Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Sumpah Pemuda Defisit Karakter (4)

"Realitas defisit jiwa revolusioner sebagai karakter patriot warisan Sumpah Pemuda telah membuat bangsa kita semakin jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lain dalam persaingan global, juga ke depan jika tidak segera diatasi!" tegas Temon.

"Hal itu tak terlepas dengan orientasi masyarakat global dalam pencapaian prestasi achievement--menurut kamus online, berarti: a great or heroic deed; something accomplished by valor--tindakan yang hebat atau heroik, suatu yang dicapai dengan keberanian! Maka itu, kalau dalam persaingan global yang digerakkan oleh achievement seperti itu kita mau ngapain saja serbaragu, takut risikonya, jelas kian terpuruk dalam persaingan global!"

"Untuk mengatasi defisit karakter itu, tampak potensi yang tersisa untuk memarakkan
kembali!" saran Temin. "Khususnya, potensi yang masih membara dalam perjuangan mahasiswa, memerlukan reinterpretasi justru dari kalangan berkuasa, untuk tak lagi menghadapinya dengan kekerasan hingga seperti kekuasaan penjajah menghabisi pejuang republik! Sebaiknya, simak seksama substansi perjuangan mereka, misalnya kritik pada penyelewengan! Jadi, penyelewengan itu yang harus ditindak, bukan mahasiswa pemrotes penyelewengan yang malah digebuki!"

"Tepatnya, kebenaran dalam menerapkan hukum akan menjadi promotor memarakkan kembali karakter perjuangan Sumpah Pemuda, sekaligus menghindarkan patriotisme kaum muda menjadi anarki karena digelorakan dengan kekerasan oleh penguasa!" tegas Temon.
"Kuncinya, pihak berkuasa menjalankan hukum dengan benar!" Bukan malah melindungi penyeleweng dan pelanggar hukum dengan segala rekayasa, lantas menindas perjuangan moral kaum muda!"

"Jiwa revolusioner yang mengaktualkan karakter berani mengambil risiko dan pantang menyerah itu lazim disebut dengan patriot, tak bisa ditawar-tawar lagi kebutuhannya bagi generasi pembaru dalam menghadapi persaingan era globalisasi!" tegas Temon.

"Jadi, kalau sikap patriot yang revolusioner masa itu dibutuhkan untuk memerangi dan mengusir bangsa asing yang menjajah, sekarang dibutuhkan untuk bersaing sehat--seperti dalam dunia olahraga, agar bangsanya tak terus terbelakang dan menjadi budak asing dalam versi kekinian!"

"Hal itu membuat sikap patriot kekinian juga tak lepas dari sifat revolusioner, sesuai makna revolusioner itu sendiri--gandrung perubahan cepat!" timpal Temin. Generasi pembaru harus bisa memacu perubahan, untuk bisa mengejar ketertinggalan bangsanya dari bangsa-bangsa lain! Untuk mempercepat perubahan itu diperlukan sikap patriot, berani mengambil risiko dan pantang menyerah! Kalau tak berani mengambil risiko, kena gerimis saja masuk angin lantas menyerah, jangan harap mampu menggerakkan perubahan!"
Selanjutnya.....

Sumpah Pemuda Defisit Karakter! (3)


"SEBAGAI bangsa yang lebih 30 tahun menjalani brain washing--cuci otak--dengan sistem yang menjustifikasi apa pun yang datang dari penguasa sebagai yang terbaik, dengan karakter ideal jadi Pak Turut atau Kang Panut, bisa merasa aneh sendiri jika suatu saat watak asilinya--yang revolusioner--muncul, seperti terjadi saat euforia reformasi!" tegas Temon. "Itu karakter yang dari generasi ke generasi dipendam dengan diinjak oleh penguasa feodal domestik, digilas mesin kekuasaan penjajah asing, lalu dikadali penguasa otoriter atas nama kemerdekaan!"

"Memang orang bisa terkejut sendiri ketika tiba-tiba karakter asli yang berfitrah egaliter, semua makhluk sama di depan Tuhan yang membedakan cuma amal perbuatannya, merasa tersinggung ketika diri atau kaumnya diremehkan (beramai-ramai menyerbu kantor aparat pelakunya), atau marah ketika milik mereka diambil tanpa izin--malingnya dibakar hidup-hidup!" sambut Temin. "Karakter asli yang bangkit dari segala bentuk pengerdilan nan membuatnya minderwardigheits complex--rendah diri! Jelas, jiwa revolusioner seperti pendorong Sumpah Pemuda merupakan satu-satunya alternatif yang mampu menggugah dan membangkitkan karakter asli sebagai insan merdeka yang egaliter--menyingkirkan segala bentuk pertuanan yang memperbudaknya!"

"Adakah dengan karakter asli manusia merdeka yang egaliter itu sistem sosial bisa terkendali, tak hilang keseimbangan?" potong Temon.
"Justru seperti sistem alam semesta jika gravitasi semua planetnya terjaga pada kapasitasnya, jagat raya akan selalu terjaga dalam keseimbangan! Tanpa kecuali, jumlah planet di semesta lebih banyak dari pasir di muka bumi! Demikian pula manusia sebagai planet-planet dalam semesta sosial!"

"Masalahnya, sekalipun di negeri koboi dengan karakter sangat keras, jika sistem hukum mampu menjaga setiap hak warga dari gangguan siapa pun, setiap anomali atau penyimpangan perilaku ditindak, sistem sosial dalam masyarakat revolusioner juga akan bisa selalu terkendali!" tegas Temin. "Sikap revolusioner itu diperlukan agar manusia tidak pasrah secara fatal pada nasib malangnya, sehingga akan selalu aktif dan agresif berusaha memenuhi kebutuhannya, bahkan pursuit the happiness--memburu kebahagiaan--sebagai hak setiap warga negara! Hukum yang selalu menjaga, lewat sistem yang efektif, agar segala usaha itu tak merugikan orang lain!"

"Tanpa disadari, itulah masyarakat liberal, yang bentuk mutakhirnya (neolib) melalui ratifikasi berbagai perjanjian internasional secara formal sistemnya telah diadopsi oleh negara, baik lewat ekonomi maupun politik!" timpal Temon. "Maka itu, jika karakter revolusioner sebagai prasyarat berpartisipasi dalam sistem itu tidak diamalkan, kita seperti kambing ditempatkan sekandang dengan singa--cuma jadi mangsa belaka!"
Selanjutnya.....

Sumpah Pemuda Defisit Karakter! (2)


"API karakter dimaksud jelas jiwa revolusioner!" tegas Temin. "Betapa tinggi jiwa revolusioner Bung Karno dan kawan-kawan berani melaksanakan Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, bisa dilihat dari prolognya! Tahun 1926, ratusan atau ada yang menyebut ribuan pejuang dibunuh dan ditangkap oleh penjajah Belanda akibat pemberontakan PKI! Setahun kemudian PKI dinyatakan sebagai partai terlarang! Dalam situasi yang mencekam dengan ancaman kekejaman Belanda menyapu bersih aktivis yang terlibat menentang penjajah, Bung Karno dan kawan-kawan melihat kekosongan Tanah Air dari gerakan aktif melawan penjajahan, justru mendirikan Partai Nasional Indonesia--PNI. Gerakan ini, bersama seluruh komponen pemuda pejuang negeri ini, efektif melakukan akselerasi--percepatan--langkah perjuangan, hingga hanya dalam satu tahun melangsungkan Kongres Pemuda, melahirkan Sumpah Pemuda yang menyatukan semua suku, agama, golongan menjadi satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa--menetapkan Indonesia Raya dan Merah Putih sebagai lagu dan bendera kebangsaan!"

"Selanjutnya dengan jiwa revolusioner sebagai api karakter Sumpah Pemuda itu pula para pemuda dan segenap bangsa Indonesia merebut dan mempertahankan kemerdekaan!" timpal Temon.
"Semua bukti itu membuat Bung Karno terobsesi oleh jiwa revolusioner--dengan intinya berani dan pantang menyerah-- yang harus dipelihara dan dibangun sebagai karakter bangsa Indonesia merdeka! Tak kepalang, Bung Karno memegang teguh obsesinya itu meski jatuh dari kekuasaan!"

"Namun layak diakui, jiwa revolusioner yang mendasari karakter pemuda berani dan pantang menyerah itu belum sepenuhnya habis di negeri kita!" tegas Temin.

"Contohnya, hampir setiap hari kita menyaksikan di televisi aksi-aksi mahasiswa memrotes penyelewengan dan sebagainya, dilakukan dengan keberanian dan semangat pantang menyerah! Kalaupun belakangan terlihat dilakukan sporadis dengan kasus lokal, itu justru merupakan pemeliharaan denyut keberadaan jiwa revolusionernya, untuk saat ada isu nasional yang besar, seperti Mei 1998, gerakan mahasiswa bahkan mampu menggulingkan sebuah rezim yang amat kokoh!"

"Masalahnya, peringatan Sumpah Pemuda masih selalu terkerangka dengan acara terkait penguasa yang dilakukan secara formalistik, maka tak aneh jika terasa defisit karakter pemuda!" tukas Temon. "Artinya, karakter kaum muda warisan Sumpah Pemuda sebenarnya masih hidup, meski terbenam di bawah karakter dominan yang penuh kepura-puraan! Saat pemberantasan korupsi tuntas dan kepura-puraan habis, karakter asli bangsa dari Sumpah Pemuda itu akan mencuat--karakter setiap warga seperti Bung Karno memandang bangsa lain!"
Selanjutnya.....

Sumpah Pemuda Defisit Karakter! (1)

"BUNG Karno selaku pelaksana Sumpah Pemuda menarik banyak inti sari dari peristiwa itu dalam pemikiran nasionalismenya! Konsistennya dia merujuk hakikat Sumpah Pemuda dalam tulisan dan pidato dengan selalu memilah nation and character building, bahkan juga sering dia sebut nation building and character building, menjadi isyarat sama pentingnya antara pembangunan bangsa (dengan aneka ragam kesatuan) dengan pembangunan karakter atau watak!" ujar Temon. "Soal semantik ini perlu dikritisi, karena ketika orang terbiasa menyebut nation character building, intonasi nation dengan kesatuan dan persatuan bangsa jadi lebih menonjol, sedang karakternya bukan cuma kabur, malah dalam peringatan Sumpah Pemuda pun bisa terasa jadi minus karakter!"

"Mungkin itu salah satu sebab bangsa kita dewasa ini krisis karakter!" sambut Temin. "Tapi itu bukan hal baru, terjadi sistematis sejak Orde Baru yang secara strategis menenggelamkan ajaran Bung Karno! Itu pula jawabnya, kenapa selama Orde Baru peringatan Sumpah Pemuda dibuat ritualistik, sumpahnya dibaca formalistik, tidak menggelorakan greget karakter pemuda pada epilog Sumpah Pemuda yang telah berhasil mengobarkan perjuangan kemerdekaan bangsa! Padahal, karakter pemuda pada epilog itulah inti peristiwa Sumpah Pemuda, baik untuk mencapai rumusan cita-cita maupun
semangat perjuangan mewujudkan cita-cita tersebut!"

"Kenapa karakter atau api yang menyulut dan memarakkan gelora perjuangan kemerdekaan itu justru dipadamkan oleh Orde Baru, padahal api itu tetap diperlukan untuk menyalakan semangat perjuangan mengisi kemerdekaan?" sela Temon. "Karena bara api itulah yang selalu membara di hari rakyat, telah menyatu sukar dipisahkan dari ajaran Bung Karno! Jadi, untuk memutuskan hubungan hati rakyat dengan Bung Karno, Orde Baru harus tak peduli padamnya api tersebut!"

"Tapi Orde Baru gagal memadamkan api karakter tersebut!" tegas Temin. "Pokoknya kalau api itu menyala, ajaran Bung Karnolah yang berkobar di hati rakyat! Para ideolog Orde Baru tak sanggup melawan kenyataan itu! Solusinya, mereka buat ajaran Bung Karno artifisial, yang esensinya sesuai tujuan penguasa Orde Baru. Diharapkan, ajaran tiruan ini bisa memperdaya dan nyambung dengan api ajaran Bung Karno yang menyala di hati rakyat! Program artifisial ini dibuat tidak kepalang, diintrodusir dengan Tap MPR 1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Dengan simpul Pancasila, terbukti nyambung dengan nyala api ajaran Bung Karno di hati rakyat! Tapi, tujuan program bukan untuk memarakkan, melainkan memadamkan! Maka itu tak heran, kalau karakter bangsa redup, justru sebagai bukti sukses program yang serius itu!"

"Tahu, apa yang dimaksud dengan api dari karakter Sumpah Pemuda itu?" tanya Temon.

Selanjutnya.....

Yupies, 'Young Urban Politician Smart'!

"YUPIES dalam aksen universal young urban professional, di Indonesia yang sukar mencapai status profesional dalam arti eksekutif muda sukses, berubah menjadi young urban politician, tanpa IES--idealist, excellent and smart!" ujar Umar. "Tanpa disadari, Yupies dalam arti lengkap sebagai young urban politician, idealist, excellent and smart--priyayi muda kota yang politisi idealis, unggul dan cerdas--merupakan prototipe kaum muda pejuang kita yang aktif meletakkan dasar kebangsaan Indonesia dari 1908 hingga 1928!"

"Kaum muda sekarang relatif terbatas pada young urban politician--tanpa IES--karena orientasinya menjadi politisi kebanyakan sekadar untuk meraih gaya hidup elite politik yang serba mewah dengan uang rakyat!" sambut Amir. "Gaya hidup CCC young urban professional kelas dunia memberi inspirasi, yakni condo (tempat tinggal serbaluks), car (mobil mewah), dan credit card (belanja dengan uang plastik). Bedanya, jika profesional muda dunia meraih CCC lewat kerja excellent and smart di bursa saham atau eksekutif perusahaan multinasional, young urban politician kita lewat menggaruk uang rakyat di APBD yang dikumpul dari recehan oleh pos-pos retribusi!"

"Maka itu, dalam memperingati 81 tahun Sumpah Pemuda, tak ada salahnya young urban politician kita mengeksplorasi apa itu idealisme, keunggulan dan kecerdasan yang istimewa pada para pelaku sejarah peletak dasar-dasar kebangsaaan Indonesia sepanjang 1908-1928!" tegas Umar. "Idealisme yang masa itu berupa mengutamakan
kemerdekaan bangsa dan tanah air Indonesia, kini idealismenya selalu diucapkan dalam sumpah pejabat publik, yaitu lebih mengutamakan kepentingan rakyat, bangsa, dan negara, daripada kepentingan pribadi dan golongan! Sumpah itu yang dipertanyakan, karena kecenderungan untuk mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan masih kuat, bahkan gejala korupsi tetap merajalela!"

"Belum lagi soal excellent--keunggulan kualitas pribadi--para pejuang zaman itu, bukan hanya dibanding warga lokal umumnya, bahkan dari kalangan kaum penjajah, intelektualitas dan penguasaan mereka atas masalah kemanusiaan dan sosial politik universal jauh lebih baik! Sebut misalnya Tjokroaminoto, Achmad Dahlan, Ki Hajar, Setiabudi, Sutomo, sampai ke Bung Karno, Hatta, dan seterusnya!" timpal Amir. "Sedang young urban politician sekarang, baca koran saja malas! Pendidikan bukan kualitatif menggali ilmunya, tapi cuma mengejar gelar!"

"Lebih mengagumkan soal smart, cerdas dan tajamnya mereka mengartikulasi penderitaan rakyat dan cita-cita perjuangan sehingga mampu membulatkan tekad seluruh bangsa untuk mengusir penjajah!" tegas Umar. "Bukan smart mengakali uang rakyat untuk studi banding agar bisa menjauh dari rakyatnya yang megap-megap tenggelam penderitaan!" n
Selanjutnya.....

PKL, Harus Masuk Program 100 Hari!

"DARI hari ke hari justru semakin seru penindasan aparat pemerintah daerah--Polisi Pamong Praja (Pol. PP)--terhadap pedagang kaki lima (PKL) di seantero Tanah Air!" ujar Umar. "Pada berita yang rutin ditayangnya nyaris semua stasiun televisi nasional itu, setiap kali tak terlihat kepedulian para pejabat pemerintah terutama kepala daerah dan DPRD--terhadap nasib buruk PKL! Pokoknya terkesan seolah memang harus begitu, termasik rekrutmen Pol. PP yang berlebihan juga memang spesialis untuk berantem merangsek PKL!"

"Setiap kali menyaksikan adegan penindasan PKL di televisi kita terkesima, seperti sedang menonton film cerita tentang sebuah bangsa tidak beradab!" sambut Amir. "Sekelompok orang berseragam menyerang sekelompok warga biasa, memukul sesukanya, mengubrak-abrik tanpa kecuali pakai peralatan berat, membakar dan merampas milik orang-orang yang dianiaya itu! Lebih fatal lagi, dalam peristiwa seperti itu sering terlihat polisi sang pelindung rakyat, tapi malah berpihak pada penyiksa yang sedang menyakiti rakyat!"

"Celakanya, atas peristiwa yang serjadi setiap hari di seantero Tanah Air hingga secara nyata telah menjadi masalah nasional menyangkut nasib jutaan pedagang kecil itu, seperti tak cukup kuat mengetuk hati para pemimpin nasional dan daerah untuk mencarikan solusinya!" tukas Umar. "Karena itu, sudah pada tempatnya kalau masalah ini diusulkan menjadi salah satu program 100 hari kabinet baru! Bukan menuntaskan seluruhnya tentu, tapi paling tidak, garis kebijaksanaannya telah tersusun, hingga dalam masa kerja kabinet lima tahun hal ini selesai secara menyeluruh!"

"Sekaligus sebagai ujian penanganan masalah secara lintas sektoral seperti terdesain dalam trilogi Kabinet Indonesia Bersatu II, karena hal ini menyangkut nasib pedagang (di bawah menteri perdagangan dan menkop-UKM), dan pemda (di bawah mendagri), dengan jutaan PKL jualan hasil pertanian lokal dan produk industri domestik!" timpal Amir. "Pada masa Orde Baru, priode 1970-an dan awal 1980-an masalah ini relatif reda karena untuk mengatasi PKL dibangun pasar inpres di tempat-tempat strategis! Seperempat abad ini pembangunan pasar inpres tak dilakukan lagi! Selain pertumbuhan PKL tak terakomodasi, pasar bagi produk pertanian lokal dan industri domestik juga ikut tak berkembang!"

"Kebuntuan PKL ini menimbulkan gejala baru, maraknya pasar tempel di sisi kompleks-kompleks perumahan!" tegas Umar. "Jika tak diantisipasi, ini bisa merebak jadi kawasan kumuh! Maksudnya, selain membangun sejenis pasar Inpres, buat PKL para developer juga diharuskan menyiapkan fasum untuk 'pasar lokal' buat melayani penghuni kompleksnya--syukur jika developer membangun kios untuk dikreditkan! Pasar lokal di lokasi perumahan ini sekaligus mengurangi kepadatan lalu lintas ke pusat kota!"
Selanjutnya.....

Trilogi Kabinet Indonesia Bersatu II

"DALAM rapat pertama Kabinet Indonesia Bersatu II, Jumat, selain menyerahkan program 100 hari kepada para anggota kabinet, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberi pengarahan yang berintikan trilogi Kabinet Indonesia Bersatu II," ujar Umar. "Trilogi sebagai filosofi kerja kabinet itu, pertama, change and continuity--perubahan dan keberlanjutan. Kedua, de-bottlenecking, acceleration, and enhancement--penguraian hambatan, percepatan, dan peningkatan. Ketiga, unity, together we can!--bersatu, bersama kita bisa!" (Kompas, [24-10]).

"Logos pertama, perubahan dan keberlanjutan, bisa dipahami sebagai reorientasi dari program Kabinet Indonesia Bersatu I yang berporoskan perubahan, selain evaluasi sejauh mana program periode awal itu berjalan, harus dicarikan relevansi baru untuk dilanjutkan!" sambut Amir. "Dengan prinsip itu para menteri baru tak bisa sesukanya menyingkirkan program menteri lama kemudian menonjolkan program baru miliknya sendiri! Keberlanjutan dari program yang sudah ada justru menjadi keharusan!"

"Dan itu dilakukan dengan logos kedua!" timpal Umar. "Yakni de-bottlenecks--
menguraikan semua hambatan yang menyumbat di leher botol, guna dicari kisi-kisi untuk melakukan percepatan dan peningkatan pada tahap selanjutnya! Karena hambatan itu selalu tak berdiri sendiri di satu sektor, sering tak bisa dilepaskan kaitannya dengan sektor-sektor lainnya, maka antarsektoral itu harus bersatu--unity--untuk bersama-sama memecahkan masalahnya--hingga hanya dengan bersama (itu pula) kita bisa!"

"Jadi jelas, dengan trilogi itu tamatlah riwayat ego sektoral departemen, apalagi egoisme pribadi menteri!" tegas Amir. "Mungkin bisa dikatakan, dengan resep ini penyakit lama ego sektoral yang selalu jadi penghambat proses pembangunan telah ditemukan obatnya! Namun, koordinasi lintas sektoral merupakan hal yang tak mudah selama ini, akan menjadi batu ujian apakah trilogi ini mampu menggalang koordinasi--sebagai hal yang nyaris mustahil sebelumnya itu!"

"Untuk mengawasi dan mengendalikan koordinasi itulah dibentuk unit kerja kepresidenan di bawah Kuntoro Mangkusibroto!" timpal Umar. "Reputasi mengordinasikan kegiatan multicomponents and multipurposes di Aceh pascatsunami, diyakini presiden akan mampu menghidupkan koordinasi lintassektoral yang selama ini nyaris mustahil itu!"

"Pokoknya ibarat mobil, semua komponen dan prinsip mekanisme kerja mesin Kabinet Indonesia Bersatu II sudah lengkap!" tegas Amir. "Namun, keefektifan kerja mesin itu untuk bisa berjalan lancar tergantung kapasitas setiap komponennya mengingat mesinnya tersusun dari komponen campuran, dari produk Amerika sampai produk lokal--dirakit bukan berdasar presisi kapasitas mekanis, tapi semata kecocokan kimia politiknya!" n
Selanjutnya.....