Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Laut China Selatan Bebas Tiongkok!

REX Tillerson, calon Menteri Luar Negeri AS pilihan Donald Trump, dalam fit and proper test di Komisi Hubungan Internasional Senat AS menyatakan Tiongkok harus dihalau dan dilarang mendekati pulau buatannya di Laut China Selatan yang klaim mereka atas wilayah itu sebagai teritorial tradisionalnya telah dibatalkan Mahkamah Internasional.
Tillerson yang mantan CEO Exxon Mobil itu menyamakan pulau buatan Tiongkok di Laut China Selatan dengan pencaplokan wilayah Crimea di Ukraina oleh Rusia tahun 2014.
"Kita akan memberikan sinyal jelas kepada Tiongkok bahwa, pertama, pembangunan pulau harus berhenti, dan kedua, Anda tidak diperbolehkan mengakses pulau-pulau itu," tutur Tillerson dilansir Reuters seperti dikutip detiknews (13/1/2017). Jawaban itu diberikan Tillerson saat ditanya apakah dia mendukung langkah lebih agresif terhadap Tiongkok.
Tiongkok diketahui telah membangun landasan militer dan memasang persenjataan di pulau buatan itu. Tiongkok mengklaim sebagian besar perairan Laut China Selatan yang kaya energi dan setiap tahunnya dilewati kapal-kapal perdagangan dengan nilai transaksi 5 triliun dolar AS.
Negara-negara lain seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Taiwan, dan Vietnam juga mengklaim wilayah Laut China Selatan, sedangkan Indonesia melawan provokasi kapal nelayan Tiongkok yang dikawal kapal penjaga pantai negerinya, dengan menghadirkan kapal-kapal perang di Natuna baru-baru ini.
Tillerson lebih lanjut menyebut Tiongkok telah menyatakan kekuasaan atas wilayah yang bukan haknya. "Sungguh mengkhawatirkan," tukasnya mengenai tindakan Tiongkok di Laut China Selatan. Tillerson menyatakan agar pemerintahan Trump nantinya menerapkan pendekatan lebih tangguh terhadap Tiongkok.
Pernyataan keras Tillerson soal Tiongkok ini menjadi bentuk perubahan drastis dari kebijakan pemerintahan Presiden Barack Obama yang lebih fokus pada kerja sama. Dengan demikian, perubahan kepemimpinan di Washington itu bukan mustahil jika nantinya juga mengubah kawasan Laut China Selatan dari kawasan yang sebelumnya aman dan damai, segera berubah menjadi battle ground antarnegara besar seperti di kawasan Crimea, Ukraina.
Jelas perlu kapal-kapal perang berbagai bendera negara maju hadir di Laut China Selatan untuk menghalau Tiongkok dari pulau buatannya. Saat itu terjadi, sukar dihindari torpedo kapal-kapal perang itu simpang-siur di laut kita, nelayan kita jadi tak aman lagi, menebar pukat yang terjaring malah bom. ***

0 komentar: