Kata Kunci
Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani
Kamis, 31 Januari 2019
0
Menyimak Laju Ekonomi Nasional!
SEBERAPA laju perekonomian nasional dan di mana posisinya saat ini, bisa disimak lewat klarifikasi Staf Khusus Presiden, Ahmad Erani Yustika, terhadap kritik sebuah media asing yang tidak didasarkan pada data yang akurat dan peta komprehensif atas kemajuan ekonomi Indonesia dari waktu ke waktu.
Ahmad Erani memulai klarifikasinya dari pertumbuhan pembentukan modal tetap domestik bruto (PMTDB) sepanjang 2015—2017 terus mengalami peningkatan, rata-rata tumbuh 5,2% per tahun. Sedangkan periode 2012—2014 tumbuh 3,5% per tahun. (detik-finance, 26/1/2018)
Kontribusi PMTDB terhadap produk domestik bruto (PDB) naik dari 31% pada 2010 menjadi 32,16% pada 2017.
Realisasi penanaman modal dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Jika memperhatikan perkembangan ekonomi global, pertumbuhan ekonomi dunia mulai melambat sejak 2011.
Tren pertumbuhan ekonomi Indonesia justru naik dari 5,01% pada 2014 menjadi 5,17% pada 2018 (triwulan III). Tren pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan penurunan sejak 2011 hingga 2015. Pada 2011, pertumbuhan ekonomi mencapai 6,5% dan turun menjadi 4,9% pada 2015; setelah itu pertumbuhan ekonomi menanjak kembali secara perlahan di saat negara lain pertumbuhan ekonomi makin turun, termasuk Tiongkok.
Kualitas pertumbuhan ekonomi membaik. Untuk pertama kalinya sejak 2016 pertumbuhan ekonomi bisa menurunkan angka kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan pendapatan secara bersamaan. Seperti diketahui, pada periode 2005—2014 ketimpangan pendapatan terus meningkat.
Kemiskinan turun dari 11% (2014) menjadi 9,6% (2018). Pengangguran turun dari 5,94% (2014) menjadi 5,3% (2018). Ketimpangan pendapatan turun dari 0,4 (2014) menjadi 0,38 (2018).
Inflasi yang menjadi ukuran perbaikan daya beli masyarakat cenderung turun. inflasi pangan terkendali. Pada 2015—2018, inflasi harga pangan (volatile food) hanya 2,2% per tahun. Periode 2010—2013 rata-rata 9,6%; dam periode 2005—2008 raya-rata 14,3% per tahun.
Pertumbuhan PDB per kapita lebih tinggi dari inflasi. Pada periode 2015—2017, rata-rata pertumbuhan PDB per kapita sebesar 3,68% per tahun dengan inflasi rata-rata 3,39% per tahun. Pertumbuhan PDB per kapita sepanjang 2012—2014 rata-rata 4,1% per tahun di mana rata-rata inflasi sebesar 7% per rahun.
Manajemen fiskal terkelola dengan baik, yang tergambar dari defisit di bawah 3%. Indikator sektor keuangan sehat. NPL di bawah 5% dan CAR di atas 20%, serta utang di bawah 30% dari PDB. *** (Bersambung)
Selanjutnya.....
Selasa, 29 Januari 2019
0
Giliran Ekonomi Uni Eropa Suram!
USAI rapat penyusunan kebijakan, Gubernur Bank Central Eropa (European Central Bank—ECB) Mario Draghi melukiskan suramnya perekonomian kawasan Uni Eropa. Dalam konferensi pers dia sebutkan data-data perekonomian yang lebih lemah dari prediksi dan risiko pertumbuhan makin meningkat.
Dikutip BBC (25/1/2019), Draghi memberi isyarat jelas ECB akan lebih lama menaikkan suku bunga dari yang telah disarankan sebelumnya. Banyak faktor jadi pertimbangan mereka. Antara lain, pelambatan ekonomi Tiongkok serta kian turunnya dampak dari stimulus kebijakan pajak di AS.
Juga ada peningkatan ketidakpastian akibat menguatnya proteksionisme perdagangan. Kurangnya kejelasan dari negosiasi Brexit juga menjadi sumber ketidakpastian tersebut. Bahkan industri otomotif Jerman terdisrupsi peraturan prosedur uji emisi terbaru. (Kompas.com, 25/1/2019)
Meski menyampaikan berbagai ketidakpastian terhadap prospek perekonomian Eropa, kepada Dewan Pemerintahan ECB sebagai pihak yang mengambil keputusan kebijakan, Draghi mengatakan bahwa kemungkinan terjadinya resesi rendah. Walau mereka tetap membahas adanya risiko tersebut.
Hingga saat ini, kebijakan ECB masih cenderung berada dalam wilayah tidak konvensional akibat dari krisis keuangan. Tingkat bunga utamanya masih nol, dan tingkat bunga yang dibayarkan bank untuk deposito berjangka satu malam atau di bawah itu masih negatif selama lebih dari empat tahun terakhir.
Meski demikian, normalisasi kebijakan ECB telah dimulai. Mulai bulan lalu, ECB berhenti membeli aset keuangan terutama obligasi pemerintah.
ECB juga mulai memberikan beberapa indikasi sebelumnya kapan akan mulai menaikkan suku bunga. Bank sentral menyatakan, mereka mengharapkan suku bunga utama ECB tetap berada di level saat ini setidaknya selama musim panas 2019, dan selama apa pun sepanjang diperlukan untuk menjaga inflasi di bawah target, namun mendekati 2%.
Hal itu tidak berubah, namun Draghi mengatakan ada harapan kenaikan suku bunga tidak akan terjadi sampai tahun depan.
Sementara itu, parlemen Inggris menolak kesepakatan Brexit yang dirancang Perdana Menteri Theresa May (sesuai dengan hasil referendum Inggris keluar dari Uni Eropa) dengan hasil pemungutan suara 432 menolak dan 202 mendukung, 15 Januari 2019.
Brexit jadi buntu, apalagi pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn usai voting mengajukan mosi tidak percaya kepada pemerintah. Itu berarti, faktor ketidakpastian Brexit masih menjadi sandungan ekonomi Eropa. ***
Selanjutnya.....
Senin, 28 Januari 2019
0
Harga CPO Melaju, 544 Dolar/Ton!
HARGA minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Derivatif Malaysia pekan lalu (23/1/2018) melaju ke 2.254 ringgit Malaysia/ton untuk penyerahan April 2019 atau setara 544 dolar AS/ton dengan kurs dolar AS hari itu 4,14 ringgit Malaysia. Pada harga tersebut, harga CPO sejak awal tahun sudah naik 6,46% (ytd).
Terus melajunya harga CPO sejak awal tahun itu didukung oleh sentimen positif yang kuat. Menurut hasil survei tiga lembaga yang berpengaruh di pasar sawit dunia, Intertek Testing Service, Amspec Malaysia, dan Sociece Generale de Surveillance, ada kenaikan ekspor minyak sawit Malaysia sebesar 9%—13% pada periode 1—20 Januari, dibandingkan bulan lalu (CNBC-Indonesia, 23/1/2018).
Meningkatnya permintaan saat cadangan CPO melimpah bisa menenangkan pelaku pasar, karena bisa menguras cadangan dan memberi dorongan pada harga CPO. Selain itu, pada periode Desember—Maret produksi sawit diprediksi akan menurun karena faktor musiman.
Harga CPO juga diperkirakan analis Dorab Minstry, direktur Godrej International Ltd, akan terus naik hingga ke level 2.400 ringgit Malaysia/ton atau 579 dolar AS/ton dengan kurs dolar AS 4,14 ringgit Malaysia. Prediksi itu disampaikan pada acara Pakistan Edible Oils Conference, pekan lalu, didasarkan pada meningkatnya permintaan minyak sawit di sektor energi dan melambatnya produksi.
Itu diperkuat analis James Fry, yang menyatakan harga minyak sayur, termasuk minyak sawit, diprediksi meningkat 50 sampai 100 dolar AS per ton pada Juni 2019.
Permintaan CPO untuk biodiesel campuran solar bersubsidi, di Indonesia dilakukan 20% (B20), pada 2018 sejak September ke Desember terpakai 4,02 juta kiloliter. Sisa dari produksi biodiesel 6,01 juta kiloliter diekspor. Pada 2019 pemakaiannya diperluas juga untuk solar nonsubsidi, sekaligus sedang diuji-jalan B30, campuran 30%. Produksi biodiesel Indonesia 2019 meningkat jadi 12 juta kiloliter.
Sementara itu, menurut Menteri Industri Utama Malaysia, Teresa Kok, negeri itu tahun 2019 ini menggunakan campuran biodiesel B10 untuk solar di negerinya. Dengan program B10 yang tengah berjalan, konsumsi CPO Malaysia meningkat 70 ribu ton/bulan. Tahun 2020, ditingkatkan menjadi B20.
Sementara analis industri Thomas Mielke, editor koran Oil World (Jerman) pada konferensi di Pakistan (19/1/2019), memprediksi cadangan minyak sawit dunia akan turun hingga 1 juta ton sepanjang Januari—September 2019—di tengah permintaan untuk energi yang terus meningkat. ***
Selanjutnya.....
Minggu, 27 Januari 2019
0
Arah Kiblat Bergeser, Magnet Kutub Pindah!
KEMENTERIAN Agama RI mengumumkan pada Minggu, 28 Mei 2017, matahari tepat di atas Kakbah pada pukul 16.18 WIB. "Saat itu, bayang-bayang benda yang berdiri tegak lurus di mana saja akan mengarah lurus ke Kakbah," kata pengumunan itu. Warga disarankan memverifikasi arah kiblat di tempat masing-masing.
Waktu itu, baik masjid di kampung kami maupun musala di kantor, melakukan koreksi arah kiblat yang ternyata cukup signifikan. Pemahaman yang berkembang kala itu, pergeseran tempat dan arah tempat-tempat di muka bumi terjadi akibat gesekan dan dorongan pada lempeng bumi saat gempa.
Terakhir ini diketahui para ahli, yang bergeser bahkan bisa disebut pindah, sebenarnya kutub magnet bumi. Magnet Kutub Utara, posisinya sekarang ini bergerak dari Kanada ke Siberia jauh lebih cepat dari perkiraan para ilmuwan.
Dikenal sebagai magnetosfer, medan magnet yang terutama dibangkitkan cairan logam yang bergerak di inti bagian dalam bumi, sangat penting bagi kehidupan di planet.
"Medan magnet melindungi kita dari angin tenaga matahari (gelombang partikel dari matahari) yang bisa menjadi sangat berbahaya," kata geolog Ricardo Fereira Trindade dari University of Sao Paolo, seperti dikutip Kompas.com dari BBC (18/1/2019).
Hal itu memaksa para ahli geomagnetisme untuk memperbarui model magnetik Bumi (WMM), sebuah peta kekuatan magnetik. Peta tersebut digunakan secara luas pada navigasi militer dan sipil, juga digunakan aplikasi telepon pintar, seperti Google Maps.
"Ini dibuat dari serangkaian pengamatan di seluruh dunia selama lima tahun. Dari sana model dunia dibuat, memperlihatkan perubahan ruang dan waktu. Mirip peta 4D," jelas Fereira. "Ini model dasar, bahkan untuk memosisikan satelit."
Versi terbaru WMM dikeluarkan 2015 dan seharusnya berlaku sampai 2020. Tetapi kecepatan perubahan magnetosfer membuat para ilmuwan harus memperbaruinya untuk versi yang dijadwalkan keluar pada 30 Januari.
Perubahan magnetosfer yang tidak terduga ini meningkatkan jumlah kesalahan pada model WMM yang ada sekarang. Menurut jurnal sains terkemuka dunia, Nature, peneliti Amerika dan Inggris mengatakan WMM saat ini telah kedaluwarsa nyaris mendekati batas yang bisa diterima—dan bisa menimbulkan kesalahan navigasi.
Para ilmuwan masih berusaha memahami penyebab perubahan tersebut. Philip Livermore dari Leeds University mengatakan ini bisa memperlemah medan magnet di atas Kanada. Ini akan menarik kutub lebih cepat ke arah Rusia. ***
Selanjutnya.....
Sabtu, 26 Januari 2019
0
Chatib, Ekonomi RI Tahan Banting!
MANTAN Menteri Keuangan M Chatib Basri, menganggap tekanan ekonomi 2018 lebih berat dari masa sebelumnya. Namun kondisi saat ini, Chatib menilai Indonesia lebih tahan banting. Padahal faktor tekanan eksternalnya lebih banyak, ditambah perang dagang AS dan negara mitra.
"Ditambah ketidakpastian akibat kebijakan Trump. Secara personal saya melihat 2018 tahun yang berat sekali," ujar Chatib. (Kompas.com, 22/1/2018)
Untungnya, kata Chatib, pemerintah bergerak cepat untuk mengatasi masalah tersebut melalui berbagai kebijakan. Salah satunya dengan beberapa kali menaikkan suku bunga Bank Indonesia hingga tujuh kali selama 2018 sebagai reaksi pelemahan rupiah.
"Saya mesti bilang, seandainya fiskal telat disesuaikan, tidak ada langkah cepat, rupiah kita bisa lebih dari Rp15.200," kata Chatib.
Di tengah kondisi tersebut, ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh di atas 5% dan menjaga inflasi di level 3%. "Yang dilakukan pemerintah sampai defisit (APBN) hanya 1,76% itu luar biasa sekali," ujar Chatib.
Tekanan eksternal 2018 jauh lebih besar daripada saat dia menjabat dulu 2013. Saat itu, penyebab gejolak ekonomi adalah rencana kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS, The Fed. Padahal, saat itu baru wacana, belum ada kenaikan.
"Selain itu, ketika itu harga minyak dunia juga tinggi sekitar 100 dolar AS per barel. Untuk menekan defisit, pemerintah terpaksa menaikkan harga bahan bakar minyak. Pertumbuhan ekonomi pun turun dari 6,1% menjadi 5,8%.
Dengan kondisi ekonomi Indonesia yang tahan banting, menurut Chatib Basri itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan Indonesia tak perlu memitigasi beban utang seperti disarankan pada outlook Dana Moneter Internasional (IMF) di World Economic Forum, Davos, Swiss, pekan ini.
IMF menyatakan perlu kerangka kerja makroprudensial yang kuat untuk mengatasi beban utang. Menurut Sri, mantan direktur eksekutif Bank Dunia itu, rasio utang Indonesia masih berada di level aman. Peringatan IMF itu hanya berlaku bagi negara-negara yang rasio utangnya tinggi.
"Kan ada negara advanced country (negara maju), bahkan di Eropa yang debt to GDP ratio (rasio utang terhadap produk domestik bruto—PDB) itu sudah di atas 60, ada yang 80, bahkan 100%. Selain itu di negara berpendapatan rendah, ada lebih dari 40 negara yang utangnya sudah di atas 100%.
"Indonesia, kalau Anda bandingkan, utang kita terhadap GDP masih di 30%," kata Sri Mulyani. "Untuk standar internasional itu rendah sekali." ***
Selanjutnya.....
Jumat, 25 Januari 2019
0
Karet untuk Aspal Sudah Jalan, 7%!
PROGRAM penggunaan karet untuk campuran aspal sudah berjalan untuk jalan nasional, kata Plt Dirjen Industri Agro Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono. Penggunaannya sudah dimulai sejak 2018 dengan jumlah pemakaian karet 7% dari volume aspal.
"Teman-teman PU (PUPR) sudah memanfaatkan aspal karet. Akan diperluas lagi rapatnya untuk pemerintah daerah. Pemerintah didorong menggunakan aspal karet," ujar Sigit di Kemenko Perekonomian. (Kompas.com, 21/1/2019)
Menurut Sigit, terdapat beberapa jenis jalan yang bisa menggunakan karet sebagai bahan campuran aspal, mulai dari jalan nasional, provinsi, dan kabupaten. Ketahanannya pun telah teruji. "Yang banyak ternyata jalan kabupaten. Empat kali lipat dari jalan pusat, sekitar 380 ribu kilometer. Itu seluruh Indonesia," jelasnya.
Kemenko Perekonomian dan kementerian terkait tengah mengkaji pemanfaatan karet untuk pembangunan jalan. Dirjen Perkebunan Kementan Bambang mengatakan mereka membahas spesifikasi teknis produk karet yang bisa digunakan untuk itu. Setelah itu, kepada petani diberikan treatment karet yang harus mereka produksi.
Dengan standar kualitas yang ditetapkan itu, karet rakyat akan dihargai Rp9.000 sampai Rp10 ribu per kg. Harga itu telah memperbaiki harga karet rakyat, dibanding dengan sekarang Rp6.000 per kg.
"Kita dorong petani untuk menghasilkan spesifikasi yang dibutuhkan supaya harganya bisa masuk. Jadi petani bisa mendapatkan penghasilan yang wajar," ujar Bambang. (Liputan6.com, 21/1/2019)
Selain karet untuk campuran aspal, PUPR tahun lalu juga meneliti limbah plastik sebagai campuran aspal. Kepala Balitbang PUPR Danis H Sumadilaga mengatakan penggunaan aspal campuran limbah plastik ini telah diuji coba pada beberapa ruas jalan nasional di Jakarta, Maros (Sulsel), Bekasi (Jabar), Denpasar (Bali), dan tol Tangerang—Merak.
Rata-rata proyek tersebut menggunakan campuran 6% limbah plastik. "Campuran dengan plastik kresek ini lebih tahan terhadap deformasi dan retak dibanding dengan campuran aspal panas biasa," ujar Sumadilaga. (Republika.co.id, 22/2/2018)
Berarti ada dua bahan campuran aspal yang sudah teruji, karet dan plastik. Lebih baik jika keduanya diuji coba dalam satu paket, 7% karet dan 6% plastik. Selain petani karet tertolong, bangsa juga diselamatkan dari limbah plastik, yang telah mencemari ikan di laut dengan mikroplastik. Kita juga bisa menambang gunung-gunung sampah plastik di samudra untuk aspal jalan, menyelamatkan masa depan manusia.***
Selanjutnya.....
Kamis, 24 Januari 2019
0
Revolusi Industri 4.0, Temanya Apa?
PERTEMUAN tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pekan depan akan membahas Revolusi Industri 4.0. Disrupsinya di sini mengorbankan karyawan pracetak kehilangan pekerjaan akibat sistem computer to plate (CTP), juga 50 ribu karyawan bank tersisih (CNBC-Indonesia, 20/1) oleh sistem online pelayanan nasabah.
Implementasi Revolusi Industri 4.0 bisa lebih jauh lagi oleh otomasi mesin industri, meluasnya peran artificial intelligent (AI/kecerdasan buatan), dan aplikasi internet.
Ketua Eksekutif WEF di Jenewa, Klaus Schwab, tokoh yang mengintrodusir istilah tersebut ke publik pada 2016 lewat bukunya Revolusi Industri Keempat di pertemuan Davos tahun itu. Schwab menyebut, revolusi teknologi sedang berlangsung mengaburkan batas antara fisik, digital, dan biologis.
Dalam Revolusi Industri 4.0, AI, kendaraan otonom, dan internet saling memengaruhi kehidupan manusia. Perubahan teknologi secara drastis mengubah cara individu, perusahaan, dan pemerintah bekerja, pada akhirnya mengarah pada transformasi masyarakat seperti revolusi industri sebelumnya.
Kepala Kebijakan Teknologi dan Kemitraan WEF, Zvika Krieger, kepada CNBC-internasional (15/1) menyatakan, ada tema umum setiap revolusi industri. Revolusi Industri Pertama, dimulai di Inggris 1760, ditandai penemuan besar mesin uap, yang memungkinkan proses manufaktur baru, mengarah ke penciptaan pabrik.
Revolusi Industri Kedua hadir seabad kemudian, ditandai penemuan bola lampu, telepon, dan mesin pembakaran internal yang mendorong produksi massal di industri baja, minyak, dan listrik.
Revolusi Industri Ketiga dimulai 1960, ditandai penemuan semikonduktor, komputer pribadi, dan internet.
Revolusi Industri Keempat, menurut Krieger, agak beda dengan dua alasan. Pertama, mengaburnya kesenjangan antara fisik, digital, dan biologis. Kedua, teknologi berubah menjadi lebih cepat dari sebelumnya.
Mengaburnya kesenjangan fisik, digital, dan biologis, terlihat pada tren di Swedia orang ramai-ramai menanam cip di tubuhnya, dari kartu jaminan sosial, kartu debit, sampai kunci apartemen.
Soal kecepatan teknologi, Krieger beri contoh, dahulu perlu waktu 75 tahun mendapatkan 100 juta pelanggan melalui akses telepon. Kini, aplikasi permainan “Pokemon Go" diunduh ratusan juta pengguna hanya dalam waktu kurang satu bulan saat diluncurkan 2016.
Dalam Revolusi Industri 4.0, manusia menjadi bagian operasional aplikasi internet. Go-Jek dan sejenisnya, menuju ke sana. ***
Selanjutnya.....