Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Pinggang Dandang Ramping!

TUKANG patri mendapat pesanan membuat dandang berpinggang ramping, ukuran besar untuk kebutuhan menanak nasi buat orang banyak saat pesta. “Kenapa pinggang dandang harus ramping?” ia tanya pemesan. “Bukankah jauh lebih mudah membuat dandang yang bulat lurus saja?” 

“Saya juga tak tahu kenapa pinggang dandang harus ramping!” jawab pemesan. “Tapi sudah tradisi, pinggang dandang dibuat ramping! Juga kukusan dari bambu bentuknya kerucut mengecil ke bawah, secara teknis memasaknya
pakai uap air sama dengan dandang, nasinya di tempat yang mengerucut ke bawah!” “Pasti itu salah satu produk genius lokal nenek moyang kita!” timpal tukang patri. 

“Dengan bentuk begitu, penampang api di bawah luas sehingga mendapatkan pembakaran lebih besar, sedangkan uapnya dibuat terfokus agar uap panas yang dipancarkan ke atas jadi lebih padat membuat lebih cepat masak!” “Kemungkinan begitu masuk akal!” sambut pemesan. 

“Tak kalah penting bentuk dandang, yang kegunaannya terutama untuk menanak nasi waktu pesta, dibuat sedemikian untuk mengingatkan orang justru saat pesta, ketika makanan berlimpah, agar mengencangkan ikat pinggang, senantiasa menjaga kesehatan!” 

“Dalam skala lebih luas, kehidupan berbangsa dan bernegara, peringatan leluhur lewat bentuk dandang itu bahkan penting sekali” tegas tukang patri. “Agar, meski sumber alam negeri kita berlimpah kita harus bertahan tetap mengencangkan ikat pinggang, seperti tetapnya bentuk pinggang dandang!” 

“Sayangnya, para pemimpin generasi lalu tak memperhatikan lambang-lambang maupun isyarat-isyarat yang dibuat leluhur di seputar kehidupan sehari-hari mereka!” ujar pemesan. “Mereka mabuk dengan kekuasaan atas segala sumber daya alam yang berlimpah, dikuras dan dihambur-hamburkan dalam pesta-pesta yang memberi kepuasan sesaat, tanpa ingat akan nasib anak-cucunya kelak!” 

“Meski itu kelakuan generasi terdahulu, elite sekarang harus bersikap lebih dewasa justru di tengah realitas sumber daya yang serbaterbatas!” tegas tukang patri. “Jangan pula sudah pun sumber serbaterbatas, elitenya tak mengencangkan ikat pinggang, rakyatnya malah tak kebagian bahkan untuk hidup sebatas garis kemiskinan pun!” ***

0 komentar: