Kata Kunci

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani

Pesimisme Menyambut Senjakala KPK!

DI tengah praktik korupsi yang kian masif dan sistematis, pesimisme tajam menyambut pimpinan baru Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pilihan DPR yang kuat mengisyaratkan upaya pelemahan dan penumpulan lembaga antikorupsi itu pada senjakala usianya yang hampir pasti berakhir 12 tahun seusai revisi UU KPK. 

Pesimisme sedemikian muncul dari penggiat gerakan antikorupsi Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Yuntho, pengamat hukum Universitas Andalas Feri Amsari, dan Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar. (detiknews, 17/12) 

Komisi III DPR Kamis (17/12) memilih lima orang pimpinan baru KPK terdiri dari Alexander Marwata, Saut Situmorang, Basaria Panjaitan, Agus Sujanarko, dan La Ode M Suarif. Dengan lima pimpinan baru ini menurut Emerson, "Masa depan pemberantasan korupsi bakal semakin suram." Pasalnya, menurut penilaiannya, DPR memang sengaja memilih lima nama baru pimpinan KPK yang “anak baik”. KPK memang ingin ditumpulkan tidak agresif lagi menindak koruptor. Prioritas visi pimpinan terpilih pencegahan, bukan penindakan. 

Emerson masih ingat, salah satu pimpinan KPK terpilih itu bahkan berucap saat proses seleksi akan membawa KPK menjadi komisi pencegahan korupsi, atau setidaknya pusat informasi korupsi. Artinya, pelemahan KPK menjadi keniscayaan, masa depan pemberantasan korupsi suram. 

Senada, Feri Amsari menegaskan hasil ini menunjukkan DPR telah berhasil menjalankan skenario mengisi KPK dengan orang-orang yang diduga untuk menumpulkan taring KPK. "Yang paling menyedihkan," tukasnya, "KPK yang harusnya membenahi institusi penegak hukum yang dianggap korup, saat ini diisi orang-orang yang berasal dari institusi yang bermasalah itu." Sedang Dahnil Anzar menilai DPR ingin membawa KPK pada mainstream pencegahan, bukan penindakan. Dengan visi tersebut, ke depan jelas KPK kehilangan “gigi” dalam penindakan kasus korupsi yang masih masif dan sistematis di Indonesia. 

Pilihan DPR sebagai pelemahan, penumpulan, bahkan jalan kematian bagi KPK salah satunya tecermin dari tidak terpilihnya Busyro Muqoddas yang telah memiliki pengalaman melakukan penindakan tegas selama menjabat di pimpinan KPK. Namun, menurut Wakil Ketua Komisi III DPR Desmond Mahesa, dari 54 anggota Komisi III, hanya dua orang yang memilih Busyro. Sisanya tidak memilih Busyro karena sakit hati, Busyro pernah mengatakan anggota DPR korup. Dengan semua itu, terbayang sudah bakal seperti apa proses akhir sejarah KPK. ***

0 komentar: