan di sub-Sahara dan India. "Baik untuk sebagian daerah, tetapi akan buruk untuk bagian lain di bumi," kata Anthony Jones, peneliti tersebut, dikutip Kompas.com dari Verge (14/11/2017). Usaha mengurangi pemanasan global lewat membatasi buangan CO2, saat ini terhambat oleh sikap Trump menarik AS dari kesepakatan Paris. Bumi pun jadi bertambah panas. *** Selanjutnya.....

Kakbah Poros Bumi dan Waktu!

KAKBAH sebagai pusat bumi sekaligus poros waktu dalam almanak Hijriah, sudah dibahas mendalam di buku Kakbah Poros Dunia yang diterjemahkan Iwan Nurdaya Djafar dari buku Saad Muhammad Al-Marsafy berdasar hasil penelitian Prof Dr Husain Kamaluddin yang dipublikasikan The Egyptian Scholar of The Sun and Space Research Center, Kairo, Mesir. Teori Husain Kamaluddin didasarkan pada pendekatan matematika dan kaidah yang disebut spherical triangle. Hasilnya, Mekah berada tepat di pusat daratan bumi. Ia gambar peta dengan proyeksi komputer arah kiblat, hasilnya Mekah merupakan pusat dari suatu lingkaran yang melintasi semua benua. Hasil penelitian yang dirilis pada 1997 ini sekaligus membantah bahwa Greenwich adalah poros bumi, yang selama ini menjadi titik nol bujur timur dan bujur barat lingkaran bumi, yang titik 180 derajat kedua bujur bertemu di Pasifik dan dijadikan batas hari. Posisi Greenwich sebagai poros bumi tidak didasarkan pada bukti ilmiah, tapi hanya berdasar kesepakatan konferensi garis bujur di Washington DC1884. Berdasar peta proyeksi yang dibuat Husain Kamaluddin dengan Kakbah sebagai poros waktu sehingga hari dimulai dari waktu Arab, waktu Jakarta yang selama ini lebih cepat empat jam dari waktu Arab (berdasar almanak Masehi), maka posisi Jakarta dengan almanak Hijriah ini menjadi 19 jam 36 menit di belakang Kota Mekah (waktu Arab). Hasil penelitian Husain tersebut terbukti sesuai dengan hasil peneropongan hilal dari seluruh wilayah Indonesia hingga Pakistan yang berulang setiap menjelang Idulfitri maupun Iduladha tidak bisa melihat hilal, padahal pada hari yang sama hilal bisa dilihat di Arab. Artinya, waktu Arab sebagai awal hari pada almanak Hijriah, sehingga de facto wilayah Indonesia hingga Pakistan berlebaran sehari kemudian. Meskipun demikian, tidak mudah menerapkan waktu Hijriah yang telah ditemukan sejak 1997 dan selalu dibuktikan serta diikuti oleh sidang isbat Kementerian Agama dengan menetapkan Hari Raya sehari di belakang Arab Saudi. Karena, soal waktu ini sensitif justru di kalangan umat muslim sendiri yang mindset-nya sudah terpola almanak Masehi, yang menempatkan Indonesia empat jam lebih cepat dari Arab. Setiap kali sidang isbat yang diikuti para ulama pimpinan ormas Islam nasional itu memutuskan Lebaran (Idulfitri dan Iduladha) sehari di belakang Arab Saudi, semestinya menjadi sosialisasi almanak Hijriah dengan bukti fakta nyata hasil peneropongan di seluruh Tanah Air. Selanjutnya.....

Soal Beda Iduladha Indonesia-Arab!

KAKANWIL Kementerian Agama Lampung Suhaili menyatakan perbedaan waktu Iduladha antara Indonesia dan Arab Saudi karena wilayah kedua negara berbeda tempat. Sebab itu, saat penetapan akhir Zulkaidah dan awal Zulhijah berbeda. Di Arab Saudi lebih mungkin melihat hilal karena Arab Saudi di sebelah barat Indonesia, ujar Suhaili. (Lampung Post, 21/8) Faktanya, untuk sidang isbat menetapkan awal Zulhijah 1439 di Kementerian Agama Sabtu, 11 Agustus 2018, semua peneropong di seantero negeri tidak melihat hilal. Karena itu, Iduladha ditetapkan Rabu, 22 Agustus 2018. Sedang di Arab Saudi pada hari yang sama hilal terlihat, Mahkamah Syarah menetapkan Iduladha Selasa, 21 Agustus 2018. Bukan hanya di Indonesia hilal tidak terlihat hari itu. Hal sama terjadi di Jepang, Malaysia, Bangladesh, Srilanka, sampai Pakistan. Masalahnya kenapa Indonesia (WIB) yang empat jam lebih cepat dari Waktu Arab tidak bisa melihat hilal, tapi pada hari yang sama (empat jam kemudian) Arab bisa melihat hilal? Itu karena mindset kita mengenai hari dan waktu terlembaga pada almanak Masehi, yang batas peralihan harinya ada di pertemuan 180 derajat bujur timur dan 180 derajat bujur barat (di Pasifik), dengan poros nol derajat kedua bujur bertemu di Greenwich. Almanak Masehi berdasar matahari, tentu berbeda dengan almanak Hijriah yang berdasar bulan. Fakta hilal tidak terlihat di Indonesia hingga Pakistan, tapi terlihat di Arab, selalu berulang juga di Idulfitri, bisa menjadi bahan pemikiran bahwa peralihan hari dalam almanak Hijriah terjadi pada waktu Arab, dengan poros bumi dan waktunya Kakbah. Dengan begitu, pada magrib 1 Zulhijah 1439 H waktu Arab adalah sama dengan magrib 30 Zulkaidah di batas waktu dengan Pakistan (mirip 1 Januari 2018 di 180 derajat BT adalah 31 Januari 2017 di 180 derajat BB). Dengan itu, WIB dalam almanak Hijriah bukan lebih cepat empat jam dari waktu Arab, melainkan justru 20 jam di belakang waktu Arab. Faktanya, berdasar hilal Indonesia ber-Iduladha sehari setelah Arab: seperti AS bertahun baru 16 jam setelah Australia. Kakbah sebagai pusat atau poros bumi dan waktu almanak Hijirah (bukan Greenwich), sesuai hasil penelitian Prof Dr Husain Kamaluddin yang dipublikasikan The Egyptian Scholars of The Sun and Space Research Center, Kairo. Isinya dibahas dalam buku yang ditulis Saad Muhammad Al Marsafy. Buku ini diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Iwan Nurdaya Djafar (2011). Ini akan ditulis di Buras besok. Selanjutnya.....