Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Gus Dur, Perginya Panutan Para Kiai!


"INNA lillahi wa inna ilaihi rajiun! Gus Dur wafat di RS Cipto Mangunkusumo 10 menit lalu!" Umar membaca SMS di hape-nya "Bangsa Indonesia, terutama kaum Nahdliyin, berdukacita atas kepergiannya!"

"Dengan wafatnya Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, umat kehilangan tokoh karismatik panutan para kiai, yang selama ini diikuti umat tanpa mempertanyakan relevansi ucapan atau arah tindakannya!" sambut Amir. "Gus Dur tokoh karismatik yang multidimensional! Ia kiai, juga pakar, sekaligus politisi! Karismanya berawal dari ke-kiai-an dengan 'darah biru'-nya sebagai cucu pendiri Nahdlatul Ulama--ormas Islam terbesar di negeri ini! Dan itu ia lengkapi dengan kepakaran dan kiprah politik, hingga Gus Dur menjadi salah satu sumber kekuasaan di negeri ini--tak terbilang jumlahnya orang yang ingin menjadi gubernur, bupati/wali kota, anggota DPR/DPRD, atau malah jabatan struktural, harus meminta restu Gus Dur!"

"Kenapa harus minta restu Gus Dur?" kejar Umar.


"Karena karismanya yang luar biasa itu!" jawab Amir. "Gus Dur tokoh sentral di lingkaran jaringan kekuasaannya, tak ada yang berani membantah, tak ada yang berani menolak kehendaknya!"

"Begitu?" timpal Umar. "Padahal kesanku selama ini, Gus Dur seorang humanis yang demokratis! Dia tokoh utama gerakan prodem atau fordem di negeri ini? Komitmennya pada demokrasi dan civil society kuat sekali, hingga kenangan manis yang ia berikan pada bangsa ini dari masa kepresidenan dirinya adalah mengembalikan ABRI ke barak--mengakhiri peran politik praktis militer!"

"Itulah multidimensinya Gus Dur!" tegas Amir. "Sebagai humanis yang demokratis itu, meski ia sebagai pemimpin umat dari kelompok mayoritas di negeri ini, perhatian dan solidaritasnya justru selalu memberi kehangatan kalangan minoritas, kaum tertindas dan terpinggirkan!"

"Hal lain yang tak boleh dilupakan dari Gus Dur adalah kepakarannya!" sambut Umar.

"Mata pisau analisisnya amat tajam, membuat ia mudah mengemukakan sesuatu dengan visi dan gayanya yang amat segar, hingga membuat orang ger-geran tertawa! Tapi, sehabis tawanya orang terhenyak, karena inti gagasan dan pikiran yang dikemukakan Gus Dur terlalu jauh, orang sukar memahami dan mengikutinya! Di antara yang tak bisa memahami dan mengikuti jalan pikiran Gus Dur itu, tanpa kecuali orang-orang dekatnya, dengan akibat, kemudian menjauhkan diri dari (atau dijauhkan oleh) Gus Dur!"

"Dahsyatnya, berbagai dimensi karismanya itu terpadu dalam integritas kepribadian Gus Dur sebagai negarawan! Ia berpendirian teguh memegang prinsip, dengan sikap tegas yang tak bisa ditawar-tawar, berani mengambil risiko! Tak peduli risikonya kehilangan jabatan presiden!" tegas Amir. "Atas kepergiannya, Indonesia kehilangan tokoh yang tiada duanya! Selamat jalan, Gus Dur!"
Selanjutnya.....

Notes 2009, Pemimpin Samudera!

"SATU dimensi dari Astabrata, delapan karakter pemimpin Jawa, seperti samudera--cakrawala luas jiwanya dalam, gelombangnya menggelorakan semangat juang para pelaut perkasa, sampah dan kotoran sebau apa pun dibuang dari kapal atau kota ditampung semua!" ujar Umar. "Samudera memproses kotoran jadi plankton dan renik, mata rantai makanan segala jenis ikan kesayangannya! Samudera tak pernah menolak atau marah pada sampah, apalagi menudingnya fitnah atau dusta! Bau busuk dan amis sampah dia simpan sedalam mungkin, lalu senantiasa ia tebar hawa segar!"

"Kok tiba-tiba berkisah Astabrata?" potong Amir.

"Aku sedang telekonferensi dengan Temon dan kawan-kawan lewat hape di meja ini!" jawab Umar. "Mereka bingung, kenapa pemimpin yang amat mereka banggakan, akhir 2009 ini tak henti marah, menuding fitnah kian-kemari!"

"Betul Bang Amir!" sela Temon di speaker hape Umar. "Apakah reklamasi politik mempersempit bentangan samudera jadi teluk ciut, urukannya memperkeruh air dan membendung sampah hingga tak lagi mencapai haribaannya! Embusan segar angin samudera pun menyapu tumpukan sampah hingga yang merebak malah bau busuk!"

"Kenapa jadi rikuh membuat metafora melukiskan keanehan gelagat sang pemimpin?" tukas Amir. "Lugas saja, kenapa SBY yang memukau dengan gaya bijaksana, 2009 ini berubah jadi pemberang, marah melulu? Tak mencerminkan pemimpin samudera lagi, menjadi teluk sempit terkepung reklamasi yang menghalangi sampah mencapai proses daur demokrasi yang dinamis! Singkatnya, karakter SBY tidak lagi cool seperti sebelumnya!"

"Ular cari pukul!" sambut Temon. "Orang lagi sangar, sok lugas!"

"Tak perlu setakut itu! SBY itu rasional, selain akar budaya Jawanya kuat!" tegas Amir. "Dengan terus terang kalian heran, dalam dua pemilu dari semua calon dialah yang paling dekat pribadinya dengan Astabrata, kenapa sekarang berubah sejauh itu?"

"Memang! Bukan cuma Varuna--samudera--Brata yang mencerminkan luas cakrawala berpikirnya,!" timpal Temon. "Juga Indra Brata, seperti air hujan, berwibawa mengusahakan kemakmuran rakyat! Yama Brata, seperti Batara Yama, mengayomi dengan menegakkan keadilan di atas kebenaran! Surya Brata, seperti matahari, sumber energi, semangat dan kekuatan pada kehidupan! Candra Brata, seperti bulan, menerangi di kala gelap! Vayu Brata, seperti angin, selalu dekat rakyat yang dipimpinnya! Bhumi Brata, seperti bumi, teguh sebagai tempat berpijak, memberi segala miliknya untuk kesejahteraan! Dan Agni Brata, seperti api, teguh dalam prinsip, menghanguskan yang salah!"

"Itu dia!" tegas Umar. "Apa reklamasi memperluas konsesi kekuasaan itu sebanding dengan akibatnya, urukan yang menutupi sifat-sifat karakter dambaan rakyat?"

Selanjutnya.....

Notes 2009, MA Koreksi Sisdiknas!


"AMAR Mahkamah Agung (MA) dalam putusan kasasi untuk merevisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) layak masuk Notes 2009!" ujar Umar. "Koreksi itu diperintahkan secara umum, sebagai wadah bagi isi putusan khusus berupa prakondisi--syarat-syarat dasar--untuk pelaksanaan ujian nasional (UN), yakni pemerataan peningkatan fasilitas pendidikan dan mutu guru di seluruh Tanah Air! Dengan bahasa amar sedemikian berarti, sebelum syarat-syarat dasar itu dipenuhi tidak boleh melaksanakan UN--apalagi dijadikan dasar kelulusan murid!"

"Perintah MA yang bersifat umum untuk merevisi UU Sisdiknas itu kewajiban yang mengikat bagi para pembuat UU, Presiden dan DPR!" sambut Amir. "Jadi terlalu gegabah jika seorang menteri menyalahtafsirkan secara sepihak semata untuk mengencundangi putusan MA tersebut! Akibat laku lajak menteri itu, bukan saja materiel hukum putusan MA yang dilanggar--dengan tetap akan menyelenggarakan UN tanpa memenuhi syarat-syarat dasar patokan MA--malahan menyalahi sistem ketatanegaraan!"


"Begitulah, kesalahan selalu menjadi kaprah pada tindakan yang berkuasa di negeri ini!" tegas Umar. "Laku lajak penyelenggaraan UN dikoreksi MA, malah dijawab dengan laku lajak yang lebih fatal, menyalahi sistem ketatanegaraan! Jauh lebih fatal lagi, pelanggaran prinsip dasar itu dilakukan oleh aktor utama, contoh perilaku dunia pendidikan!"

"Kesalahan terpenting dalam UU Sisdiknas yang harus direvisi, tidak diakomodasinya semangat reformasi, yakni desentralisasi--dengan realitas Sisdiknas yang sangat sentralistik!" timpal Amir. "Padahal sejak awal disepakati, hanya empat hal yang tidak didesentralisasi, yakni sistem moneter terutama pencetakan uang (pada fiskal justru ditekankan perimbangan keuangan pusat-daerah), hubungan diplomatik (meski pemda dan warga tak dibatasi hubungan ke luar negeri), hukum dan peradilan, serta keagamaan--meski ada daerah memakai sistem syariah! Jadi, masih ada penyesuaian! Cuma sistem pendidikan yang seharusnya desentralisasi malah dijalankan dengan amat sentralistik!"

"Konsekuensinya, jutaan impian yang menuntut jutaan ragam kemampuan untuk meraihnya, kandas oleh hanya di bawah 10 jenis kemampuan yang ditanamkan seragam pada seluruh anak bangsa melalui Sisdiknas yang amat sentralistik, khususnya dengan UN yang hanya mengasah kemampuan pada beberapa mata pelajaran saja!" tegas Umar.

"Tampak, desentralisasi pendidikan bahkan sampai ke spesialisasi yang tajam pada sekolah--sesuai situasi-kondisi lingkungannya--menjadi kebutuhan mutlak! Sejarah menuntun, bangsa ini bertahan dengan lokal genius yang sangat unik di semua daerah! Pendidikan yang sentralistik menumpas tuntas segala bentuk dan jenis potensi keunggulan lokal tersebut!"
Selanjutnya.....

Notes 2009, Retorika Vs Antikorupsi!


"PERTARUNGAN persepsi tentang pemberantasan korupsi antara retorika penguasa lawan gerakan publik antikorupsi memuncaki kontraisu 2009, berujung dengan kandasnya selubung formal-legalistik oleh rasa keadilan masyarakat--dengan dipilihnya jalur di luar pengadilan justru oleh lembaga penegak hukum sendiri!" ujar Umar. "Ironisnya, di balik pergulatan itu kian mencuat realitas, justru retorika merupakan lawan sesungguhnya gerakan perjuangan antikorupsi!"

"Ironika itu jadi amat menonjol pada event Hari Antikorupsi Sedunia 9 Desember!" sambut Amir. "Retorika bernada sangat tinggi mengadangnya, dengan tudingan acara itu ditunggangi gerakan sosial bermotif politik menggulingkan kekuasaan! Retorika itu berhasil membuyarkan momentum yang dibangun koalisi gerakan antikorupsi--acara Hari Antikorupsi Sedunia antiklimaks, berlangsung relatif seadanya, kurang greget!"

"Dengan sukses itu, terutama sebagai revans atas kandasnya retorika berselubung formal-legalistik pada kasus cicak lawan buaya, retorika kembali diandalkan untuk mementahkan persepsi publik terkait skandal Bank Century!" tegas Umar. "Tidak kepalang tanggung, retorika bukan lagi semata lewat pernyataan atau pidato-pidato, diperkuat lagi lewat jalur komersial--serial iklan yang intens di media massa utamanya televisi, membentuk logika publik tentang relevansi membantu bank di masa krisis, untuk menghapus memori publik atas penggelontoran dana Rp6,7 triliun untuk memenuhi CAR (modal sendiri) 10 persen sebuah bank kecil!"

"Retorika memang cenderung selalu overdosis! Seperti iklan, tarifnya bisa lebih Rp20 juta per setengah menit pada prime time!" timpal Amir. "Namun itu sebanding dengan dampak retorika multidimensi yang bukan saja bisa larut dalam memori publik dalam jangka panjang, melainkan juga memperlemah sendi-sendi gerakan yang menjadi target! Contohnya, meski Bibit-Chandra diaktifkan kembali, pascakasus cicak lawan buaya KPK tak setajam dan segalak sebelumnya--ikut tak kunjung bisa menjadikan Anggodo sebagai tersangka!"

"Di mana letak keistimewaan retorika sehingga selalu unggul dalam pergulatan wacana publik, bahkan saat momentumnya matang seperti pada Hari Antikorupsi Sedunia?" tanya Umar.

"Karena retorika berkendara kekuasaan yang menguasai medan di semua lini!" jawab Amir. "Konon lagi dalam skandal Bank Century, selain kekuasaan politik, juga kekuasaan uang--terkait Bank Indonesia sebagai pusat moneter dan Departemen Keuangan pusat

fiskal! Sehingga, kalau soal iklan televisi, meski tampil atas nama lembaga atau yayasan apa pun itu, soal uang untuk retorika masalah kecil!"

"Kalau begitu 2009 memang tahun yang istimewa, kurun di mana opini publik antikorupsi mampu mengungguli retorika--meski cuma sementara!" timpal Umar. "Viva opini publik! Viva retorika!" ***


Selanjutnya.....

Notes 2009, Publik Mendikte Elite!


"SO, what wrong ketika watak jabatan jadi lebih dominan mengaktual ketimbang integritas atau kepribadian asali sang tokoh?" tukas Umar.

"Saat tokoh idealis-kritis mendapat jabatan kekuasaan, wataknya bisa berubah jadi buto terong?"

"Dalam 2009, ada gejala memuncak di balik what wrong itu! Publik, rakyat kebanyakan atau jelata, terkulminasi didih batas kesabarannya, tecermin pada respons mereka lewat Facebook dan koin untuk Prita terkait penderitaan yang kelewat batas para korban penyimpangan watak elite!" sambut Amir.


"Bahkan keadaan jadi berbalik seperti film Robert Redford, Lions for Lambs--saat singa-singa dipermainkan domba! Publik--rakyat kecil dan lemah, sang domba--mendikte elite--singa! Kesan itu menonjol dalam gumpalan-gumpalan kumulonimbus informasi pers, yang secara komprehensif (media cetak dan elektronik) menggalang banjir bandang opini publik menggelontor tumpukan kotoran yang menyesakkan kehidupan bangsa!"

"Tapi apa inti penyebab perubahan watak itu?" potong Umar.

"Kekuasaan sebagai dunia elite itu seperti ruang besar berpengatur udara tersendiri, siapa saja masuk ruangan itu dan menghirup udaranya, tanpa sadar ia berwatak dan berperilaku seperti orang-orang dalam ruangan tersebut!" jelas Amir.

"Ruang besar itu sendiri bernama kultur, dalam hal ini kultur kekuasaan dengan ciri-ciri amat khas sesuai historisnya! Lazimnya kultur, menggerakkan dari bawah sadar! Itu disadari kaum revolusioner, yang lewat revolusi berusaha mengubah kultur kekuasaan itu, tapi secara prinsip tak pernah berhasil--sebab, saat masuk ruangan itu, watak mereka juga berubah menjadi seperti orang borjuis yang mereka singkirkan melalui revolusi!"

"Lantas, bagaimana geliat publik lewat gebrakan opininya melalui beragam media, yang dalam 2009 bisa menjadi banjir bandang melabrak penyimpangan watak elite?" tanya Umar.

"Itu kekhasan 2009, yang mungkin akan menjadi bahan studi menarik di masa depan!" jawab Amir. "Karena, seperti lazimnya banjir bandang, terjadi sekali-sekali dengan adanya proses sebab-akibat yang menjadi pemicunya! Seusai banjir bandang, biasanya orang berbenah terhadap sebab-akibat dimaksud! Di lain pihak, pers tak mudah untuk membentuk kembali gumpalan kumulonimbus opini publik guna membuat hujan besar yang bisa menjadi banjir bandang!"

"Maksudmu, banjir bandang itu hanya mengubah sedikit dan sejenak watak elite dari kultur bawah sadar kekuasaan?" kejar Umar.

"Bisa disimak saksama, perubahan sedikit dan sejenak itu pun tidaklah tulus--telunjuk lurus kelingking berkait!" tegas Amir. "Lebih tepat lagi, hal itu terjadi semata karena retorika jebol oleh banjir bandang opini publik! Menambal retorika jelas lebih mudah daripada membuat banjir bandang!" n 
Selanjutnya.....

Notes 2009, Sirkulasi Elite Politik!


"2009 tahun yang riuh dengan pertarungan elite di gelanggang politik!" ujar Umar.

"Dibuka dengan unjuk kekuatan pemilu legislatif, lanjut ke pemilu presiden, berujung hak angket DPR atas skandal Bank Century yang berlanjut ke 2010!"

"Pemilu legislatif melanjutkan proses perputaran roda sejarah dengan sirkulasi elite politik di semua tingkatan, lokal, provinsi dan nasional, kali ini giliran Partai Demokrat naik ke atas! Demokrat menggantikan posisi Partai Golkar--pemenang Pemilu 2004, yang sebelumnya menggantikan posisi PDIP, pemenang Pemilu 1999!" sambut Amir.

"Perputaran elite antarpartai menguasai mayoritas wakil rakyat itu cermin relatif tingginya dinamika politik nasional dekade pertama Abad 21! Namun, dinamika tinggi itu hanya terjadi pada rakyat pemilih! Sedang elitenya, setiap baru saja berkuasa ujug-ujug jadi status quo--jalan di tempat, sehingga setiap kali segera ditinggalkan oleh rakyat! Meski dengan pengalaman sebagai pelajaran segamblang itu, Partai Demokrat yang baru berkuasa juga tampak siap ikut mengulang sejarah--keburu berlagak status quo! Gaya politik di parlemen yang defensif dari opini publik dalam berbagai kasus mutakhir, mengawali gejalanya!"


"Ketimpangan dinamika elite dari rakyatnya itu bukan semata terjadi di politik!" tukas Umar. "Di bidang hukum dan teknologi informasi (TI), tanpa kecuali! Kasus Prita Mulyasari dan penetapan tersangka korupsi pimpinan KPK (Bibit-Chandra), jadi isyarat elite hukum tertinggal dari rakyat, baik dalam hukum itu sendiri maupun dalam TI. Ketinggalan elite hukum dari rakyat terutama dalam memaknai keadilan bukan kepalang, hingga mengundang people power lewat IT (facebook)--lebih setengah juta akun dan nyaris Rp1 miliar koin recehan dalam kasus Prita, dan 1,2 juta akun lebih dalam kasus Bibit-Chandra, hingga mengundang Presiden menggunakan hak prerogatifnya membentuk tim verifikasi independen dan usaha penyelesaian di luar pengadilan! Semua itu tercetak tebal di notes 2009, sebagai mile stone kemajuan opini publik!"

"Orientasi status quo pada setiap elite yang sedang berkuasa (baik politik maupun hukum), membuat sirkulasi elite hanya terjadi secara fisis! Sedang dalam idea atau sikap-lakunya, jebul kurang lebih sama--semata demi kepentingan kekuasaan dan hak-hak istimewanya!" timpal Amir. "Akibatnya rakyat selalu terkecoh! Memilih wayang janoko, saat naik panggung jogetannya kok cakil, atau malah buto terong! Di panggung yang tampil bukan watak asli tokohnya yang khas, tapi watak jabatan--seolah ada cetakannya, setiap jabatan punya model watak tertentu--sehingga gonta-ganti tokoh pun dalam sirkulasi elite, watak orang yang duduk di suatu jabatan akan selalu sama!
Demonstran paling idealis sekalipun, ketika menduduki jabatan kekuasaan wataknya berubah, bisa jadi buto terong juga! So what wrong, gitu lo!" ***

Selanjutnya.....

Aksi Perampok Nekat di Lampung!


"KAWANAN perampok nekat beraksi di Lampung, menggondol Rp2,75 miliar dari mobil bank yang membawanya!" ujar Umar. "Disebut nekat, karena beraksi siang bolong, terhadap mobil bank yang dikawal polisi bersenjata otomatis, penyergapan dilakukan di depan pos dijaga seregu satpam, di sisi jalan raya lintas Sumatera yang ramai pula!"

"Dari cara penyergapan dengan senjata api laras panjang dan pendek hingga relatif mudah melumpuhkan polisi bersenjata otomatis--bahkan merampas senjatanya--mengindikasikan para pelaku bukan pemain lokal yang umumnya cuma bersenjata api rakitan!" sambut Amir. "Kalaupun ada pemain lokal yang terlibat, mungkin hanya penggambar situasi yang agak lama juga dilakukan hingga aksi mereka cukup terencana!"

"Dibanding aksi sejenis beberapa waktu lalu, menyergap mobil bank di jalan raya Metro menuju Bandar Lampung yang relatif berantakan--sopir sampai tergilas mobil--hingga polisi lebih mudah mencari pelakunya, aksi kali ini lebih rapi!" tukas Umar.


"Kerapian itu bisa membuat polisi lebih sulit mencari pelakunya! Lebih-lebih, jika benar pelaku utama merupakan pemain luar daerah! Kecuali, nomor polisi lokal pada mobil yang dipakai pelaku bisa menuntun ke petunjuk lebih jelas!"

"Harapan tentu, seprofesional apa pun penjahat yang beraksi di Lampung selalu bisa diringkus polisi!" timpal Amir. "Betapa, jika mobil dengan pengawalan polisi saja bisa jadi sasaran empuk penjahat, bagaimana pula dengan mobil warga yang tanpa pengawal! Di sisi lain, kegagalan polisi mengatasi kejahatan, wilayahnya bisa dijadikan 'ladang' oleh penjahat!"

"Untuk itu, selain usaha meringkus para pelaku perampokan, ada hal-hal khusus yang layak jadi perhatian polisi!" sambut Umar. "Terutama peningkatan kemampuan anggota menghadapi situasi kritis! Bukan saja skill mengatasi ancaman penjahat, tapi juga mengoordinasi bantuan! Seperti petugas yang sebenarnya curiga pada mobil yang membuntuti mereka sepanjang jalan, seharusnya dia menghubungi Mapolres Lampung Tengah yang terletak di tepi jalan raya untuk mendapat tambahan pengawalan, atau malah membelokkan mobil yang dikawalnya masuk Mapolres! Tepatnya, kematangan untuk mengantisipasi situasi perlu ditingkatkan!"

"Koordinasi pengamanan seperti itu tak semata pada petugas di mobil! Tapi harus komprehensif, dengan skenario yang tersistem baik!" tegas Amir. "Kuncinya memang petugas di mobil, yang harus dilengkapi alat komunikasi! Bukan saja dia bisa menghubungi dan berkomunikasi dengan setiap polsek dan polres yang dilalui, juga bisa dimonitor satuan tugasnya sejak dia melapor mobilnya berangkat! Penjahat sudah semakin canggih dan nekat, polisi harus lebih unggul dalam segala hal untuk mengatasinya!" ***
Selanjutnya.....