Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Tumbuh tapi kian Timpang!

"EKONOMI Indonesia tumbuh signifikan dari 4,5% pada 2009 menjadi 6,1% (2010), 6,5% (2011), dan 6,3% (2012), tapi ketimpangan distribusinya justru semakin tinggi!" ujar Umar. "Peningkatan ketimpangan itu terlihat pada rasio gini yang 2009 pada 0,37, pada 2010 menjadi 0,38, pada 2011 dan 2012 menjadi 4,1. Menurut Faisal Basri (Kompas, 12-12), rasio gini itu diukur dengan konsumsi. Kalau diukur dengan pendapatan, rasio gininya mencapai 0,6, berarti ketimpangannya tinggi sekali!" 

"Petunjuk statistik itu mungkin tak jauh beda dengan realitasnya di lapangan!" sambut Amir. "Kendaraan pribadi 20% warga berpenghasilan tinggi makin tak tertampung oleh jalanan kota-kota besar negeri ini, tapi 40% warga berpenghasilan rendah untuk jalan kaki saja tak kebagian trotoar karena terus dipangkas untuk lajur mobil pribadi—maupun sepeda motor milik 40% warga berpenghasilan menengah!"

"Terpenting dari peningkatan ketimpangan itu dipahami, pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati kelompok berpenghasilan tinggi, sedang yang berpenghasilan rendah tetesan rembesannya saja pun tak kebagian!" tegas Umar. "Pemahaman itu penting, agar para pemimpin jangan konyol, menepuk dada bangga berhasil menciptakan pertumbuhan ekonomi, padahal secara nyata rakyatnya malah semakin sengsara saja! Pemimpin unjuk prestasi pertumbuhan yang gemilang, padahal justru menyayat pedih perasaan rakyatnya!"

"Akhirnya, harus dicarikan solusi menekan laju ketimpangan yang terus memburuk itu!" timpal Amir. "Selama ini sudah digiatkan gerakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), didukung berbagai program andalan dari PNPM sampai KUR—kredit untuk rakyat—tapi nyatanya rasio gini makin jeblok! Bukan berarti program-program itu tak jalan! Bisa dijamin semua itu berjalan baik bahkan efektif, tapi terbukti kalah dari dahsyatnya laju ketimpangan!" "Itu crucial point-nya!" tegas Umar. 

"Kelompok 20% berpendapatan tinggi utamanya berasal dari aset produktif yang menghasilkan bunga deposito, obligasi, dan jenis pemasukan lain berbasis rente bisa net di atas 9% per tahun, hingga akumulasinya selalu jauh di atas pertumbuhan! Itu yang tak bisa dikejar laju PNPM dan KUR yang masih berbasis keringat, hingga ketimpangan terus tambah menganga!" ***

0 komentar: