Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Gempa, Tsunami, Gunung Meletus, Picu 'Kiamat 2012'!


"KIAMAT 2012 versi Hollywood berlatar mitologi suku Maya, dipicu oleh gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung api—seperti urutan bencana yang baru terjadi di Indonesia!" ujar Umar. "Gempa di Brasil pemicu tsunami awalnya cuma 8,4 SR—lebih kecil dari tsunami Aceh 9 SR! Tapi penyebabnya, pergeseran lempeng bumi 23 derajat, menyulut meletusnya kaldera Supervolcano Yellowstone di AS memicu tsunami dahsyat di seantero bumi!"

"Kecuali China yang membangun tujuh 'bahtera baja super' mirip perahu Nuh buat para pemimpin negara-negara sedunia, cendekiawan dan flora-fauna terpilih, serta keluarga orang terkaya dunia yang membiayai pembuatan bahtera dengan 1 miliar dolar AS per seat, semua pemerintah di dunia gagal mengatasi bencana di negerinya!" sambut Amir.


"Presiden AS tak ikut Airforce One terbang ke China bergabung 'bahtera Nuh' di pegunungan Himalaya! Ia memilih seperti nakhoda, tenggelam bersama negeri dan rakyatnya ditelan tsunami!"

"Begitulah cerita film Kiamat 2012 yang diputar berulang-ulang televisi HBO pekan ini, relevan dengan 'Pray for Indonesia' warga dunia buat bencana akhir Oktober 2010!" timpal Umar. "Di film itu, semua bahtera made in China selamat! Pada hari ke 27 bulan 1 tahun 0001—almanak baru pascakiamat—cuaca kembali cerah dengan perubahan peta bumi, benua Afrika jadi lebih tinggi! Ke Tanjung Harapan itulah umat manusia memulai kehidupan baru!"

"Dari situ bisa ditarik pelajaran buat Indonesia yang hidup di tepi lempeng bumi Eurasia dalam interaksinya dengan lempeng Indoaustralia, lempeng Pasifik, serta dalam cincin api terbesar dunia tempat 13,3% gunung api di bumi berada, hingga jadi langganan gempa, tsunami, dan letusan gunung!" tegas Amir. "Indonesia juga punya Supervolcano Toba, yang saat meletus antara 69.000-77.000 tahun lalu (Wikipedia) bumi bukan hanya gelap 27 hari seperti letusan Supervolcano Yellowstone dalam Kiamat 2012, tapi setahun lebih hingga flora-fauna di muka bumi punah!"

"Inti pelajaran itu, jika selama ini pergeseran akibat benturan lempeng Eurasia-Indoaustralia hanya 0,00 sekian derajat saja sudah menyulut gempa dan tsunami Aceh-Nias, Pandanaran, dan Mentawai, layak dipelajari dan 'wajib' hukumnya untuk menghitung persiapan menghadapi jika benturan lempeng menggeser permukaan bumi sampai derajat berdigit!" timpal Umar. "Artinya, kita punya kesiapan tanggap bencana efektif yang tangguh, tak cuma retorika mirip Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang berakibat, tsunami Mentawai jadi bencana kebijakan!"

0 komentar: