Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Fed Antisipasi Ketakpastian Trump!

SETELAH menaikkan suku bunga acuan yang tertunda sejak awal tahun 25 basis poin Rabu (14/12/2016), bank sentral AS The Fed melempar sinyal kenaikan suku bunga lebih cepat untuk tiga kali penaikan pada 2017 juga 2018 hingga akhirnya mencapai tingkat ideal 3%, sebagai antisipasi ketidakpastian ekonomi Presiden Trump yang diprediksi inflatoar.
Terpilihnya Trump memicu pembuat kebijakan menggeser pandangan mereka tentang apa yang akan terjadi. "Semua peserta pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) menyadari adanya ketidakpastian terkait bagaimana kebijakan ekonomi akan berubah dan apa dampaknya terhadap perekonomian," ujar Janet Yellen, Gubernur Bank Sentral AS. (Kompas.com, 15/12/2016)
Meski pengambilan sumpah Trump baru akan dilakukan Januari 2017, Yellen mengakui beberapa peserta FOMC mengubah asumsi fiskal mereka. Setidaknya 17 anggota FOMC meningkatkan outlook kenaikan suku bunga sejak September 2016 lalu. Yellen enggan mengomentari berondongan pertanyaan saat jumpa pers, terkait cuitan Trump di Twitter tentang rencana fiskal, pajak, maupun perdagangan harus diatur. "Saya tidak akan memberikan saran kepada Presiden terpilih tentang bagaimana harus mengatur dirinya," ungkap Yellen.
Trump kerap mengkritisi Yellen selama kampanye pilpres. Ia pun mempertimbangkan untuk mengganti Yellen ketika periode tugasnya berakhir pada 2018.
Bisa dibayangkan daya serap AS terhadap dolar ketika suku bunga acuan The Fed telah mencapai 3% akhir 2018, sementara suku bunga acuan Bank of China 4,25% dan suku bunga acuan rupiah di 4,75%. Dengan inflasi rupiah 4% plus-minus 1%, sedang inflasi di AS pada 2%, head to head saja margin suku bunga rupiah sudah kalah 25 basis poin dari AS.
Dengan cara apa pun bisa diperkirakan pada saat itu rupiah tak akan mampu membendung arus dolar pulang kampung. Padahal, keseimbangan yang telah teruji dalam waktu panjang adalah suku bunga acuan rupiah 7,5% dengan inflasi 4%, lawan suku bunga acuan dolar AS nyaris nol dengan inflasi 1%.
Artinya, antisipasi rupiah terhadap apa yang akan terjadi akhir 2018 itu, dengan ketidakpastian yang diprediksi FOMC sejak pelantikan Trump, harus sudah dipikirkan sejak sekarang. Apa yang bisa diandalkan jadi substitusi bagi arus keluar investasi dolar yang bakal lebih masif ke depan, dengan penjualan bersih investor asing di BEI sekitar Rp400 miliar per hari sejak Trump terpilih? Kayaknya belum ada yang memikirkan seperti apa nanti, masih sibuk tax amnesty. ***

0 komentar: