Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Cucu Pelaut Mengail di Kolam!

SEORANG nelayan tersentak, saat ke kota diajak teman mengail di kolam. “Mengail di kolam?” tukasnya. “Kalian di kota ini mengerdilkan jiwa generasi muda! Cucu moyang pelaut gagah berani penakluk samudera, jiwanya kalian bonsai dengan mengail di kolam yang tanpa tempaan diterjang badai ganas!” Temannya terengah mendengar entakan tamu. 

“Sungguh mati, kami tak berpikir sejauh itu dengan hobi kami mengail di kolam!” ujarnya. “Mengail di kolam kami lakukan sekadar killing time, melepas penat kerja sepekan, relaksasi untuk bekerja kembali sepekan ke depan! Jadi, tak ada maksud mengerdilkan jiwa generasi muda dari tantangan nyata warisan nenek moyang menaklukkan samudera!”

“Tapi kenyataannya itulah yang terjadi!” tegas nelayan. “Cakrawala pandangan generasi muda dipersempit dari luasnya samudera tinggal pada sepetak kolam ikan! Tanpa tantangan sebanding dengan realitas yang menghadang, dicekoki fantasi kemudahan meraih ikan-ikan gemuk yang di lepas ke kolam! Kalau tujuannya hanya menangkap ikan yang telah dimasukkan ke kolam, buat apa pakai pancing? Pakai seser saja, setiap angkat bisa beberapa ekor!” 

“Kalau diseser, tak ada seninya!” keluh teman. “Justru saat ujung kail terasa disambar ikan itulah sensasi asyiknya mengail di kolam!” “Omong kosong!” tukas nelayan. “Tanpa sensasi sentuhan ikan itu kail purse seine menaikkan ikan ke kapal dalam hitungan detik per ekor! Memancing di kolam menghabiskan waktu secara sia-sia sembari berharap kailnya disentuh ikan yang sudah disediakan nian! Itu fantasi yang absurd, tak menambah cerdas, apalagi menanamkan geloranya semangat juang nenek moyang penakluk samudera!”  

“Cara berpikir orang kota yang dicukupi aneka fasilitas kemudahan cara hidup modern jelas beda dengan kalian di pelosok yang masih hidup seperti nenek moyang, listrik saja tak ada!” kilah teman. “Karena kalian penentu arah bangsa difasilitasi serbakemudahan sebagai konsumen, bangsa kita semakin tertinggal dan tergantung pada bangsa-bangsa pembuat fasilitas tersebut!” tegas nelayan. 

“Sementara nelayan kita masih pakai perahu nenek moyang, nelayan asing menguasai samudera dengan kapal penangkap merangkap pabrik berjalan memenuhi pesanan segala merek ikan kaleng di pasar dunia! Dan kalian, malah memancing di kolam!” ***

0 komentar: