Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Notes 2009, Retorika Vs Antikorupsi!


"PERTARUNGAN persepsi tentang pemberantasan korupsi antara retorika penguasa lawan gerakan publik antikorupsi memuncaki kontraisu 2009, berujung dengan kandasnya selubung formal-legalistik oleh rasa keadilan masyarakat--dengan dipilihnya jalur di luar pengadilan justru oleh lembaga penegak hukum sendiri!" ujar Umar. "Ironisnya, di balik pergulatan itu kian mencuat realitas, justru retorika merupakan lawan sesungguhnya gerakan perjuangan antikorupsi!"

"Ironika itu jadi amat menonjol pada event Hari Antikorupsi Sedunia 9 Desember!" sambut Amir. "Retorika bernada sangat tinggi mengadangnya, dengan tudingan acara itu ditunggangi gerakan sosial bermotif politik menggulingkan kekuasaan! Retorika itu berhasil membuyarkan momentum yang dibangun koalisi gerakan antikorupsi--acara Hari Antikorupsi Sedunia antiklimaks, berlangsung relatif seadanya, kurang greget!"

"Dengan sukses itu, terutama sebagai revans atas kandasnya retorika berselubung formal-legalistik pada kasus cicak lawan buaya, retorika kembali diandalkan untuk mementahkan persepsi publik terkait skandal Bank Century!" tegas Umar. "Tidak kepalang tanggung, retorika bukan lagi semata lewat pernyataan atau pidato-pidato, diperkuat lagi lewat jalur komersial--serial iklan yang intens di media massa utamanya televisi, membentuk logika publik tentang relevansi membantu bank di masa krisis, untuk menghapus memori publik atas penggelontoran dana Rp6,7 triliun untuk memenuhi CAR (modal sendiri) 10 persen sebuah bank kecil!"

"Retorika memang cenderung selalu overdosis! Seperti iklan, tarifnya bisa lebih Rp20 juta per setengah menit pada prime time!" timpal Amir. "Namun itu sebanding dengan dampak retorika multidimensi yang bukan saja bisa larut dalam memori publik dalam jangka panjang, melainkan juga memperlemah sendi-sendi gerakan yang menjadi target! Contohnya, meski Bibit-Chandra diaktifkan kembali, pascakasus cicak lawan buaya KPK tak setajam dan segalak sebelumnya--ikut tak kunjung bisa menjadikan Anggodo sebagai tersangka!"

"Di mana letak keistimewaan retorika sehingga selalu unggul dalam pergulatan wacana publik, bahkan saat momentumnya matang seperti pada Hari Antikorupsi Sedunia?" tanya Umar.

"Karena retorika berkendara kekuasaan yang menguasai medan di semua lini!" jawab Amir. "Konon lagi dalam skandal Bank Century, selain kekuasaan politik, juga kekuasaan uang--terkait Bank Indonesia sebagai pusat moneter dan Departemen Keuangan pusat

fiskal! Sehingga, kalau soal iklan televisi, meski tampil atas nama lembaga atau yayasan apa pun itu, soal uang untuk retorika masalah kecil!"

"Kalau begitu 2009 memang tahun yang istimewa, kurun di mana opini publik antikorupsi mampu mengungguli retorika--meski cuma sementara!" timpal Umar. "Viva opini publik! Viva retorika!" ***


0 komentar: