Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Lepat Singkong Vs Istana di Penjara!


MBAH Siyem, yang rumahnya berhampiran dengan afdeling--perumahan buruh perkebunan--setiap hari membuat lepat singkong. Sebaskom lepat, begitu masak diletakkan di meja teras rumahnya, ia pun langsung salat zuhur dan melepas lelahnya membuat lepat dengan tidur siang. Saat asar dia bangun, baskomnya sudah kosong! Di hari gajian, warga afdeling berdatangan membayar lepat yang mereka ambil, menyebut sendiri berapa jumlah lepat yang harus dibayarnya.

"Apa Mbah tak pernah dibohongi orang, dia ambil banyak diakui sedikit?" tanya tetangga.

"Tentu saja pernah!" jawab mbah.

"Mbah tahu orangnya?" kejar tetangga.

"Tahu!" jawab mbah, bernada pasti.

"Bagaimana bisa tahu, saat mereka mengambil lepat kan Mbah sedang tidur?" timpal tetangga.



"Orangnya mengaku sendiri!" jelas mbah. "Waktu pulang dari penjara didakwa mencuri karet milik perkebunan, dia langsung mampir dan meminta maaf! Katanya, dia masuk bui gara-gara kualat berbohong pada mbah, cuma membayar sebagian lepat yang dia ambil! Ia yakin begitu, karena orang lain mencuri karet tak masuk penjara!"

"Kualat gara-gara membayar cuma sebagian lepat Mbah?" tetangga tersentak. "Bagaimana pula dengan koruptor miliaran atau triliunan dengan mengencundangi hak banyak rakyat jelata?"

"Kualat itu menurut perasaan orangnya!" ujar mbah. "Dia cerita, setiap malam di penjara tak bisa tidur! Sebenarnya karena penjara sempit, ruangan yang seharusnya untuk 10 orang, diisi 40 orang! Tapi akibat tak bisa tidur, pikirannya melayang mencari penyebab penderitaan itu, yang selalu muncul perasaan kualat berbohong padaku!"

"Berarti kalau penjaranya nyaman, ruang 8 X 8 meter untuk sendirian, berpendingin, berfasilitas hotel bintang, televisi layar datar dan karaoke, termasuk peralatan bermain anak-cucu yang boleh datang kapan saja, seperti yang bisa diperoleh koruptor sesuai temuan Satgas Mafia Hukum, meski dipenjara tak menderita seperti pencuri karet itu, jadi tak ada tekanan untuk merasa kualat!" tukas tetangga. "Bisa jadi itu penyebab korupsi sukar diberantas, karena terbongkar pun korupsinya orang tetap bisa mendapat istana dalam penjara!"

"Mestinya bagaimana?" tanya mbah.

"Bangun penjara khusus buat koruptor! Ada rupa ada harga, uangnya resmi masuk kas negara!" tegas tetangga. "Ada bangsal untuk kelas teri yang tak mampu bayar! Lalu ada kelas satu dan dua, tarifnya hotel melati untuk para tumbal yang dikorbankan demi menyelamatkan tindak korupsi bosnya! Untuk koruptor sejati tersedia VIP, super-VIP, VVIP, super-VVIP, dan super-VVIP plus, tarif dan fasilitas hotel bintang satu sampai lima!"

"Kalau dibuat semewah itu lepat singkongku kalah!" keluh mbah. "Karena orang tak lagi takut kualat korupsi, mengambil lepat lima diakui satu!" ***

0 komentar: