Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Harga BBM Harus Turun Signifikan!

PEMERINTAH mengisyaratkan Januari 2016 harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya premium dan solar, akan turun. Berita itu rasional, karena selama ini kita hidup dalam anomali: ketika harga BBM dunia di atas 100 dolar AS per barel harga premium Rp6.300 per liter, setelah harga BBM dunia turun hingga di bawah 40 dolar AS per barel harga premium justru Rp7.400 per liter. 

Alasan kenaikan harga premium yang telak demi pencabutan subsidi BBM semula dianggap wajar karena saat pencabutan itu harga BBM dunia di atas 100 dolar AS per barel. Tapi setelah harga BBM dunia terjun bebas sampai di bawah 40 dolar AS per barel, penyesuaian harganya tampak kurang sebanding. Alasan yang pernah dikemukakan selisih dari yang seharusnya itu untuk menutupi kerugian Pertamina. Tak tahunya, laporan kinerja Pertamina tahun 2015 sampai November sudah untung Rp19 triliun. (Kompas.com, 11/12) 

Jadi, logisnya harga BBM pada Januari 2016 itu harus turun siginifikan. Lebih lagi karena harga BBM dunia juga masih terus turun, hingga pada transaksi Jumat (11/12) harga minyak West Texas Intermediate (WTI) yang dijadikan patokan harga internasional, untuk penyerahan Januari harganya 35,62 dolar AS per barel. (Kompas.com, 12/12) 

Namun, anomali yang kita jalani agaknya belum segera berakhir dengan pernyataan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM IGN Wiratmaja Puja bahwa penurunan harga premium pada Januari 2016 nanti mungkin hanya Rp200 per liter dan solar Rp500 per liter. 

Penurunan yang kurang berarti karena jauh dari sebanding dengan penurunan harga BBM dunia dari atas 100 dolar menjadi 35 dolar AS per barel itu, menjadi lebih hambar lagi dengan pernyataan Menteri ESDM Sudirman Said bahwa untuk BBM ke depannya akan dikenakan pungutan cukai dan pajak. 

Menurut IGN Wiratmaja, ada dua penentu harga BBM, yakni rata-rata harga mean of platts Singapore (MOPS) dan kurs rupiah terhadap dolar AS selama Oktober sampai Desember 2015. Tren kedua indikator turun sedikit. "Kalau kemarin rata-rata kurs Rp13.980, sekarang sekitar Rp13.800," ujarnya. 

Entah bagaimana cara hitungannya, menurut logika terkesan kurang pas penetapan harga BBM kita dibandingkan dengan penurunan harga BBM dunia dari atas 100 dolar AS hingga kini hanya 35 dolar AS per barel. Ada baiknya pemerintah menyimak ulang hitungannya, agar tidak berkepanjangan hidup dalam anomali yang bertentangan dengan logika dan cenderung menganggap bodoh masyarakat. ***

0 komentar: