Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Selain yang Tersurat, Ada yang Tersirat!

"LELUHUR pendahulu kita mewariskan cara berpikir bijaksana lewat ungkapan peribahasa dan kosokbali—kata majemuk berlawanan makna—agar tak terkelabui oleh selubung pseudomatika (seolah-olah)—terutama bahasa. Semisal jika mendapat opini wajar tanpa pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) seolah-olah bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme—KKN!" ujar Umar. "Padahal WTP itu, demikian pula tender online yang bertujuan mencegah KKN, hanyalah yang tersurat! Di balik itu selalu ada kosokbalinya, yang tersirat—hal-hal yang ditutupi hingga tak mudah dilihat secara kasatmata!" "Namun, ungkapan leluhur selain yang tersurat selalu ada yang tersirat itu bukan untuk mendorong kita berprasangka buruk!" timpal Amir. "Tapi untuk mengingatkan siapa pun yang memegang peranan bahwa sing becik ketitik sing olo ketoro—setiap yang baik pasti dikenali sedang yang buruk ketahuan! Yang tersirat itu juga bisa seperti benda busuk, akhirnya tercium juga!"

"Soal itu banyak contoh, setelah purnabakti hingga tak bisa lagi mengendalikan jalannya permainan, barulah tercium kebusukan seorang pejabat untuk selanjutnya masuk penjara!" tegas Umar. "Jadi, tak mudah bagi banyak pejabat menutupi yang tersirat itu setelah purnabakti! Betapa memilukan nasib malang pejabat itu, di ujung era kejayaannya harus menghabiskan masa pensiun dalam bui! Maka itu jangan sembunyikan yang busuk karena semakin lama disimpan bau busuknya akan semakin menyengat!" "Sebab itu, jangan berlebihan mendaulat kebenaran tersurat hasil proses cara dan alat karena pada akhirnya tergantung pada moral dan mentalitas manusia dengan kepentingan terselubungnya di balik cara dan alat tersebut—dengan kata lain kebenaran hakikinya selalu tak terlepas dari yang tersirat!" tukas Amir.

 "Dalam hal ini secara dialektis yang tersurat sebagai tesis sedang yang tersirat antitesisnya, maka sintesisnya keselarasan antara tesis dan antitesisnya—keselarasan yang tersurat dan yang tersirat!" "Keselarasan yang tersurat dan yang tersirat berarti tak ada penyimpangan, kebenaran pada yang tersurat sejalan dan didukung oleh yang tersirat!" timpal Umar. "Keselarasan itu bisa tercapai jika tak ada konflik kepentingan di dalamnya sehingga praksisnya benar-benar dilakukan sesuai dengan sistem dan prosedur aturan mainnya dengan pengawasan efektif tahap demi tahap prosesnya! Tapi justru faktor kepentingan itu belum bisa dipisahkan dari yang tersirat!" ***

0 komentar: