Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Tahan Peningkatan Pengangguran!

BPS—Badan Pusat Statistik—mengingatkan jumlah pengangguran terbuka meningkat dari 7,15 juta orang pada Februari 2014 menjadi 7,24 juta orang Agustus 2014. Peningkatan jumlah pengangguran saat pesta demokrasi, pileg dan pilpres, jelas memprihatinkan! 

Pesta yang menelan biaya besar itu tak bisa memberi kegiatan produktif kepada penganggur agar bebas dari status penganggur terbuka!

Konon lagi saat harga BBM dinaikkan November 2014, ancaman peningkatan jumlah penganggur terbuka kian nyata. Karena itu, usaha konkret untuk menahan laju peningkatan jumlah pengangguran terbuka itu harus dilakukan serius. 

Lebih lagi, setelah peluang untuk itu terbuka dengan dua kali diturunkannya harga BBM mengikuti turunnya harga BBM dunia. 

 Turunnya harga BBM dunia membuka peluang pengurangan signifikan subsidi pada APBN, memperbesar ruang fiskal untuk membuat proyek-proyek padat karya dalam pembangunan yang bukan hanya membuka banyak lapangan kerja, tapi juga multiplier effect-nya mendorong kegiatan ekonomi masyarakat. 

Presiden Roosevelt saat depresi 1930-an memilih proyek perumahan, selain padat karya multiplier effect-nya jelas. Jika gagal memanfaatkan peluang turunnya harga BBM untuk menahan laju peningkatan pengangguran, dampak penurunan harga BBM dunia itu sendiri yang justru akan memperberat kondisi ekonomi bangsa. 

Setidaknya seperti ditegaskan Direktur Ekonomi Departemen Riset IMF Oliver Blanchard, penurunan harga BBM dunia akan diikuti penurunan harga komoditas. (Kompas, 20/1) Bagi negara yang ekonominya mengandalkan ekspor komoditas (seperti Indonesia), ke depan tak terlalu jauh akan menghadapi masalah turunnya penerimaan ekspor. Ini diikuti melemahnya daya beli, disusul berkurangnya kesempatan kerja. 

Di Lampung, relevansi harga komoditas dengan kesempatan kerja erat sekali. Pada 2010, ketika harga karet dunia mencapai tertinggi sepanjang sejarah (5 dolar AS/kg sheet kering 100%), bukan hanya pekerja dari sektor formal terserap ke subsektor perkebunan rakyat, malahan investasi penanaman karet baru dan tanaman lain (terutama kakao) ramai di daerah, antara lain Way Kanan. 

Tapi gairah itu kini sirna, ketika harga karet slab di lapangan tinggal Rp6.000/kg, padahal harga beras sudah Rp10 ribu/kg. Maka itu, peluang menahan peningkatan pengangguran yang ada di ruang fiskal harus dimanfaatkan efektif. Karena, dampak penurunan harga BBM dunia pada harga komoditas kurang baik. ***

0 komentar: