Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Melestarikan 'Dubang' Nenek!

"NAIK bus antarprovinsi, nenek mengeluarkan kantong sirihnya. Cucu berbisik, "Tak boleh nginang dalam bus! Nanti dubang-nya (ludah merah residu makan sirih) dibuang ke mana? Dibuang lewat jendela nyiprat ke penumpang lain, atau kena kain sarung sandaran kursi!" 

"Dubang kubuang dalam plastik hitam yang kubawa untuk muntahan kalau mabuk di jalan!" jawab nenek terus meramu kinangan dengan kapur dan gambir. "Menginang tradisi sejak nenek moyang! Maka itu perhatikan, tak ada larangan menginang dalam bus. Larangan yang dipasang cuma untuk merokok!"

"Tapi aku cemas, nenek menginang dalam bus dubang-nya menciprati orang!" keluh cucu. "Kan ada susur (tembakau dikepal) penyeka dubang!" tegas nenek. "Menginang ini tradisi untuk menyehatkan mulut dan gigi agar selalu bersih dari bakteri! Daun sirihnya mengandung antibiotik, kapurnya kaya kalsium, belum lagi gambir dan pinangnya punya khasiat sendiri! Buktinya lihat gigi nenek, sampai setua begini masih utuh! Sedang gigimu, ada yang sudah disisip gigi palsu, ada yang rompal ditambal! Karena itu, kalian harus melestarikan tradisi menginang warisan nenek moyang ini!" 

"Melestarikan tradisi menginang? Gadis masa kini banyak yang jijik melihat susur! Konon lagi disuruh memoleskan ke mulutnya!" kilah cucu. "Tanpa kecuali gadis desa! Maka itu, kayaknya agak sulit melestarikan tradisi yang satu ini!" "Kenapa sulit? Kan bisa dipaksa!" entak nenek. "Dulu nenek dipaksa untuk pangur—gigi seri atas diratakan dengan gerinda kecil!" 

"Dulu memang bisa main paksa! Sekarang tak mungkin!" tukas cucu. "Pelestarian tradisi dan budaya sekalipun, tak bisa main paksa! Proses pelestarian tradisi berlangsung secara saksama dengan penyesuaian pada kebutuhan maupun etika dan moralitas zamannya! 

Penyesuaian itu berlangsung dengan penyaringan unsur-unsur yang bertentangan dengan zaman ini, seperti unsur yang adiktif, cacat moral, dan syirik! Adiktif—mengandung kecanduan—seperti madat pada tradisi Indian, cacat moral yang berbau pelacuran seperti tayuban zaman dahulu, dan syirik yang menyertakan roh-roh halus dalam permainan atau pekerjaan lain!" 

"Jadi menginang ini karena susurnya tembakau kau golongkan adiktif?" entak nenek. "Aku tak mengatakan begitu!" kilah cucu. "Tapi bisa saja generasi baru menilai begitu!" ***

0 komentar: