Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Guru, Kesulitan Kurikulum 2013!


"LAPORAN media dari Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta mengesankan guru selaku elemen utama pelaksanaan kurikulum 2013 masih mengalami kesulitan!" ujar Umar. "Mendikbud Mohamad Nuh yang dikutip menyatakan itu." (Kompas.com, 6/2) 

"Untuk mengatasi itu, Direktur Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Sumarna Sumapranata mengatakan dalam pelaksanaan kurikulum tersebut guru akan diberi pendampingan!" timpal Amir. "Pendampingan ini dimaksudkan supaya dijaga betul aplikasi kurikulum pada rel yang benar. Kurikulum 2013 ini komprehensif, jadi mesti dijaga betul dari berbagai sudut agar aman!"

"Kesulitan itu timbul salah satunya akibat perubahan sistem pengajaran. Kurikulum 2013 meninggalkan sistem lama yang instruksional dan menekankan pada aspek mencatat, kini menuntut guru untuk lebih kreatif merangsang kecerdasan murid!" tukas Umar. 

"Guru harus membuat siswa lebih aktif! Guru juga harus membuat suasana sekolah menjadi tempat belajar yang terasa nyaman!" "Hal yang membuat guru mengalami kendala dalam implementasi kurikulum 2013 sebenarnya tuntutan pada guru untuk menanamkan karakter dan budaya pada murid!" tegas Amir. 

"Patron—gambar model—karakter ideal itu tak cukup dalam kurikulum baru maupun penuangannya dalam turunan teknis lebih lanjut! Adanya cuma dalam retorika pejabat pendidikan bahwa tekanan kurikulum ini membangun karakter murid! Itu membuat guru sulit untuk mengamalkan dalam proses pengajaran pada murid!" 

"Faktor karakter yang diunggulkan itu kayaknya dalam kurikulum 2013 menjadi ilmu tak tertulis!" timpal Umar. "Mungkin karena itu perlu pendampingan guru senior sehingga karakter dijadikan sejenis ngelmu yang lakone kanthi laku—ilmu yang pengamalannya berdasar contoh nyata! 

Jadi karakter dari sosok nyata yang hidup dan bisa dilihat para murid yang dijadikan patron—gambar model—untuk pendidikan karakter!" "Contoh hidup untuk pendidikan karakter memang baik, tapi punya kelemahan, yaitu jika sosok patronnya itu tidak memenuhi gambaran ideal dalam persepsi murid—misalnya sosok Umar Bakri, meski punya karakter teladan apakah cukup inspiring buat murid secara umum?" tukas Amir. 

"Untuk semua itu jelas, penekanan faktor karakter dalam kurikulum baru tak cuma lebih besar dalam retorika pejabat! Tapi harus dituangkan dalam panduan yang mudah dipahami oleh semua guru agar tujuan kurikulum bisa tercapai!" ***

0 komentar: