Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Syukuri, Apa pun Hasil Usaha yang Maksimal!

"MALANG tak bisa ditolak, mujur tak bisa diraih! Begitulah takdir, manusia hanya bisa berusaha, hasilnya ditentukan Yang Mahakuasa!" ujar Umar. "Karena itu, setelah usaha dengan perjuangan tak kenal menyerah dilakukan maksimal dengan menjunjung sportivitas, seperti dilakukan Timnas Garuda Muda di final sepak bola SEA Games 26, apa pun hasilnya wajib disyukuri. Hanya dengan sabar dan syukur yang ikhlas, kekalahan hanyalah kemenangan yang tertunda!" "Kegigihan perjuangan dan sportivitas tim Garuda Muda sampai takdir menuntut kedewasaan sikap mereka sebagai cerminan bangsa yang besar, tak diragukan lagi tim asuhan Rahmad Darmawan itu layak dibanggakan!" timpal Amir. "Dalam tangis kekalahan mereka tak mencari kesalahan pada orang lain untuk dijadikan kambing hitam, tapi meratapi dirinya yang terbatas kemampuan dan keberuntungannya!" 

"Jadi juara umum SEA Games tanpa medali emas dari sepak bola sebagai cabang olahraga paling populer (merakyat) di negeri ini, merefleksikan dalam banyak hal bangsa ini telah mencapai kemajuan, namun dalam hal yang populer—terkait kepentingan mayoritas rakyat—masih tertinggal!" tegas Umar. "Sebagai refleksi realitas itulah, bukan hanya perhatian untuk peningkatan terus kualitas timnas sepak bola kita perlu diutamakan, melainkan fokus pada perbaikan nasib mayoritas bangsa juga harus terus dipertajam! Dengan orientasi yang lebih serius pada titik terlemah yang menyangkut kepentingan mayoritas warga bangsa, hasilnya akan menyempurnakan capaian kemajuan semua bidang kehidupan bangsa!"

"Orientasi pada titik terlemah dari para elite dan pemimpin bangsa itu dilakukan dengan sikap introspektif, menalari kelemahan dirinya untuk meningkatkan kemampuan mengatasi tantangan, bukan lagi dengan mencari kambing hitam untuk menutupi kelemahan bahkan kesalahan dirinya!" timpal Amir. "Betapa, semakin tertinggalnya titik terlemah bangsa selama ini akibat kurangnya perhatian elite dan pemimpin bangsa, serta kecenderungan elite dan pemimpin menutupi kelemahan dan kesalahannya dengan melempar kesalahan pada pihak lain! Konsekuensinya, kemampuan elite dan pemimpin tak meningkat hingga dengan tantangan yang terus meningkat, elite dan pemimpin menjadi sarang penyakit dan kelemahan, sekaligus justru menjadi beban dan pengganjal kemajuan bangsa!" "Maka itu, usaha maksimal Garuda Muda layak disyukuri!" tegas Umar. "Bisa menjadi inspirasi usaha tak kenal menyerah untuk memperbaiki kelemahan diri bagi setiap orang!" ***
Selanjutnya.....

Usaha Intensifikasi Produktivitas Kopi!

H. Bambang Eka Wijaya 

"PROYEK, atau program, bahkan setingkat usaha yang kurang terlihat menonjol di Lampung adalah intensifikasi produktivitas tanaman kopi rakyat!" ujar Umar. "Padahal produktivitas tanaman kopi di Lampung yang cuma sekitar 7 kuintal per hektare per tahun relatif terendah di negeri ini! Di daerah lain bisa 1 sampai 2 ton!" "Apalagi dibanding produktivitas kopi di Vietnam, yang mencapai 2 sampai 3 ton/ha/tahun! Padahal, 30 tahun lalu Vietnam belajar bertanam kopi di Lampung!" timpal Amir. "Itu bisa terjadi karena dengan menyadari keterbatasan lahan, sejak awal penanaman kopi di Vietnam dilakukan dengan program intensifikasi! Selain perawatan dengan pemupukan yang baik, malah ada yang dilengkapi irigasi! Sepanjang tahun tanaman cukup air sehingga produksi pun maksimal!"
"Karena itu jadi menyentuh pernyataan ekonom Asrian Hendi Caya agar hasil iuran kopi Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) diprioritaskan untuk membina petani kopi!" tegas Umar. "Menyentuh, karena prioritas pembinaan petani itu baru disarankan setelah iuran yang biasanya dipungut AEKI tersebut secara formal dihapus! Juga, kondisi organisasinya sedang tak kondusif!" "Justru saat pungutan terhadap ekspor kopi secara formal dihapus, pembinaan kepada petani menjadi alasan satu-satunya pemungutan iuran ekspor kopi!" timpal Amir. "Itu berarti semua sisi program intensifikasi produktivitas kopi rakyat dilakukan secara terbuka pada publik, setiap sen penerimaan dan penggunaannya! Selain itu, setiap langkah programnya harus menyertakan pihak petani yang sekaligus sebagai subjek atau pelaksana program sehingga programnya tak asal-asalan, cuma mainan pengurus semata!" "Itu menarik pengalaman dari program maupun bantuan yang pernah diberikan kepada petani kopi selama ini, meski manfaatnya dirasakan oleh petani skalanya terbatas, tak merata dan meluas pada semua petani kopi!" tegas Umar. "Artinya, bagaimana ke depan usaha intensifikasi produksi tanaman kopi tak sebatas program 'etalase' semata! Tetapi, bagaimana bisa meningkatkan produktivitas tanaman kopi secara saksama!" "Semua itu tentu kalau iuran ekspor kopi bisa dilakukan lagi dengan modus untuk pembinaan petani kopi!" timpal Amir. "Soalnya, kalau semasa pungutan bebas dilakukan saja perhatian pada petani amat kecil, buktinya produktivitas tanaman kopi petani tidak kunjung naik—sebaliknya justru terus menurun—apalagi saat pungutan dilakukan tidak formal! Tapi siapa tahu, perubahan bisa terjadi justru saat kondisi AEKI tidak kondusif!" ***
Selanjutnya.....

Indonesia Bisa Tekuk Malaysia!

"SENIN (21-11) petang ini Timnas Garuda Muda U-23 bertarung di final sepak bola SEA Games ke-26 lawan Malaysia, yang di babak penyisihan unggul satu gol dari tuan rumah!" ujar Umar. "Kekalahan tuan rumah itu diberi excuse, yang diturunkan tim lapis kedua karena meski kalah sudah pasti masuk semifinal! Dengan tim inti diturunkan sore ini, tim Indonesia optimistis bisa menekuk Malaysia!" "Sebenarnya kemampuan timnas sepak bola kita menaklukkan Malaysia sudah dibuktikan dalam pertandingan kandang (home) di Stadion Gelora Bung Karno pada final AAF 2010, cuma waktu itu kalah agregat, sehingga Malaysia juara!" timpal Amir. "Artinya, timnas kita bisa menang dari Malaysia adalah fakta, bukan utopi! Kali ini semangat penaklukan pada Malaysia membara lebih disulut oleh optimisme untuk bisa revans atas gelar juara (AFF) yang telah direbut Malaysia, dengan merebut juara sepak bola SEA Games sekaligus melengkapi kekampiunan bangsa Indonesia sebagai juara umum!" 

"Melengkapkan medali emas sepak bola pada gelar juara umum SEA Games tidak mudah meski peluang untuk itu (tim sepak bola masuk final) telah dicapai seperti pada SEA Games Jakarta 1979, yang waktu itu juga digagalkan tim Malaysia!" tegas Umar. "Pengalaman waktu itu, yang belum dibakar konkurensi sepanas sekarang pun, faktor negatif atau blunder yang menyebabkan timnas kita kalah adalah sikap overmotivated pemain dan ofisial! Overmotivated menyulut emosi sundul ubun-ubun, akibatnya kontrol diri lemah bahkan otot dan sendi jadi tegang, sehingga kemampuan teknis tak mengaktual maksimal!" 

"Gejala overmotivated itu juga terjadi dalam final AAF 2010, terutama justru saat tandang (away) di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, mengakibatkan timnas kita kalah lebih dari satu gol!" timpal Amir. "Itu berarti overmotivated masih tetap menjadi ancaman dari dalam diri pemain dan ofisial kita di final sepak bola SEA Games petang nanti! Masalah ini sukar diatasi karena motivasi justru merupakan inti dari semangat juang! Sedang takarannya akan naik dengan sendirinya, terutama saat tantangan menekan dirinya lebih berat!" "Memang, semua itu sering terjadi serta-merta ketika kondisi fisik dan teknis cenderung mulai kedodoran!" tegas Umar. 
"Kemungkinan begitu bukan mustahil, mengingat kualitas kerja sama tim Malaysia sedikit lebih baik! Sehingga, hal terpenting untuk mengatasinya adalah siapnya dimainkan sebuah strategi mengatasi sedikit keunggulan lawan tersebut! Jika itu bisa dilakukan, kelebihan kualitas pribadi pemain kita bisa bicara lebih efektif! Selamat bertanding!" ***
Selanjutnya.....

Mencari Teladan dari Pemimpin!

H. Bambang Eka Wijaya
"KETIKA gaya hidup para pemimpin bangsa seperti yang berhimpun di DPR tak bisa dijadikan teladan sebagaimana maksud ing ngarso sung tulodo—di depan sebagai teladan—dari Ki Hajar Dewantoro, ke mana rakyat harus mencari teladan dari tokoh yang bisa dijadikan panutan?" tanya Umar.


"Harus dilihat dulu kenapa para pemimpin itu tak lagi bisa diteladani sikap dan gaya hidupnya!" jawab Amir. "Pertama karena gaya hidupnya yang hedonis—berorientasi kebendaan serbamewah! Kedua karena disiplinnya buruk, dibuktikan waktu mengundang para pemimpin media, justru para pemimpin dari Pansus DPR selaku pengundang tak ada yang hadir sampai lewat 1 jam 15 menit ditunggu hingga ditinggalkan oleh para pemimpin media! Ketiga, sikapnya yang cenderung semakin longgar terhadap korupsi seiring kian banyaknya anggota DPR diadili dan masuk penjara karena kasus korupsi! Berarti, rakyat harus mencari tokoh ideal sebagai idola dan panutannya yang bersih dari ketiga cacat aktual tersebut!"
"Itu saja belum cukup!" tukas Umar. "Kriteria ing ngarso sung tulodo seperti dicontohkan Ki Hajar Dewantoro yang mengganti namanya dari Raden Mas Soewardi Soerjaningrat untuk melepaskan gelar bangsawannya guna bisa lebih dekat dengan rakyat secara fisik dan jiwanya! Beda dengan gaya hidup hedonis dan ketakdisiplinan pemimpin masa kini yang justru menjauhkan dirinya dari rakyat! Artinya, kriteria dekat dengan rakyat harus menjadi faktor keempat yang dicari dari tokoh teladan bagi rakyat!"
"Semakin banyak kriterianya, semakin sulit pula mencarinya!" entak Amir. "Belum lagi sifat dasar yang harus dimiliki setiap pemimpin, integritas (tak berkepribadian ganda, ucapannya tidak suka mencla-mencle) dan kredibilitas (bisa dipercaya) tak lain di mulut lain di hati lain tindakannya!"
"Lima kriteria itu kebutuhan aktual kita terhadap pemimpin masa kini!" tegas Umar. "Bisa saja kalau mau dilengkapi Asta Brata, standar pemimpin tradisional Jawa! Yakni, delapan sifat selayak indra (hujan), yama (adil), surya (matahari-semangat), candra (cahaya-pencerahan), bayu (angin, selalu bersama rakyat), bhumi (teguh pada prinsip), bharuna (samudera, berwawasan luas), agni (api, tak pandang bulu)."
"Huahaha..!" Amir terbahak. "Makin diurai dasar-dasar kepemimpinan aktual dan konsepsional, semakin jauh dari para pemimpin kita masa kini, terutama di DPR! Kita hanya bisa menemukan sosok pemimpin sesuai kriteria itu dalam sejarah perjuangan bangsa, sayangnya tak menginspirasi para pemimpin masa kini!" ***

Selanjutnya.....

Mencari Teladan dari Pemimpin!


"KETIKA gaya hidup para pemimpin bangsa seperti yang berhimpun di DPR tak bisa dijadikan teladan sebagaimana maksud ing ngarso sung tulodo—di depan sebagai teladan—dari Ki Hajar Dewantoro, ke mana rakyat harus mencari teladan dari tokoh yang bisa dijadikan panutan?" tanya Umar.

"Harus dilihat dulu kenapa para pemimpin itu tak lagi bisa diteladani sikap dan gaya hidupnya!" jawab Amir. "Pertama karena gaya hidupnya yang hedonis—berorientasi kebendaan serbamewah! Kedua karena disiplinnya buruk, dibuktikan waktu mengundang para pemimpin media, justru para pemimpin dari Pansus DPR selaku pengundang tak ada yang hadir sampai lewat 1 jam 15 menit ditunggu hingga ditinggalkan oleh para pemimpin media! Ketiga, sikapnya yang cenderung semakin longgar terhadap korupsi seiring kian banyaknya anggota DPR diadili dan masuk penjara karena kasus korupsi! Berarti, rakyat harus mencari tokoh ideal sebagai idola dan panutannya yang bersih dari ketiga cacat aktual tersebut!"

"Itu saja belum cukup!" tukas Umar. "Kriteria ing ngarso sung tulodo seperti dicontohkan Ki Hajar Dewantoro yang mengganti namanya dari Raden Mas Soewardi Soerjaningrat untuk melepaskan gelar bangsawannya guna bisa lebih dekat dengan rakyat secara fisik dan jiwanya! Beda dengan gaya hidup hedonis dan ketakdisiplinan pemimpin masa kini yang justru menjauhkan dirinya dari rakyat! Artinya, kriteria dekat dengan rakyat harus menjadi faktor keempat yang dicari dari tokoh teladan bagi rakyat!"

"Semakin banyak kriterianya, semakin sulit pula mencarinya!" entak Amir. "Belum lagi sifat dasar yang harus dimiliki setiap pemimpin, integritas (tak berkepribadian ganda, ucapannya tidak suka mencla-mencle) dan kredibilitas (bisa dipercaya) tak lain di mulut lain di hati lain tindakannya!"
"Lima kriteria itu kebutuhan aktual kita terhadap pemimpin masa kini!" tegas Umar. "Bisa saja kalau mau dilengkapi Asta Brata, standar pemimpin tradisional Jawa! Yakni, delapan sifat selayak indra (hujan), yama (adil), surya (matahari-semangat), candra (cahaya-pencerahan), bayu (angin, selalu bersama rakyat), bhumi (teguh pada prinsip), bharuna (samudera, berwawasan luas), agni (api, tak pandang bulu)."

"Huahaha..!" Amir terbahak. "Makin diurai dasar-dasar kepemimpinan aktual dan konsepsional, semakin jauh dari para pemimpin kita masa kini, terutama di DPR! Kita hanya bisa menemukan sosok pemimpin sesuai kriteria itu dalam sejarah perjuangan bangsa, sayangnya tak menginspirasi para pemimpin masa kini!"
Selanjutnya.....

Disiplin, DPR Vs Pimpinan Media!

"KRISIS disiplin anggota DPR RI mencapai tahap tak bisa ditoleransi!" ujar Umar. "Pimpinan sejumlah media massa Jakarta menunjukkan sikap tegas tak menoleransi ketakdisiplinan anggota DPR itu dengan tindakan meninggalkan ruang rapat Panitia Khusus RUU Perubahan atas UU No.2/2011 Kamis, setelah rapat yang dijadwalkan mulai pukul 09.00 itu sampai pukul 10.15 tak ada kejelasan, tak seorang pun pimpinan Pansus hadir!" (Kompas, 18-11) "Rapat hari itu seharusnya dengar pendapat guna meminta masukan pimpinan media tentang iklan kampanye di media massa!" timpal Amir. "Tapi Pimpinan Pansus, Arif Wibowo dari Fraksi PDIP, Gede Pasek Suardika (Partai Demokrat), Arwani Thomafi (Partai Persatuan Pembangunan), dan Taufik Hidayat (Partai Golkar) tak terlihat di ruang rapat! Pimpinan media yang ke DPR adalah Pemimpin Redaksi Republika Nasihin Masha, Pemimpin Redaksi Indopos Don Sardono, Redaktur Pelaksana Kompas Budiman Tanuredjo, dan Pemimpin Redaksi Gatra Heddy Lugito!" 

"Nyata terlihat beda disiplin antara dua profesi, politisi dan wartawan!" tegas Umar. "Para politisi unjuk kebolehan dengan disiplin jam karet yang molornya sampai tak jelas batasnya! Sedang wartawan, dengan tradisi deadline—batas waktu—yang ketat dalam tugasnya sehari-hari sehingga disiplin waktu jadi hukum besi—tak bisa ditawar-tawar! Di media massa elektronik seperti televisi, proses kerjanya diatur dengan itungan detik!" "Wartawan sebagai pengumpul dan penyalur informasi, harus bekerja dengan disiplin sesuai dengan tuntutan sistem teknologi informasi, teknologi tercanggih, dan terpesat perubahannya!" timpal Amir. "Hanya dengan disiplin seperti itu secara teknologi dunia media massa Indonesia tak jauh tertinggal dari negara-negara maju! Itu terbukti setiap ada event olahraga kelas dunia dan televisi di negeri kita melakukan siaran langsung!" "Dan itu isyarat, di era globalisasi ini, dalam segala hal bangsa kita harus bisa mengikuti irama kemajuan dunia secara tepat waktu!" tegas Umar.

"Bagaimana bangsa ini bisa tepat waktu dalam mengikuti perkembangan kemajuan di segala bidang, kalau dalam rapat di DPR saja jadwal tak bisa ditepati! Bagaimana bangsa ini akan mampu bersaing pada skala global jika para pemimpinnya di jantung kekuasaan negara tak disiplin begitu!" "Hal pasti dengan ketakdisiplinan di DPR itu, negeri kita akan semakin jauh tertinggal!" tukas Amir. "Buktinya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada 2011 ini anjlok sampai 16 tingkat dari 2010—dari peringkat 108 ke 124!" ***
Selanjutnya.....

DPR pun Jual-Beli Pasal-Pasal UU!

H. Bambang Eka Wijaya

"POLEMIK tudingan Ketua KPK Busyro Muqoddas tentang gaya hidup para anggota DPR hedonis—berlimpah materi serbamewah—belum reda, Ketua MK Mahfud M.D. mengungkap adanya jual-beli pasal-pasal dalam pembuatan UU di DPR!" ujar Umar. "Mahfud menunjuk buruknya produk legislasi DPR sebagai bukti adanya jual-beli kepentingan dalam pembuatan UU! Ada 406 kali pengujian UU ke MK sejak 2003 hingga 9 November 2011, 97 di antaranya dikabulkan karena inkonstitusional!" (VivaNews, 17-11)
"Pernyataan Mahfud itu didukung Adnan Buyung Nasution!" timpal Amir. "Itu betul, tegas Buyung. Dia dengar dari pemerintah sendiri saat sebagai wantimpres soal praktek jual-beli ayat atau pasal UU di DPR! Menurut dia, praktek ini sudah lama terjadi, cuma dulu tidak sebesar sekarang!" "Bersamaan dengan itu, aktor film senior Pong Harjatmo membeber spanduk kecaman di depan barisan mobil mewah anggota DPR, dari Lexus hingga Bentley yang berharga miliaran rupiah, Kamis siang!" tegas Umar. "Pong memang dengan mudah diusir satpam dari tempat parkir, tapi kamera televisi sempat merekam gambar barisan mobil supermewah milik anggota DPR! Meski selintas, Pong berhasil membuktikan kebenaran gaya hidup hedonis anggota DPR sesuai tudingan Busyro! Sekaligus membuat orang menduga-duga dari mana saja mereka bisa mendapatkan uang untuk menyangga kehidupan semewah itu, selain bermain proyek APBN seperti disebut Nazaruddin, mantan anggota DPR tersangka suap Wisma Atlet Palembang!" "Dari semua itu, terkesan kuat para anggota DPR bukan saja jauh dari pola hidup merakyat, melainkan juga tidak memprioritaskan kepentingan rakyat sebagai perjuangan yang diamanatkan kepada mereka! Dan itu terjadi akibat tawar-menawar dan jual-beli kepentingan mereka yang lebih diutamakan!" tukas Amir. "Seperti praktek jual-beli pasal UU bukan hal baru, mengesampingkan amanat rakyat itu juga bukan hal baru pada anggota DPR! Tapi karena secara politik rakyat berada dalam kolam sistem yang tak mungkin bisa keluar dari sistemnya, hal yang buruk itu selalu berulang dan berulang terus!" "Artinya, secara nyata rakyat dalam kondisi tak berdaya ketika mengujudkan sifat aneh manusia seperti disitir Einstein—berulang-ulang melakukan tindakan yang serupa dengan harapan menuai hasil yang berbeda!" tukas Umar. "Kasihan rakyat yang terpaksa hidup absurd—sia-sia—mengulang usaha tak berguna itu hanya karena elitenya lebih asyik sendiri dengan hidup serbamewahnya!" ***
Selanjutnya.....