Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

BBM Turun Bawa Angin Segar!

TURUNNYA secara telak harga BBM dunia hingga premium Rp7.600/liter tanpa subsidi lagi membawa angin segar pada perekonomian nasional. 

 Tren penurunan harga minyak dunia bisa mengurangi tekanan pada defisit neraca migas, ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara. (Kompas.com, 2/1) Dengan penurunan harga minyak dunia itu, BI memperkirakan perbaikan neraca perdagangan akan didorong oleh perbaikan ekonomi global tahun 2015. Dua hal itulah yang akan membuat aktivitas ekspor Indonesia meningkat.

Turunnya secara signifikan harga BBM dunia, dari 115 dolar AS/barel pada Juni 2014 menjadi 65 dolar AS/barel pada akhir Desember 2014, telah mendorong laju ekonomi AS tumbuh 5% pada kuartal ketiga 2014. 

Hal penting di balik prestasi itu, karena produksi migas AS terakhir ini naik nyaris dua kali lipat dari tahun 2005. Bahkan, AS melempar 4 juta barel per hari ke pasar global kelebihan produksinya! Membaiknya industri AS berkat harga BBM dunia turun itu akan diikuti negara-negara maju lainnya. 

Itu menjadi peluang pasar yang bisa mengatrol naik ekspor Indonesia sebagai pemasok komoditas hasil bumi dan mineral untuk bahan baku industrinya. Tinggal, bagaimana upaya meningkatkan nilai tambah produk ekspor itu jadi tantangan nyata bangsa kita. 

 Di balik angin segar itu, ada peluang lain yang perlu dimanfaatkan: untuk belajar pada AS, yang semula importir minyak bumi terbesar dunia kini menjadi eksportir dalam jumlah signifikan—tiga kali lipat ekspor Indonesia semasa jadi pengekspor, tapi kini malah jadi pengimpor! 

 Di tengah harga minyak tinggi, antara 2000—2013, sebanyak 30% dari investasi AS dikhususkan untuk energi! Itu bagian dari peningkatan investasi tahunan industri minyak dunia untuk eksplorasi dan produksi pada priode itu dari 250 miliar dolar AS menjadi 750 miliar dolar AS. (Cahayahati, Kompasiana, 1/1) 

 Sedang Indonesia, dalam priode sama produksi minyaknya merosot dari 1,5 juta barel/hari menjadi tinggal 800 ribu barel/hari. Itu terjadi karena usaha eksplorasi untuk produksi baru disendat-sendat oleh mafia migas yang dengan menanam mitos sumber minyak Indonesia telah habis, menguasai jaringan pengelolaan minyak nasional yang justru menikmati sebagai pemasok kekurangan kebutuhan BBM nasional 700 ribu barel/hari! 

 Pelajaran dari AS, Indonesia harus fokus investasi ke eksplorasi sumber produksi minyak baru, seperti AS di Teluk Meksiko! Ini angin segar masa depan bangsa! ***

0 komentar: