Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Anomali, NTP Lampung Turun!

"DI ujung setiap jalan tanjakan selalu ada jalan menurun!" ujar Umar. "Begitu pula nilai tukar petani (NTP) Lampung yang dalam dua tahun terakhir selalu menanjak hingga tertinggi di Indonesia! Pada Januari 2013, NTP Lampung turun 1,27% menjadi 124,77 dari posisinya tertinggi 126,04 pada Desember 2012!" 

"Itu penurunan tajam dan tertinggi dari semua NTP provinsi pada Januari 2013!" sambut Amir. "Karena itu, meski dengan penurunan itu NTP Lampung masih tetap tertinggi di Indonesia, gejalanya perlu diwaspadai! Bukan sekadar untuk menjaga supremasi NTP Lampung, melainkan ekses menurunnya secara drastis daya beli petani! Hal itu harus dicegah jangan sampai terjadi, konon lagi berkelanjutan!"

"Penurunan NTP setajam itu memang perlu diwaspadai, lebih lagi karena anomali dengan naiknya indeks harga konsumen (IHK) pada periode sama dari 147,31 menjadi 148,79, seiring kenaikan harga subsektor hortikultura, khususnya sayuran gunung!" tegas Umar. 

"Naiknya IHK dengan inflasi tinggi (1,00%) pada Januari 2013 itu menunjukkan daya beli petani masih tinggi, tapi terjadi anomali sehingga NTP justru turun!" "Anomali turunnya NTP saat IHK naik dan inflasi tinggi itu terjadi akibat petani harus membayar jauh lebih mahal kebutuhannya dari sektor nonpertanian, yang naik sampai 1,03%, sedang harga yang petani terima meski naik, hanya 0,01%!" sambut Amir. 

"Artinya, harus disimak lebih seksama penyebab anomali itu pada kenaikan harga yang harus dibayar petani pada sektor nonpertanian yang kurang wajar hingga menjadi tambahan beban petani!" "Salah satu pendongkrak harga kebutuhan (yang dibayar) petani dari nonpertanian antara lain faktor cuaca ekstrem, yang berakibat pasokan tersendat dan menambah biaya transpornya!" tukas Umar. 

"Dari antrean truk di Merak hingga banjir di seputar pusat pasokan—Jabodetabek—merupakan contoh penyebab terjadinya anomali tersebut!" "Kewaspadaan di balik anomali itu bukan pada cuaca ekstrem yang force majeur, melainkan pada tabiat harga barang nonpertanian, jika sekali naik oleh inflasi akibat apa pun, sukar diturunkan kembali!" timpal Amir. "Tabiat itu secara laten menurunkan NTP, karena harga produksi pertanian dijaga stabil oleh penguasa untuk mendukung industri dan jasa yang dijadikan leading sector pertumbuhan!" ***

0 komentar: