Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Ali Meralat Gelarnya The Greats!

PROSESI pemakaman dan penghormatan untuk legenda tinju Muhammad Ali akan digelar di Louisville, Kentucky, Jumat depan, kata juru bicara keluarga, Bob Gunnel. (Antaranews, 5/6/2016)
Selama 12 tahun menderita parkinson, dengan komplikasinya, hingga meninggal 4 Juni 2016 (WIB), Ali menolak tawaran sekumpulan dokter ahli parkinson untuk menyembuhkannya.
"Biarlah aku menerima penyakit ini sebagai hukuman dari Tuhan atas kesalahanku di masa lalu," ujar Ali. "Aku memang tidak pantas menyebut diriku sebagai the greats, tapi dulu aku begitu menikmatinya. Aku bersyukur Tuhan menegurku saat masih di dunia. Tuhan telah membuktikan Dia-lah The Greates itu, bukan aku." (M Nigara, WA Siwo-80-an)
Ketika ramai kontroversi kehadiran Cassius Clay dalam rapat akbar 5.000-an warga Black Muslims di Philadelphia mendengar pemimpin Nation of Islam Elijah Muhammad selama tiga jam memaki kulit putih, pada 7 Februari 1964 Clay Sr. (ayah Cassius) dikutip Miami Herald berkata: "Anak saya bergabung dengan Black Muslims." Itu 18 hari menjelang pertarungannya dengan juara dunia kelas berat Sonny Liston. (Tempo, 1/8/1992)
Ali pun membuat pengakuan: "Saya mendengar perihal Elijah Muhammad pertama kali di Turnamen Golden Gloves di Chicago (1959). Kemudian, sebelum ke Olimpiade, saya melihat koran yang diterbitkan Nation of Islam, Muhammad Speaks.
Lalu seorang pemuda kulit hitam seumuran saya, Emmett Till, dibunuh di Mississippi karena menyuiti seorang wanita kulit putih. Mereka menangkap para pembunuhnya, tapi tak diapa-apakan.
Kejadian seperti ini berulang terus. Dan dalam hidupku, ada tempat-tempat di mana saya tidak bisa masuk, tempat-tempat di mana saya tidak bisa makan. Saya memenangi medali untuk Amerika Serikat di Olimpiade, dan ketika pulang ke Louisville, toh saya tetap diperlakukan sebagai Negro. Sejumlah restoran tak mau melayani saya. Orang tetap memanggil saya boy.
Kemudian di Miami (1961), saat latihan saya jumpa pengikut Elijah Muhammad, Kapten Sam. Ia mengundang saya ke pertemuan dan setelah itu hidup saya berubah. Selama tiga tahun, sampai saya bertarung melawan Liston, saya sering menyelinap ke pertemuan Nation of Islam lewat pintu belakang. Saya takut bila mereka tahu, bisa-bisa saya tak diizinkan bertarung untuk merebut gelar juara. Belakangan saya belajar berani berdiri di atas keyakinan saya sendiri.
Demikian arti perjuangan Ali masuk Islam. Sampai akhirnya ia menjadi pejuang hak-hak sipil menghabisi semua diskriminasi itu. ***

0 komentar: