Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Piala Dunia 2010, 'Possession Football'!


"DALAM event Piala Dunia yang menciptakan satu gol saja sukar, banyak tim yang total football atau attacking football bukan tradisi negerinya, cari aman memainkan possession football--berusaha menguasai aliran bola sepenuhnya!" ujar Umar.

"Possession football selalu jadi pilihan karena fleksibel buat segala formasi! Terpenting, timnya bisa selalu menguasai bola, tak cepat mengoper ke target player (striker) yang berisiko kehilangan bola jika belum bisa jadi umpan matang!"

"Possession football membuat permainan jadi lamban, tak enak ditonton!" sambut Amir.


"Lebih membosankan lagi, jika possession football dimainkan untuk mempertahankan keunggulan yang telah diperoleh, karena sering berubah jadi gerendel (6-2-2), dengan dua pemain jadi sayap gantung di pinggir lapangan untuk menerima aliran bola dari gerendel guna dijadikan serangan balik lewat pinggir lapangan sampai jadi umpan silang buat kedua striker yang menunggu di kotak penalti! Atau, dibawa menembus ke jantung pertahanan lawan dengan umpan terobosan buat kedua striker yang menunggu di depan!"

"Serangan balik gaya gerendel itu sering berhasil!" tegas Umar. "Pertahanan lawan tinggal dua orang untuk man to man marking terhadap striker yang bertahan di depan--sedang pemain lawan lainnya mengepung gerendel--dari pihak gerendel jumlah penyerang jadi empat, dua striker dan dua sayap gantung yang bergabung jadi sebuah kombinasi serangan! Ketika gerendel lebih ekstrem sekalipun (7-2-1), penyerang tim gerendel lebih banyak dari sisa pemain bertahan lawan!"

"Memang! Bahkan Italia, pemilik trade mark sistem gerendel, meraih Piala Dunia terakhir saat memainkannya di pertandingan final yang tidak menarik--karena malah jadi negative football!" timpal Amir. "Sistem gerendel bukan cuma tradisi, bahkan bersifat ideologis bagi sepak bola Italia di Piala Dunia, yang telah menggunakannya sejak Piala Dunia sebelum Perang Dunia II--dulu disebut catenacio! Sedang tim negara lain, baik dalam bentuk possession football maupun gerendel, umumnya hanya bersifat taktis--diterapkan saat situasi membutuhkan!"

"Masalahnya, lamban dan membosankan pun, sebagai cara mempertahankan keunggulan bagi tim yang sedang di atas angin, penonton tak bisa berkutik--seperti rakyat negeri yang penguasanya lamban dan membosankan dengan praktek status quo untuk mempertahankan kekuasaan!" tegas Umar. "Celakanya, baik tim bola maupun penguasa sama-sama tak peduli penonton atau rakyatnya bosan atas kelambanan mereka!"

0 komentar: