Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Warisan Gizi Buruk, DBD, Diare!

SETIAP awal tahun, Lampung disentakkan oleh munculnya tiga penyakit warisan yang hingga kini belum teratasi tuntas, yakni gizi buruk, demam berdarah dengue (DBD), dan diare. Awal Januari 2015 sampai tanggal 9 saja, dua penderita DBD di Lampung meninggal, Chelsea Olivia (7), warga Gunungsulah, Bandar Lampung, dan Yusuf (8), warga Iringmulto, Metro Timur. 

 Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung mencatat, pada pekan awal Januari 2015 itu terdapat 10 penderita DBD dengan satu korban tewas. Di Pesawaran, enam warga Desa Padangcermin, Kecamatan Way Khilau, terserang DBD, tiga dirujuk ke RSUD Pringsewu. DBD penyakit mematikan yang sering merebak di Lampung.

Awal 2015, Lampung jadi sorotan media nasional karena gizi buruknya masuk peringkat atas nasional. Angka penderita justru bersumber dari Dinas Kesehatan Lampung, yang menyebut pada 2014 terdapat 132 kasus gizi buruk tersebar di semua kabupaten-kota! 

 Lampung Timur teratas dengan 25 kasus gizi buruk. Disusul Lampung Tengah (21), Lampung Selatan (16), Tulangbawang (15), Tanggamus, Tulangbawang Barat, dan Pesisir Barat (7), Bandar Lampung (6), Pesawaran, Pringsewu, dan Lampung Barat (5), Metro, Lampung Utara, dan Way Kanan (4), dan terakhir Mesuji (2). (duajurai.com, 15/1) 

 Lalu diare, penyakit mematikan yang saat hadir cenderung mewabah karena bakteri penyebabnya merebak lewat air kotor, terutama saat banjir. Satu rumah sakit saja, RSUD Abdul Moeloek, pada 2014 merawat sebanyak 770 pasien diare! 

 Petunjuk para petugas kesehatan untuk mencegah penyakit warisan itu penting diikuti karena bisa mengurangi gejalanya. Tapi, kalaupun tiga penyakit itu masih selalu menyimpan kejutan, pasalnya karena penyakit itu justru pertanda masih adanya kendala dalam mewujudkan kesejahteraan. 

Jadi, penyakit itu hadir mengingatkan politikus agar memenuhi janjinya menyejahterakan rakyat! Setiap tahap peningkatan kesejahteraan rakyat akan mereduksi gejala gizi buruk. Pembangunan sanitasi, gorong-gorong, dan saluran air yang baik mengurangi gejala diare. 

Kebersihan lingkungan hingga tak ada lagi tempat nyamuk Aedes aegypti berbiak, mengurangi DBD. Semua itu tak terlepas dari perencanaan dan pelaksanaan pembangunan yang menjadi tugas politikus! Jadi, kalau ada korban DBD, diare, atau gizi buruk, meski itu takdir, “jalarannya” tak lepas akibat politikus tak optimal memenuhi kewajibannya! Jadi, sebagai warisan, penyakit itu bisa jadi warisan politikus! ***

0 komentar: