Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Paranoid, Korupsi seperti Asma!


PRIA paro baya belajar golf, sudah memukul lebih 10 ribu bola tetap main di drive--tempat belajar memukul--tak kunjung ikut bermain di lapangan! Lazimnya, setelah memukul 3.000 bola orang lain berani turun ke lapangan.

"Bapak sudah bisa memukul dengan semua jenis stik, kenapa tak mencoba bermain di lapangan?" tanya pelatih. "Banyak pasangan main yang setara Bapak kemampuannya!"

"Nanti saja, musim kemarau!" jawab pria. "Panjang lapangan lebih lima kilometer, kalau hujan aku tak sempat berteduh! Padahal, kena hujan sedikit saja asmaku kambuh!"

"Ada kedi memegangi payung buat Bapak!" jelas pelatih. "Dalam golf yang memukul bola dengan filling, seminggu saja tak memukul kemampuan berubah, apalagi menunggu musim kemarau!"



"Pakai payung pun kalau hujannya diiringi angin, tetap saja ketampias!" entak pria.

"Kalau Bapak paranoid pada hujan, momentum yang sudah tercapai setelah memukul 10 ribu bola ini bisa hilang!" tukas pelatih. "Seperti penguasa paranoid terhadap gerakan antikorupsi bisa jadi gerakan menggulingkan kekuasaan, momentum pemberantasan korupsi yang matang jadi sia-sia!"

"Jadi korupsi seperti asma atau bengek yang bersarang sebagai penyakit keturunan?" sambut pria.

"Korupsi di lingkungan birokrasi pemerintahan memang penyakit keturunan, dalam arti warisan kultur amtenar yang feodalistis di zaman penjajahan!" tegas pelatih. "Akibat korupsi yang berakar dalam birokrasi dan paranoid terhadap hujan gerakan antikorupsi, negara kita jadi seperti Bapak yang bertahan main di driving, dalam persaingan global pelayanan usaha publik dan bisnis oleh birokrasi pemerintahan kita ranking-nya rendah sekali!"

"Serendah apa ranking-nya?" kejar pria.

"Menurut data International Financial Corporation 2008, pelayanan usaha publik dan bisnis oleh birokrasi pemerintahan di negara kita menduduki peringkat 123, dibanding Malaysia peringkat 24, Thailand 13, Vietnam 5, dan Singapura peringkat teratas! (Miftah Toha, Kompas [17-12-2009])" jelas pelatih. "Jadi, untuk persaingan dalam skala Asia Tenggara saja negeri kita di posisi underdog, dengan jarak perbedaan yang jauh sekali--nyaris 100 tingkat! Semua itu jelas akibat sifat koruptif dalam berbagai hal--terutama waktu--yang berakar di birokrasi pemerintahan kita!"

"Penyakit birokrasi pemerintahan kita juga kegemukan! Sering kulihat, di kantor-kantor pemerintahan pegawai berjubel tak banyak yang dikerjakan!" timpal pria.

"Konsekuensinya, biaya pegawai dan kelembagaan yang disebut dengan anggaran rutin
jadi membengkak, jauh lebih besar dari anggaran pembangunan dan anggaran untuk rakyat! Ini berakibat pembangunan jadi lambat, semakin jauh tertinggal dari negeri-negeri sekawasan! Lebih celaka lagi, sudah pun kegemukan, koruptif pula!" ***

1 komentar:

6 Januari 2010 pukul 11.42 Unknown mengatakan...

mulai dari sekarang...kita harus menanamkan budaya anti korupsi kepada anak cucu kita ditambah ilmu agama dan ilmu moral dan mengaktifkan kembali Gerakan Disiplin Nasional