Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Lebih Besar Promosi dari Realisasi!

PEGAWAI baru yang fresh from oven--baru lulus--tercengang dalam rapat merumuskan pokok-pokok materi promosi perusahaannya.

"Maksudnya, untuk pelaksanaan CSR--corporate social responsibility--yang hanya lima persen dari net profit, dipromosikan untuk corporate image dengan biaya sebesar 10 persen dari proyeksi hasil penjualan periode yang sama?" tanya pegawai baru itu. "Apa tak jadi jauh lebih besar biaya promosi dari realisasi CSR-nya itu sendiri?"

"Itu masih jauh lebih mendingan, ada dana CSR yang benar-benar dibagikan kepada rakyat yang membuuhkan di lingkungan bisnis kita!" jawab kepala divisi public relation. "Bandingkan dengan pemerintah yang tak merehabilitasi kerusakan tanggul dan jaringan irigasi, jalan ke sentra-sentra produksi, bahkan selalu gagal mengatasi kesulitan petani mendapatkan pupuk dan saprodi setiap musim tanam, tahu-tahu mengklaim dengan iklan bertubi-tubi siang-malam di semua saluran televisi bahwa surplus produksi beras itu prestasi pemerintah! Bahkan, bibit unggulnya pun hasil penangkaran perusahaan swasta!"
"Apalagi kalau yang kita promosikan hasil dari CSR perusahaan kita selama lima tahun terakhir, dengan bukti nyata kebangkitan banyak usaha baru baik berupa industri rumah tanggan maupun jajaran ratusan warung yang semarak sepanjang jalan dekat pabrik kita!" timpal wakil kepala divisi. "Sehingga, manfaat dari promosi kita bukan cuma pembagian CSR semata, melainkan juga mendorong perusahaan-perusahaan lain untuk mengikuti langkah kita membagikan CSR kepada warga di lingkungan usahanya!"

"Tapi mungkin, iklan klaim pemerintah itu untuk dibaca bahwa tanpa pemerintah berbuat apa-apa pun atau dengan tidur saja pun produksi beras bisa surplus!" tukas pegawai baru. "Konon lagi kalau pemerintah berbuat sesuatu, pasti hasilnya akan lebih baik lagi! Maka itu, berilah kesempatan kepada pemerintah sekarang untuk berkuasa satu periode lagi agar sempat berbuat lebih baik!"

"Justru pemerintahan tidur itu suatu kondisi ideal yang didukung dalam sistem laissez-faire!" tegas kepala divisi. "Karena dengan begitu, hukum alam atau juga lazim disebut Sunatullah berjalan lebih efektif! Betapa, campur tangan kekuasaan manusia yang sarat kepentingan khusus malah sering mengganggu proses hukum alam--hutan ludes, perut bumi kopong isi hasil tambangnya habis disedot!"

"Kalau begitu, bisa jadi di balik klaim prestasi pemerintah itu yang mendasarinya justru paham laissez-faire!" timpal pegawai baru. "Klaim itu jadi sah 200 persen!"

"Tapi fungsi pelayanan pemerintah harus tetap dijalankan, dong!" tegas kepala divisi. "Tanggul-tanggul dan irigasi, jalan ke sentra produksi direhabilitasi, lalu distribusi pupuk juga dibuat lancar hingga tak lagi menyusahkan petani seperti musim-musim tanam yang lalu! Jadi, klaimnya sebanding dengan realisasi kerjanya!" **
Selanjutnya.....

Masalah 'Dapur Enggak Ngebul'!

CUCU datang liburan usai UN, nenek langsung menyeretnya ke dapur, "Katakan yang jujur!" entak nenek. "Belakangan ini ibumu sering SMS ke nenek, sudah dua hari tidak masak! Apa yang kalian makan waktu ibumu tidak masak begitu? Nenek jadi tak bisa tidur memikirkan kalian!"

"Nenek lucu!" jawab cucu. "Kalau mama SMS tidak masak, itu menyampaikan kabar gembira!"

"Sok tahu!" entak nenek. "Kalau tak masak berarti dapur enggak ngebul, itu masalah serius dalam ekonomi rumah tangga!"

"Tapi sebenarnya bukan seperti yang nenek pikirkan!" jelas cucu. "Kalau mama SMS tidak masak, itu pamer! Sebab, itu berarti papa sudah pesan tempat di restoran untuk satu keluarga! Jadi, setiap dapur enggak ngebul, pertanda baik!"
"Begitu?" timpal nenek menarik napas lega, "Jadi, beda masalah dapur enggak ngebul antara orang desa dan kota! Pantas, kalau elite politik dari kota datang ke desa dilapori banyak warga sudah berhari-hari dapurnya enggak ngebul, elite kota itu justru terangguk-angguk gembira sambil berkata, 'Bagus! Bagus!' Mungkin dia kira seperti di kota, kalau dapur enggak ngebul makan di restoran! Padahal, maksud warga memberi tahu, ancaman bahaya kelaparan sudah melanda desa!"

"Lalu, apa tindakan elite kota itu?" kejar cucu.

"Memberi bantuan langsung tunai, mungkin agar lebih mudah makan di restoran terus!" jelas nenek. "Dan memang, bantuan tunai itu bisa ludes dua hari untuk melampiaskan kelaparan akibat berhari-hari dapurnya enggak ngebul!"

"Rupanya itu salah satu penyebab kenapa selama era SBY-JK dana untuk mengurangi kemiskinan naik hampir empat kali lipat, tetapi seperti ditulis Faisal Basri (Kompas, 27-4), angka kemiskinan hanya turun satu persen saja!" tukas cucu. "Dia bandingkan dengan Laos, berhasil mengurangi kemiskinan absolut dari 22,8 persen pada 2004 menjadi 12,2 persen pada 2008! Juga Kamboja, pada priode sama penduduk miskin dari 19 persen jadi 8,7 persen, Vietnam dari 7,8 persen jadi 3 persen, dan China 10,3 persen jadi 6,1 persen!"

"Maksudmu mengatasi kemiskinan warga desa dengan cara berpikir orang kota?" kejar nenek.

"Bukan cuma itu! Tapi pada dasarnya, elite kota itu tidak memahami hakikat kemiskinan, hingga mereka kira asal diberi uang cepek ceng sebulan akan terbebas dari kemiskinan!" tegas cucu. "Akibatnya seperti memberi obat tanpa diagnosis, asal diberi obat paten yang mahal dikira segala penyakit sembuh! Maka itu, dana habis empat kali lipat, pasien yang sembuh cuma satu persen!"

"Sedang di Laos, Kamboja, Vietnam, dan China, meski diberi obat generik yang murah, dengan diagnosis dokter sehingga obatnya tepat dengan penyakit setiap pasien!" potong nenek. "Apalagi kalau kemiskinan itu sudah seperti penyakit parah, diberi obat cuma untuk sekali makan, dapurnya enggak bertahan ngebul!" ***
Selanjutnya.....

Pesona Pemuda 'Agent of Change'!

SEORANG pemuda perantau, pemilu pulang bawa mobil! Usai menconteng ia langsung kembali ke kota! Seorang gadis yang ia ajak bicara saat di TPS penasaran oleh bisikan si pemuda, "Pekerjaanku di kota, agent of change!"

"Pekerjaan apa itu?" potong adik lelaki si gadis.

"Maka itu, kau cari tahu ke kota!" ujar si gadis.

Pulang dari kota wajah adik berseri-seri. "Dia berkata jujur, dia seorang agent of change!"

"Pekerjaan seperti apa itu?" kejar si gadis.

"Agent of change itu, agen penukaran kembalian uang di terminal pusat kota, tujuan angkutan kota dari semua jurusan!" jelas adiknya. "Kerjanya ringan, untung bersih 10 persen!"

"Bagaimana cara kerjanya?!" kejar si gadis.

"Pagi pukul lima dia sudah di terminal bawa tas hitam berisi ratusan ikat koin lima ratusan, seikat sembilan keping! Dia bagi-bagi saja kepada setiap sopir angkot dua ikat, untuk kembalian ongkos penumpang! Tarif angkot Rp2.500, jadi harus siap kembalian lima ratusan!" jelas adik. "Setelah angkot dua atau tiga rit, para sopir itu membayar koin tadi, seikatnya lima ribu rupiah! Jadi setiap ikat dia untung Rp500!"

"Itu pekerjaan yang dibanggakan dengan bahasa Inggris, agent of change?" entak si gadis.

"Tapi hasilnya nyata, setiap seratus ikat untung Rp50 ribu!" tegas adik. "Kalau sehari habis 400 ikat, penghasilan hariannya Rp200 ribu! Maka itu ia bisa mengangsur rumah sendiri, kredit mobil yang dia bawa kemari itu, sehari-hari dia titipkan di penyewaan mobil! Sorenya kuliah S-2!"

"Apa? Dia kuliah S-2? Pantas, keren!" entak gadis. "Di zaman multikrisis orang mencukupi kehidupan sehari-hari saja sulit, dia bisa kuliah S-2? Kau kan kusuruh melihat dari jauh, kok bisa tahu semua?"

"Aku langsung ke rumahnya, mengantar titipan ibunya!" jawab adik. "Pokoknya, dia itu pemuda idola para pemimpin, bisa menciptakan lapangan kerja sendiri dan berorientasi masa depan dengan melanjutkan kuliah terus! Pagi-pagi aku ikut ke terminal, ke bank menukar uang, ke penyewaan mobil, lalu ke kampus! Teman kuliahnya pejabat dan pengusaha pakai mobil pribadi bagus-bagus!"

"Tak dibawa ke rumah pacarnya?" pancing gadis.

"Kata dia, gadis kota alergi sama cowok yang kerja seperti dia!" jelas adik. "Favorit gadis kota pekerja kantoran yang bergaji bulanan, bukan berpenghasilan harian seperti dia!"

"Aneh ya, cewek kota?" timpal gadis. "Ogah yang dapat duit setiap hari, malah cari yang bulanan!"

"Maka itu, di kota besar lebih banyak pemuda jadi pengangguran karena pekerja harian dipandang rendah oleh masyarakatnya!"

"Mereka tak tahu 69 persen dari angkatan kerja negeri kita hidup di sektor informal, yang justru lebih kreatif seperti agent of change kita!" entak gadis. "Menunggu kerja kantoran bisa hilang kesempatan di usia emas masa hidupnya! Kasihan mereka, menghabiskan usia secara sia-sia!"

"Mending sia-sia!" timpal adik. "Ada yang jadi caleg dan kalah, masuk rumah sakit jiwa!" ***
Selanjutnya.....

JK Berobsesi seperti Obama?

"DALAM acara bincang di televisi, Jusuf Kalla (JK) penah menyatakan dikotomi Jawa dan Luar Jawa dalam budaya politik negeri kita kian tak relevan!" ujar Umar. "Atas dasar itu menurut dia, meski tergolong dari kalangan minoritas, tidak menutup kemungkinan calon Luar Jawa bisa mengalahkan calon dari Jawa! Dia beri contoh, seperti Obama, calon dari minoritas kulit berwarna, mengalahkan calon dari kulit putih yang mayoritas!"

"Pandangan JK merefleksikan kondisi AS ke Indonesia itu lebih cenderung sebagai obsesi!" timpal Amir. "Tapi justru obsesi itu tak boleh disepelekan! Sebab, obsesi selangkah lebih keras dari cita-cita! Obsesi disikapi dengan pertaruhan maksimal! Contohnya, ketika Capres SBY memberi lima syarat cawapres yang akan maju bersamanya di Pilpres ini--yang menjadikan wapresnya nanti benar-benar pas sebagai bayangan dirinya dalam lima dimensi (dari atas, muka, belakang, kanan, dan kiri)--dan syarat-syarat itu justru seperti pagar buat JK agar tak bisa masuk, maka DPP Golkar pun mengajukan calon tunggal, JK!"


"Betapa bagi JK sebenarnya, barrier syarat-syarat itu justru merupakan pucuk dicinta ulam tiba!" tegas Amir. "Sebab, jauh dari sebelum itu, DPD I Golkar se-Tanah Air telah mendaulatnya sebagai calon presiden! Di sisi lain, kurang etis bagi JK selama lima tahun bersama SBY, memutuskan hubungan secara sepihak! Sebab itu, pemutusan hubungan dengan barrier dari pihak sono secara moral justru menguntungkan JK!"

"Itu dia, obsesi JK cukup konkret karena obsesi itu muncul setelah ada dukungan untuk pencalonannya sebagai capres oleh semua DPD I Golkar!" timpal Amir. "Di sisi lain lagi, syarat-syarat dari SBY untuk cawapresnya itu justru bisa menjadi comparative advantage jualan JK--di tengah kemafhuman masyarakat jika sebelumnya JK dengan langkah-langkah selong-nya (dianggap melangkahi Presiden hingga tidak mengenakan kubu Partai Demokrat) merupakan pengimbang dari kelambanan SBY! Jadi, kalau yang dicari cawapres mutlak harus sepenuhnya merupakan bayangan lima dimensi SBY, bakal se-alon-alon waton kelakon seperti apa pula pemerintah baru kalau SBY menang lagi nanti?"

"Dengan obsesi JK yang sudah konkret berkat dukungan DPD I Golkar se-Tanah Air itu (kalau tak berubah lagi di Rapimnassus hari ini), diperkuat hasil Pemilu Legislatif 2009 di Luar Jawa yang masih meyakinkan bagi Golkar, tinggal mencari pasangan tokoh yang berakar di Jawa, lebih-lebih berakar secara emosional!" tegas Umar. "Artinya, tokoh pasangan JK itu yang bisa mengompensasi kekalahan Golkar di Jawa dalam Pemilu Legislatif terakhir! Seandai kekalahan itu bisa ditambal, jagoan Golkar akan mampu menjadi saingan berat bagi SBY maupun Megawati! Persaingan dalam Pilpres jadi lebih enak ditonton! Siapa tahu, obsesi JK seperti Obama bisa jadi kenyataan!"*
Selanjutnya.....

Sekolah Gratis, Waspadai Politisasi!

"SEKOLAH gratis terkait wajib belajar 9 tahun sejak awal 2009, sesuai dengan PP 48/2008 yang melarang segala bentuk pungutan pada murid/walinya kecuali di sekolah berprogram internasional, perlu diwaspadai rawan terhadap politisasi!" ujar Umar. "Politisasinya antara lain rekayasa kekisruhan proses belajar-mengajar dengan tujuan menggulingkan kepala sekolah!"

"Gejala seperti itu sempat muncul di sementara SMP Kota Bandar Lampung!" sambut Umar. "Namun karena wali kota dan wakilnya satu kata dalam mengatasinya, yakni dengan tidak meladeni segala bentuk rekayasa dan memastikan masa dinas kepala sekolah sesuai dengan aturan yang berlaku, segala usaha rekayasa di sekolah akhirnya padam!"


"Memang kata kuncinya pada sikap tegas kepala daerah, wakilnya serta sekkot dan sekkab untuk tidak menoleransi segala bentuk politisasi di sekolah, lebih-lebih rekayasa kekisruhan proses belajar-mengajar!" tegas Umar. "Namun tetap perlu disimak faktor-faktor penyebab kerawanan itu!"

"Faktor utamanya jelas karena jadi terbatasnya duit ekstra di sekolah akibat larangan pungutan itu!" timpal Amir. "Misalnya, sewaktu bebas memungut dari murid/walinya, kepala sekolah punya kas kecil 'dana taktis' sehingga setiap ada pengawas datang--paling tidak sebulan dua kali--atau berurusan ke UPTD (dulu kacabdin) dan pihak-pihak lain di atas selalu 'lancar', setelah PP-48, semua itu jadi tamat! Ini bisa menyulut gagasan rekayasa 'politis', lewat pihak yang punya ambisi jadi kepala sekolah hingga mudah dikompori untuk menyusun gerakan antikepala sekolah!"

"Dengan begitu, dana taktis kepala sekolah yang sudah tamat itu mendapat substitusi 'dana perang' mengalir ke atas baik dari yang berusaha merebut maupun yang mempertahankan jabatan kepala sekolah!" tukas Umar. "Nilainya juga jelas lebih besar dari sekadar dana taktis sisihan hasil pungutan dari murid! Kerawanannya pun malah bersifat sistematis!"

"Apalagi menggalang rekayasanya relatif mudah!" timpal Amir. "Misalnya, seorang guru senior yang berprestasi dan bersertifikat, tiba-tiba jadi sering meninggalkan kelas untuk menonton televisi di ruang guru! Setelah kepala sekolah menemukan berkali-kali hal itu dan menegur sang guru senior, memang itulah yang ditunggu! Sang guru segera mempersoalkan teguran itu dengan menyulut emosi teman-teman guru dengan melabeli sang kepala sekolah arogan! Para guru lain simpati pada guru senior dan siap meneken di atas kertas kosong resolusi yang akan dibuat sang senior!"

"Saat kekisruhan di sekolah memuncak itulah, para birokrat di atas merayakan sukses rekayasa mereka! Dan tentu, mendukung resolusi!" tegas Umar. "Jadi tampak, hanya ketegasan kepala daerah yang bisa memadamkan gelora rekayasa tersebut! Kalau satu saja lolos, akan segera ditiru sekolah-sekolah lain! Lantas pendidikan di daerahnya jadi acak kadut oleh konflik yang tiada henti! Maka itu, waspadailah politisasi pendidikan di sekolah karena gejalanya mulai terbayang di skala kabupaten!" **
Selanjutnya.....

Susan Boyle, 'I Dreamed a Dream'!

"SIAPA sih, Susan Boyle?" entak Umar. "Klik Google hanya 0,12 detik muncul 5,55 juta item tulisan dan rekaman media terkemuka dunia!"

"Klik saja YouTube dan putar video penampilan pertamanya di Britain Got Talent 2009 pada 11 April lalu!" sambut Amir.

"Perempuan paro baya gemuk dengan baju gombor seperti ke ladang yang naik pentas tanpa polesan wajah ini?" kejar Umar setelah membuka YouTube. "Dicemooh dan diremehkan pula dia oleh Simon Cowell, juri American Idol!"

"Jangan nilai orang dari tampak luarnya!" sergah Amir. "Tunggu perempuan dusun berusia 47 tahun dari Blackburn, Skotlandia, yang percaya diri itu menyanyi! Sesaat usai dia menyanyi, situs YouTube langsung diserbu 5,6 juta pengunjung!"

"Wow, benar-benar sebuah keajaiban!" entak Umar mendengar suara sopran Susan Boyle melantunkan lagu I Dreamed a Dream, yang dipetik dari kisah drama musikal Les Miserables.


"Itu dia yang membuat dunia seketika gempar!" tegas Amir. "CNN langsung membuat program khusus Susan Boyle, koran-koran kelas dunia memuat foto dan kisahnya di depan! Soalnya, orang dusun yang polos bahkan pada usianya itu belum menikah, punya kemampuan spektakuler membuat Simon Cowell menganulir sikapnya dengan ngeles, 'Sejak awal Anda naik panggung saya tahu, ada sesuatu yang luar biasa dalam diri Anda!' jelas, Simon ditertawakan penonton!"

"Sikap Simon berbalik arah itu justru jadi 'gong' kedahsyatan Susan!" sambut Umar. "Anehnya, kenapa perempuan kedodoran begitu bisa lolos ikut seleksi penyanyi idola di negeri secanggih Inggris, padahal faktor keindahan tubuh dan usia biasanya mendapat perhatian istimewa!"

"Itu salah satu sisi keajaiban di balik kehadiran Susan!" tegas Amir. "Suatu kejaiban yang tak mudah lolos di negeri lain, konon lagi di Indonesia yang untuk seleksi idola-idolaan penilaian utama justru dari tampak luarnya! Akibatnya, idola yang dihasilkan pun sering cepat gembos--sinarnya tak bertahan di arena persaingan yang lebih ganas!"

"Dengan kecenderungan begitu, jadi menarik lagu pilihan Susan I Dreamed a Dream--aku mimpikan sebuah impian--yang mirip lagu perjuangan Martin Luther King di AS!" timpal Umar. "Di sono impian dalam mimpi saja bisa jadi kenyataan! Sedang di sini, usaha nyata yang didukung daya-upaya maksimal malah kandas! Penilaian tampak luar yang dipengaruhi faktor materialisme cenderung semakin dominan, membentuk pragmatisme yang mudah mengesampingkan hal-hal substantif! Akibatnya, kalau di sono hal-hal imajiner pun bisa menjadi kenyataan, di sini yang substantif dengan prospek konkret pun malah jadi tak jelas juntrungnya!"

"Maka itu, kalau Susan Boyle di Indonesia, dengan penampilan seperti itu sekadar jadi pesinden--penyanyi latar wayang kulit--pun susah!" tegas AMir. "Masih mujur kalau bisa jadi pelawak--mesti menurut kalangan Srimulat di Kick Andy--mereka makin kalah lucu dari politisi di Senayan!"**
Selanjutnya.....

Menunggu 'Godot' Kasus Pemilu!

"RESOLUSI sejumlah tokoh bangsa dan pimpinan sejumlah parpol hasil pertemuan di rumah Mega pekan lalu, agar pemerintah, KPU, dan Bawaslu mengusut manipulasi dan kecurangan Pemilu Legislatif 2009, tampaknya tidak direspons pemerintah dan KPU!" ujar Umar. "Cuma Bawaslu yang serius menanggapi itu dengan menyerahkan sekaligus 34 kasus ke Mabes Polri! Tapi Mabes Polri yang secara struktural di bawah Presiden tidak menindaklanjuti pengaduan Bawaslu tersebut!"

"Berarti, mereka yang berharap ada tindak lanjut dari resolusi itu dengan pengusutan kekisruhan Pemilu Legislatif 2009, terkecoh menunggu 'godot'--sesuatu yang tidak bakal terjadi!" sambut Amir. "Lalu apa pula yang dikerjakan Sekber--Sekretariat Bersama--Prabowo, Wiranto, dan sejumlah parpol lain jika hasil kerja lembaga formal yang tugasnya mengawasi pemilu (Bawaslu) saja pengaduannya dikesampingkan? Mau dibawa ke mana lagi hasil temuan kasus pemilu yang dihimpun Sekber itu?"


"Kalau semua lembaga formal di tingkat nasional enggan menangani pengaduan hasil himpunan Sekber itu, kabarnya, mereka akan sampaikan pengaduan itu ke Mahkamah Internasional di Den Haag!" timpal Umar. "Sebab, seperti dibacakan Wiranto, hasil pertemuan di rumah Mega, kasus ini menyangkut penghilangan hak asasi manusia jutaan warga negara! Ini diperkuat pakar hukum tentang hak-hak asasi manusia (HAM) Bambang Widjoyanto, penghilangan hak pilih merupakan pelanggaran terhadap hak konstitusional warga negara, sekaligus melanggar deklarasi HAM sedunia! Mahkamah Internasional memang tempat mencari keadilan untuk itu!"

"Menyedihkan kalau masalah nasional kita harus diseret ke forum internasional seperti itu!" tukas Amir. "Demokrasi di negeri kita yang sebelumnya sudah mendapat acungan jempol dari seantero dunia, hingga didaulat sebagai negara demokrasi terbesar ketiga dunia setelah India dan Amerika Serikat, seketika citranya luluh-lantak!"

"Tapi harus bagaimana lagi kalau pengaduan badan resmi yang fungsinya memang mengawasi pemilu saja, seperti Bawaslu, dipeti-eskan?" timpal Umar. "Belum lagi penolakan terhadap hasil pemilu yang terus mengalir, termasuk penolakan sejenis dari semua calon anggota DPD Lampung! Penyumbatan saluran hukum atas kasus pemilu seperti dilakukan Mabes Polri atas pengaduan Bawaslu jelas berdampak tak terhingga!"

"Apalagi kalau Megawati--yang kini dikelilingi ahli kontra isu sekelas Prabowo dan Wiranto--muncul dengan gerakan yang bisa mengesankan dia korban manipulasi-kecurangan pemilu, hingga seperti posisi Aung San Suu Kyi di Burma, karena kebetulan lawan politiknya seorang jenderal, citra demokrasi negeri kita bisa lebih terpuruk lagi!" tegas Amir. "Untuk menghindari kemungkinan seburuk itu cuma ada satu jalan--laksanakan proses hukum kasus-kasus pemilu sebagaimana mestinya--siapa pun pengadunya!" ***
Selanjutnya.....

Bermain Taktis, Tanda Strategi Gagal!

"KENAPA permainan tim bola kita berubah, tak lagi menggedor dengan umpan terobosan dari segala lini, malah cuma oper-operan?" tanya Edo.

"Tampaknya mereka jadi bermain taktis, pertanda segala strategi yang disiapkan gagal!" jawab Edi. "Di arena kelas dunia juga begitu, saat strategi menekan terus kandas, mereka ganti bermain taktis, possession football--yang penting tetap menguasai bola, sembari cari peluang terbaik!"

"Permainan bola seperti teori pembangunan juga, ya?" tukas Edo. "Ketika strategi yang tersusun dalam rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) sesuai dengan janji penguasa--mengurangi jumlah orang miskin sekian persen, pengangguran sekian persen, lalu pertumbuhan jadi sekian persen--gagal, ganti bermain taktis dengan piecemeal engineering, rekayasa camilan, menonjolkan program taktis BLT, raskin, PNPM, dan sejenisnya!"

"Strategi pembangunan yang mencanangkan perubahan besar memang mudah menjadi utopis ketika dilakukan seperti strategi bola yang cuma mengandalkan kekuatan sendiri, tanpa diiringi perhitungan kekuatan penantang di lapangan!" timpal Edi. "Piecemeal engineering sebagai alternatif setelah gagalnya strategi perubahan besar utopis, pada kenyataannya hanya penting bagi penguasa agar tetap menguasai bola! Sebagai penambal kegagalan rencana yang ambisius, program taktis sejenis BLT hanya seperti aspirin, cuma untuk menghilangkan rasa sakit--derita kemiskinan--sejenak! Karena sebenarnya, program taktis piecemeal itu merupakan lawan paradigma rencana perubahan ambisius!"

"Maksudmu, piecemeal engineering itu sebuah paradigma tersendiri sehingga seharusnya ia juga dijalankan sebagai strategi yang konsisten sejak awal, bukan cuma penambal kegagalan rencana strategis yang ambisius?" kejar Edo.

"Bukan aku yang menyatakan begitu, melainkan Karl R. Popper!" tegas Edi. "Perencanaan yang strategis untuk melakukan perubahan besar itu menurut Popper konsep sosialis, sedang piecemeal social engineering yang mendorong perubahan dengan pemberdayaan masyarakatnya justru konsep liberal! Bukan berarti konsep sosialis semata-mata jelek! Kalau konsisten dengan perubahan besar yang dicanangkan, berarti berani melakukan reformasi total, bukan mustahil berhasil! Tapi di negeri kita kan tidak begitu!"

"Bagaimana rupanya?" kejar Edo.

"Perencanaan strategis perubahan besar di negeri kita justru dilakukan dengan pola piecemeal, seperti pertumbuhan dari lima persen dinaikkan jadi enam persen, pengangguran dari 11 persen ditekan jadi delapan persen, sedang sistem yang dipakai tak berubah, sistem lama juga!" jawab Edi. "Jelas tidak nyambung, seperti mesin Ford dipasangi onderdil Toyota! Bukan cuma tak cocok, malah rontok!"

"Jadi begitu nasib perubahan besar yang di-iming-kan dengan slogan bersama kita bisa?" tukas Edo. "Kalau begitu, 'lanjutkan!' program pembagian aspirin penghilang rasa sakit sejenak itu!" ***
Selanjutnya.....