Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Jokowi Bawa Investasi Jepang-RRT!

KEMBALI dari kunjungan kenegaraan ke Jepang dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) 22—28 Maret 2015, Presiden Joko Widodo (Jokowi) membawa oleh-oleh komitmen investasi senilai 74,04 miliar dolar AS atau sekitar Rp962,62 triliun kurs Rp13 ribu/dolar AS. (Kompas.com, 29/3)

 Jumlah investasi tersebut, menurut Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani, 5,6 miliar dolar AS dari Jepang. Sebesar 1,6 miliar perluasan investasi Toyota, lalu 1 miliar perluasan investasi Suzuki, dan 3 miliar kerja sama business to business pengusaha Jepang dan Indonesia.

Sementara itu, komitmen investasi dari Tiongkok didapat sebesar 68,44 miliar dolar AS. Komitmen investasi Tiongkok ini sebagian besar untuk bidang infrastruktur dan perikanan. Mengenai besarnya komitmen investasi Tiongkok, Franky Sibarani mengingatkan reputasi negeri itu dengan investment rate 1 : 10. Artinya, dari 10 komitmen, realisasinya hanya 1.

 Itu juga terlihat pada era gubernur Lampung yang lalu, banyak pengusaha Tiongkok komitmen investasi di Lampung, terutama hasil kunjungan pejabat Lampung ke Tiongkok, tetapi tak satu pun ada realisasinya! Beda dengan reputasi Jepang dengan 6,5 : 10. Dari setiap 10 komitmen invesrasi, rata-rata 6,5 investasi direalisasi. Untuk itu, BKPM berupaya meningkatkan angka investment rate melalui berbagai kebijakan, di antaranya pelayanan terpadu satu pintu (PTSP) dan insentif pajak. 

Selain itu, komitmen yang diberikan pada kunjungan Presiden juga diharapkan realisasinya bisa lebih tinggi. Selanjutnya, diusahakan agar realisasinya lebih cepat. Investasi bagi Indonesia amat diperlukan untuk membuka kesempatan kerja lebih segera, untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Seiring dengan itu, penempatan lokasi investasi juga harus diperhatikan untuk pemerataan, baik infrastruktur yang dibangun maupun benefitnya bagi warga sekitar proyek.

 Untuk aneka infrastruktur dan industri yang mengikutinya, prioritas di luar Jawa, lebih-lebih daerah yang upah buruhnya masih rendah—di mayoritas daerah luar Jawa UMK masih setengah dari DKI dan sekitarnya. Investor tak seketika dibebani upah buruh yang berat! Untuk mewujudkan semua itu, tentu para pembantu Presiden harus menunjukkan kemampuann
Selanjutnya.....

BBM Naik, Rupiah Melemah Lagi!

MESKI awal pekan lalu rupiah menguat hingga tembus ke bawah Rp13 ribu/dolar AS karena menurut Deputi Direktur Asian Development Bank (ADB) Indonesia Edimon Ginting The Fed tidak akan membiarkan dolar menguat selamanya (Kompas.com, 25/3), pada penutupan Jumat sore (27/3) rupiah melemah kembali tembus Rp13 ribu jadi Rp13.064/dolar akibat berita harga BBM naik tengah malam itu (Kompas.com, 27/3). Menurut Edimon, selain faktor luar The Fed yang menjadi ketergantungan kurs rupiah, faktor dalam negeri penentunya adalah current account deficit (CAD). Dengan Indonesia sebagai net importer BBM, peningkatan nilai impor BBM itu secara langsung berimbas ke CAD, dengan pukulannya telak ke kurs rupiah.

Sebenarnya, pemerintah telah merilis enam paket kebijakan untuk menurunkan CAD, antara lain menyuntik biofuel sebesar 15% ke dalam konsumsi solar. Tapi, selain harga biofuel tak lebih murah dari solar impor, aturan pelaksanaan administratif enam kebijakan itu juga belum selesai dibuat, kebijakan menaikkan harga BBM malah sudah keburu dilakukan!

 Akibatnya, seiring kembali jebloknya kurs rupiah ke dolar AS, harga barang-barang kebutuhan pokok pun keburu tertarik naik mengikuti harga BBM. Jadi, rangkaian waktu pengambilan kebijakan juga kurang diperhatikan, sehingga ketika kurs rupiah mendapat angin baik dari faktor eksternal, justru digilas faktor internal—kebijakan pemerintah sendiri. 

Masalah ini sering terbentur pada anomali deflasi yang diacungkan pemerintah untuk menjustifikasi kebijakannya yang secara nyata menyengsarakan rakyat. Seperti pada Januari—Februari 2015, ketika rakyat menjerit tercekik harga kebutuhan pokok mereka yang meroket, beras medium dari Rp8.000/kg naik jadi lebih Rp11 ribu/kg, demikian juga gula, minyak goreng, gas, dan sebagainya, pemerintah dengan santai menenggelamkan keluhan rakyat itu dengan data deflasi.

 Padahal, deflasi itu terjadi turunnya harga barang-barang yang tak dibutuhkan rakyat, sedang harga barang kebutuhan pokok sudah tak terjangkau oleh rakyat! Demikian pula dengan ekses kenaikan harga BBM terakhir ini, imbasnya kepada kesulitan rakyat akan secara mudah ditepis dengan 'data akumulatif' yang membuat keluhan rakyat jelata jadi tak relevan! 

Tapi memang selalu begitu nasib rakyat jelata, penderitaannya yang paling pedih pun amat mudah dimentahkan dengan retorika politik didasarkan data yang sejak awal disusun berorientasi pada kepentingan elite! ***
Selanjutnya.....

1D, Idola Pemandu Remaja Global!

UNTUK menonton pertunjukan musik yang dimulai pukul 20.00, sejak pukul 09.00 ribuan remaja yang mayoritas putri, Rabu (25-3), sudah antre di pintu gerbang luar Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Belum masuk stadion, sore setelah gerbang luar dibuka, 40 orang kolaps, pingsan atau kejang.

 Itu terjadi saat pertunjukan boyband asal Inggris One Directions, diringkas 1D, di Jakarta, Rabu. Panitia menyiagakan 10 dokter dan 100 perawat dengan sebuah tenda untuk perawatan dan sejumlah ambulans, mengantisipasi kondisi kritis penonton yang histeris ingin cepat jumpa idolanya. (Kompas.com, 25/3).

One Directions—bermakna satu arah atau satu jurusan—dimetaforakan idola pemandu arah remaja global dalam mengikuti semangat zaman, termasuk remaja Jakarta. Jubelan puluhan ribu penonton yang berebut masuk stadion itu, semuanya memegang tiket, yang paling murah harganya Rp500 ribu. Posisi terbaik tiketnya Rp2,75 juta. 

Disusul Rp1,75 juta, Rp1,4 juta, Rp1,2 juta, Rp1 juta, dan Rp750 ribu. Penjualan tiket dilakukan sejak 31 Mei 2014 untuk offline, dan 2 Juni 2014 untuk online. (Tempo.co, 18/3) Stadion yang berkapasitas penonton lebih 100 ribu orang termasuk ringside itu pun penuh. Dengan harga tiket yang selangit itu bisa diasumsikan, mayoritas penontonnya remaja dari kalangan mampu. 

Hal lazim, mereka dari kelompok inklusif yang pandangannya berorientasi tren global, salah satu cirinya meminati musik pop dan musik modern global. One Directions dengan personel Niell Horan, Zaym Malik, Liam Payne, Harry Styles, dan Louise Tumlinson itu ditemukan pencari bakat The X Factor 2010, dikontrak Syco Record, label rekaman milik Simon Cowell. 

Selain lagu Cloud dan Steal My Girl yang membuka konsernya di Jakarta, 1D ngetop antara lain lewat lagu Story of My Life, You and I, What Makes You Beautiful, dan One Thing. 

Namun, realitasnya, 1D membuktikan tidak mudah jadi idola pemandu gaya remaja global. Vokalis Zaym Malik berakhir dengan mengakui dirinya stres hingga tak mampu lagi bertahan setiap saat dalam sorotan kamera publik untuk peran selaku selebritas idola remaja global. 

Bersamaan dengan pertunjukan 1D di Jakarta, Zaym Malik resmi mengundurkan diri dari grup One Direction, untuk kembali hidup wajar sebagai manusia biasa yang tak selalu disoroti kamera publik. Meski demikian, rapuh nyatanya idola itu, One Directions tetap jadi pemandu arah semangat zaman remaja global! ***
Selanjutnya.....

Begal, Masalah Ekonomi dan Moral!

SALUT kepada Gubermur Lampung M Ridho Ficardo yang mengangkat masalah begal dalam Musyawarah Rencana Pembangunan Provinsi (Musrenbangprov) sebagai introspeksi kebijakan pembangunan yang belum berhasil menyejahterakan rakyat. 

"Kami sadari masih tingginya kemiskinan menimbulkan begal," ujar Ridho. Sumbangan begal ini membuat citra Lampung menjadi buruk di mata nasional, terutama Jakarta. "Jangan sampai Lampung nanti jadi duta besar begal se-Indonesia. Solusi untuk mengatasi begal salah satunya membuka lapangan kerja."

Di sisi lain, Kepolisian Resort Kota (Polresta) Bandar Lampung membentuk Tim Buru Begal untuk membekuk begal yang marak di wilayahnya. Tugas tim menegakkan hukum atas begal yang merampas dengan kekerasan hak milik orang lain. 

Kalau Gubernur melihat begal sebagai masalah ekonomi sehingga perlu solusi secara ekonomi, maka dari sisi kepolisian melihat begal sebagai masalah lemahnya moralitas sehingga orang melanggar hukum. Penegakan hukum itu sendiri merupakan solusi, untuk mereedukasi pelaku ke arah sikap moral yang benar, dengan hukuman pada begal sekaligus membuat efek jera ke tengah masyarakat. 

Sebagai usaha menyelesaikan masalah, solusi ekonomi dan solusi moral harus dilakukan secara saksama, tak bisa dipisah dan jalan sendiri-sendiri. Untuk itu, seiring pemerintah meningkatkan kesejahteraan rakyat secara umum dengan penciptaan lapangan kerja yang cukup bagi generasi muda yang tumbuh agar tak terdorong ke barisan begal, lembaga pemasyarakatan (LP) sebagai tempat reedukasi diperkuat lagi dengan penanaman dan penumbuhan moral ekonomi kepada mantan begal. 

Moral ekonomi adalah suatu sikap hidup dengan kemauan kerja keras dengan keterampilan dan kemampuan tertentu demi bertahan hidup menghindari bahaya kelaparan. (soal Moral Ekonomi lihat, James C Scott, 1977) Artinya, konsep reedukasi di LP harus dikaji ulang agar LP tidak malah menjadi school of crime! 

Pendidikan moral ajaran agama benar, latihan keterampilan benar, tapi keterampilannya bukan lagi kerajinan anyaman sabut kelapa, melainkan penguasaan teknik peranti IT, computerized, hingga saat kembali ke masyarakat punya daya saing di pasar kerja! 

Selain itu, sebagai paduan masalah ekonomi dan moral itu, begal sama dengan korupsi dalam merampas paksa hak milik orang lain! Jadi amuk massa pada begal perlahan akan bisa mengubah sikap permisif rakyat pada koruptor! ***
Selanjutnya.....

Ketika Tekanan Dolar Mengendur

MENUAI banyak kritikan keras dari ekonom dan politikus tentang kurang transparannya Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), sehingga ucapan Gubernurnya Janet Yellen sering ditafsirkan beragam, Yellen mengaku sudah sangat transparan. 

"Saya yakin The Federal Reserve sudah menjadi salah satu bank paling transparan di antara bank sentral lain di dunia," tegas Yellen. "Kami memberi banyak informasi mengenai keuangan dan neraca keuangan kami, serta kebijakan moneter kami. Kami juga sudah mengaudit laporan keuangan. Kami melaporkannya setiap minggu." (detik-Finance, 22/3)

Kritik untuk masalah transparansi Yellen memuncak pekan lalu karena banyak orang terkejut The Fed mengumumkan keuntungan sebesar 101 miliar dolar AS (sekitar Rp1.316,9 triliun kurs Rp13 ribu/dolar AS, atau setara penerimaan pajak negara RI pada APBN 2014). 

Keuntungan itu meningkat 30% dibanding 2013. Kritikan lebih tajam ke arah keuntungan The Fed yang membengkak justru di masa krisis sehingga The Fed dituduh menangguk di air keruh. The Fed berkelit, keuntungan itu diperoleh dari quantitative easing, membeli miliaran dolar obligasi dan berbagai instrumen keuangan setiap bulan, meningkatkan perekonomian negara. Imbal hasil obligasi Pemerintah AS belakangan ini memang melonjak karena membaiknya ekonomi negerinya. 

The Fed menyetorkan seluruh keuntungan itu ke kas negara, selain menaikkan aset bank sentral itu menjadi 4,5 triliun dolar AS (Rp58.500 triliun) pada 2014 dari 4 triliun dolar AS (Rp52 ribu triliun) tahun sebelumnya. 

Tampak, aset The Fed sama dengan 29 kali lipat APBNP 2015 atau lebih empat kali lipat PDB Republik Indonesia. The Fed menyetorkan keuntungan yang diraihnya ke kas negara karena dalam sistem negeri itu bank sentral menjadi bagian dari pemerintah, di bawah presiden. Beda dengan Indonesia yang jauh lebih liberal dari AS, posisi bank sentral (BI) independen, bukan bagian dari pemerintah dan tidak di bawah presiden! 

Akibat tekanan kritik yang bertubi-tubi, The Fed terkesan menangguk di air keruh di tengah krisis keuangan dunia itu, ada gelagat The Fed agak mengendurkan tekanan dolar terhadap mata uang utama dunia lainnya. 

Dengan itu memang terasa, banyak mata uang dunia menarik napas agak lega dari tekanan dolar yang sempat menyesakkan sebelumnya. Bagaimana rupiah bisa memanfaatkan momentum “politik etis” The Fed itu, menentukan diperolehnya peluang keluar dari jebakan kurs yang sempat mengkhawatirkan! ***
Selanjutnya.....

ASEAN Kehilangan Lee Kuan Yew!

ASEAN—Association of Shout East Asia Nations—kehilangan Lee Kuan Yew, tokoh pendirinya pada 8 Agustus 1967 bersama Soeharto, Tun Abdul Razak, dan para pemimpin Asia Tenggara lainnya. Lee, Sang Bapak Pendiri Singapura, wafat pada Senin (23/3), pukul 03.18, pada usia 91 tahun. 

Dengan ASEAN, antarsesama negara Asia Tenggara yang sebelumnya saling curiga dan terlibat konflik militer, berubah jadi bersahabat, saling membantu dengan penuh persahabatan dan persaudaraan bangsa-bangsa serumpun.

Lee lahir dari keluarga Tiongkok kaya 16 September 1923 di Singapura. Belajar di sekolah bergengsi Raffles College (1936—1942). Pada 15 Februari 1942, Jepang mulai menduduki Singapura, Lee menyaksikan pembantaian 50 ribu—100 ribu warga Singapura keturunan Tiongkok oleh pasukan Jepang pada 18—22 Februari 1942. 

Dan pada 1943—1944 Lee bekerja sebagai editor bahasa Inggris untuk badan propaganda Jepang, Hobudu. (Kompas.com, 12/3) Usai pendudukan Jepang (1946), Lee belajar di London School of Economics. Pada 1947—1949, studi hukum di Universitas Cambridge. Lulus 1950 kembali dari Inggris ke Singapura praktik hukum, dengan salah satu kliennya serikat pekerja. 

Pada 1954, ia ikut mendirikan Partai Aksi Rakyat (PAP), dan 1955 menjadi anggota parlemen sebagai oposisi. Pada 1959, PAP menang pemilu dengan 43 dari 51 kursi di parlemen kekuasaan kolonial Inggris, dan Lee Kuan Yew dilantik sebagai perdana menteri dalam usia 35 tahun. Lee menjabat perdana menteri selama 31 tahun, 28 November 1990 ia mundur dan menyerahkan jabatannya pada Goh Chok Tong. 

Selama berkuasa, 16 September 1963 Singapura bergabung dalam Federasi Malaysia. Namun, usai kerusuhan rasial, 9 Agustus 1965, memisah diri dari dan jadi republik merdeka. Lee Kuan Yew membuktikan kemampuan mengubah Singapura yang kumuh sarang samseng (preman) menjadi salah satu pusat keuangan dunia yang warganya tertib dan disiplin! 

Kondisi Singapura sebelum merdeka terlukis dalam serial Serangoon Road yang dibintangi aktris Holywood asal Tiongkok Joan Chen, kota melarat serbakacau, dikuasai sindikat perjudian dan penyeludupan! 

Kini, tak ada lagi warga yang tinggal di rumah kumuh! Mayoritas tinggal di apartemen yang dibangun pemerintah sampai 60 lantai karena langka tanah untuk 4,5 juta warganya. Berkat disiplin keras dari Lee, persepsi korupsi Singapura peringkat 2 dunia setelah Norwegia, pendidikan dan layanan kesehatan terbaik di dunia! Selamat jalan Bapak ASEAN, Lee Kuan Yew! ***
Selanjutnya.....

Ah, Vitamin Pejabat Ditjen Pajak!

PRESIDEN Joko Widodo menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 37 Tahun 2015 tentang Kenaikan Tunjangan Kinerja Pegawai Direktorat Jenderal Pajak, dengan nilai tertinggi untuk Dirjen Rp117 juta per bulan dan terendah untuk penilai PBB Muda Rp21.567.900. 

Tunjangan kinerja itu di luar gaji pokok dan tunjangan jabatan (Kompas.com, 21/3). Ah, tunjangan itu jelas bisa membuat iri PNS lainnya! Sebab, pemerintah layak memberi penjelasan terbuka dan lengkap kepada semua PNS alasan pemberian tunjangan melebihi gaji menteri itu.

Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto mengatakan tunjangan sebesar Rp4,1 triliun per tahun itu diberikan Presiden sebagai vitamin untuk mencapai target penerimaan pajak yang meningkat drastis 20% pada APBNP 2015 menjadi Rp1.484,6 triliun. 

Tunjangan itu juga sudah disetujui Komisi XI DPR. Istilah vitamin itu, menurut Andi, datang sebagai permintaan dari Dirjen pajak saat Februari lalu mendapat peningkatan beban target penerimaan pajak yang sangat tinggi. 

Dengan terminologi vitamin, berarti tunjangan kinerja ini diberikan selayak suplemen penambah tenaga dan semangat untuk bekerja melebihi kapasitas normal. Jadi, beda dengan bonus yang diberikan setelah terbukti target tercapai atau disesuaikan dengan persentase capaian seusai diaudit! 

Itulah unggulnya vitamin hingga bisa mencapai besaran dua kali lipat gaji dan aneka tunjangan yang diterima anggota DPR per bulan. Apa pembenarnya? Apakah karena hasil kerja pejabat Ditjen Pajak berupa uang tunai yang amat penting bagi negara, sedangkan kerja anggota DPR menghasilkan undang-undang, mengawasi pemerintah, dan menyusun APBN tidak sepenting hasil pejabat Ditjen Pajak, atau malah cuma setengahnya? 

Belum lagi kalau dibandingkan dengan guru yang siang mengajar seharian, malam masih harus menyiapkan mata pelajaran untuk besok, gajinya hanya sekitar 5% dari tunjangan kinerja pejabat Ditjen Pajak! 

Apa hasil kerja membangun peradaban dengan mencerdaskan kehidupan bangsa yang dilakukan guru nilainya amat kecil sekali bagi negara dibanding uang yang didapat oleh pegawai Ditjen Pajak? Jawabannya sederhana. 

Pemerintahan negara sekarang sedang memprioritaskan pembangunan fisik-materialistis yang membutuhkan sangat banyak uang! Jadi, mereka yang tugasnya mencari uang guna mewujudkan prioritas pemerintah itu yang diutamakan! 

Oleh sebab itu, PNS lain harap sabar, menunggu giliran prioritas! ***
Selanjutnya.....