Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Wajah Penguasa di Antrean Truk!


"BUDI ke mana?" tanya Umar. "Lama tak terlihat!"

"Kemarin aku jumpa, dia teller di bank!" jawab Amir.

"Apa? Pemuda sebaik Budi mabuk di bank!" timpal Umar. "Dia teler alkohol atau pil?"

"Bukan teler akibat alkohol atau narkoba!" jelas Amir. "Maksudku teller, dia jadi pegawai bank yang melayani nasabah di counter! Kau sendiri pergi ke mana, lebih seminggu tak kelihatan?"

"Ternyata justru aku yang teler di antrean truk Bakauheni dan Merak!" jawab Umar.


"Sopir truk tanteku cuti menikahkan adiknya di kampung, aku jadi sopir pengganti! Di Bakau tertahan tiga hari, kembalinya di Merak malah empat hari! Sepanjang tertahan itu aku benar-benar teler, kepala pusing tak bisa tidur, karena sebentar-sebentar truk di antrean harus digerakkan ke depan!"

"Selama teler di antrean truk, apa yang terbayang dalam pandanganmu?" tanya Amir.

"Mula-mula segala macam gambaran melintas dalam pandanganku!" jawab Umar. "Tapi semakin lama antre semakin lelah, rasa kesal pun menyala dalam dada, yang terbayang dalam pandanganku justru wajah penguasa saat menjanjikan jika dia terpilih jadi pemimpin kehidupan masyarakat terutama sosial ekonominya dijamin lebih baik! Tapi antrean truk yang menyengsarakan sopir itu membuktikan kondisi sosial ekonomi yang lebih buruk, janji penguasa itu cuma pepesan kosong!"

"Lamunan telermu itu terlalu jauh!" entak Amir. "Antrean truk cuma sepanjang 19 km di tol jalur ke Merak itu bukan bagian dari janji penguasa!"

"Lantas kehidupan di mana yang jadi bagian janji penguasa, dalam kelambu?" timpal Umar. "Justru kenyataan hidup lebih buruk di jalan umum itu bisa disebut sebagai wajah kegagalan penguasa dari janjinya menjadikan hidup rakyat lebih baik!"

"Tapi penguasa bisa mengelak, itu cuma urusan bawahan, bahkan tanggung jawab petugas di Merak dan Bakau!" kilah Amir.

"Dengan kemacetan yang sudah terjadi demikian lama, di luar otoritas petugas di Merak dan Bakau mendatangkan kapal dari jalur pelayaran lain ke jalur mereka! Juga di luar otoritas mereka untuk menunda atau mengubah jadwal wajib dok kapal! Jadi nyata, jalan keluar masalah itu berada pada kekuasaan di atas petugas di Merak dan Bakau!" tegas Umar. "Artinya, jalan keluar itu di lingkaran kekuasaan terdekat penguasa! Karena lingkar atas itu kekuasaan tak mampu mengatasi masalah, kondisi nyata jadi lebih buruk, bertentangan dengan janji penguasa atas kehidupan lebih baik!"

"Kalau begitu judulnya bukan ASDP tak berdaya!" timpal Amir. "Tapi, pemerintah tak berdaya!" ***

0 komentar: